"Nak Brasta, sudah makan?" Supartun dengan santun bertanya pada Brasta. Brasta langsung mengangguk. "Iya, sudah, Bu." "Harusnya jangan makan dulu tadi. Sarapan di sini aja." Brasta tersenyum. Betapa mulianya hati wanita ini. Luas sekali kebaikannya. Tidak peduli kondisi hidupnya yang jauh dari kata mudah, namun ia tetap dermawan pada orang lain. "Terima kasih, Bu." Brasta dengan tulus mengucap terima kasih. "Kalau begitu, Ibu buatkan teh hangat saja, ya?" Supartun sudah menawarkan hal lain lagi "Nggak usah repot-repot, Bu. Saya beneran udah kenyang banget. Kapan-kapan kalau main ke sini lagi aja, ya." Brasta menolak dengan halus. Bukannya menolak rezeki atau apa, ia tadi baru saja minum obat. Takut efek obatnya jadi ternetralkan oleh zat yang ada di dalam teh. Selain itu ia masih m

