4. Mimpi Buruk

1113 Kata
Reira sekarang sedang berada di ruang keluarga, semua kakaknya berada di sana kecuali Aksya. Lima belas menit yang lalu Deva memanggilnya untuk menemuinya di sini tapi yang ia lihat sekarang adalah mereka malah sibuk seolah mereka tak menyadari kalau ia ada di sini sejak tadi. Deva dan Dion yang pokus ke laptopnya masing-masing sedangkan Rey matanya tertuju pada televisi sambil mengunyah snack. Reira beranjak dari sofa, berniat untuk beristirahat di kamarnya. Baru beberapa melangkah deheman seseorang membuatnya berhenti melangkah. "Suruh siapa kamu pergi dari sini hem?" tanya Deva dingin. Reira membalikan badannya, ia kembali duduk.Tatapan Deva sangat menyeramkan, membuatnya takut. "Aku ingin beristirahat kak, aku lelah." Deva terkekeh, bukan! kekehan itu bukanlah kekehan lucu tapi kekehan itu seperti mencengkam dirinya. Setelah Deva terkekeh, dia menatap Reira tajam. "Lelah? Lelah bermain dengan rumput maksudmu?!" tanya Deva ketus. Reira mengigit bibir bawahnya pelan, ia tidak tahu lagi harus berbicara apa pada Deva, dia terlihat seperti monster sekarang beda halnya dengan Dion dan Rey yang sama sekali tidak terganggu dengan perdebatanya. "Ak--" Reira diam, kalau ia lemah maka lelaki yang sedang berdebat dengannya akan selalu menindasnya yang harus ia lakukan hanya bersikap biasa dan terlihat tenang. "Aku hanya bermain di luar, apa itu mengganggumu?" jelas Reira pada Deva. Deva tersenyum miring. "Sepertinya kau sangat berani adik kecil." Jelas sekali, ucapan Deva seperti monster yang sedang menakutinya. Lagi dan lagi ia harus bersikap biasa toh dia mengaku sebagai kakaknya tidak mungkin juga kan dia menyakiti adiknya sendiri. "Yah, aku memang berani! Aku ngak takut sama siapapun termasuk dengan anda tuan Devano bha apa?bhatia yah bhatia!" tegas Reira dengan percaya dirinya. Entah setan mana yang sudah merasuki tubuh Reira hingga ia mempunyai keberanian yang dapat mengundang amarah siapapun yang mendengarnya. Deva menggeram marah, kedua telapak tangannya mengepal. Deva memegang dagu Reira pelan sedetik kemudian dia menekan dagu Reira kuat hingga Reira tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Rey berdiri melihat adiknya di perlakukan kasar oleh kakaknya sendiri. Sebenarnya Rey tidak terima, tapi apa daya Rey semua kekuasaan ada di tangan kakak tertuanya, Devano bhatia cowdree. "Kak--," lirih Rey berniat untuk membantu Reira. "Sayang sekali hari ini hari yang membahagiakan untuk kami, jika tidak mungkin kau sudah di berikan hadiah besar hari ini," kata Deva masih menekan pipi Reira yang sudah memerah. "Jangan lupa, aturan di rumah jangan sampai di langgar atau--" ucap Deva menggantung. "Atau kau mendapatkan kebahagian yang lu-ar biasa," ucapnya lagi menekan kata 'luar'. Setelah cukup Deva melepaskan tanganya dari pipi Reira. Reira menangis mengeluarkan sedikit isak tangis nya, Rey melihat itu pun hanya diam, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Deva melenggang pergi dari tempat itu dan meninggalkan Reira, Rey dan Dion. Rey membawa Reira ke kamar Reira, melihat adiknya menangis membuat hati kecilnya tergores dan merasakan sakit. "Jangan menangis, aku mohon jangan menangis," ucap Rey sambil mengelus lembut rambut Reira. Reira menunduk merasakan takut, seharusnya mulutnya di jaga kenapa bisa ia selancang itu di depan kakaknya. "Kamu jangan takut sama kakak, kakak gak akan pernah nyakitin kamu. Kakak itu sayang banget sama kamu bukan cuma kak Rey, mereka juga sayang sama kamu hanya saja cara penyampaian rasa sayangnya berbeda," ucap Rey menjelaskan pada Reira. Rey mengusap air mata Reira mengunakan jarinya lalu tersenyum. Rey menarik Reira kedalam pelukannya, dia mengusap-usap punggung Reira menenangkan agar Reira tidak menangis lagi. Reira merasa nyaman di peluk oleh Rey hingga ia tidur di pelukan Rey. Rey menyadari kalau Reira tertidur di pelukanya, dia menggendong Reira ke kasur. Rey menarik selimut sampai ke leher Reira. Ia mengecup singkat kening Reira. "Selamat tidur adiku tersayang" -OoO- Merasa ada yang menggangu tidurnya, ia terbangun sambil mengucek-ngucek matanya. Saat pertama kali membuka matanya ia melihat sesosok wanita berpipi chuby dan menggemaskan, ia tersenyum langsung saja ia memeluk wanita itu. Leona Refinda Agustira, dia adiknya. Beruntung kejadian yang pernah ia alami hanya sebatas mimpi semoga saja mimpi buruknya itu tidak akan pernah muncul lagi di hidupnya. Leona melepaskan pelukannya, dia menatap Reira dengan bingung. "Kak Rara kenapa susah banget sih di bangunin! Dasar kebo!!" dengus Leona. Reira mencubit gemas pipi Chuby Leona."kakak tuh nyeyaaaaak banget bobonya, lain kali kalo kakak bobonya nyenyak lagi sampe susah di bangunin sama kamu gak papa kamu guyur aja kakak ya." "Asiaaap! Pake air es ya, biar seger," kata Leona sambil tertawa. "Boleh ... boleh ... boleh nanti gantian ya kamu lagi yang di guyur pake air es." Leona menghentikan tawanya, lalu menatap datar sang kakak. Reira yang melihat berubahan raut wajah Leona pun tertawa terbahak-bahak. "Boro-boro pake air es pake air biasa aja gak boleh, nanti yang ada kuping Ona lepas ditarik sama Mami."cerita Leona sambil mencebikan bibirnya. "Ona janji ya, jangan pergi dari kehidupan kakak," ucap Reira yang ntah kenapa perasaan akan meninggalkan keluarga ini semakin mendekat. Leona menatap Reira lalu tersenyum."Ona janji kak, Ona gak akan pernah ninggalin kakak, Mami sama papih." "Makasih banyak adikku ternyebelin." "Kok nyebelin si!"omel Leona. "Tersayang." Senyum Leona melebar dan langsung memeluk Reira dengan erat. OOO Hari ini ternyata di sekolahnya sedang Freeclass karena hari ini ada pertandingan Futsal antar kelas. Dan tentu saja dia hanya berdiam diri di kelas, tidak berniat untuk keluar kelas apalagi berteriak-teriak mendukung kelasnya. Mimpinya semalam kembali berputar di otaknya bak sebuah Film yang berputar secara terbalik. Dari akhir sampai awal dari berpelukan dengan Rey sampai ia melihat Aksyara. Pipinya terasa panas, ntah karena tamparan keras dari Deva atau Leona yang memainkan pipinya dengan keras sampai pipinya terasa perih dan panas. Ia mempercayai opsi yang kedua, iya ini pasti karena Leona kalau opsi yang pertama itu berada di alam mimpi mana mungkin lukanya sampai pada kehidupan nyata. "Dorr!" Sudah dipastikan yang mengangetkannya adalah Aldo. Aldo terdiam berniat untuk mengagetkan Reira malah dianya tidak bereaksi apa-apa, Aldo menepuk bahu Reira. "Jangan melamun masih pagi!" "Lo ngak ikutan tanding?"tanya Reira pada Aldo. "Ikutanlah, kalo ngak ikutan gue bakal pastiin bakal kalah," kata Aldo dengan sombongnya. Reira memutar kedua bola matanya malas, ini nih yang ia benci dari sikap Aldo yaitu sikap sombongnya yang gak ketulungan. "Yeuu sombong kena Azab lo!" "Jangan dong terakhir kali lo ngomong gitu baju gua sobek kena paku," ucap Aldo dengan muka melasnya. Reira menahan tawanya, ia ingat saat itu Aldo baju dia terkait paku di ujung kantin, padahal kejadian itu sama sekali gak berhubungan dengan ucapanya tapi Aldo malah menyangkutpautkan bahwa ucapan Reira yang menyebabkan ini terjadi. "Mumpung ketawa masih gratis, sekarang lo boleh kok ketawa," ujar Aldo. hahaha Tak berniat tertawa, ia malah tertawa dalam hati tapi, memangnya bisa??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN