Lapangan outdoor, di sinilah Reira berada kalau saja Aldo tidak memaksanya, ia tidak akan mau datang ke sini, melihat songongnya Aldo saat bermain futsal . Reira mengusap keringat di dahinya, cuaca hari ini cukup panas di tambah suara teriakan-teriakan menggema di telinganya membuat kepalanya pusing.
Aldo mengoper bola pada temannya dan terus saja di oper-oper hingga tim lawan kewalahan dan bingung apa yang harus di lakukan timnya agar menyusul ketertinggalan point.
"Yey Aldo keren!!"
Reira menoleh ke sumber suara, ternyata ada si dodol yang berteriak-teriak. Namanya bukan dodol sih, tapi Dola bukan cuma Reira yang memanggil Dola dengan dodol tapi hampir semua teman-temannya pun ikut memanggil Dola dengan nama dodol.
"Beruntung banget si kelas kita punya Aldo!"
"Mana cakep-cakep gimana gitu."
"Liat noh kakak kelas ganjen ngeliatin Aldo kayak gitu."
"Wih iya, ganjen banget si."
"Liat noh Aldo nyamperin kita."
"Pasti ke gue itu."
"Siapin air woii!!!"
Reira memutar bolanya malas ketika teman-teman sekelasnya berteriak heboh untuk Aldo, iya untuk Aldo tidak untuk lainnya padahal Aldo bermain tidak sendiri.
Arin menyenggol bahu Reira. "Noh Aldo nyamperin lo, kasih minum gih."
"Ogah!"
"Ra, gue minta minum," ucap Aldo yang baru saja datang sambil menjulurkan tangannya meminta.
Reira menoleh ke teman-temannya, mereka sudah siap dengan sebotol air untuk di berikan pada Aldo tapi kenapa dia meminta air kepadanya. Reira menyondorkan sebotol air mineral pada Aldo. Aldo tersenyum menerima botol air mineral yang di berikan oleh Reira lalu dengan cepat meneguknya sampai habis.
Aldo memukul botol kosong itu ke kepala Reira tentu saja Reira menggeram marah dan memukul Aldo balik dengan botol air mineral milik Arin.
"Sakit 'kan? Rasain!" ketus Reira kasar.
Aldo mengusap-ngusap kepalanya sambil meringis kesakitan."parah lo Ra, kasar bener."
"Gue tanya, siapa yang duluan?"
"Gue," jawab Aldo sok polos.
"Yaudah jangan salahin gue, salahin lah diri lo sendiri!"ucap Reira seraya pergi meninggalkan Aldo dan teman-temannya.
Aldo menyusul Reira, ia berlari untuk menyamai langkah Reira. Reira berhenti kemudian menatap Aldo heran.
"Lo kenapa ngikutin gua?" tanya Reira.
Aldo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."gue kira lo ngambek."
Reira menggeleng pelan, ia menatap datar sang lawan bicara. "Bocah banget," ucap Reira sinis.
"Kan dikira, heran gue sama lo dari tadi bibir lo minta dicium," canda Aldo.
Reira melotot, dengan cekatan ia memukul-mukul lengan Aldo. Kenapa dia bisa berfikir seperti itu? Dasar otak Aldo miring.
Aldo meringis kesakitan, ia memegang lengan Reira yang sedari tadi tidak berhenti-berhenti memukuli lengannya. Aldo diam begitupun Reira kedua bola matanya bertemu dengan kedua bola mata Reira, ada perasaan aneh di dalam diri Aldo.
"Ishh!"Reira melepaskan lengan Aldo kasar.
"Gue becanda elah, gue gak bakal cium lo kok walau bibir lo kode terus minta dicium," kata Aldo di iringi dengan kekehan.
Reira mencubit lengan Aldo. "Dasar Aldo m***m!!"
Aldo tertawa dengan keras, mengusili Reira adalah hobinya sehari tidak mengusili Reira sepertinya hidupnya akan kurang. Aldo mengacak-ngacak rambut Reira sampai berantakan, tentu saja Reira tidak diam. Dia pun ikut mengacak-ngacak rambut Aldo tapi percuma saja rambut Aldo pendek, di acak-acak sampai tahun depan pun tidak berantakan.
"Cukup! Aldo!! Ish, ngeselin, rambut gue berantakan!"
"Abis gemesin."
"Lo ngak main lagi?" tanya Reira seraya duduk di kursi panjang tepat di depan kelasnya.
"Main tapi nanti, tadi hampir aja kelasnya si Zenn nyetak skor," kata Aldo sambil menjambak rambutnya sendiri.
Reira menaikkan sebelah alisnya."Lah, kan hampir, lagian lo kan gesit banget tadi."
Aldo menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kelas kita masuk semifinal lawan kelasnya si Arjun, gue kali ini agak pesimis gak yakin menang."
"Tumbenan amat lo biasanya pede-nya tingkat dewa," cibir Reira.
"Ini masalahnya si Arjun, dia sama gua tuh sebanding tapi gua lebihan lah dikit."
"Tuh kan tuh kan, udah kayak gini juga masih aja sombong!" ucap Reira meninggikan suaranya.
Aldo terkekeh lucu, ia menarik-narik pipi Reira gemas.
"Sakit Al."
Aldo diam sejenak, memperhatikan wajah Reira lebih tepatnya pipi Reira yang memerah. Aldo mengulurkan tangannya memegang pipi Reira dengan lembut melihat lebih jelas pipi Reira yang memerah.
Reira menatap Aldo heran, ia menghempaskan tangan Aldo agar tidak terus-terusan menempel di pipinya.
"Apasih Al mau modus ya!"tuding Reira sambil menunjuk Aldo.
"Kenapa pipi lo merah Ra?"tanya Aldo khawatir.
"Kan tadi lo cubit-cubit, gimana sih Al," dengkus Reira.
Aldo menggeleng. "Gak ini bukan bekas cubitan gue, cepet bilang aja ini sama siapa?"
"Lebay banget deh Aldo."
"Ra," panggil Aldo agar Reira bisa serius berbicara dengannya.
"Sama Leona."
Aldo membelalakan matanya, yang Aldo tahu Leona itu sangat sayang pada Reira jadi mana mungkin Leona menamparnya. Ya, Aldo tahu merah yang ada di pipi Reira itu bekas tamparan seseorang.
"Ini serius Leona yang nampar lo?" tanya Aldo tidak percaya.
"Nampar? Ona gak pernah nampar gue, gimana bisa dia nampar gue waktu gua tidur tapi kalau di cubit-cubit sih sering."
Aldo berfikir keras, jika bukan Leona lalu siapa? Jelas-jelas ini bekas tamparan.
"Ini bekas tamparan Ra, lo cerita aja ke gua siapa yang nampar lo ... kalau lo diem aja gimana gue mau nolong lo."
Terlintas mimpi buruk di pikirannya, bagaimana Devano menamparnya dengan sangat keras tapi mana mungkin mimpi bisa berefek ke kehidupan nyata. Reira mengetuk-ngetukan telunjuk di dagu memikirkan kembali apa yang ia lakukan sampai pipi-nya memerah.
"Mm ... gue gak tau Al sumpah deh, mungkin semalam ada nyamuk di pipi gua kali yak sampe gak sadar kalau pipi merah ini karna gua sendiri."
"Nyamuk?di kamar lo? Masa sih--"
"Udahlah Al, gua ini yang ngerasain bukan Lo,,cerewet amat kayak ibu-ibu komplek!" potong Reira.
"Ta--"
"Main sono lawan Arjun,"lagi-lagi Reira memotong ucapan Aldo membuat Aldo mendengus kesal.
Aldo berdiri mengacak rambut Reira lagi, kemudian melengkang pergi menuju lapangan untuk melanjutkan pertandingan. Reira mengambil handphone di sakunya, melihat wajahnya yang tampak mengenaskan menurutnya.
Drtttt...drttt...drttt
Getaran ponsel membuyarkan lamunannya, sebuah nomor tak di kenal muncul di layar ponselnya. Segera ia mengangkat panggilan itu.
"Halo."
"Apa ini dengan kakaknya Leona."
"Iya saya sendiri, adik saya kenapa ya?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Adik anda pingsan saat olahraga dan sampai sekarang Leona belum bangun."
Deg
"Baiklah saya segera ke sana."
Tut
Reira panik, ia langsung mengambil tasnya di dalam kelas dan menuju ruang Bk untuk meminta izin pulang lebih awal.