BAB 14 DUNIA BERUBAH

1254 Kata
Sakti Lari pagi di akhir pekan adalah rutinitas yang tak boleh dilewatkan. Setidaknya setiap hari minggu aku akan menyempatkan diri untuk berlari di sepanjang pantai ini. Ditemani suara debur ombak dan kicauan burung yang beterbangan dan saling bersahutan. Udara pagi di pantai ini memang sangat menyegarkan. Membuatku betah berlama-lama jogging hingga berjam-jam, hingga matahari mencapai posisi 45 derajat. Aku berlari tanpa alas kaki. Menginjak pasir lembut yang sesekali terkena air laut. Ini adalah caraku untuk bisa menyatu dengan alam. Ini adalah salah satu metodeku untuk bisa terhubung dengan segala yang ada di alam semesta. Dengan begini, aku bisa mendapatkan informasi apa pun yang kuperlukan dan jadi lebih peka terhadap petunjuk-petunjuk halus yang disampaikan semesta. Aku sangat menikmati momen pagi ini. Tapi aku tahu waktu untuk mengakhirinya. Aku harus segera berganti dengan kegiatan lainnya. Saat jam tanganku menunjukkan pukul sembilan pagi, aku memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, aku mendapati pemandangan yang tak kalah seru. Luna terkantuk-kantuk di belakang rumah. Duduk di bangku panjang yang menghadap kolam, sambil memegangi gagang alat pel yang kainnya terlihat basah. Sepertinya dia baru selesai mengepel lantai dapur. Semakin lama, mata Luna terlihat semakin berat. Dia bahkan tak menyadari kebearadaanku yang sedang menontonnya. Dia pun tak sanggup lagi menahan kantuknya dan merebahkan diri di atas bangku itu. Dia benar-benar terlelap dengan nyaman di sana. Seakan tak bisa membedakan mana tempat tidur dan mana bangku kayu untuk bersantai. Aku memang sengaja tak mengganggunya. Tapi, bukan berarti aku sedang berbaik hati. Aku justru sedang merencanakan sesuatu. Aku berniat memberinya kejutan spesial di minggu pagi yang melelahkan bagi diri Luna. Anggap saja, ini adalah sesuatu yang sangat menyegarkan bagi jiwa-jiwa yang fisiknya sudah kelelahan. Perlahan, aku menghampiri Luna yang tengah berbaring. Kugoyangkan telapak tanganku di atas wajahnya. Luar biasa. Dia tak terganggu sama sekali. Dia sungguhan nyenyak dan mungkin tenggelam di alam mimpinya kala itu. Aku lantas memangku tubuhnya yang ternyata berat. Aku berniat memindahkannya dari bangku itu. Ada tempat yang lebih baik untuk dia menikmati tidurnya. Dan aku akan membuatnya tidak melupakan momen ini. Satu ... dua ... tiga ... aku melempar Luna ke dalam kolam. Aku menceburkannya sehingga membuat ia gelagapan, kaget tak karuan. Terkejut bukan main. Begitu juga dengan ikan-ikan yang ada dalam kolam. Mereka berpencar menghindari tubuh Luna yang tiba-tiba masuk wilayah mereka. “Hey! Apa-apaan ini?” seru Luna dari dalam kolam, begitu menyadari aku pelakunya. “Kejutan...!” jawabku asal. Aku sungguh puas melihatnya kesusahan dalam air. Aku berani jamin, setelah ini Luna tak akan berani lagi tidur di bangku itu. “Kejutan macam apa ini? Basah semua nih,” “Makanya mandi, bukan tidur. Aku kan udah bilang, aku selesai lari, kamu udah harus siap,” omelku pada Luna yang mengabaikan pesanku sebelum lari pagi. “Aku udah mandi. Cuma bajuku belum ganti karena harus beres-beres rumah,” protes Luna, tak terima. Ia lantas merentangkan tangannya ke arahku, memintaku untuk menariknya, keluar dari kolam. Aku pun membantunya. “Lagian, bisa-bisanya tidur di tempat begini?!” omelku lagi. “Ini karena aku bangun lebih awal di hari libur. Aku jadi ketiduran setelah beres-beres rumah,” kata Luna, sembari memeras baju basahnya. “Kamu kan bisa tidur di dalam?” “Lantainya masih basah. Jadi aku tunggu kering di sini. Ini gara-gara kamu nyuruh aku selesaikan pekerjaan lebih awal. Memangnya mau kemana sih?” “Aku mau ngajak kamu jalan-jalan.” “Jalan-jalan? Kemana?” raut wajah Luna berubah senang. *** Sepanjang jalan saat telah memasuki kota Bandung, ketakjuban pada apa yang dilihatnya, terlukis jelas di wajah Luna. Ia melihat banyak hal baru yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Ia melihat banyak perubahan di muka bumi. Seperti adanya lampu lalu lintas, kendaraan dengan berbagai bentuk dan ukuran, jalanan kota, gedung-gedung tinggi, bangunan dengan arsitektur khas, pertokoan, taman kota yang indah dan masih banyak lagi. Semua itu nampak indah di mata Luna. “Waaahhh... dunia benar-benar berubah!” ucap Luna spontan. Takjub bukan main. “Tentu saja. Ini sudah ratusan tahun sejak kamu pergi ke bulan. Gimana rasanya bisa kembali ke bumi?” responku kala itu. “Luar biasa! Rasanya sangat indah. Aku suka ini,” ungkapnya seketika. Lantas senyumnya mengembang lagi. Ia tak hentinya memancarkan aura positif dari apa yang dilihatnya sepanjang jalan. Sambil menyetir, diam-diam aku ikut tersenyum mendengarnya ucapannya. “Oh ya, apa kita hanya akan berputar-putar dan melihat dari dalam mobil aja?” tanya Luna tiba-tiba. “Enggak dong. Tempat pertama yang akan kita kunjungi adalah ....” Toko pakaian. Itulah tempat pertama yang kami datangi. Di tempat itu, Luna mencoba beberapa macam baju, dan aku bertindak sebagai juri yang menilai penampilannya. Untuk baju pertama yang Luna coba, aku menggerakkan telunjukku sebagai isyarat kurang cocok. Untuk baju kedua, aku menyilangkan kedua tangan sebagai tanda sama sekali tidak cocok. Untuk baju ketiga, aku mengacungkan dua jempol sebagai tanda sudah pas. Sebagai tampilan akhir, pada akhirnya kami memutuskan untuk mengenakan baju couple dengan setelan celana jeans dan kaos dengan warna yang sama, warna putih. Bergaya ala-ala pasangan muda zaman kekinian, padahal kami sama sekali bukan pasangan. Kami hanya sama-sama bukan manusia. Itu saja. “Selanjutnya kemana?” tanya Luna usai membeli pakaian. Tempat berikutnya yang kami datangi adalah wahana permainan dengan konsep indoor. “Tempat apa ini?” dengan polosnya Luna bertanya. “Ini adalah tempat untuk bersenang-senang.” “Tempat untuk bersenang-senang?” sepertinya Luna belum mengerti. Wajarlah, dunia sudah berubah 180 derajat sejak dia tinggalkan. “Itu adalah wahana permainan yang bisa kita naiki. Dan kita akan bersenang-senang di atas sana,” aku menjelaskan. “Haaaaa!” tiba-tiba wajah Luna begitu terkejut sekaligus ketakutan saat melihat sebuah wahana yang seolah sedang mengombang-ambing orang-orang yang menaikinya. Belum lagi suara teriakan yang didengarnya malah membuatnya menjadi miris. “Apa itu? Apa mereka sedang disiksa?” tanyanya kemudian, dengan wajah penuh tanda tanya dan juga rasa penasaran. Sontak aku pun tertawa lepas. Aku sungguh tak bisa menahan tawanya sampai perutku terasa sakit. Melihatku yang malah tertawa, Luna menjadi heran. “Kenapa malah ketawa? Kasihan mereka!” ucapnya lagi. “Mereka bukan sedang disiksa. Tapi menyiksa diri mereka sendiri,” kataku asal menjawab. Aku pun tertawa lagi. Sungguh, aku tak pernah memprediksi responnya yang satu ini. Ini membuatku sulit untuk berhenti tertawa. “Dunia bukan saja berubah, tapi juga menjadi aneh,” komentar Luna, spontan. “Daripada bingung, ayo kita naiki satu per satu!” ajakku segera, menarik lengan Luna untuk menuju satu wahana. Namun, Luna malah berusaha untuk tetap berada di tempatnya. Ia bukan saja ragu, tapi juga ketakutan. “Apa kamu mau membuatku seperti mereka juga?” kata Luna sambil menunjuk wahana tadi. “Tenang aja, kita gak akan naik yang itu,” jelasku yang melihat Luna ketakutan. “Penakut amat! Jatuh dari bulan aja gak apa-apa!” tambahku, meledek Luna. Kami pun menaiki wahana satu per satu. Tapi hanya beberapa yang membuat Luna setuju kalau kami bersenang-senang dengan permainan yang ada. Sisanya, membuat Luna terlihat payah. Dia terlihat mual dan ingin muntah. Kali ini, siluman kucing benar-benar pasrah dan tak berdaya. Bahkan, kekuatannya tak bisa diandalkan. *** Malam sudah sangat larut ketika aku dan Luna sampai di rumah. Saat itu, aku melihat Ken baru keluar dari halamanku. Sepertinya dia bermaksud menemui Luna. Saat mobilku berhenti, Ken pun ikut berhenti dan melihat keberadaan kami. Namun, ada yang aneh dengan Luna. Wajahnya berubah tegang, lalu pura-pura tidur saat melihat Ken. Kusuruh turun, dia tak berkutik. Aku sampai harus menggendongnya keluar dari mobil hingga ke dalam rumah. Di dalam rumah, barulah aku leluasa melemparnya di atas kursi. “Akting macam apa itu tadi?” komentarku pada Luna. (*)    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN