Reira menatap kagum mansion milik keluarga ini. Besar, luas dan indah. Yap! Keluarga di dalam mimpinya memang ini benar-benar di luar pemikirannya, bukan ia senang memiliki keluarga kaya raya tapi apa mungkin mereka benar-benar keluarga kandungnya.
Dia duduk di ayunan tepat di samping kolam renang Outdoor. Banyak sekali jenis bunga yang tumbuh di sekitar halaman mansion hingga dia ingin mengambilnya.
Ada tukang kebun yang sedang sibuk mencabuti rumput liar, Reira pun penasaran ia menghampirinya. Tukang itu menyadari ada seseorang yang sedang memperhatiakanya. Tukang itu mendongkak dan terkejut saat Reira jongkok membantunya mencabuti rumput liar.
"Nona jangan lakukan ini, nanti tuan muda bisa marah," ucap tukang itu takut-takut.
Reira menggeleng cepat."nama aku bukan nona tapi Re-- eh, maksudnya Raira."
"Tapi nona--"
"Raira ganggu Paman ya? Maaf ya paman tapi aku pengen bantu," sela Reira pada tukang kebun.
Tukang kebun itu menggaruk tengkuknya. "Bukan gitu Non, nanti saya bisa dipecat sama tuan muda kalau Non bantuin saya."
Reira mencebikan bibirnya, apa salah jika dia ingin membantu. Kenapa harus takut pada, siapa itu namanya Tuan muda siapa dia? Rey, Dion atau Deva?
Mungkin semuanya.
"Nama Paman siapa?"tanya Reira pada tukang kebun.
"Nama saya Jeje Non, panggil aja Pak Je," jelas Pak Je meemperkenalkan diri.
Reira tersenyum, Pak Je ternyata lucu. Rambutnya hitam klimis, kulitnya sawo matang, kurus dan memakai pakaian yang kelonggaran menambah kelucuan Pak Je. Pak Je senyum-senyum, tak lama senyum itu memudar dan pak Je kembali melanjutkan pekerjaannya.
Reira menoleh kebelakang, ternyata ada 2 pria berpakaian serba hitam sedang memperhatikanya. Pantas saja tadi wajah Pak Je yang senyum berubah menjadi masam ternyata melihat pria jelek ini.
"Maaf Nona, Tuan muda melarang Nona untuk bermain di luar karena cuaca yang panas."
"Tuan muda, siapa tuan muda?" tanya Reira kesal pada 2 orang itu.
"Tuan Deva Nona," jawab salah satu orang itu.
Devano bhatia Cowdree, oh yeah! Dia lelaki yang mengaku sebagai kakak tertuanya eh ralat bukan mengaku dia memang kakak tertuanya dan tentu saja di alam mimpi. Seberapa kayanya lelaki itu sebenarnya, ia belum sempat mencari tahu karna mereka tidak memberitahunya soal pekerjaan mereka apa? Dan kemana orang tuanya.
"Aku bisa ngobrol ngak sama paman?" ucap Reira pada dua orang itu dan Meraka langsung mengangguk sebagai tanda persetujuan.
"Tapi jangan disini ya Nona, bagaimana di sana tempatnya teduh."
Reira mengangguk, dia langsung menuju tempat yang di tunjukan oleh kedua lelaki ini, lelaki yang sekarang berada di belakangnya.
Reira duduk sambil melihat tempat ini, seluas apa mansion ini? Berapa banyak tempat lagi yang belum ia kunjungi? Banyak pertanyaan yang bermunculan di benaknya. Tempat ini sangat indah, berada di depan Mansion, berbentuk kerucut dengan kursi yang terbuat dari marmer yang menyatu dengan lantai tempat itu. Di kelilingi air mancur yang seakan tempat ini hanyut dalam air.
Reira menatap kesal pada dua orang lelaki yang ada di hadapanya ini, mereka berdiri sedangkan ia duduk, apakah hal ini sopan? Tidak bukan.
"Ada apa Nona?"
"Kalian berdiri dan aku duduk apakah itu sopan?"
"Tapi Nona--"
"Yaudah aku juga berdiri." Reira bangun dari tempat duduknya.
"Baiklah Kami duduk."
Akhirnya mereka pun duduk, Reira bingung kenapa lagi dengan mereka berdua? Mereka lebih mementingkan sepatu mereka dari pada bertatapan di dengannya. Mereka terus saja menunduk, seakan dirinya tak ada di hadapannya.
"Lagi nyari duit di bawah?" tanya Reira seakan menyindir.
"Tidak, Nona."
"Baiklah, bolehkah aku bertanya pada paman?" tanya Reira pada mereka berdua.
Mereka berdua mengangguk kompak."Tentu saja Nona."
"Sebenarnya aku ini kenapa?kata kakak aku kecelakaan tapi kenapa tidak ada luka satu pun di tubuhku."
"Maafkan kami Nona kalau soal itu kami tidak bisa memberitahu Nona, biarkan Tuan muda menjelaskan semuanya pada Nona,"jelas pria berambut pirang itu sopan.
Reira mengetuk-ngetuk meja kayu sambil sesekali menatap dua pria yang ada di hadapanya ini.
"Tolong ceritain semua anggota keluarga ini dong, aku sungguh tidak tahu apa-apa."
Mereka mengembuskan nafas-nya lalu tersenyum.
"Baiklah nona kami akan menceritakan semua keluarga nona, kami tidak tahu semuanya tapi kami akan menceritakan yang kami tahu."
"Nona tahu, tuan Rey?"
Reira mengangguk, Reysert dia kakak keempatnya.
"Umurnya 19 tahun tapi dia sudah kuliah semester terakhir sekarang, dia kuliah di London,"jelas pria itu
Reira menggeleng takjub, bagaimana bisa orang berumur 19 tahun sudah kuliah apalagi dia kuliah semester terakhir. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana cerdasnya seorang Reysert bhatia cowdree, ini hanya Rey belum lagi, Deva, Dion dan Aksya.
"Tahun ini dia akan wisuda,"lanjut pria berambut pirang menambahkan.
"Lanjut, tuan Dion. Dia seorang dokter hebat yang bisa menemukan obat dari penyakit yang baru-baru ini menyebar, tapi untung saja tuan Dion bisa menyelamatkan nyawa mereka tepat waktu. Nama tuan Dion sudah terkenal di berbagai manca negara, namanya sudah mendunia, dia selalu bulak balik ke luar Negri karena banyak orang yang membutuhkanya. Tuan Dion jarang ada di rumah ini nona, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya."
Dokter, Gardion bhatia cowdree seorang dokter, hebat sangat hebat. Reira menunggu mereka berdua melanjutkan ceritanya kembali, dia mengubah posisi duduknya mencari posisi nyaman.
"Aksya, dia lulusan sarjana Amerika sama seperti tuan Deva hanya saja jurusan mereka berbeda. Mereka lulus secara bersamaan pada 6 tahun yang lalu dan bravo mereka menyandang S2 hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun. Nona Aksya dia sekarang seorang penulis terkenal, dia sudah menciptakan banyak sekali buku dan setiap buku yang dia ciptakan selalu best seller. Bukan itu saja, dia mempunyai toko kue yang besar."
"Dan tuan Deva_"
Drttttt...drtttt...drtttt
Sial
Suara telepon menghentikan pria yang ada di hadapanya ini bercerita, Reira menghembuskan nafas kasarnya.
"Maaf nona, nanti kita lanjutkan lagi."
Pria berambut pirang berdiri menganggat telpon, sedangkan satu pria lain ikut berdiri menghampiri pria yang sedang menelpon. Sedikit-sedikit ia bisa mendengar percakapan di telpon, membuatnya sedikit murung karna ia yakin yang menelpon itu adalah kakaknya.
"Maaf nona tuan Deva memanggil nona,"ucap pria botak sopan.
"Baiklah--"ucap Reira bangun dari kursinya.
"Maaf paman, aku ingin tahu nama kalian. Aku gak bisa memanggil kalian paman nanti bisa-bisa semuanya menengok hehe,"ucap Reira lagi sambil berjalan mengikuti arah pria itu.
Mereka terkekeh. "Baiklah, kenalkan nama saya Ann panggil saja Mr.Ann," kata Mr.Ann
"Kalau saya, pangggil saja Mr.Zee."
"Oke Mr."