Sepeninggal kakaknya, Aksara berniat untuk bangun. Dengan bersusah payah, ia berusaha menopang dirinya sendiri. Sakit ... sudah pasti. Setiap bergerak sedikit saja, rasa perih itu terus menyerang. Keringat dingin merembes kembali dari pori-pori kulitnya. Ia usahakan mengatur napas sebisa mungkin. Ia usahakan untuk kuat, meski ia tahu ... ia itu lemah. Ia benci dirinya sendiri yang lemah. Ia bahkan hanya sedikit memaksakan diri beberapa hari, tapi kondisinya sudah menurun, dan terus-terusan kumat. Aksara berhasil turun dari ranjang. Sekadar untuk menopang tubuhnya sendiri pun tak bisa. Ia berpegangan pada apa saja yang bisa ia raih. Tubuhnya pun tak mampu berdiri dengan tegak. Tetap membungkuk sebab rasa sakit itu menghalanginya untuk menegakkan diri. Napasnya terengah meski ia bahkan be

