Luna
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Saat itu, semua lampu rumah sudah dimatikan, kecuali lampu luar. Sakti juga tengah tertidur pulas di kamarnya. Sedangkan aku, masih terjaga di tempat tidurku. Aku belum bisa tidur. Mataku sulit terpejam, bahkan tidak mengantuk sedikitpun. Aku gelisah dan serba salah dengan posisiku. Sejak tadi, aku hanya guling-guling saja di tempat tidur, mencari posisi yang nyaman untuk bisa tidur. Namun rasa kantuk itu tak kunjung datang padaku malam ini.
Malam itu, tampaknya aku lupa mengunci jendela kamar. Sehingga, angin yang cukup kencang mampu mendorong jendela kamarku sampai terbuka. Lantas, aku menutup dan menguncinya. Tak lama setelah itu, terdengar ketukan pintu dari depan. Ketukan pintu yang berulang-ulang. “Siapa yang datang tengah malam begini?” gumamku, heran.
Tanpa menyalakan lampu, aku menghampiri dan membuka pintu rumah. “Wulan?” rupanya Wulan yang datang. Wulan datang sendirian dan wajahnya terlihat pucat pasi. Matanya menatapku dengan tatapan tajam. Bahkan tanpa kedipan. Membuatku merasa sedikit aneh dengan kedatangannya kali itu.
Tanpa mengatakan apa pun, Wulan melangkah maju dengan tatapan tajamnya. Membuat diriku perlahan mundur sambil ketakutan karena melihat ekspresi Wulan yang mendadak horor dan seaneh itu. Aku sampai menabrak sesuatu di belakangnya. Aku menabrak meja dan menjatuhkan vas bunga yang ada di atasnya. Meski kaget, aku tetap berjalan mundur karena Wulan tidak berhenti melangkah menujuku. Ia terus mendekatiku.
“Apa? Kamu mau apa?” aku memberanikan diri untuk bertanya.
Sambil terus berjalan, Wulan berkata datar. “Kembalikan tubuhku!” ucapnya tanpa ekspresi.
“A ... apa?” aku terkejut mendengar kalimat itu.
“Kembalikan tubuhku! Kembalikan tubuhku!” ucap Wulan berulang-ulang.
“Apa maksud kamu? Apa ... apa tubuh ini ... tubuh ini ... milik kamu?” tanyaku terbata-bata. Napasku tersengal-sengal seperti habis berlari.
“Kembalikan! Cepat kembalikan tubuhku!” sejak tadi Wulan hanya mengatakan kalimat itu-itu saja. Tidak ada kalimat lain yang diucapkannya selain memintaku untuk mengembalikan tubuhnya. Membuatku jadi bingung dan ketakutan setengah mati.
Lantas aku terjatuh karena kakiku tak sengaja menyandung sesuatu. Dan momen ini dimanfaatkan Wulan untuk melakukan sesuatu. Wulan berjongkok dan mendekatkan wajah pucatnya kepadaku. Tatapannya yang menakutkan, dan kedua tangannya yang hendak mencekik leherku, sontak membuatku berteriak kala itu juga. “Aaaaaa............!!!” teriakku sejadi-jadinya.
Aku terbangun. Aku merasa lelah dan tubuhku berkeringat dingin. Rupanya kejadian itu adalah mimpi buruk yang kualami. “Syukurlah,” ucapku sambil mengelus d**a. Merasa lega. Aku sangat bersyukur karena itu hanyalah mimpi. Aku lantas melihat jam setelah lampu kamar kunyalakan. Dan waktu setempat baru menunjukkan pukul tujuh malam. “Ini pasti karena aku tertidur di waktu petang,” gumamku kemudian.
***
Ken
“Serius?” responku seketika. Saat itu, Wulan mengatakan kalau tubuhnya sudah ditemukan.
“Serius! Selama ini aku gak nyadar kalau tubuhku ternyata sangat dekat denganku. Aku gak pernah kepikiran ke arah sana,” ungkap Wulan.
“Kalo gitu, ayo! Kita bawa sekarang,” ajakku segera. Tanpa memikirkan apakah tubuhnya sudah membusuk atau tidak.
“Masalahnya tubuhku ada pada orang lain,” ungkap Wulan lagi.
“Maksudnya gimana? Seseorang udah nemuin tubuh kamu, begitu?” aku bertanya-tanya. Tak paham apa yang dimaksud Wulan.
“Seseorang menggunakan tubuh aku untuk hidup,” ucapnya serius.
“Jadi maksud kamu, tubuhmu dipakai orang? Gimana bisa? Gak masuk akal, Wulan.”
“Ini memang gak masuk akal. Bahkan konyol. Aku juga sempat mikir kayak gitu. Tapi inilah kebenarannya, Ken!” nada bicara Wulan lebih terdengar seperti orang yang frustasi. Dia seakan tak tahu bagaimana cara untuk mengambil tubuhnya itu.
Jujur, aku tidak tahu apakah ini kabar baik atau kabar buruk. Mendadak aku jadi tak bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik. Belakangan, terlalu banyak hal ajaib yang terjadi di hidupku. Aku sampai ragu, apakah ini mimpi atau nyata. Atau, mungkinkah orang-orang sedang mempermainkanku? Atau semesta yang sedang bercanda denganku? Melibatkan diriku dalam misteri yang penuh teka-teki.
“Jika benar apa yang kamu bilang, maka berarti gak semudah itu buat ngambil tubuh kamu,” kataku.
Wulan tak merespon. Raut wajahnya menunjukkan ia sedang berpikir keras.
“Memangnya, siapa yang pakai tubuh kamu?” tanyaku lagi. Aku sangat penasaran.
Wulan tak langsung menjawab. Ia hanya menatapku dengan penuh pertimbangan. “Haruskah aku kasih tahu kamu sekarang?” tanyanya kemudian.
“Iya lah. Gimana bisa aku bantu kamu, kalau kamu gak bilang siapa yang udah ngambil tubuh kamu?” terangku.
“Apa kamu akan baik-baik aja kalo kukasih tahu yang sebenarnya?” Wulan tampak mengkhawatirkanku.
Jujur, ini malah membuatku jadi penasaran. Ada apa dengan Wulan? Kenapa dia malah mengkhawatirkanku? Memangnya ada apa denganku? Apa hubungannya?
“Bilang aja. Aku siap mendengarkan,” kataku, meyakinkan.
“Tetanggamu,” ucap Wulan sependek mungkin.
“Sakti?” aku menebak.
Wulan menggeleng. “Seseorang yang mengaku dirinya sebagai Luna,” terusnya kemudian.
Sontak aku mengkerutkan kening. Jelas aku tak percaya dengan apa yang diucapkan Wulan. “Siapa?” tanyaku sekali lagi. Mencoba memastikan pendengaranku.
“Kamu gak salah dengar, Ken. Itulah yang sebenarnya terjadi,” jawab Wulan, mencoba menerangkan situasi yang sebenarnya.
Sebentar, aku perlu mencerna semua ini. Wulan bilang, tubuhnya diambil dan dipakai orang. Orang tersebut adalah Luna. Jadi, Luna yang kukenal sekarang bukan Luna yang sebenarnya. Dengan kata lain, Luna yang sebenarnya adalah Wulan. Itu artinya, Luna sudah meninggal. Begitukah?
“Enggak, gak mungkin lah. Gak mungkin kayak gitu!” aku mengelak. Aku menolak pengakuan Wulan.
“Ken, aku udah pernah bilang kan? Dia itu bukan Luna. Aku pernah bilang sama kamu, kalau dia bukan Luna, karena ya Luna itu aku,” Wulan meyakinkan. “Aku pikir, orang itu cuma punya wajah yang mirip sama aku. Ternyata bukan. Dia menggunakan tubuh aku buat hidup. Buat jadi manusia. Aku gak sengaja dengar kemarin,” tutur Wulan lagi. Dia tak mau menyerah untuk meyakinkan aku supaya percaya pada perkataannya.
“Cukup!” tegasku sambil berdiri. “Jangan diteruskan! Kamu udah kelewatan. Ini gak bisa ditoleransi lagi,” ucapku spontan. Aku mencoba menghentikan percakapan malam itu. Ini tidak masuk akal. Ini tidak mungkin benar. Wulan sudah kelewatan dengan apa yang dia lakukan terhadapku.
Wulan tampak terkejut. Sepertinya ia tak habis pikir dengan responku saat ini. Tapi nampaknya, dia belum mau menyerah.
“Jangan begini, Ken! Tolong percaya sama aku! Aku mohon,” ucap Wulan panik. Dia terus saja mendesakku untuk percaya pada ucapannya. Kini, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku Luna. Aku Luna yang kamu kenal. Luna Wulandari. Seseorang yang kamu cintai, Ken. Aku orangnya,” terusnya lagi.
Sekarang, aku malah makin bingung dibuatnya. Wulan bahkan tahu nama lengkap Luna, padahal aku tak pernah memberitahunya.
“Ini aku, Ken. Aku minta maaf karena datang dengan kondisi seperti ini. Tapi aku mohon, tolong percaya sama aku!” desak Wulan. Memohon dan memelas.
Pada akhirnya, tubuhku mendadak lemas. Aku kembali duduk di kursi dengan tenaga yang seolah hilang semua. Melihatku begitu, Wulan tak mendesakku lagi. Sepertinya dia tahu kalau aku mulai tidak baik-baik saja. Dia beringsut mundur, dan menghilang di balik pintu. Entah pergi ke mana.
Sementara itu, aku tertegun. Mematung di tempat dudukku. Memandang dengan tatapan kosong. Aku membiarkan seluruh memori datang bergantian di kepalaku. Ada rasa panas yang terasa di sekitar wajahku. Dan mataku mulai berkaca-kaca. Aku sadar, aku sedang tidak berdaya. Aku sedang kehilangan. Dan aku sedang terjebak dalam permainan yang entah bernama apa.
Sekarang aku sudah tahu, bahwa Luna, satu-satunya wanita yang kucintai sepanjang hidupku, satu-satunya orang yang paling memahamiku, satu-satunya orang yang paling berharga, kini telah meninggal. Dia ada bersamaku, tapi aku bahkan tidak mengenalinya. Ternyata selama ini, aku tidak mengenalnya dengan cukup baik. Aku telah membiarkannya kesusahan sendiri. Aku telah membiarkannya mengatasi kesulitannya seorang diri. Yang lebih konyol lagi, aku malah salah paham terhadap yang lain. Aku bahkan, sudah membuat orang itu jatuh hati padaku. Apakah dunia ini mau membuatku gila?
“Hahahaaaa ...,” aku tertawa terbahak-bahak. Aku seakan mendapatkan kekuatanku lagi. Lalu aku mulai berkata-kata. Mengeluarkan isi hati dan pikiranku semauku, sesuka hatiku. “Ini bukan berita buruk. Ini justru berita bagus. Ini kabar yang sangat baik. Ini keadaan yang amat baik,” ucapku sambil tertawa-tawa. Sungguh, ini bukanlah suatu kemalangan. Ini justru adalah kebahagiaan. Ini adalah awal yang baru. Lembaran baru. Sesuatu yang layak kupertahankan. “Bukankah bagus, Luna ada di sampingku lagi? Gak peduli dia hidup sebagai Wulan atau sebagai Luna, yang penting dia ada di sisiku,” ucapku dengan tekad yang sudah bulat. Sekarang, aku tidak akan membiarkan dunia mempermainkanku lagi. Sekarang sudah saatnya akulah yang mempermainkan dunia.
(*)