Bab 5 : Disgusted

1469 Kata
Aku masih sering membantu April melakukan hal-hal yang menurutku cukup berat dilakukan untuk seorang wanita. Aku juga masih sering membukakan pintu lebih dulu hingga Dimas menyindirku untuk membukakan pintu untuknya juga. Kebiasaan itu memang sedikit menghasilkan respons negatif, tetapi aku tidak bisa menghentikannya. April juga tidak pernah berkomentar lagi. Dia malah membiarkan keranjang berisi ratusan media di lantai hingga aku datang untuk membantunya. Dulu aku tidak pernah menampilkan sikap seperti ini. Dulu orang-orang lah yang datang untuk membantuku. Tetapi kali ini aku ada di sini untuk membantu banyak orang, sikap baik ini memberikan kepuasan tersendiri bagiku. Mungkin semua yang kulakukan ini hanya demi nilai pelatihan atau rasa hormatku pada orang-orang di divisi ini. Pekerjaanku sebelumnya lebih kasar dan sulit, aku juga jarang berinteraksi dengan para wanita karena lingkunganku saat itu lebih banyak berinteraksi dengan laki-laki. Mungkin karena itu lah aku sangat ingin menunjukkan diriku sebagai laki-laki di depan para wanita ini. Aku sangat yakin masa pelatihanku akan berakhir dengan mulus. Apa pun nilai yang diberikan oleh April akan aku terima. Aku juga berencana untuk tetap melanjutkan pekerjaanku di divisi mikrobiologi. Dengan dukungan Keyla, aku sangat yakin April juga berencana merekomendasikanku untuk melanjutkan pekerjaan di sini. Aku ingin bertanya langsung pada April, tetapi aku ragu untuk melakukannya. Interaksiku dengan April juga semakin dekat. Kami semakin sering mengobrol, kadang aku atau kadang dia yang memulai obrolan, dari topik ringan seperti cuaca hingga paling serius mengenai politik. Aku tidak menyangka mengobrol dengan April akan semudah ini, kami memiliki pemikiran yang sama pada sebagian besar topik. Aku sampai lupa jika dulu dia adalah senior paling menakutkan di divisi. Perlahan aku seperti mulai bisa membaca ekspresinya. Dia mulai jarang menyeringai, Dia mulai sering tersenyum. Benar-benar tersenyum. Hal itu semakin membuatku penasaran dengan berbagai macam ekspresi yang bisa ditunjukkan di wajah si Ratu Elsa, tokoh animasi di film animasi Frozen --sebutan Keyla untuknya. Selain itu juga April mulai sering ikut duduk bersama dengan yang lain di waktu senggang. Hal itu membuatku lega karena dia mau berbaur dengan Keyla dan Kiki meski hanya menjadi pendengar saja. Aku menyukai kehidupan baru ini. Sebab di sini aku merasa menjadi manusia normal. Hingga akhirnya ‎muncul sebuah pesan dari nomor asing. Seketika dadaku terasa sesak membaca isi pesan itu. Seperti prediksi April, orang itu kembali muncul dalam hidupku. -- Aku mengira telah berhasil melanjutkan hidup sebagai manusia normal, meski sebelumnya aku sempat pernah kehilangan tujuan hidup. Setidaknya aku cukup waras untuk tidak mengakhiri hidup, sebab aku tahu tindakan itu adalah dosa besar. Yah, sejak awal aku memang sudah menjadi seorang pendosa. Aku sering berbuat dosa. Dosa dan dosa lagi. Terlalu sulit untuk bertobat. Seolah setan telah memasang kerangkeng di sekelilingku sehingga aku terjebak di dalam lingkaran dosa ini. Mungkin Tuhan tidak berniat menyelamatkanku karena tumpukan dosaku yang sudah menggunung. "Hai." Aku menatap laki-laki itu duduk di teras rumahku. "Aku menemukanmu." Dia tersenyum dengan wajah yang masih sama dalam ingatan terakhirku. Ya. Setan telah menemukanku. "Kenapa kamu di sini?" tanyaku, kedua tanganku terkepal di samping tubuh. Aku tidak menginginkan pertemuan ini. Tidak. "Kenapa? Tentu aja kembali pada kekasihku," laki-laki itu menyeringai. Wajah yang dulu pernah membuat duniaku terasa hidup kini membuatku muak. "Aku sudah cerai." "Seolah aku akan senang mendengarnya," desisku. Setelah ditinggalkan dengan sangat kejam. Setelah semua yang telah aku lakukan untuk laki-laki ini. Dan juga setelah aku sudah merasa lebih baik. Kenapa semuanya kembali lagi? "Cewek itu nggak enak. Sama kamu lebih enak." Laki-laki itu tersenyum lebar. Senyum setan. Namun pada akhirnya aku membiarkan diriku masuk ke dalam kerangkeng setan lagi. --- Kenapa? Kenapa aku harus kembali ke dunia yang menyesatkan ini? Apakah karena aku merasa lebih pantas hidup seperti ini? Sebab aku tahu, sebagai pendosa, hanya dia seorang yang mau menerima aku apa adanya. Aku menatap Harlan yang tertidur lelap di sebelahku. Pada akhirnya aku tidak ke mana-mana. Kenapa aku tidak bisa melepaskan diri? Bukankah aku ingin menjadi manusia baru yang normal? Kenapa dengan mudah aku menerima Harlan kembali dalam hidupku? Padahal aku sudah mengikhlaskannya untuk hidup sebagai laki-laki normal bersama istrinya. Kenapa Harlan kembali kepadaku yang seorang laki-laki? --- Aku terbangun dengan perasaan payah. Aku masih di tempat tidur dengan tubuh yang lelah. Ketika teringat dengan kejadian malam tadi, aku hanya bisa menghela napas dengan perbuatan dosaku. Seketika aku tersadar. Ini jam berapa? Aku segera menyambar ponselku yang mati, kemudian menyambungkannya dengan charger untuk mengisi daya. Aku menunggu dengan tidak sabar sampai ponsel benar-benar menyala. Tanganku gemetar melihat jam di layar ponselku, kemudian bertambah ngeri ketika menemukan belasan panggilan dari Keyla dan dua panggilan dari April di layar histori panggilan. Perutku terasa diperas. Dosa membuatku lupa dengan kehidupan normalku. -- Aku sampai di lab pukul setengah tiga sore. Aku meminta maaf pada Keyla berkali-kali dan Keyla begitu saja menerima permintaan maafku karena tahu ada orang yang akan lebih marah dengan keterlambatanku. Aku bernapas lega tidak menemukan April di dalam lab. Aku membaca lagi pesan terakhirnya yang bilang akan mengerjakan sampelku jika aku tidak bisa hadir hari ini. Aku tidak mungkin membiarkan senior yang akan menilaiku mengerjakan tugasku. -- Aku membalas kesalahanku dengan mengambil jam lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang hampir terbengkalai hari ini. Aku selesai sekitar pukul delapan malam dan terkejut menemukan April duduk di sofa ruang data. Aku tidak menyangka dia masih ada di lab selarut ini. "Ka-kamu belum pulang?" Aku tergagap. "Maaf. Aku terlambat hari ini. Aku ada urusan mendesak tadi pagi dan tidak bisa mengisi baterai ponsel. Jadi aku tidak bisa menghubungi Keyla ataupun membalas pesanmu." Aku berusaha menjelaskan tanpa sanggup memandangnya langsung, takut ketahuan berbohong. Aku bisa merasakan sorot tajamnya menghujam kepadaku. "A-aku mau mengisi data dulu. Lebih baik kamu pulang saja, sudah sangat malam." Aku berharap April segera pulang, tapi dia tidak beranjak pergi dan juga tidak mengtakan apa pun sampai aku selesai mematikan komputer. "Aku mau pulang. Apa kamu sedang lembur? Aku..." "Urusan mendesak apa?" Aku mengerjapkan mata, terkejut mendengar pertanyaannya. Jadi sejak tadi dia menungguiku untuk bertanya. "A-aku nggak bisa memberitahumu. Ku-kuharap kamu bisa mengerti untuk satu kali ini. A-aku berjanji ng-nggak akan mengulanginya lagi." Aku terus tergagap meski seharusnya aku meyakinkannya. Padahal baru beberapa hari yang lalu aku merasa sangat percaya diri tidak akan pernah lagi melakukan kesalahan di depan April selama masa penilaian. April berdiri, lalu berjalan mendekatiku. Aku merasa risih ketika dia sudah berdiri cukup dekat di hadapanku. Aku tidak sanggup memandang langsung wajahnya. Tiba-tiba April memajukan wajahnya, mengendus ke dekat leherku. Aku tersentak kaget, reflek mundur menjauh hingga menabrak dinding di belakangku. Tak sengaja aku memandang ekspresi wajahnya yang tampak begitu dingin. "Aroma tubuhmu berbeda," ujarnya. Aku tak mampu merespons. Aku bahkan tidak mengira April akan mengatakan sesuatu tentang aroma tubuhku. "Mada," panggil April. "Apakah mantanmu kembali?" Deg! Aku sungguh tidak mengerti bagaimana April bisa menebak dengan begitu tepat. "A-apa maksudmu? Bukan hal semacam itu..." tapi aku tidak bisa menatap wajahnya ketika menjawab. "Sejak dua hari lalu aku memperhatikanmu gelisah setiap kali melihat layar ponsel." Aku kembali terkejut mendengar April memperhatikan sikapku selama dua hari ini. "Dan hari ini aroma tubuh kamu berbeda." Tatapan April begitu dingin menghujam. "Kenapa ada aroma tubuh laki-laki asing di tubuh kamu?" "April... aku nggak ngerti apa maksud kamu. Bagaimana bisa kamu tahu aroma tubuhku? Jangan konyol." "Penciumanku sangat sensitif. Kita sering duduk berdua jadi aku sudah hafal aroma tubuhmu. Aku suka aroma tubuhmu, rasanya seperti aroma bayi." Aku kehilangan kata-kata. Ini sungguh absurd. Bagaimana mungkin seorang laki-laki dewasa memiliki aroma bayi? "Tapi sekarang kamu berbau seperti laki-laki lain." Perutku terasa mulas. "Cukup. Kamu jadi seperti orang m***m ngomongin soal aroma tubuh orang lain. Aku menggunakan parfum temanku karena punyaku kehabisan. Mungkin karena itu" "Mada," April tiba-tiba menaruh sebelah tangan ke dinding di sebelahku. Menghalangi jalanku dan membuatku terkunci di dinding. Aku berdiri merapat pada dinding di belakangku untuk menjaga jarak darinya yang berdiri teramat dekat di depanku."Apakah mantanmu adalah seorang laki-laki?" Lagi. Aku kehilangan kata-kata. Aku seharusnya segera menyangkal tetapi bibirku bergetar hebat karena syok. Bagaimana bisa April menebak dengan begitu mudah? April menurunkan tangannya lalu bergerak menjauh dariku. Aku masih membeku dan terkejut melihat ekspresi di wajahnya. Bibirnya tersenyum lebar menyeringai sementara matanya melemparkan tatapan menghina yang menusuk langsung ke jiwaku. Hidup baru yang kujaga selama ini kini telah ternoda. Dari sekian orang, April adalah orang yang mengetahui kebusukanku seperti membaca kitab penuh dosa. April mendengus. "Kukira kamu adalah playboy yang suka mencari perhatian para wanita. Ternyata kamu lebih dari pada itu. Astaga, maniak menjijikan. Apakah malam tadi kalian sudah berbaikan? Lihat, kamu kelihatan sulit berjalan dan aku bisa melihat bekasnya di lehermu." Aku segera menutup kepalaku dengan tudung jaket. Wajahku panas seperti akan meledak karena perasaan malu. April menertawaiku dengan sorot jijik, aku segera berlari pergi dengan langkah tertatih, meninggalkan lab, menjauh dari suara tawanya yang mengejekku. Rasanya aku tidak akan bisa hidup lagi setelah ini. Besok semua rahasia penuh dosaku pasti telah terbongkar. April pasti akan membeberkannya, menyebutku maniak menjijikan pada Keyla dan Kiki serta Dimas.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN