BAB 13 MENYATAKAN PERASAAN

1564 Kata
Ken Meski rumahku dekat dengan pantai, faktanya aku baru dua kali datang ke pantai ini. Pertama, saat aku baru tiba di desa ini beberapa tahun yang lalu. Dan ini adalah kali keduanya. Di pantai ini, aku menunggu sunset menjelang. Sembari menunggu seseorang datang. Ada hal penting yang harus kuutarakan kepada seseorang. Aku tak bisa menyimpannya lebih lama lagi. “Ken!” teriak seseoorang dari belakangku. Aku langsung menoleh. Nampaknya yang kutunggu telah datang. Lantas aku menyambutnya dengan senyuman dan memintanya untuk segera bergabung. “Jalan-jalan sore di pantai, seru juga ya ternyata?” kata Luna. Kami berjalan menyusuri bibir pantai yang entah akan berhenti di mana. “Iya, apalagi kalau ada temannya,” jawabku spontan. “Ada apa minta ketemu di sini?” tanyanya kemudian. Langsung ke inti permasalahan. “Aku punya sesuatu yang mau kusampaikan,” ucapku setenang mungkin, meski dadaku mulai tak karuan. “Apa? Kok aku jadi penasaran.” “Sebenarnya dulu, kita pernah pacaran,” aku memulai pembahasan. “Kita? Aku sama kamu?” Luna seakan tak percaya. “Iya.” “Kok baru bilang sekarang?” “Aku berpikir untuk gak ngebahas soal ini sampai ingatan kamu pulih. Tapi nyatanya, aku gak bisa nunggu sampai waktu itu tiba.” “Terus?” responnya kemudian. “Terus ya aku mau bilang kalau aku masih menyimpan perasaan itu sampai sekarang,” ungkapku di antara degup jantung yang kian tak menentu. Luna lantas menghentikan langkahnya. Dia diam di tempatnya berdiri. Aku yang menyadari, ikutan diam dan memandangnya penuh tanya. “Itu artinya, kamu menyukaiku lebih dari teman?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk pasti. Aku lantas mendekat dan menggenggam kedua tangannya. “Perasaanku gak pernah berubah. Bahkan sejak kita putus, kamu gak pernah hilang dari hatiku. Hati aku masih milik kamu,” ungkapku sejujurnya. Aku berusaha meyakinkan Luna. “Jadi, aku mau kita mulai lagi dari awal. Kita buka lembaran baru dan lupakan kejadian buruk yang pernah terjadi di masa lalu. Aku sayang sama kamu,” terusku lagi. Yang kupandangi sungguhan diam seribu bahasa. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang membingungkan. Entah mau atau tidak. Entah suka atau tidak. “Kamu mau kan terima aku lagi?” aku memastikan. Lantas, Luna melepaskan tangannya dari genggamanku. “Aku gak bisa jawab sekarang,” ucapnya kemudian. “Kenapa enggak?” “Ini terlalu mendadak. Aku butuh waktu untuk mencerna semuanya.” “Oke, aku paham. Kamu gak ingat bagaimana masa lalu kita. Jadi wajar kalau kamu ragu. Tapi seenggaknya, tolong tanyakan itu pada hati kecilmu. Aku yakin ada jawaban ‘iya’ di sana. Aku menunggu jawaban kamu,” kataku seraya tersenyum. Luna pun membalas senyumku. Tapi senyumnya, terlihat lebih seperti senyum yang dipaksakan. Entahlah, aku kesulitan memahaminya sekarang. *** Luna   Ini tidak benar. Bagaimanapun, aku tidak bisa dan tidak boleh jatuh hati kepada Ken. Ini jelas melanggar aturan. Ken manusia, sedangkan aku bukan. Aku tidak selevel dengannnya. Manusia bukan tipeku. Tapi, entah mengapa jantungku terus berdebar kencang setelah pertemuan itu. Apalagi ketika Ken menyatakan perasaannya padaku. Aku tidak bisa memungkiri bahwa ada sesuatu hal yang menyenangkan, yang membuatku serasa terbang melayang saat itu juga.  "Apakah aku baik-baik saja?" ucapku dalam hati. "Apa yang harus kulakukan ketika ada kebahagiaan yang enggan kulepaskan?" terusku sambil menatap bulan.    Menatap bulan, menjadikanku lebih tenang saat dilanda permasalahan. Aku selalu bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi di sana setelah aku kembali. Apakah yang kutinggalkan baik-baik saja? Apakah dia merasa kehilanganku?    "Di sini ternyata," tahu-tahu Sakti muncul dan ikut duduk di teras. Dia membawa serta secangkir kopi yang kemudian diletakkan di sampingnya.    "Kamu nyari aku?" tanyaku seketika.    "Aku panggil kamu berkali-kali. Taunya malah ngelamun di sini," kata Sakti.    Aku diam saja. Kembali asik menatap bulan yang terang benderang di langit sana. Aku sedang tidak tertarik melakukan apapun selain memandangi bulan itu.    “Kenapa melamun? Kamu merindukan Nyai Anteh sang penunggu bulan?” tanya Sakti lagi, seraya ikut menatap bulan.   “Sangat. Aku sangat merindukannya. Sekarang dia sendirian di bulan.”   Sesaat kemudian, aku tersadar akan ucapanku sendiri. Aku lalu menatap Sakti. “Kamu juga tahu kalau aku berasal dari bulan?” tanyaku kemudian.   “Tentu. Kamu lihat di sana? Bayangan kucingnya gak terlihat lagi, karena dia udah kembali ke bumi dan sedang duduk di sampingku,” jawab Sakti tanpa menoleh. Ia terus saja memandangi bulan.   Aku juga kembali memandangi bulan. Aku memikirkan bagaimana nasib Nyai Anteh di sana.   “Tapi, kenapa kamu meninggalkan bulan? Apa kamu berencana mengubah cerita rakyat?” tiba-tiba Sakti mengajukan pertanyaan itu. Sebenarnya hanya memancing, agar ia tahu alasanku kembali ke bumi.   “Mengubah ... cerita rakyat? Maksudnya?” aku tak mengerti apa yang dimaksud Sakti.   Lantas Sakti pun menjelaskan. “Jadi gini, setelah kepergian Nyai Anteh bersama kucing peliharaannya ke bulan, di bumi, kisah hidup Nyai itu berkembang menjadi cerita rakyat. Cerita itu terus dilestarikan sepanjang masa. Turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Sampai sekarang mereka percaya, kalau Nyai itu tinggal di bulan bersama kucingnya. Jadi kalau mereka sampai tahu bahwa kucing Nyai penunggu bulan itu kembali ke bumi, bukankah itu akan mengubah cerita yang mereka ketahui?”   “Begitu rupanya. Aku gak nyangka akan jadi kayak gini. Tapi apa pun pendapat orang, tentu aku gak bermaksud mengubah cerita rakyat,” tanggapku.    “Jadi, apa alasanmu kembali ke bumi?” Sakti bertanya lagi.    “Aku gak ninggalin bulan gitu saja. Aku kembali ke bumi tanpa sengaja. Waktu itu, Nyai penunggu bulan marah banget sama aku. Setelah kami tinggal di bulan, Nyai kangen banget sama keluarganya di bumi. Dia selalu berusaha untuk kembali ke bumi. Maka dari itu, setiap harinya dia selalu menenun kain sepanjang mungkin, supaya bisa dia gunakan untuk turun ke bumi. Tapi aku selalu merusaknya. Jadi kainnya gak pernah selesai dan dia gak pernah kembali ke bumi. Sampai suatu hari, kesabaran Nyai itu habis. Dia kesal padaku dan melemparku dengan sekuat tenaganya. Tapi tanpa disangka, aku malah terlempar sampai ke bumi,” tuturku terus terang. “Hoho ... besar juga tenaga Nyai Anteh itu!” komentar Sakti seketika. “Kenapa kamu merusak kainnya?” terusnya dengan pertanyaan. “Aku bosan. Gak ada yang bisa kulakukan selain mengganggunya sepanjang waktu. Jujur, aku selalu menyalahkannya karena dia membawaku ke bulan saat menghindari seseorang yang mencintainya. Ada kekuatan misterius yang membawa kami terbang sampai ke bulan. Dan itu memperlambat tercapainya misiku di bumi.” “Misi? Misi apa?” “Aku adalah jiwa yang sudah lama mengincar planet bumi.” “Maksudnya kamu ...” “Suatu saat nanti akan aku ceritain. Tunggulah sampai waktu itu tiba,” aku memotong kalimat Sakti. “Baiklah kalau gitu. Lalu, apa dia tahu kalau kamu bukan kucing biasa?” “Nggak lah. Tentu aja dia gak tahu. Itu sebabnya dia memperlakukan aku seperti kucing biasa. Tapi dia baik sih. Aku aja yang keterlaluan, gak memahami perasaannya dan hanya mementingkan egoku aja. Aku cuma bisa berharap, suatu saat nanti dia juga akan bisa kembali ke bumi.” Sakti ganti menatap bulan. Dia menatapku sekarang. “Kamu pasti ... merasa sangat asing ketika kembali ke bumi,” kata Sakti. Aku hanya merespon dengan senyuman kecil. Sambil tak lepas memandangi bulan. “Waktu itu sudah malam, ketika aku sampai di bumi. Saat itu, aku gak tahu harus ke mana dan apa yang harus kulakukan. Aku benar-benar bingung. Tak ada tujuan,” ungkapku. “Lalu kamu menemukan tubuh manusia yang sudah mati, dan hidup di dalamnya?” tebak Sakti, mencoba mengemukakan analisanya. “Awalnya, aku gak pernah bermaksud buat mengambil tubuh manusia itu. Aku gak pernah berpikir untuk hidup di dalamnya. Tapi setelah mengingat kisah cinta Nyai penunggu bulan sewaktu masih di bumi, aku jadi berpikir untuk merasakan hidup yang sebenarnya. Aku sempat berpikir ingin hidup sebagai manusia dan merasakan semua hal yang ada di dunia manusia. Itu murni sebatas pikiran dan perasaanku aja. Tapi dalam sekejap, semuanya jadi kenyataan.” “Bukankah kamu melangkahi mayatnya?” “Iya, aku melangkahinya. Tapi setelah itu, ada kekuatan aneh yang menarikku untuk kembali ke atas tubuhnya. Dan di saat itulah energiku terserap oleh tubuhnya. Saat aku membuka mata, aku benar-benar sudah ada dalam tubuh ini.” “Itu artinya, jiwamu cocok dengan tubuh itu. Mungkin kalian terhubung satu sama lain, meski aku tidak tau apa,” kata Sakti. “Jiwa yang cocok dengan tubuh?” tanyaku tak mengerti. Tapi Sakti malah tiba-tiba berdiri sambil mengambil cangkir kopinya. “Sudah. Sesi curhatnya berhenti sampai di sini. Aku mau tidur. Kamu juga harus cepat tidur. Besok pekerjaanmu harus dikerjain lebih awal,” ucapnya padaku. Lalu ia memutar arah untuk kembali ke rumah. Namun langkahnya tersendat di depan pintu. Ia kemudian menoleh lagi padaku. “Ayo, masuk!” ajaknya padaku yang saat itu malah melihat ke rumah Ken. “Kamu duluan aja. Aku sebentar lagi,” sahutku. Sakti pun masuk ke rumah dan aku kembali memandang rumah Ken. Dalam pandanganku, aku melihat berbagai kenangan di teras rumah Ken. Mulai dari percakapan pertama dengan Ken, pengakuan saat melihat robot yang berubah wujud, dan masih banyak lagi. Jauh dalam hatiku, aku mengakui sesuatu. “Sepanjang aku mengenalmu, tidak ada waktu yang lebih baik selain bertemu denganmu. Tapi mulai saat ini, semuanya akan berbeda,” batinku. Meski begitu, kala itu aku tetap berharap, seandainya bisa melihat Ken malam itu. Dan muncullah sosok yang diharapkan membuka pintu rumahnya dan berdiri di teras. Aku terkejut dan segera berdiri. Lalu Ken menoleh, melihat ke arahku. Sontak aku buru-buru masuk ke dalam rumah. Aku berusaha untuk tidak bertemu dengan Ken, bahkan ketika Ken sudah melihatku. (*) 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN