Bab 4 : Closeness

1927 Kata
Tak terasa masa tiga bulan pelatihan akan segera berakhir. Aku terlalu fokus bekerja hingga lupa dengan waktu. Hanya tinggal dua minggu lagi maka aku akan resmi menjadi karyawan kontrak. "Kalau kamu mendapat penilaian istimewa di masa pelatihan, kamu bisa mengajukan pilihan divisi, loh." Keyla memberitahuku di saat aku sedang senggang. "Oh ya?" Informasi itu cukup menarik bagiku. Saat ini aku sedang membantu Keyla mengurus administrasi di meja depan. "Setelah masa pelatihan selesai, kamu maunya ke divisi mana?" tanya Keyla penasaran. "Aku harap kamu tetap di sini. Soalnya kamu bekerja dengan sangat baik. Selain itu kamu anak pelatihan pertama yang disukai April." "Hah? Aku?" aku menunjuk diriku sendiri dengan bingung. Disukai? Rasanya komentar Keyla terlalu berlebihan. "Iya. Selama aku bekerja dengan April, aku nggak pernah melihatnya mudah akrab dengan orang baru." Aku semakin bingung mendengar pendapat Keyla. Aku merasa tidak begitu akrab dengan April. Kami jarang mengobrol meski sering bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan. Jika diingat kembali, di antara yang lain aku memang yang paling sering berinteraksi dengan April. Namun itu semua karena urusan pekerjaan. "Biasanya April sangat galak dengan anak pelatihan," Keyla cekikikan. "Tapi dia suka padamu karena cara kerjamu." Aku sedikit salah tingkah. Disukai karena cara kerja sudah cukup membuatku bangga. "Bagaimana? Apa kamu mau tetap lanjut di divisi ini?" "Jujur... di awal aku agak ragu bisa bekerja di sini. Tapi setelah melalui semuanya, aku cukup merasa betah." "Baguslah jika kamu betah. Kuharap kamu mau lanjut di sini, sulit menemukan analis yang cocok untuk bekerja di tempat ini karena senior analisnya adalah April dan Dimas. Mereka berdua bagai larutan polar dan nonpolar yang tidak bisa menyatu. Mereka saja nggak bisa akur dengan Penyelia ataupun Manager Teknis. Suasana di divisi selalu dingin dan mencekam. Untunglah ada Kiki. Jika ditambah dengan kamu, suasana akan semakin nyaman." Aku tersenyum, cukup senang mendengar pendapat Keyla yang menyukai keberadaanku di sini. "Siapa yang akan menilaiku?" tanyaku. "Seharusnya dari penyelia, tapi biasanya Noval memberikan kewenangan penuh pada April untuk memberikan penilaian anak pelatihan. Dia hanya akan menandatangani hasil yang diserahkan oleh April." Aku mengerjapkan mata. Aku tidak pernah berpikir April yang akan menilai kinerjaku selama masa pelatihan. "Jangan khawatir, April sangat objektif. Aku yakin dia akan merekomendasikan kamu untuk lanjut di divisi ini. Aku juga yakin kamu akan mendapat nilai istimewa. Wah, mendapat nilai istimewa di masa pelatihan apalagi di divisi mikrobiologi itu nyaris mustahil, loh!" Keyla cekikikan. Obrolan kami berhenti ketika April baru saja datang dari rapat antar divisi. Aku segera pamit kepada Keyla lalu beranjak berdiri. Aku membukakan pintu untuk April. April mengangguk singkat padaku lalu melangkah masuk lebih dulu. Aku menyusulnya di belakang sambil memikirkan sisa waktu pelatihan. Aku harus bekerja lebih rajin lagi agar aku bisa mendapatkan nilai istimewa dari April. -- "Apa kamu selalu begitu?" "Hm?" Aku baru saja keluar dari ruang steril langsung membantu April memasukkan media ke dalam autoklaf steril. "Apa?" "Kamu selalu sigap membantuku. Dan juga membukakan pintu untuk para karyawan wanita." Aku terlalu sibuk mengunci pengait autoklaf. "Oh ya?" "Kamu pikir aku nggak bisa mengangkat keranjang dengan ratusan media itu?" Aku diam-diam tersenyum geli melihat ekspresi dingin di wajah April. Entahlah, meski masih sulit membaca ekspresi April, ada kalanya aku bisa menebak saat April sedang merasa jengkel kepadaku. "Apakah aku nggak boleh membantumu? Lagi pula aku nggak bisa membiarkan seorang wanita mengangkat benda yang terlalu berat." April mendengus. "Kita sama-sama digaji oleh perusahaan ini. Jadi kamu tidak seharusnya merasa kasihan pada hal yang nggak perlu." "Tetap saja, benda ini berat. Jika tidak ada aku, kamu bisa minta tolong pada Doni atau Dimas." Aku selesai menyetel autoklaf kemudian keluar dari ruangan. "Jadi kamu ingin aku memohon pertolongan orang lain?" Aku terdiam setelah menutup pintu, memandang wanita itu yang berdiri bersandar pada dinding sambil menatap sinis ke arahku. Aku menjadi bingung. Apakah ada yang salah dari kata-kataku? Apakah harga dirinya terlalu tinggi hingga tidak ingin meminta bantuan orang lain? "Meminta pertolongan ketika sedang butuh itu adalah hal yang wajar, kan?" Aku tidak mengerti mengapa April begitu mempermasalahkan hal-hal yang bagiku sangat sederhana. "Bahkan dengan membukakan pintu kepada setiap wanita? Apakah kamu ingin membuat semua wanita menyukaimu? Rupanya kamu sangat jago merayu wanita, ya?" Aku cukup terkejut mendengar kata-katanya. Jujur saja, aku tidak pernah berpikir untuk merayu siapa pun. Aku hanya bersikap baik, membukakan pintu untuk para wanita hanyalah salah satu bentuk rasa hormatku pada mereka. Apakah aku sudah bersikap berlebihan? Rupanya tidak semua sikap baik bisa diterima oleh semua orang. "Aku tidak bermaksud merayu siapa pun." Aku berusaha menjelaskan untuk meluruskan kesalahpahaman ini. "Jadi aku tidak boleh membukakan pintu untuk wanita, nih?" April memutar bola matanya. "Terserahlah." Aku tersenyum lalu bergegas untuk membukakan pintu ruang data untuknya. Dia melirik sekilas padaku sebelum melewati pintu lebih dulu. Aku menyusulnya di belakang. Entah mengapa aku senang melihat ekspresi jengkel di wajahnya. Itu lebih baik dari pada melihatnya dengan wajah dingin atau tanpa ekspresi. "Sudah nggak ada kerjaan di ruang steril lagi, kan?" tanya April. "Ya," jawabku. "Aku ingin melihatmu mengisi hasil sampel." Oh, apakah April ingin melakukan penilaian? "Oke." Aku segera duduk di kursi komputer data sementara April duduk di sebelahku. Aku mulai menggerakkan tetikus untuk membuka folder data sesuai parameter. April menggerakkan roda kursinya ke dekatku. Sesaat aku merasa kikuk karena posisi kami begitu berdekatan, membuatku bingung harus melakukan apa. "Kenapa gugup?" tanya April. "Eh?" "Biasanya kamu duduk sedekat ini dengan Keyla dan Kiki." Reflek aku menoleh kepadanya. Aku membeku. Kami sering duduk bersebelahan untuk mengerjakan parameter sampel. Tapi biasanya tubuh kami terbungkus jas lab dan mengenakan masker atau bahkan kacamata laboratorium. Saat ini aku bisa melihat wajahnya dari dekat tanpa penghalang apa pun. Tanpa sadar aku mengamati bentuk wajahnya hingga warna matanya yang hitam dan bibirnya yang berwarna coral. Aku segera tersadar, kemudian berpaling memandang layar komputer di depanku. Aku merasakan April menaruh sebelah tangannya di atas punggung kursiku, lengan kursi kami menempel. Dan aku bisa menghirup aroma parfum dari tubuhnya. "Cepat kerjakan," perintahnya. Suaranya terdengar pelan dan lembut, sangat dekat di telingaku. Apakah benar aku terlihat sedekat ini dengan Keyla dan Kiki? Tidak mungkin. Selama ini aku tidak terlalu menaruh perhatian pada para Wanita. Tapi aku tidak menyangka akan segugup ini ketika duduk begitu dekat dengan April. Aroma parfumnya yang manis seperti aroma es krim membuatku sesak napas. "Kenapa?" April mendekatkan wajahnya padaku. Reflek aku menjauhkan diri. "Segera kerjakan." "Ba-baik." Sungguh tidak nyaman mengerjakan sesuatu sambil ditonton oleh seseorang. Namun demi nilai sempurna aku harus menunjukkan kepada April jika aku bisa menyelesaikan tugasku tanpa kesalahan sedikit pun. "Bagus." Pujian April begitu singkat tetapi berhasil membuat jantung bergemuruh riang. Dia hanya diam sepanjang aku mengisi hasil sampel, bukankah itu artinya aku tidak melakukan kesalahan sama sekali? "Karena masih ada waktu, mau mengobrol sebentar?" Jantungku kembali berdetak tidak nyaman. April sama sekali tidak berniat memutus jarak di antara kami. Dan aku tidak mungkin tiba-tiba berdiri atau menggeser kursi karena sebelah tangan April ada di punggung kursiku. "Mau mengobrol apa?" aku pura-pura sibuk dengan memainkan tetikus di tanganku. "Topik apa yang biasanya kamu bicarakan dengan Keyla dan Kiki?" Aku menjadi bingung. Aku tidak pernah menjadi orang yang memulai pembicaraan. Keyla dan Kiki selalu punya segudang topik obrolan dan aku selalu menjadi pendengar. Aku menyadari jika aku dan April sama-sama bukan orang yang suka mengobrol atau memulai obrolan. "Hanya satu topik yang bisa membuatmu mau mengobrol denganku." Aku mengerjapkan mata. "Tentang pengalaman patah hati." Ah, soal itu. Tapi bukankah April mengakui tidak merasa patah hati setelah putus dari Noval? April bahkan tidak mencintai Noval saat masa berpacaran. Jadi apakah mereka memiliki pengalaman yang sama? "Apa kamu masih memikirkan mantanmu?" Aku menggelengkan kepala. Aku tidak suka pembicaraan ini tetapi aku tidak tahu bagaimana harus menghentikannya. Aku selalu mengkhawatir hal-hal yang dapat membuat April tersinggung jika aku tidak berhati-hati dengan ucapanku. "Benarkah?" Dia terlihat meragukanku. "Ya. Kejadiannya sudah lama. Aku juga sudah move on. Sekarang aku hanya ingin fokus bekerja dan menabung uang yang banyak untuk diriku sendiri." April tersenyum menyeringai. Aku tahu dia menyukai jawabanku seperti sedang menonton acara yang sangat seru. Mungkin baginya cerita hidupku adalah tontonan menarik di waktu luang. "Tapi kamu pernah mencintainya, kan?" Aku tidak mengerti mengapa April sangat mudah menanyakan pertanyaan yang sulit dijawab. "Mungkin. Di masa lalu. Lalu bagaimana denganmu? Kamu bilang kamu nggak memiliki perasaan cinta pada Noval selama kalian berhubungan." "Apakah harus memiliki perasaan cinta dalam hubungan?" dia balik bertanya, membuatku heran. "Lalu kenapa kamu mau menerimanya?" "Karena Noval adalah orang yang baik," jawab April. "Tidak salah 'kan menerima orang baik yang menyukai kita? Aku juga selalu membalas kebaikan dari perasaannya." Aku kehilangan kata-kata sejenak. "Cinta itu omong kosong, iya nggak sih? Perasaan itu muncul dari imajinasi kita saja dan kita memeliharanya tanpa tahu jika perasaan itu bukan sesuatu yang spesial." Aku tahu ucapannya salah. Tapi aku tidak tahu bagaimana mendebatnya. "Seandainya saja tidak ada yang menghalangi, apakah kamu pernah membayangkan diri akan menikah dengannya?" tanyaku. "Tentu saja. Memangnya apa lagi yang harus dilakukan dalam hubungan yang sudah berlangsung lama? Hanya saja aku nggak menyangka dia yang akan memaksaku keluar dari pekerjaan. Kukira dia sendiri yang akan keluar dari perusahaan ini karena selalu berkata akan melakukan apa saja demi rasa cintanya." Seringai April bertambah lebar. Sesaat aku kesulitan untuk merespons jawabannya. "Laki-laki nggak mungkin melepas pekerjaannya karena ini demi masa depan pernikahan, bukan begitu?" "Oh ya? Memangnya kenapa kalau aku yang bekerja di sini? Dia bisa mencari pekerjaan lain, iya kan? Pasti karena berpikir wanita nggak perlu bekerja setelah menikah. Hhh, aku sangat membenci orang-orang yang menormalisasikan wanita sebagai kaum lemah yang harus tunduk pada laki-laki. Apakah harus selalu begitu? Bukankah bisa saja laki-laki lebih lemah dari wanita? Wanita dan laki-laki memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing, bukan?" Aku pun menyadari satu hal tentang April. Wanita ini begitu mandiri, kuat dan memiliki pendirian. Menurut orang yang tidak terbiasa berhadapan dengan wanita seperti ini pasti menganggap April adalah wanita yang egois dan sulit. "Bagaimana menurutmu? Apakah kamu juga nggak suka dengan wanita yang memilih karir? Wanita yang tampil lebih kuat dari laki-laki?" "Selama ini aku nggak pernah memikirkan hal semacam itu," ungkapku jujur. April mengangguk. "Kamu pasti menganggapku aneh. Yah... wajar... aku sudah sering mendengar jika orang-orang menjulukiku sebagai monster." Aku terkejut mendengarnya. Siapa yang dengan berani menjuluki April dengan sebutan seburuk itu? "Hmm... apakah mantanmu pernah menghubungimu lagi?" April mengembalikan topik pembicaraan. Aku segera menggelengkan kepala. Hal itu tidak mungkin terjadi. "Aku yakin suatu hari mantanmu akan menghubungimu lagi." Aku mengerutkan dahi. "Apakah Noval menghubungimu setelah menikah?" Aku langsung menebak. Dia mengangguk. "Ya. Dia terlalu nggak sabaran. Lucunya dia berpikir aku berminat mendengar keluh kesah tentang pernikahan yang nggak seperti harapannya. Dia berpikir aku sangat patah hati dan mau menerimanya kembali walau dalam kondisi apa pun. Hmmph!" April langsung menutup mulutnya sendiri untuk menahan ledakan tawa. Aku terdiam, menatapnya dengan sorot bingung. Dia berusaha menghentikan tawa gelinya. "Lucu banget!" April menyeka matanya yang basah. Dia tertawa sambil mengeluarkan air mata karena begitu tergelitik. Reaksinya sungguh mengejutkanku. Kukira selama ini dia adalah seorang wanita patah hati yang ditinggal menikah oleh mantannya. Semua orang pasti melihatnya dengan perasaan simpati. Tetapi siapa yang mengira April menganggap pengalaman itu adalah hal yang lucu. "Nah, bagaimana denganmu?" Dia menatapku dengan pasang mata hitamnya. "Apakah kamu akan menerima mantanmu apa adanya jika dia kembali?" Aku tidak mampu menjawab. Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu akan terjadi pada hidupku. April tersenyum melihat reaksiku. "Kuharap kamu cukup waras untuk mengambil keputusan bijak agar tidak jatuh ke dalam lingkaran hitam." Aku selalu menganggap April adalah suatu buku dengan sampul tebal yang misterius. Ketika dibuka, isinya hanyalah halaman dengan kertas hitam tanpa ada tulisan. Aku tidak bisa membaca apa pun. Sementara bagi April mungkin aku adalah buku yang mudah dibaca isinya.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN