BAB 11 DIA BERUBAH

1568 Kata
Luna Pagi itu aku bangun lebih awal. Sekitar jam 4.30 pagi. Ada kebiasaan aneh yang terjadi sejak hidup dalam tubuh ini. Aku tak bisa tidur lagi setelah menyentuh air. Padahal, aku hanya bangun karena kebelet buang air kecil. Tapi setelah dari toilet, rasa kantukku hilang, mataku melek dan tak bisa tidur lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk menghirup udara segar di pagi buta.    Sepagi ini, aku melihat Ken bersama seorang wanita. Mereka nampaknya baru kembali dari luar. Entah dari mana. Karena penasaran, rasa ingin tahuku berubah jadi tindakan yang usil. Aku jadi pengintip ulung di pagi hari.    Aku mengendap-endap di samping rumah Ken. Tepat di tepi jendela kayu yang tertutup. Aku mengintip lewat celah-celah jendela itu. Lalu aku mendengar mereka berbicara.    "Coba aja nyarinya siang. Pasti akan lebih gampang ketemu," kata wanita itu.    "Kamu minta aku nyari di siang bolong?" balas Ken.    "Boleh kan? Please!" wanita itu memohon.    "Jangan konyol. Aku bahkan tidur di siang hari, malam baru beraktivitas," tegas Ken.    "Aaahhh ... kenapa kamu punya kehidupan yang beda dari orang lain? Bikin ribet aja," keluh wanita itu.    Benar juga kata wanita itu. Kenapa Ken punya gaya hidup yang tak normal seperti orang kebanyakan. Kenapa dia harus hidup dengan menukar siang dan malam? Apa dia takut sinar matahari? Tentu saja itu tak mungkin. Dia bukan drakula. Pikirku kala itu.    "Bersyukurlah, aku masih mau bantu kamu," tanggap Ken kemudian.    Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Apa yang mereka cari? Dan siapa wanita itu? Aku jadi ingin tahu urusan mereka.    Cukup lama aku berdiri di balik jendela itu. Kira-kira sudah setengah jam lebih aku mengintip dan menguping pembicaraan mereka. Namun tetap saja, pembicaraan mereka tidak aku pahami maksudnya. Sampai akhirnya, sesuatu ajaib itu mengejutkanku. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa wanita itu berubah wujud menjadi patung. Ah, bukan. Bukan patung, tapi robot itu. Ya, benar. Dia berubah jadi robot itu. Pakaian dan wajahnya sama persis seperti saat terakhir kali aku melihatnya.    "Astaga, ini bukan mimpi kan?" ucapku dalam hati, sambil menepuk-nepuk kedua pipiku dan mengucek mataku. Aku khawatir salah melihat.    ***    Selama bekerja, aku melakukan banyak kesalahan. Hari ini aku kurang fokus gara-gara apa yang kulihat tadi pagi. Itu sangat mengganggu pikiranku. Sekar sampai memastikan keadaanku baik-baik saja, bahkan menawarkan aku untuk pulang cepat. Untung Sakti tidak di kedai. Jika dia ada, aku pasti sudah habis diomelinya. Dia kan sang perfeksionis, walau penampilan dan pembawaannya terkesan santai.    "Hei, jangan ngelamun di siang bolong," tegur Sekar sembari melayangkan telapak tangannya di udara, tepat di depan wajahku.    Aku tersentak kaget. Lamunanku buyar seketika. "Aku gak ngelamun. Cuma lagi berpikir," sangkalku.    "Sama aja," kekeh Sekar. "Mikirin apa sih? Atau ... kamu gak enak badan ya? Muka kamu pucat banget," katanya, mendapati wajahku yang pucat pasi. Jujur, aku memang merasa badanku sedang tidak baik-baik saja. Rasanya lemas dan tidak nyaman. “Kamu pulang aja ya. Istirahat di rumah, besok baru kerja lagi,” katanya lagi.   “Boleh?” aku memastikan sarannya.   “Iya. Pulang gih, jangan lupa minum obat,” jawab Sekar. Aku pun pulang lebih cepat hari itu.   Sesampainya di rumah, aku mencoba untuk tidur. Namun tak bisa. Aku gelisah dan terus memikirkan apa yang tadi pagi kulihat di rumah Ken. Aku merasa harus menemui Ken untuk mengatakan sesuatu. Menjelang sore, aku pun meluncur ke rumahnya. *** Ken Wajahku langsung kena sasaran ketika aku membuka pintu. Tangan seseorang yang tadinya mau mengetuk pintu, malah mendarat di wajahku. Sontak aku mengaduh. “Maaf,” ucap orang itu penuh sesal. Ia sungguh tak sengaja. “Luna? Ada apa? Ayo masuk!” kataku saat menyadari kalau yang datang adalah Luna. “Enggak, di sini aja. Aku sebentar kok,” tolaknya. “Aku ... cuma mau mengakui sesuatu,” tambahnya. “Tentang apa?” “Aku ... tadi pagi aku ... lihat robot kamu berubah. Aku gak sengaja melihatnya,” ungkapnya sambil lantas menunduk dan menutup kedua telinganya. Seakan takut diomeli atau dimarahi. Jujur, aku kaget mendengar pengakuannya. Tapi kupikir, cepat atau lambat Luna akan tahu. Dan mungkin ini sudah saatnya Luna tahu tentang robot itu. Aku menurunkan kedua tangan Luna yang menutupi telinganya. “Gak apa-apa. Aku baru aja mau ngasih tau kamu soal robot itu. Mmm ... gimana kalo aku kenalin kamu sama dia?” usulku muncul begitu saja. Mata Luna membelalak seketika. “Boleh ya?” “Boleh dong!” “Apa gak akan kenapa-kenapa?” sepertinya Luna belum yakin. “Tenang aja, dia bukan tipe robot yang suka menggigit kok,” kataku setengah becanda. Luna pun tertawa kecil mendengar jawabanku. Malam harinya, aku mematut diri di cermin untuk menyambut kedatangan Luna. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak memerhatikan penampilanku. Kali ini aku ingin terlihat baik di depan Luna. Wulan yang baru berubah wujud, sampai mengira kalau aku akan pergi karena berlama-lama di depan cermin. “Kamu mau ke mana?” tanyanya saat melihatku menggonta-ganti model rambut. “Nggak ke mana-mana,” jawabku singkat. “Terus, itu ngapain kamu siap-siap kayak begitu?” “Ada yang mau datang,” jawabku riang sambil senyum-senyum sendiri. Jujur, itu pertama kalinya aku bersikap lebih terbuka kepada Wulan. Aku merasa dia bukan orang asing. Mungkin ini karena aku sudah terbiasa dan menerima keberadaannya. “Oh ...” respon Wulan sesingkat mungkin. Nada bicaranya terdengar agak lain. Seperti ada kekecewaan yang tersirat di dalamnya. “Siapa?” terusnya kemudian. Sepertinya Wulan penasaran juga. Belum sempat aku menjawab, terdengar bunyi pintu diketuk, diikuti seruan Luna yang memanggil namaku. “Ken! Aku datang.” Aku pun langsung menuju pintu untuk menyambutnya. “Dimana robot itu? Apa dia sudah berubah wujud?” tanyanya tanpa basa-basi. Nampaknya Luna tak sabar ingin segera bertemu. “Ada,” jawabku. “Sebentar, aku panggilin dulu. Kamu duduk aja dulu!” Luna mengangguk. Dia menungguku di kursi, sementara aku menuju kamar yang tadi kutinggalkan. Tempat di mana Wulan berada. Belum sempat kukatakan sesuatu, Wulan sudah lebih dulu menyambutku dengan peranyaan. “Apa-apaan ini? Siapa yang mengizinkan dia ketemu sama aku?” tanya Wulan yang rupanya mendengar percakapanku dengan Luna. Raut wajah Wulan sama sekali tidak menunjukkan penerimaan atas keadaan ini. “Aku minta maaf. Harusnya aku bilang dulu sama kamu. Tapi kamu perlu tau satu hal. Dia sudah melihatmu berubah wujud.” “Apa?” Wulan kelihatan terkejut mendengar hal ini. “Jadi, ayolah, tunjukkan dirimu sama dia. Kenalan sama Luna sebentar saja. Setelah itu kamu boleh pergi,” kataku seraya membawanya keluar kamar tanpa menunggu respon yang mungkin dia berikan.  “Luna, ini Wulan!” ucapku kepada Luna yang tengah duduk menunggu. Seketika Luna langsung berdiri menyambutnya. Ia memandangi Wulan dengan tatapan yang setengah tak percaya. Entah itu karena takjub atau apa. “Wulan, kenalin. Ini Luna yang pernah aku ceritain,” sambungku kepada Wulan. Aneh. Tidak ada percakapan yang terjadi antara mereka. Keduanya hanya saling pandang satu sama lain. Saling mengamati dan memerhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kulihat, wajah Wulan terlihat sangat terkejut begitu melihat Luna. Ia sampai tak bisa mengatakan apa pun dan hanya berdiam diri di sebelahku. Wulan seperti melihat hantu saja. Tak bergerak dan tak bicara sepatah katapun. Ada apa dengan Wulan? Apa dia baik-baik saja? Pikirku kala itu. “Kamu betulan hidup. Jadi, kamu bukan manusia?” akhirnya Luna mengucapkan sesuatu duluan. Tapi respon Wulan tetap diam. Dia tak berkutik di tempatnya. “Ah, aku minta maaf. Gak seharusnya aku bilang kayak gitu,” ucap Luna kemudian. Sepertinya dia menyadari kesalahannya karena respon Wulan hanya diam saja. Mungkin kata-katanya sudah membuat Wulan tidak nyaman. “Kenalin, aku Luna,” ia memperkenalkan diri lebih dulu, sembari menyodorkan tangan untuk bersalaman. “Luna?!” akhirnya Wulan merespon juga. Tapi responnya sungguh sangat di luar dugaan. Wulan kelihatan lebih terkejut lagi saat nama Luna disebut. Responnya lebih terasa seperti dia tak percaya bahwa yang dilihatnya adalah Luna. Entahlah, aku tak mengerti.   *** Wulan tenggelam dalam diamnya. Ruang pikirnya seakan begitu sesak dengan pertanyaan yang muncul dan membutuhkan jawaban pasti. Ada banyak sekali hal yang tidak dimengertinya dan memerlukan penjelasan. Setelah pertemuannya dengan Luna, dia jadi diam seribu bahasa. Aku yang sejak tadi memerhatikan, jadi terdorong untuk bertanya. “Kamu lagi mikirin apa?” tanyaku saat mendapati gelagat anehnya. “Gimana bisa kamu percaya kalau dia adalah Luna?” Wulan malah bertanya balik. “Maksud kamu?” “Kamu gak ngerasa ada yang aneh? Ada yang ganjil gitu?” tanyanya lagi. “Tolong jangan berputar-putar. To the point aja,” pintaku yang tak suka basa-basi. “Dia bukan Luna. Dia cuma punya wajah yang mirip sama Luna. Jadi kamu sudah dibohonginya,” ungkap Wulan tanpa ragu sedikitpun. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Aku sampai kaget dengan pernyataan itu. “Siapa yang berbohong sama siapa? Kamu sama aku atau dia sama aku?” kalimat ini malah keluar sebagai respon. “Dia yang mengaku Luna padamu. Jadi dia yang berbohong. Aku berani jamin 100%,” ungkap Wulan lagi. Dia mengatakannya dengan keyakinan penuh. Membuatku kesal dan ingin marah karena telah berani berkata begitu tentang Luna, sekaligus membuatku jadi berpikir juga tentang penilaiannya. “Kamu gak usah sok tahu. Luna bahkan gak punya sodara kembar,” kataku, menyanggah kalimatnya. “Aku gak ngomongin soal sodara kembar. Gak harus jadi sodara kembar untuk punya wajah yang mirip. Sudah kubilang, aku berani jamin seratus persen. Suatu saat nanti akan aku buktiin,” tegasnya lagi. Rupanya Wulan tak menyerah dengan pendapatnya. “Benar. Kasih aku bukti dan jangan bahas ini lagi sebelum kamu membawa buktinya,” ucapku tak kalah tegas. Sungguh, malam ini dia membuatku kesal. (*) 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN