Luna
Aku mengaduh saat Sakti menjatuhkanku ke atas kursi. Lengan dan badanku sungguhan sakit karena berbenturan dengan pinggiran kursi itu. Sakti memang keterlaluan. Hari ini dia sudah dua kali melemparku. Pagi ke kolam ikan, malamnya ke atas kursi panjang ini. Padahal, dia sendiri yang bilang padaku kalau aku harus menjaga tubuh ini sebaik mungkin karena ini bukan tubuhku. Tapi justru dialah yang membuat tubuh ini dalam bahaya. Kalau tubuh ini sampai kenapa-kenapa, aku juga yang akan disalahkannya, aku juga yang akan menerima dampaknya.
“Akting macam apa itu tadi?” tanyanya jengkel.
“Itu akting darurat. Maafin aku!” aku memohon maaf karena telah terpaksa merepotkannya.
Sakti lantas hanya geleng-geleng saja sambil berlalu menuju kamarnya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Sakti sampai menghentikan langkahnya menuju kamar.
Dengan sigap, aku pun langsung mengendus. Mencari tahu siapa yang datang. “Itu Ken,” ucapku panik.
“Ya udah, buka sana!” tanggap Sakti.
Dengan cepat aku menggeleng. Panik. Aku tidak mau bertemu Ken. Lebih tepatnya tidak boleh dulu. Aku belum siap bertemu dengannya. Aku belum siap untuk memberikan jawaban padanya.
“Terus, aku yang buka pintu, gitu?” tanyanya kemudian.
“Ssssttt ... pelan-pelan, nanti kedengaran,” ucapku setengah berbisik. Lalu, aku memohon kepada Sakti. “Tolong bilang kalau aku udah tidur, please ... !” aku memelas, memohon bantuannya lagi kali ini.
“Kamu mau libatkan aku dalam permainan konyolmu?”
“Aku mohon. Ya? Ya? Please ... aku mohon banget. Kali ini ... aja. Please ...!” ucapku semakin panik karena pintu diketuk lagi.
Akhirnya, Sakti pun menyerah. Dia mengabulkan permohonanku. Sementara itu, aku pura-pura tidur lagi di kursi.
Terdengar, Sakti membuka pintu. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya kepada Ken. “Konyol, kenapa sambutannya begitu?” ucapku dalam hati.
Lalu, terdengar Ken pun mengutarakan maksud kedatangannya. “Saya mau ketemu Luna,” jawab Ken.
“Lunanya udah tidur. Tuh, udah tidur kan?” terang Sakti kemudian, sambil menunjukkan keberadaanku kepada Ken. “Kamu bisa kembali lagi besok,” sambungnya kemudian.
“Anda siapanya?” tanya Ken tiba-tiba.
“Saya kakaknya,” jawab Sakti santai.
“Kakak?” kalimat Ken terdengar heran dan penuh tanya.
“Duduklah, saya akan jelasin supaya kamu gak salah paham,” ucap Sakti yang meminta Ken untuk duduk di kursi teras.
Dan sakti pun mulai bercerita. Dia bercerita dengan versi yang sama seperti yang dikatakannya kepada Niko dan semua pegawai di kedai. Dia mengatakan bahwa aku adalah adiknya yang sudah lama hilang. Dia bahkan menunjukkan bukti dengan sebuah foto supaya Ken percaya. Meskipun, aku tidak tahu foto apa dan foto siapa yang ditunjukkan Sakti. Entahlah. Tapi yang pasti, aku sedikit lega sekarang. Apalagi ketika kudengar Ken sudah beranjak pulang. Aku tak perlu pura-pura tidur lagi.
***
Ken
Pagi ini, aku sengaja menunda tidurku supaya bisa melihat Luna. Setidaknya, aku bisa melihatnya berangkat kerja dan menyapanya di halaman. Barangkali juga Luna akan memberikan jawaban yang kutunggu. Dan yang diharap pun mulai kelihatan. Aku sudah senyum-senyum saja untuk menyambutnya. Lantas aku pura-pura menyiram tanaman.
Saat Luna lewat, aku langsung menyapanya. “Pagi, Luna!” sapaku seketika. Aku tahu, Luna tak melihatku. Dia tidak tahu kalau aku sedang di halaman. Spontan, dia pun menoleh.
“Hai, Ken! Pagi juga,” balas Luna sesingkat mungkin. Lantas, ia pergi begitu saja tanpa mengatakan yang lainnya. Dia bahkan tidak berhenti melangkah saat menjawab sapaanku. Kali itu, dia tidak seperti biasanya. Ekspresinya datar sekali. Aku sampai merasa ada yang salah degannya.
Sejak hari itu, sikap Luna berubah padaku. Dia yang dulunya sering mampir kemari, sekarang tidak lagi. Dia yang dulunya selalu tersenyum senang jika melihatku, sekarang tidak lagi. Aku bahkan jarang melihatnya sekarang. Kalaupun tak sengaja bertemu tatap saat di halaman, Luna akan menghindariku. Dia buru-buru pergi seolah tak mau bertemu denganku. Atau, dia akan pura-pura tak melihatku. Sekarang, Luna lebih banyak menghindar dari pada menemuiku. Terus saja begitu sampai aku merasa harus berbicara empat mata dengannya. Setidaknya aku harus meluruskan sesuatu, apakah ini karena aku memintanya untuk bersama lagi atau karena ada yang lainnya.
“Ngelamunin apa?” tanya Wulan suatu malam. Aku kedapatan melamun di depan laptop sampai tak menyedari kapan Wulan berubah wujud.
Lamunanku buyar seketika. Tapi, aku jadi ingin menanyakan sesuatu kepada siapa saja yang ada. “Menurut kamu, kenapa seseorang bisa berubah?” tanyaku kepada Wulan.
“Maksud kamu apa? Siapa yang berubah?” pertanyaanku membingungkan Wulan.
“Maksudku bukan berubah wujud, tapi berubah sikap,” jelasku.
“Mungkin, orang itu menyadari sesuatu.”
“Kalau sikapnya menghindar?”
“Berarti dia menyembunyikan sesuatu,” jawaban Wulan terdengar mantap. “Kamu lagi ngomongin siapa?” tambahnya dengan pertanyaan.
Aku tak menjawab. Aku merasa tak perlu untuk memberitahu Wulan tentang siapa yang sedang kubicarakan. Ini masalah internalku. Dan aku berhak jaga jarak dengan siapa saja, termasuk Wulan. Aku boleh membatasi komunikasi dengan siapapun yang kuinginkan.
“Ken, siapa?” Wulan masih penasaran.
“Lupain aja. Tolong jaga rumah, aku keluar sebentar,” pintaku pada Wulan.
“Loh? Ken!” panggil Wulan yang melihatku tahu-tahu meluncur meninggalkan rumah. Aku jelas tak peduli. Aku mengabaikannya begitu saja. Aku lebih memilih untuk memastikan sesuatu sekarang.
Belum sempat kuketuk, pintu rumah Sakti sudah terbuka lebih dulu. “Oh, Ken, kamu datang lagi?” sapa Sakti saat membuka pintu hendak keluar.
Aku mengangguk. “Luna-nya ada?” tanyaku kemudian.
“Ada. Tuh, lagi nonton. Masuk aja. Aku mau nelpon,” kata Sakti, seraya menunjukkan handphone yang digenggamnya. Sakti pun lantas keluar dan mulai menelepon seseorang. Ia tampak berbicara dengan seseorang di seberang teleponnya.
Tanpa buang waktu, aku segera masuk sesuai saran Sakti. Di dalam, ternyata Luna sudah menyadari kedatanganku. Ekspresi wajahnya berubah saat melihatku. Dia menatapku datar, lalu tiba-tiba memaksakan dirinya untuk tersenyum, menyambutku dan mempersilakan aku untuk duduk.
“Ada apa, Ken?” tanya Luna setelah aku duduk di kursi sebelahnya. Sepertinya dia sudah tak berminat untuk berbasa-basi denganku lagi. Makanya dia langsung bertanya maksud kedatanganku.
Terus terang saja, itu adalah kalimat langka yang pernah kudengar terucap dari Luna. Biasanya, kapanpun aku datang, Luna selalu senang dan tak pernah mempermasalahkan urusan waktu. Namun kali ini sungguh berbeda. Dan jujur, bagiku kalimat itu agak membuatku tersinggung. Luna seperti tak mengharapkan kehadiranku.
Sambil berusaha untuk tetap bersikap seperti biasa, aku lantas mengatakan maksud kedatanganku. “Aku ke sini cuma main-main aja. Belakangan kayaknya kamu sibuk banget. Jadi kita gak pernah ngobrol lagi,” ungkapku mengawali percakapan dengan pembahasan ringan.
“Yakin, cuma mau main aja? Bukannya ada sesuatu yang mau kamu tanyakan?” nampaknya Luna sudah mengerti maksud kedatanganku menemuinya.
“Sebenarnya itu juga,” jawabku singkat.
“Mau tanya apa?”
“Soal yang di pantai, kamu udah ada jawabannya?” tanyaku hati-hati.
Luna terlihat diam sejenak. “Soal itu ... aku belum bisa jawab sekarang. Maaf!” ucapnya kemudian.
“Aku harus nunggu berapa lama lagi? Udah seminggu loh ini. Gak enak loh digantung lama-lama,” ungkapku setengah kecewa. “Kan aku bukan jemuran,” lanjutku.
Luna tersenyum mendengar kalimat ini. Kali ini senyumnya terlihat lebih tulus, bukan dipaksakan lagi. “Aku minta maaf. Aku janji, besok deh aku jawab,” ucap Luna.
Mendengar itu aku merasa semangat lagi. Entah kenapa, aku merasa jawaban Luna tak akan mengecewakan. Apa aku terlalu percaya diri?
“Bener ya?” aku memastikan.
“Iya, aku janji,” jawabnya memastikan.
“Syukurlah. Aku pikir kamu ngehindarin aku,” ungkapku setelahnya.
“Aku? Ngehindarin kamu? Perasaan kamu aja kali ....”
“Iya, semoga kayak gitu. Cuma perasaanku aja. Tapi, bener kan kamu gak ngehindarin aku?” aku memastikan lagi.
“Kenapa aku harus ngehindarin kamu?” Luna malah tanya balik.
“Ya nggak tahu. Kamu lah yang tahu jawabannya.”
“Ya enggak lah. Kalo aku hindarin kamu, kamu udah aku usir dari tadi,” kata Luna.
“Iya juga sih,” ucapku seraya tersenyum. “Jangan menghindari aku lagi. Jangan pernah!” ucapku pelan.
***
Sakti
Luna mengantar Ken sampai ke teras. Setelah Ken memberi isyarat pamit padaku, dan pulang ke rumahnya, aku yang baru selesai menelepon langsung menghampiri Luna.
“Kenapa senyum-senyum begitu?” tanyaku iseng.
“Gak apa-apa,” jawab Luna. Berusaha menyembunyikan bahagianya walau sudah ketahuan.
“Jangan bilang, kamu jatuh cinta sama dia,” tebakku, mulai curiga.
Luna menarik dan menghembuskan napas panjang. “Apa yang akan terjadi padaku kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya?” tanyanya kemudian.
“Kamu akan kehilangan kekuatanmu.”
“Kalau aku kehilangan kekuatan sebagai siluman, itu artinya aku bisa hidup sebagai manusia seutuhnya. Iya kan?”
“Jadi, kamu bersedia kehilangan kekuatanmu hanya karena seorang manusia?” aku tak percaya dengan jalan pikiran Luna.
“Aku hanya merasa sulit untuk menolak rasa yang kupunya,” ungkapnya kemudian.
“Jadi kamu beneran suka sama dia?”
“Ya ... begitulah. Tubuh orang ini, adalah tubuh mantan pacarnya Ken. Aku gak tau sedalam apa perasaan orang ini terhadap Ken. Maka dari itu, setelah aku memiliki tubuhnya, aku juga memiliki perasaannya. Aku bisa merasakan perasaan itu. Entah sebesar apa perasaan yang dia miliki, aku juga tidak tahu kalau akan sesulit ini,” ungkap Luna lagi.
Tanpa Luna sadari, ternyata percakapan kami diam-diam ada yang mendengar. Ada seseorang yang tengah mengintip di samping rumahku. “Apa yang aku dengar barusan? Jadi dia ... Apa mungkin ... dia ... bukan manusia?” bisik Wulan yang tak sengaja mendengar percakapan ini. Aku pura-pura saja tak mengetahui keberadaannya. Lantas, aku segera mengajak Luna untuk masuk ke dalam rumah. Berharap yang menguping segera pergi dari rumahku. Aku yakin, orang itu perlu mencerna semua yang dia dengar barusan.
(*)