Bab 3 : Question

1860 Kata
Percakapan di balkon itu membuatku sadar jika masih banyak hal yang tidak ku kenal dari sosok seseorang bernama April. Entah apakah saat itu aku sedang berkhayal atau akunya saja yang terlalu sensitif. Aku merasa April sedang menghina perasaanku terhadap pengalamanku yang pernah patah hati ditinggal menikah oleh orang yang pernah kupercayai. Apakah April tidak kecewa setelah ditinggal menikah oleh Noval? Aku sulit memahami perasaannya. Sikap April begitu misterius. Dan aku sungguh tidak mengerti meski aku sudah mencoba menghubungkan perasaan kami berdua karena memiliki pengalaman yang sama. "Mada!" Aku tersadar dengan kehadiran Keyla saat baru saja selesai memasukkan media ke dalam autoklaf steril. "Hehe, sori bikin kamu kaget. Sibuk, nggak?" Aku sedikit bingung untuk menjawab. Pekerjaan tepat di depan mataku, tentu saja saat ini aku terlihat sangat sibuk. "Maksudku nanti mau makan bareng di kantin, nggak?" Keyla segera menjelaskan maksud kemunculannya. "Oh." Aku mengerjapkan mata, terkejut mendengar ajakan Keyla. Hingga hari ini aku memang belum pernah mencoba makan di kantin perusahaan. Bukan hanya karena lokasinya yang terlalu jauh dari lab, aku juga terlalu memperhitungkan waktu pengerjaan sampel sehingga tidak ingin terlambat kembali ke lab. Selain itu di divisi ini tidak pernah ada seorang pun yang datang terlambat setelah jam istirahat. "Eum, sepertinya aku mau coba makan di sana," ujarku tertarik. "Bagus! Hari ini aku nggak bawa bekal, jadinya mau makan di kantin." "Bagaimana dengan yang lain?" tanyaku. "Oh?" Keyla terlihat terkejut mendengar pertanyaanku. "Kamu ngajakin yang lain?" "Hah?" aku malah menjadi bingung. "Oi! Mada ngajakin ke kantin!" Teriakan Keyla memenuhi lab mikro. --- Aku berjalan kikuk bersama para personil divisi lab mikro selama menuju ke kantin. Hari ini personil lab mikro lengkap hadir di kantor. Kiki datang tepat sebelum jam istirahat dan langsung menyetujui rencana makan bersama di kantin yang kata Keyla adalah ide dariku. Aku merasa malu dan takut membuat para senior terganggu gara-gara ide itu --padahal aku hanya bertanya tetapi Keyla menganggap pertanyaanku sebagai suatu ajakan makan bersama. "Ada menu yang enak banget!" seru Kiki. "Biar aku yang pesan untuk kalian semua!" Kiki tampak begitu percaya diri karena paling sering makan di luar, selain itu Kiki sangat mudah bersosialisasi di mana saja. "Hei, Mada bisa pilih sendiri," kata Keyla. Aku tersenyum kikuk. "Aku ngikut aja." "Oke, siap!" seru Kiki segera. "Ck, apaan sih buang-buang waktu makan di sini," desis Dimas. "Menurutku menunya nggak ada yang spesial." Tidak ada yang merespons komentar Dimas karena sudah terbiasa mendengar umpatan negatif Dimas sepanjang hari. Meski begitu Dimas bekerja sangat cekatan dan tidak pernah telat menyelesaikan tugasnya. "Duduknya di sana, di samping jendela. Kita bisa melihat langsung pemandangan halaman perusahaan!" Kiki segera memilihkan tempat. Tidak ada yang berkomentar dan langsung memilih kursi masing-masing. "Tunggu di sini, ya!" Setelah duduk di kursi, aku mengamati sekitar. Jujur saja, meski awalnya kikuk, tetap saja aku merasa bersemangat memiliki kesempatan untuk makan bersama personil lab mikro di kantin. Walau aku punya kesempatan makan di kantin seorang diri, tentu aku tidak akan cukup percaya diri makan sendirian di tempat ini. Aku menemukan anak pelatihan yang juga makan di kantin bersama anggota divisi masing-masing. Entah mengapa mereka terlihat lebih akrab dan nyaman. Berbeda dengan kondisiku saat ini. April duduk di sebelahku, tampak bosan menunggu. Sementara Dimas terlihat gelisah, pasti sedang memikirkan jam mengeluarkan sampelnya dari dalam inkubator. Lain halnya dengan Keyla yang mulai berfoto menggunakan kamera ponsel untuk memamerkan hasil riasannya hari ini dengan latar belakang suasana kantin perusahaan. "Hei, bisa tenang nggak, sih?" tegur Keyla yang juga risih dengan sikap April dan Dimas. "Kalian nggak akan mati ninggalin sampel kesayangan kalian itu." "Setiap detik waktu itu berharga, Key," keluh Dimas. "Kamu ngomongnya begitu, tapi kalau istri kamu nelpon, kamu langsung ninggalin semua sampel kamu," dengus Keyla. "Bisa nggak ngomongin hal lain?" Dimas terlihat sangat jengkel kehidupan pribadinya diungkit. Suasana di meja ini begitu canggung seolah kelompok kami tidak cocok berada di tempat ramai. Akhirnya Kiki kembali sambil membawakan pesanan dibantu pelayan. Kehadiran Kiki cukup mencairkan suasana yang semula canggung dan dingin. "Enak, kan?" tanya Kiki yang duduk di seberangku. Aku mengangguk. "Iya. Enak. Makasih sudah dipesankan," ujarku. "Ini, kamu bisa buka menu kantin lewat barcode." Kiki memajukan diri ke arahku sambil menunjukkan layar ponselnya. Aku ikut memajukan diri ke arahnya untuk melihat layar ponselnya hingga kepala kami nyaris bersentuhan. Aku segera menyadari. Bukankah kami berdua terlalu dekat? Kiki memang selalu ramah kepada semua orang, seharusnya ini bukanlah hal spesial bagi Kiki. Tak sengaja pasang mataku menangkap reaksi Keyla yang tersenyum-senyum sambil mengamati kedekatan kami. Aku mendadak merasa canggung lalu segera menjauh dari Kiki. Aku sangat ingin menghindari gosip tidak perlu di tempat kerja. Aku juga menyadari April tadi sekilas menatap tajam kepadaku. April telah berpaling ke arah jendela. Sikap dinginnya membuatku menjadi bingung sendiri. Apa? Kenapa? Apakah ada sesuatu yang salah? "Wah, semuanya berkumpul di sini, ya?" Kami semua menolehkan wajah pada seseorang yang berdiri di samping meja. Suasana yang sudah cair sebelumnya kini kembali mendingin karena kehadiran Noval. "Sebagai penyelia divisi lab mikro aku seharusnya bergabung. Aku duduk di sini, ya?" Noval duduk begitu saja di sebelah Dimas tanpa menunggu persetujuan. Dimas tampak tidak peduli, kembali melanjutkan memakan makanannya. Sementara Keyla mengamati Noval dan April bergantian, tampak penasaran melihat reaksi mereka berdua. Aku pun diam-diam merasa penasaran. "Kayaknya cuma aku deh yang nggak akrab sama analisnya," Noval menoleh ke sekitar. "Setiap kelompok divisi sering makan bareng saat istirahat di kantin. Apa mulai sekarang kita begitu juga?" "Nggak ah," tolak April segera. "Ya, kami sibuk," tambah Dimas, sepakat dengan April meski memiliki motif yang berbeda. "Atau kita bisa makan bareng di kantor mikro?" Noval menawarkan. "Akan lebih baik kamu nggak usah datang ke divisi," ujar April terang-terangan. Noval tersenyum kecut, berusaha mengendalikan diri menghadapi sikap dingin April. "Bisa nggak kita bersikap profesional? Aku tahu ada masalah di antara kita berdua, tapi nggak seharusnya dibawa ke pekerjaan." "Makan bareng tidak ada hubungannya dengan pekerjaan," kata April. "Well, baiklah." Noval menyeringai. Pandangan Noval berhenti padaku. "Ah, kamu pasti bingung, anak baru," ujar Noval menyadari aku tak sengaja terdiam melihat sikap mereka berdua. "Karena masih baru, setidaknya kamu bisa belajar dari yang sudah kamu lihat agar kamu tidak membuat kesalahan semacam ini. Di perusahaan ini tidak boleh ada pasangan suami istri. Jadi urungkan saja niatmu untuk pacaran dengan sesama karyawan jika pada akhirnya tidak jadi menikah." Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana mendengar ucapan Noval. Aku tahu Noval hanya menjadikanku sebagai alasan agar dia bisa mengutarakan unek-uneknya. "Kiki, kamu nggak berusaha caper dengan si anak baru, kan? Aku tahu semua mantan pacarmu di kantor ini. Saran aja, jangan berpacaran dengan teman satu divisi karena itu akan membuat suasana menjadi canggung. Yah, seperti saat ini." "Ng-nggak kok!" seru Kiki dengan wajah merah padam. Noval tersenyum menyeringai. "Jika memang berjodoh, tentu aku nggak akan menghalangi hubungan kalian." "Kami nggak ada hubungan apa-apa..." aku berusaha menjelaskan. "Hei, bisa berhenti nggak, sih?" Keluh Dimas. "Kamu mengganggu makan siang kami." "Aku hanya menasehati analisku," ujar Noval. "Agar bersikap bijak sebagai seorang laki-laki." Tiba-tiba April terkikik geli. Mereka semua terdiam, memandang April yang berusaha menahan tawa. "Bersikap bijak sebagai seorang laki-laki..." gumam April tetapi dapat didengar semua orang di meja ini. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Noval dengan dahi berkerut. "Apa ada yang lucu?" April tersenyum menyeringai pada Noval. Entah mengapa senyum itu mengingatkanku pada perbincangan di balkon. Senyum itu bukanlah senyum dari seseorang yang patah hati. "Karena ada anak baru, biar aku jelaskan," ujar April. "Aku adalah orang yang mengakhiri hubungan kita. Dan agar kamu nggak lupa, kamu adalah laki-laki yang dulu pernah memohon kepadaku sambil menangis, memintaku keluar dari pekerjaan ini demi menyelamatkan hubungan kita." Semua terdiam dengan ekspresi terkejut mendengar ucapan April. Brak! Semua terkejut ketika Noval tiba-tiba menggebrak meja, memecahkan kesunyian janggal yang terjadi sesaat sebelumnya. "Kamu ngomong apa?!" Noval menahan emosinya pada setiap tekanan dalam ucapannya. "Sebagai seorang laki-laki, semua orang pasti percaya jika kamu adalah laki-laki yang bijak karena mengakhiri hubungan ini, sebab ada wanita yang tidak tahu diri dan tidak mau berhenti bekerja demi menyelamatkan hubungan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah aku sebagai wanita lah yang lebih menghargai pekerjaanku daripada hubungan ini. Hmm, enak sekali jadi laki-laki bisa dianggap bijak dalam memilih hubungan. Ups, dan kamu sudah menikah, jadi orang-orang semakin yakin pilihanmu sungguh tepat." April tersenyum lebar. "Jadi bagaimana, Noval? Apakah hidupmu bahagia sekarang? Atau kamu masih mau memohon kepadaku agar aku berhenti dari pekerjaanku? Demi menyelamatkan hubungan kita?" Aku menelan ludah. Aku bisa melihat ekspresi terluka di wajah Noval dan ekspresi puas di wajah April. Ini bukan seperti yang kubayangkan. "Hhh, nafsu makanku hilang." Dimas berdiri dengan kasar, lalu beranjak pergi. "Jam istirahat sudah habis." April berdiri lalu pergi menyusul Dimas. "Yang dia omongkan itu benar, ya?" tanya Keyla pada Noval yang terdiam, seperti kehilangan kata-kata. Noval mendengus. "Bukan urusan kalian." Noval berdiri lalu beranjak pergi. "Wah, aku nggak tahu hubungan mereka kompleks begitu," komentar Keyla. "Maksudnya bagimana?" Kiki malah terlihat bingung. "Kita selama ini mengira April tersakiti setelah hubungan mereka putus, tapi sepertinya April baik-baik saja." Keyla menyeringai. "April memang cewek badass!" --- Pekerjaanku selesai setengah jam lewat dari jam pulang sehingga lab sudah sepi karena semua orang sudah pulang duluan. Aku mengunci pintu laboratorium lalu beranjak pergi. Aku berjalan meninggalkan meja administrasi lalu langkahku mendadak terhenti ketika melihat pintu balkon terbuka sedikit, melewatkan embusan angin sore hari. Aku segera mendekati pintu balkon, menggesernya, menemukan April sedang duduk di kursi balkon. Aku semakin sering menemukannya duduk di sana. "Oh, sudah mau pulang?" April menoleh. "Ya. Lab sudah kukunci," jawabku. "Mau mengobrol?" Ajakan itu sungguh mengejutkan bagiku. Ini pertama kalinya April mengajakku mengobrol lebih dulu. Dengan senang hati aku menerima kesempatan itu. Entah mengapa aku sangat ingin mengenal April lebih dekat. Sikap misterius April sering membuatku bingung dan penasaran. Aku mengangguk lalu duduk di kursi sebelahnya. "Apa kamu masih merasa kesal?" tanyaku ragu-ragu. "Kesal?" ulang April. "Oh, soal istirahat tadi, ya?" April tersenyum. "Nggak, aku malah merasa puas. Sebenarnya aku nggak peduli dengan anggapan orang tentang akhir dari hubungan kami. Tapi dia memanfaatkan kamu sehingga aku memutuskan untuk menjelaskan semuanya." Memanfaatkanku? Jujur saja, aku sungguh tidak mengerti. "Apakah itu artinya sejak awal kamu nggak mencintai Noval?" tanpa sadar aku bertanya. "Ah, maksudku..." aku menjadi salah tingkah dan takut membuat suasana menjadi kacau gara-gara pertanyaan bodohku. "Bagaimana denganmu?" April balik bertanya. "Apa kamu mencintai orang yang menyakitimu itu?" Pertanyaan balasan itu membuatku terdiam. Jujur saja, karena aku sudah berusaha melupakan kejadian itu, ingatanku tentang masa lalu menjadi buram. "Mungkin? Dulu?" Aku menjawab dengan nada tidak yakin. Entah apakah aku ingin mengelak dari pernyataan bodoh itu. "Bagaimana dengan kamu? Kamu belum menjawab pertanyaanku." "Hmm, Noval memang pernah sangat baik kepadaku. Dulu dia memperlakukanku seperti seorang puteri raja," April terkikik. "Meski aku nggak butuh ataupun nggak perlu, dia selalu berusaha untuk memperlihatkan dirinya sebagai lelaki sejati hingga aku merasa kasihan kepadanya." Aku menatap April dengan sorot bingung. Kenapa April malah menertawai usaha Noval di masa lalu? April berusaha menghentikan tawanya melihat reaksiku. "Maaf, kamu pasti nggak mengerti. Pada umumnya laki-laki selalu berusaha bersikap seperti seorang kesatria di awal sebelum berakhir menjadi raja otoriter." Rasanya semakin sulit untuk memahami pemikiran April. "Mada, jika kamu terjatuh dan aku menjulurkan tanganku padamu... apakah kamu akan meraihnya? Ataukah kamu akan bangun sendiri?" Aku tidak memahami pertanyaan itu. April berdiri. "Ayo pulang." Sepertinya dia tidak membutuhkan jawabanku.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN