Ken
Barangkali sejak Luna hadir lagi di hidupku, aku jadi sering bangun lebih awal. Aku yang biasanya bangun di jam 6 sore, sekarang bisa bangun satu jam lebih awal. Ini perkembangan yang cukup baik. Bisa saja suatu saat nanti gaya hidupku kembali normal, seperti manusia pada umumnya.
Sore ini, aku telah menyiapkan hadiah untuk Luna. Bukan barang mewah sih, hanya beberapa pakaian yang sudah pasti sangat ia butuhkan selama tinggal di sini. Kuharap, Luna akan menyukainya. Aku sengaja memilihkan model pakaian sesuai dengan seleranya. Kuharap, seleranya belum berubah.
Aku beranjak ke rumah sebelah. Membawa kotak hadiah yang telah kusampul sangat menarik. Lantas, aku mengetuk pintu dan memanggil Luna. Namun, yang dipanggil tak juga menjawab. Tak ada sahutan apalagi sambutan dari dalam. Rumah itu nampaknya kosong. Mungkin Luna sedang keluar. Dengan terpaksa, aku kembali ke rumah.
"Ken," sapa Luna saat aku hendak masuk rumah. Mengenali suaranya, tentu saja aku langsung menoleh. Aku tersenyum lebar begitu melihatnya. "Sini!" kataku seraya memanggilnya dengan gerakan tangan. Luna pun segera menghampiri dengan wajah cerianya.
"Kamu dari rumahku?" tanyanya begitu sampai di teras.
"Iya. Kamu lihat ya? Kamu abis dari mana?" tanyaku kemudian.
"Pulang kerja," jawabnya singkat.
"Kerja?"
"Iya. Aku sekarang kerja di Kedai Camsun."
"Kedai makanan online yang terkenal itu?" aku memastikan.
"Oh, itu terkenal ya? Aku bahkan baru tau," ucapnya seraya tertawa ringan.
"Kedai itu nomor satu di wilayah ini. Gimana ceritanya kamu bisa kerja di sana?"
"Panjang ceritanya. Itu apa di tanganmu?" tanya Luna, mengganti topik percakapan. Sepertinya dia penasaran dengan apa yang ada di tanganku.
"Oh, ini. Ini hadiah buat kamu," aku menyerahkan kotak itu kepada Luna.
"Buatku?"
"Iya. Aku ke rumah kamu buat ngasih ini," aku menjelaskan.
"Wah ... makasih! Boleh aku buka sekarang?"
"Tentu. Kita buka di dalam ya, ayo masuk dulu," usulku. Kami pun lantas memasuki rumah.
Setibanya di dalam, Luna terlihat aneh. Dia mulai menunjukkan gelagat herannya terhadap suatu benda yang ada di rumahku. Dia tak banyak bicara, tapi lebih banyak memerhatikan. Lebih tepatnya mengamati.
"Tunggu sebentar, aku ambil minum dulu. Kamu pasti haus," kataku seraya menuju dapur.
Luna tak menjawab. Ia segera menyimpan kotak hadiah itu di atas meja. Lantas kembali asik dengan pengamatannya. Ia tengah mengamati robot Wulan yang terpajang di sudut ruangan.
Saat aku kembali dengan dua botol teh dingin di tanganku, Luna menunjukkan sikap anehnya. Dia terlihat seakan baru pertama kali melihat benda semacam itu.
"Hey, kenapa kamu gak gerak? Kamu manusia atau bukan?" ucapnya sambil menyentuhkan telunjuknya ke badan robot itu.
Aku sampai geli sendiri melihat tingkahnya.
"Itu robot. Namanya robot Wulan. Jadi gak mungkin gerak kalo gak dihidupkan," jelasku sambil duduk di sofa.
Luna tampak agak bingung dengan penjelasanku. Tapi ia memilih untuk tidak menghiraukan.
"Oh ... gitu. Mirip manusia ya? Kayak orang beneran," responnya, seraya duduk dan beralih fokus pada kotak hadiah yang tadi disimpannya.
"Ya begitulah. Tadinya robot itu akan digunakan oleh suatu perusahaan untuk melayani pengunjung. Tapi proyeknya gagal dan karirku berakhir. Jadi sekarang, ya beginilah kerjaanku, kerja dari rumah," aku menceritakan.
"Oh ...," responnya sesingkat itu. Terkesan seperti antara mengerti dan tidak mengerti.
"Kamu tau, kenapa aku ngasih nama robot itu Wulan?" tanyaku kemudian.
Luna menggeleng. "Kenapa?" tanyanya penasaran juga.
"Itu diambil dari namamu. Luna Wulandari," ungkapku.
"Luna Wulandari. Robot Wulan. Nama yang bagus. Cocok buat robot cantik itu. Tapi, kenapa harus dari namaku?"
"Karena kamu spesial. Kamu seseorang yang penting di hidupku,"
"Aku?" Luna nampak kaget, setengah tak percaya dengan pengakuanku.
Aku mengagguk. Mengiyakan. "Dulu kita sangat dekat. Kamu yang paling sering kutemui," tuturku. Sementara Luna dengan cermat mendengarkan. "Akan panjang kalau diceritakan sekarang. Aku harap ingatan kamu cepat kembali. Biar kamu bisa ingat semuanya," kataku kemudian, men-stop momen nostalgia itu.
"Padahal aku masih penasaran," ungkap Luna. "Tapi, ya sudah lah. Aku buka hadiahnya sekarang ya?"
"Bukalah," kataku seraya mengagguk dan mempersilakan.
Dibukanya kotak hadiah itu dan ia keluarkan isinya satu per satu. Dia tampak sangat senang dengan hadiah itu.
"Wah ..., ini bagus. Akhirnya aku bisa pakai baju perempuan. Baju ini jauh lebih baik daripada baju yang kupakai sekarang," ucapnya membandingkan blouse yang dipegangnya dengan T-shirt kebesaran dan celana jeans selutut yang dipakainya. "Makasih ya," ucapnya lagi.
"Kamu suka bajunya?"
"Iya, suka banget," Luna tersenyum lebar.
Wajah Luna terlihat sangat bahagia menerima hadiah yang tak seberapa itu. Aku sampai heran sendiri melihat dia sebahagia itu. Entahlah, aku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya. Tapi yang jelas, tingkahnya terkesan seperti baru mendapatkan atau bahkan baru melihat pakaian semacam itu.
"Aku boleh pulang sekarang? Aku pengen cepet-cepet nyobain baju ini," katanya kemudian, penuh antusias.
Aku tak punya pilihan lain selain memberikannya izin untuk pulang. Lagipula, sebentar lagi matahari benar-benar tenggelam. Sudah saatnya Wulan berubah wujud. Dan Luna tak boleh tau. Ini rahasiaku sendiri.
***
Selepas Luna pergi, aku tenggelam dalam momen nostalgia yang kuciptakan sendiri. Aku mengenang memori yang pernah terjadi antara aku dan Luna. Dulu, kami adalah sepasang kekasih yang sangat bahagia. Tidak ada satu hari pun yang terlewat tanpa bertemu dengannya. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Mulai dari masa SMA hingga lulus kuliah.
Kami sama-sama hidup sebatang kara. Tidak punya keluarga dan saling menggantungkan satu sama lain. Sampai akhirnya, kami dipisahkan oleh keadaan. Aku mendapat beasiswa untuk menempuh S2 di Jepang. Sedangkan Luna dijemput keluarganya. Dia baru tau, kalau dirinya masih punya seorang kakek dari pihak ibunya. Sejak saat itu, aku mulai kesulitan untuk mengaksesnya. Dia sulit dihubungi.
Jujur, pada saat itu aku merasa Luna telah menggantungkan hubungan ini begitu saja. Tidak ada kepastian dan juga komunikasi yang jelas. Di satu sisi, dia membuatku khawatir. Tapi di sisi lainnya, dia membuatku bingung dan kesal. Setengah mati aku bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengannya. Aku ingin bertanya, tapi tak tahu harus bertanya pada siapa. Semua chat dan panggilanku tak pernah mendapatkan respon darinya. Sampai suatu hari, chat itu pun masuk di WA-ku.
Maafkan aku, kita harus putus. Aku dijodohkan oleh kakekku.
Begitu isi chat itu. Singkat, padat dan jelas. Namun menyakitkan. Sungguh, aku tak pernah berpikir akan berakhir seperti ini.
Selang beberapa hari, foto profilnya berubah. Fotonya berganti menjadi foto pertunangan. Dia juga membuat postingan tentang acara pertunangannya. Sekilas aku tertawa. Inikah yang namanya pengkhianatan? Begitu pikirku waktu itu.
Ah, dunia ini memang kejam padaku. Semesta hobi sekali mempermainkan jalan hidupku. Ditarik, diulur, diangkat, lalu dihempaskan. Lucu sekali memang jika diingat satu per satu. Sangat lucu hingga membuatku tertawa sendiri sekaligus menangis sendu sendirian.
Aku menghembuskan napas panjang. Mengakhiri momen nostalgia di ruang pikirku. Saat aku tersadar dari lamunan, tahu-tahu Wulan sudah duduk di kursi sebelah sambil mengamatiku. Aku sampai kaget sendiri menyadari keberadaannya.
"Sejak kapan kamu berubah?" tanyaku pada Wulan.
"Dari tadi."
"Udah berapa lama kamu duduk di situ?"
"Entahlah. Yang pasti aku sempat melihatmu senyum-senyum sendiri sampai menangis sendiri."
Aku tak merespon. Sudah terlanjur juga Wulan tahu tingkah konyolku ini. Biarkan sajalah. Suka-suka dia mau berpikir apa tentang diriku.
"Kamu ngelamunin siapa? Sampai senyum dan nangis sendiri gitu," tanya Wulan kemudian.
"Bukan urusanmu," kataku seperti biasa. Seraya berdiri menuju meja kerjaku.
"Ih, selalu aja berakhir kayak gitu. Nyebelin," ungkap Wulan dengan ekspresi gemes. "Kamu bisa loh, cerita apa aja ke aku selagi aku masih di sini," tambahnya kemudian. Setengah memancing.
"Memangnya kamu mau ke mana? Bukannya selalu di sini?"
"Ya aku gak akan selamanya juga tinggal di sini kali ..., aku juga punya urusan yang harus diselesaikan."
"Urusan apa?"
"Menemukan tubuh seseorang."
Mendengar jawaban itu, aku langsung menyadari sesuatu. Tidak mungkin benda mati bisa hidup tanpa ada yang mengendalikan. Robot Wulan yang bisa berubah wujud jadi manusia, itu memang suatu keajaiban, namun tetap ada yang mengendalikan. Robot itu dikendalikan oleh roh seseorang.
"Tubuh siapa? Tubuh orang lain atau tubuhmu sendiri?" tanyaku lagi. Mencoba memancing informasi lebih.
Kali ini Wulan tak menjawab. Dia diam seribu bahasa. Sepertinya dia menyadari ke mana arah percakapan ini bermuara.
"Aku ngerti sekarang. Kamu adalah roh gentayangan yang numpang hidup di dalam robot ciptaanku. Benar kan?" terkaku.
"Secara garis besar kamu benar. Aku adalah arwah gentayangan yang butuh media untuk hidup, untuk berkomunikasi. Tapi aku belum bisa mengatakan detailnya sekarang. Suatu saat nanti kamu akan mengerti. Jadi untuk sekarang, izinkan aku untuk tetap tinggal di sini dan hidup dalam robot ini. Aku gak punya pilihan lain."
"Berapa lama?"
"Paling lama 100 hari sejak aku pertama kali hidup dalam robotmu. Tapi kuharap, akan lebih cepat. Semakin cepat aku menemukan tubuhku, semakin cepat juga tugasku selesai. Dan aku tak perlu lagi hidup dalam robot ini," tutur Wulan.
"Lalu, gimana caranya kamu akan nemuin tubuh kamu?" aku menanyakan rencananya.
"Untuk itulah aku perlu bantuanmu," katanya dengan tangan memohon dan wajah memelas.
(*)