BAB 12 IDENTITAS PALSU

1606 Kata
Luna Kupikir, Sakti bukan tipe orang yang gemar meditasi. Penampilannya yang sangat duniawi, materialistis, selalu kekinian alias tidak mau ketinggalan zaman, sama sekali tidak mencerminkan kalau dirinya adalah pelaku meditasi. Aku sampai heran sendiri ketika melihatnya duduk bersila dengan mata terpejam di tengah ruang tamu.   “Bertapa kok di ruang tamu? Bukannya lebih enak di dalam gua?” komentarku sekenanya. Sebenarnya aku tak bermaksud mengganggu. Ini adalah respon spontan yang keluar dari mulutku begitu melihat Sakti dalam posisi tersebut.   Yang dikomentari membuka matanya. Menatapku kesal dan menyudahi sesi meditasinya. “Ini bukan bertapa. Namanya meditasi,” celetuk Sakti kemudian. Ia menanggapi komentarku, seraya bangkit dari posisi duduknya, pindah ke kursi dan meraih ponselnya.   “Meditasi?” ulangku yang baru pertama kali mendengarnya.   “Iya, meditasi. Kalau mau tahu lebih, cari aja di google!” tambahnya.   Ah, apa lagi itu google? Ini juga sepertinya baru aku dengar. Apa itu nama tempat?   “Ini bukan zaman Majapahit atau zaman kerajaan lainnya. Jadi jangan bilang kata-kata kuno kayak gitu lagi, oke?!” tambahnya lagi, meminta persetujuan.   Setengah tak mengerti, aku mengangguk saja. Lantas menuju dapur.karena perutku terasa lapar. Kulihat, makanan yang kusajikan sebelum menemui Ken, masih utuh tak tersentuh. Rupanya Sakti tak memakannya sama sekali. Bukankah ini menyebalkan ketika masakan yang sudah susah payah kita buat, tak ada yang memakannya? Aku pun mengomel kepada Sakti.   “Kenapa makanannya masih utuh? Kalo gak mau makan harusnya bilang dari tadi. Jadi kan aku gak perlu capek-capek masak tadi,” omelku.   “Hey, ingat! Di sini aku tuan rumahnya. Suka-suka aku dong mau makan atau enggak,” jawaban Sakti sangat menampar. Serasa kejam, tapi benar juga.   Ah, dia malah mengingatkan posisiku di rumah ini. Tentu saja, di rumah ini aku hanyalah ART-nya, dan karyawannya ketika di Kedai. Itu saja. Jadi, apa hakku untuk ngomel-ngomel? Sekali lagi Sakti berkata benar. Membuatku malu sendiri setelah menyadarinya.   “Bukan gitu, maksudku, makanannya kan jadi sayang kalo dibuang,” ucapku cepat-cepat. Seakan mengklarifikasi maksud omelanku.   “Tenang aja, masakan kamu bakal aku makan kok. Tapi, nunggu menu spesialku datang dulu,” katanya kemudian.   “Menu spesial? Siapa yang mau ngasih makanan?” tanyaku penasaran.   Namun, bukannya menjawab pertanyaanku, yang ditanya malah bicara sendiri. “Sampai,” ucap Sakti dengan nada senang, sambil menatap layar ponselnya. Lantas, dia melemparkan sebuah pertanyaan kepadaku. “Tidakkah kamu mencium bau sesuatu?”   Spontan hidungku mulai mengendus. Membaui sesuatu. Aku mencium bau asap. Ada juga wangi rempah-rempah yang bercampur menjadi satu. Lalu ada bau amis yang sudah samar, kecap manis dan satu aroma yang sangat menusuk hidung. Sambal. Ya, tak salah lagi. Aku mencium bau cabai yang begitu menyengat. “Ayam bakar,” tebakku spontan.   “Mantap!” ucap Sakti sambil mengacungkan jempol tangan kanannya padaku. Ia mengkonfirmasi kebenaran tebakanku. “Hidungmu memang sangat sensitif, terutama pada makanan. Ambil sana!” Sakti lantas memintaku keluar untuk mengambil makanannya.   Di luar, ternyata sudah ada seorang pria yang baru turun  dari sepeda motornya, lengkap dengan seragam kerjanya sebagai pengantar makanan sebuah restoran. Dia yang mengantarkan pesanan Sakti. Dengan cepat aku menghampirinya dan segera mengambil pesanan itu.   “Pesananmu datang Tuan Sakti,” kataku sambil meletakkan dua box ayam bakar di depan Sakti.   “Ayo, makan!” ajak Sakti seraya membawa pesanannya menuju dapur. Kami pun makan malam dengan tambahan menu spesial pesanan Sakti.   Malam itu, aku makan dengan lahap. Pertama karena aku memang lapar. Kedua, karena nafsu makanku memang sebaik ini. Selalu lahap dan tidak pilih-pilih makanan, walau sejatinya aku bukan manusia. “Aku bersyukur bisa hidup sebagai Luna,” celetukku usai menelan makanan.   Sakti tertawa kecil. “Tentu saja, di bulan mana ada makanan senikmat ini,” komentarnya.   “Kamu benar. Aku tidak benar-benar merasa hidup di sana,” kataku. Entah Sakti memahami maksud kalimatku ini atau tidak, tapi jadinya dia malah bertanya sesuatu padaku.   “Hey, apa yang kamu pikirkan ketika jadi manusia?” tanya Sakti.   “Gak ada. Aku melakukannya tanpa sengaja.”   “Tanpa sengaja gimana?”   “Ya aku iseng-iseng aja melangkahi jasad perempuan itu. Aku cuma mastiin orang ini masih hidup atau enggak. Pas aku periksa, ternyata udah gak ada nyawanya. Tapi, waktu aku ada di atas tubuh ini, itu kayak ada kekuatan misterius yang menarik aku buat masuk ke dalamnya. Akhirnya ya aku gak bisa keluar,” ungkapku kali itu.   “Serius kayak gitu?”   “Apa aku kelihatan sedang berbohong?”   “Kamu kan sekarang udah jadi manusia. Bisa aja kamu bohong dan bersikap manipulatif. Itu hal negatif yang biasa dilakukan manusia. Seperti waktu itu, dan seperti yang kamu lakukan kepada Ken,” ledeknya kemudian.   “Aku gak akan berbohong kalau gak kepepet,” ungkapku lagi. Aku lantas berpikir sejenak tentang apa yang terjadi antara aku dan Ken. “Mendapatkan identitas Luna juga adalah ketidaksengajaan. Aku gak sepenuhnya salah. Ken-lah yang salah paham, mengira aku adalah temannya. Dan aku yang membiarkan semua itu berlanjut. Waktu itu aku gak punya pilihan lain, tapi membutuhkan identitas,” ucapku kemudian.   “Hah, sudahlah. Kenapa curhatmu jadi panjang? Aku kan cuma bertanya singkat,” kata Sakti. Menyudahi percakapan, sekaligus menyudahi makan malamnya.   Aku yang belum selesai makan, hanya menatapnya saja.   “Kalau udah selesai, buang aja sampahnya ke bak sampah depan. Kayaknya bakal ada anjing kampung yang membutuhkan sisa tulang belulang ini,” pinta Sakti.   “Ternyata kamu juga peduli sama binatang, ya?”   “Iya lah. Hidup ini gak melulu soal materi dan duniawi. Seperti yang kamu sangka padaku,” responnya di luar dugaan. Ternyata Sakti tahu bagaimana penilaianku terhadap dirinya.   Saat membuang sampah sisa makan malam, aku bertemu Wulan. Sepertinya ia hendak pergi ke suatu tempat tanpa ditemani Ken. “Wulan, mau kemana?” tanyaku kala itu.   Wulan lantas menghampiriku. Ia memerhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Membuatku merasa tidak nyaman dipandangi dengan cara seperti itu. “Ada apa? Kenapa lihat aku kayak gitu?” aku memberanikan diri untuk bertanya. Bukannya menjawab pertanyaanku, Wulan malah berkomentar. “Benar-benar mirip. Bahkan suara kamu juga mirip,” ucapnya. Membuatku bingung sendiri dengan pernyataan itu. “Apa yang kamu omongin? Siapa mirip siapa?” tanyaku penasaran. Lagi, bukannya menjawab pertanyaan, Wulan malah membuat pernyataan. Kali ini ada nada ancaman di dalamnya. “Siapa pun kamu, sebaiknya jangan dekat-dekat sama Ken. Jauhi dia!” dengan tegas Wulan memperingatkan. Jujur, aku tak mengerti kenapa sikap Wulan tiba-tiba berubah drastis. Tak percaya dengan perlakuan Wulan, aku pun bertanya lagi. “Wulan, kamu kenapa? Kenapa kamu minta aku untuk menjauhi Ken?” aku sungguh tak mengerti dengan maksud Wulan. “Kamu gak ngerti kata-kata aku? Kalau kubilang jauhi, ya jauhi aja. Jangan dekati dia lagi! Mengerti?” paksanya dengan nada yang lebih tinggi. Malam itu, aku sungguh dibuat heran oleh tindak-tanduk Wulan. Aku tak mengerti, kenapa sikapnya bisa berubah secepat itu. Ini tidak sama seperti pertemuan sebelumnya. Wulan yang cukup ramah walau lebih banyak diam, sekarang berubah jadi seorang pengancam yang sangat tegas. Kemana Wulan yang kukenal barusan? Aku merasa kalau Wulan tak menyukaiku, dan tadi petang dia hanyalah seseorang yang memakai topeng. Ia sungguh bermuka dua. Dan aku tak suka ini. “Kenapa aku harus nurut sama kamu? Memangnya kamu siapa?” tantangku tak kalah tegas. Aku tidak terima diatur dan dikendalikan oleh seseorang yang bahkan bukan manusia. “Aku tau banyak tentang Ken. Termasuk orang-orang yang ada di hidupnya. Dan kamu bukan Luna. Kamu tidak lebih dari seorang pembohong,” ungkap Wulan kala itu. Deg. Jantungku serasa mau copot untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi aku harus menghadapi seseorang yang tahu siapa diriku sebenarnya. Meski aku tidak tahu Wulan tahu dari mana, aku tetap harus mengendalikan situasinya. Situasi ini adalah aku sang pengendalinya, yang lain tak boleh ikut campur. Mereka hanya perlu mengikuti permainanku ini. “Jadi begitu? Dari mana kamu tahu kalau aku bukan Luna? Apa kamu yakin dengan pendapatmu?” tanyaku dengan emosi yang lebih baik. Aku berhasil menurunkan nada bicaraku ke tingkat yang lebih tenang. “Jadi, kamu meragukan pendapatku?” komentar Wulan. Dia lantas tersenyum sinis. “Gak usah pura-pura. Kamu udah ketahuan. Penyamaran kamu gak ada artinya di depan aku,” terusnya kemudian. Aku tak mengomentari. Aku hanya menunggu kalimat Wulan selanjutnya, sambil terus menatap tajam kedua matanya. Aku sengaja membiarkan Wulan melanjutkan apa yang ingin dikatakannya. “Kenapa kamu diam? Aku terbukti benar, kan?” kata Wulan lagi. Mendadak aku bicara dengan nada yang lebih serius. Lebih tepatnya aku sedang menantang Wulan. “Bicaralah selagi kamu masih bisa berbicara! Katakan saja apa pun yang ingin kamu katakan. Silakan!” tantangku dengan bahasa formal. Wulan harus tahu dengan siapa dia sedang berhadapan. Nampaknya Wulan tak mau kalah. Ia membalasku dengan bahasa formal juga. “Jadi kamu menantangku sekarang? Baiklah, biar kuberitahu. Wajah kamu mungkin memang mirip dengan Luna, temannya Ken. Tapi wajah yang mirip, bukan berarti orang yang sebenarnya. Meski aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya, tapi aku tahu satu hal yang pasti tentang kamu. Kamu adalah seorang penipu yang berpura-pura menjadi Luna. Kamu memanfaatkan kemiripan wajahmu dan berpura-pura menjadi dia. Kamu sengaja menggunakan identitas Luna supaya kamu bisa mendekati Ken. Kamu menggunakan identitas palsu!” tutur Wulan, dengan emosi yang meledak-ledak. Dia seolah sedang meluapkan segala amarahnya kepadaku. “Sudah selesai (bicaranya)?” “Satu hal lagi. Siapa pun kamu, menjauhlah dari Ken! Atau aku akan mengungkapkan identitasmu padanya,” tutup Wulan. Wulan pun pergi setelah kalimat terakhirnya. Ia tak membiarkanku bicara sepatah kata pun kepadanya. Sungguh, ini menyebalkan. Maksudku, kubiarkan dulu dia bicara sampai habis, agar aku bisa membalasnya bertubi-tubi. Agar aku bisa menindaklanjutinya sekaligus. Tapi yang terjadi, dia bahkan tak memberiku kesempatan untuk bicara. “Keterlaluan! Siapa dia sehingga berani bicara begitu padaku? Apa dia mengerti apa yang dia katakan? Dia bahkan bukan manusia,” omelku ketika Wulan sudah tak terlihat lagi. (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN