Luna
Sakti memintaku untuk menunggu pengantar makanan datang. Lagi-lagi, kali ini dia memesan menu makan malam dari restoran favoritnya. Ia memintaku untuk menunggunya di luar. Katanya, sebentar lagi pesanannya sampai. Jadi aku memutuskan untuk menunggunya di halaman. Sambil sesekali melihat ke jalan. Memeriksa tanda-tanda kedatangannya.
Kulihat, jalanan masih lengang. Tak ada lampu sepeda motor yang terlihat di ujung jalan sana. Begitu juga di ujung jalan yang lainnya. Nampaknya aku harus lebih menyabarkan diri untuk menunggu pesanan itu. Toh, aku juga belum mencium aroma makanan yang akan datang. Aku belum mencium adanya aroma ayam bakar, daun kemangi, ataupun sambal pedas yang menggugah selera makan. Aku hanya bisa merasakan perut laparku makin keroncongan, sambil membayangkan makanan itu sudah sudah di mulutku. “Hmmm ... berapa lama lagi aku harus menunggu?” ucapku pelan. Sudah tidak sabar.
Tak lama kemudian, aku merasakan seseorang datang. Namun yang datang bukan si pengantar makanan, melainkan Wulan. Dia menghampiriku dan memintaku untuk mengikutinya ke tepi pantai. Karena kelihatannya serius, aku lantas melupakan tentang pesanan yang akan segera sampai.
“Kembalikan tubuh itu!” ucap Wulan mengawali percakapannya. Raut wajahnya sangat serius. Menatapku seolah tanpa ampun.
“Apa?” sontak aku terkejut mendengar kalimat itu. Untuk sesaat, aku teringat mimpi buruk beberapa waktu yang lalu. “Kamu ngomong apa?” aku berusaha bersikap tenang dan mengendalikan perasaanku yang mulai ketakutan.
“Gak usah pura-pura gak paham. Aku udah tahu semuanya. Kemarin malam, aku dengar percakapan kamu sama seseorang. Aku udah tahu kalau kamu bukan manusia,” ungkap Wulan tanpa basa-basi.
Seketika pertahanan diriku runtuh lagi. Ketakutanku menjadi kenyataan. Identitasku ketahuan lagi. Namun, aku tetap berusaha mengendalikan situasinya.
“Kamu ... menguping?” tanyaku kemudian.
“Anggap saja itu jalanku buat ngebongkar identitas kamu,” kata Wulan.
Aku tertawa sinis. Aku tak percaya, orang ini bisa mendesakku hingga sejauh ini. Ternyata dia sangat membahayakan.
“Terus kamu mau apa? Kalau sudah tahu aku bukan manusia, kamu mau apa?” tantangku sekalian.
“Aku bilang balikin tubuh itu,” kata Wulan lagi.
“Balikin ke siapa?” nada bicaraku meninggi.
“Sepertinya kamu belum tahu milik siapa tubuh itu.”
“Aku tahu, ini tubuh mantan pacarnya Ken.”
“Tapi kamu belum tahu, dia berada di mana. Gimana kalau pemilik tubuh itu ada di hadapan kamu sekarang?”
Mendadak kupingku terasa sakit. Kupingku berdengung sangat kencang. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Spontan, aku langsung memeganginya sampai dengungan itu tak berbunyi lagi.
“Kamu ngomong apa? Kamu mau main tebak-tebakan sama aku?” tanyaku pada Wulan.
“Aku mau lihat apa yang bisa kamu lakukan. Sekali lagi aku tanya, gimana kalau pemilik tubuh itu ada di hadapan kamu sekarang?”
“Maka dia gak akan bisa melakukan apa-apa,” tegasku kemudian.
“Kamu yakin? Gimana kalau pemilik tubuh itu adalah aku?” tanya Wulan kemudian.
Seketika aku terdiam. Aku merasa mimpi burukku menjadi kenyataan. Dalam mimpiku, Wulan memintaku untuk mengembalikan tubuhnya. Apakah mimpi itu adalah pertanda bahwa ini memang tubuh Wulan?
“Kenyataannya adalah kamu yang gak bisa melakukan apa-apa,” lanjut Wulan begitu melihat ekspresiku.
Dari kalimat tersebut, aku menyadari kalau tubuh yang kuhidupi memanglah milik Wulan. Ken pernah mengatakan bahwa Wulan adalah arwah yang numpang hidup dalam robotnya. Dia sedang mencari tubuhnya.
“Begitu ya? Jangan salah paham. Aku cuma menunggu waktu yang tepat untuk bicara,” balasku untuk meresponnya.
Giliran Wulan yang dibuat diam.
“Karena kamu sudah diam, sekarang giliran aku yang bicara. Meskipun kamu sudah tahu bahwa tubuh ini adalah milik kamu, kenyataannya kamu tetap gak bisa melakukan apa-apa selain bilang, kembalikan tubuhku! Kembalikan tubuhku!” ledekku setelah itu. “Apa? Balikin tubuh ini katamu? Gak segampang itu, Wulan!” terusku lagi.
“Jangan banyak bicara! Cepat balikin aja tubuh aku!” pinta Wulan yang mulai kesal. Emosinya mulai naik.
“Terbukti kan? Baru aja aku bilang, kamu udah mengatakannya lagi. Sekarang biar aku kasih tahu. Sampai berapa kalipun kamu mengatakan itu, kamu gak akan bisa mendapatkan tubuhmu ini. Kamu pikir, setelah kamu meminta, maka aku akan menyerahkan tubuh ini begitu saja? Tidak semudah itu, Wulan! Sekarang tubuh kamu adalah milikku. Kamu gak akan bisa mengambilnya dariku. Jadi aku sarankan, nikmatilah hari-harimu sebagai robotnya Ken. Bukankah itu akan sangat menyenangkan?” kataku. Aku tetap bersikeras dengan pendirianku.
“Diam!” sambar Wulan yang makin kesal. Sepertinya dia mulai frustasi.
Aku menghembuskan napas panjang. Lama-lama aku muak dengan sikap Wulan. Dia pikir, aku tinggal dalam tubuhnya atas kemauanku sendiri, begitu? Tentu saja tidak. Bukan salahku aku hidup dalam tubuhnya. Bukan salahku juga, aku hidup dengan identitasnya. Dia tidak mengerti situasinya.
“Malam ini, aku lagi gak mau debat terlalu lama sama kamu. Jadi sebaiknya kamu pulang aja. Oke?” kataku kemudian. Aku berusaha lebih sabar menghadapi emosi Wulan yang mulai meledak-ledak. Aku berusaha menenangkannya dengan nada bicara yang dibuat lebih lembut.
Tanpa menunggu persetujuannya, aku memutar badan Wulan supaya membelakangiku. Lantas mendorongnya perlahan, menggiringnya supaya meninggalkan pantai ini. “Ayo pulang, robot cantik ...!” kataku sambil mendorongnya setengah paksa. Memperlakukan dia layaknya seorang teman. Berlaga damai seperti tak terjadi apa-apa.
“Kamu ini apa-apaan?” Wulan malah menolak. Dia berusaha melepaskan diri dan menghempaskan tanganku dari pundaknya. Lalu dengan santai, aku berkata kepadanya. “Oh, masih betah? Bilang, dong. Ya udah, kalau gitu aku pulang duluan ya. Jaga dirimu baik-baik. Jangan pulang kemaleman, nanti dicariin Ken!” ucapku dengan nada yang terkesan tulus. Disertai pesan khusus yang seolah sangat peduli. “Selamat malam!” ucapku sebagai penutup pertemuan.
Namun, nampaknya Wulan belum mau melepasku pergi. Dia masih berusaha menahanku, setidaknya untuk mengatakan sesuatu. “Dengerin aku baik-baik!” ucap Wulan sangat tegas. Dia bicara sembari mencengkeram lengan kananku. Cengkeramannya sangat kuat dan tatapannya penuh ancaman. “Suatu hari nanti, aku akan mengambil tubuhku kembali. Aku pasti akan mendapatkannya. Ingat itu!” dengan tegas Wulan memperingatkan. Lalu menghempaskan tanganku lagi dengan sangat kasar. Tidak kusangka, ternyata pemilik tubuh ini bisa bersikap sekasar itu juga. Dia belum tahu saja bagaimana kekuatanku jika aku hendak membalasnya. Haruskah kutunjukkan itu sekarang?
“Begitu ya? Aku tunggu tanggal mainnya!” balasku tak mau kalah. Juga tak kalah tegas. Aku lantas berjalan meninggalkan Wulan yang masih diliputi rasa kesal di tempat itu. Berani sekali dia mengancamku seperti itu. Lihat saja bagaimana akhirnya nanti.
Beberapa meter berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku dengan kecepatan penuh. Aku menghilang di balik pohon, dan sangat terkejut saat tahu siapa orang yang melakukan itu. Aku sungguh tak pernah menduga, dia akan berada di tempat itu. Dan aku merasa bahwa dunia akan berakhir hari ini. Aku pasrah dengan apa yang ada di depanku sekarang.
(*)