Bel sudah berbunyi dari sepuluh menit lalu, Neyra Bemberesakan semua buku-buku yang berjejeran di atas mejanya. Tentu saja sahabat-sahabat Neyra setia menunggu sampai Neyra merapihkan barangnya.
"Ney lo pulang bareng gue aja ya," ajak Ayna menatap Neyra yang memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya. Neyra gelegapan bingung harus menjawab apa
"Hah... hmm gimana yah. Kayaknya gue gak bisa deh." jawab Neyra tergagap.
Ayna. Mira, Billa dan Indira menatap Neyra dengan heran. Tidak biasanya, Neyra menolak ajakannya untuk pulang bersama. Biasanya dia paling excited jika diajak pulang bersama.
"Kenapa? Gak biasanya lo nolak ajakkan gue?" tanya Ayna yang mulai curiga.
"Emangnya kenapa sih Ney. Gue liat-liat lo itu sering ngelamun. Jarang juga ngumpul-ngumpul sama kita?" tanya Billa.
"Lo lagi ada masalah, ya?" tanya Indira.
"Kalau ada masalah cerita dong Ney. Seenggaknya beban pikiran lo jadi berkurang," ujar Mira.
Neyra menundukkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca, ia tidak berani menatap ke empat sahabatnya. Menurutnya ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semua beban pikirannya.
"Kalau lo belum siap cerita, gak papa kok," ucap Billa mengusap pundak Neyra.
"Kita akan nunggu, sampe lo siap cerita semuanya," sambung Ayna. Memang di antara mereka berlima hanya Billa dan Ayna lah yang paling dewasa.
Neyra menetaskan air matanya, merasa bersalah karena sudah membohongi ke-empat sahabatnya. "Maaf gue belum siap cerita. Tapi gue janji, gue akan cerita semuanya sama kalian tapi gak sekarang, waktunya belum tepat aja. Maaf."
"Gak apa-apa kok. Kita bakalan nunggu sampe lo siap," ucap Ayna memeluk Neyra.
Mereka berlima berpelukan layaknya teletubbies. "Berpelukan."
"Yaudah yuk ke parkiran," ajak Mira.
"Kalian duluan aja deh, gue masih ada urusan," bohong Neyra.
"Urusan apa?" tanya Indira penasaran.
"Itu gue mau ke kantor. Kata pak Yosep gue dikasih tugas tambahan sama dia," jawab Neyra.
"Mau kita temenin gak?" tanya Ayna.
Neyra menggelengkan kepalanya. "Gak usah deh, gue sendiri."
"Lah, terus lo pulang sama siapa?" tanya Ayna lagi.
Neyra menatap mereka seraya tersenyum tulus. "Palingan gue dijemput sama Bang Kevin. Kalian duluan aja."
Indira mengangukkan kepalanya. "Yaudah kita duluan yah. Bye, Neyra."
"Maaf gue udah bohong samakalian, "Batin Neyra. Lalu berjalan ke luar kelas berpapasan dengan Nevan, yang berjalan masuk ke dalam kelas Neyra.
"Ngapain?" tanya Neyra.
"Lama," jawab Nevan. Pasalnya sudah sedari tadi ia menunggu Neyra di luar kelas.
"Maaf. Tadi masih ada temen-temen gue,"
"Oh."
"Oh doang? Dasar es batu," batin Neyra.
"Kenapa?" tanya Nevan.
"Gak apa-apa. Yaudah ayo nanti telat ke butiknya," ajak Neyra. Neyra berjalan lebih dulu, mendahului Nevan.
"Huhhh.. syukur udah sepi. Kalau sampai fansnya Nevan tahu. gue pulang bareng dia, bisa dijadiin rempeyek gue sama mereka," batin Neyra.
Nevan dan Neyra sudah berada di pakiran khusus anak-anak Reveelix. Nevan mengulurkan jaket miliknya ke Neyra.
"Pakai nih," titah Nevan
"Ngapain? Kan gak hujan?" tanya Neyra menatap Nevan yang masih mengulurkan jaketnya.
Nevan memutar bola matanya. "Tutupin paha lo," jawabnya singkat.
Neyra merasa malu dengan ucapan Nevan "I..yaa Makasih."
"Naik."
Neyra menaiki motor ninja milik Nevan sambil memegang bahu Nevan. Ini pertama kalinya Neyra menaiki motor besar dengan laki-laki, selain dengan Kevin.
"Kok gak jalan?" tanya Neyra heran.
"Lo mau jatuh?" ucap Nevan.
"Maksudnya gimana?" tanya Neyra.
"Peluk atau pegang pinggang gue. Kalau gak, lo bisa jatuh," jawab Nevan menarik tangan Neyra melingkar di perutnya.
"Maksud lo gue pendek gitu?" tanya Neyra sedikit tersinggung, karena tubuh mungilnya. Nevan mengalihkan Pandangannya ke arah Neyra. Karena Neyra terlalu cerewet, Nevan langgsung menengok ke belakang dan tidak sengaja mempertemukan bibir miliknya, dengan bibir Neyra. Keduanya sempat terdiam karena kaget.
"Aaaa bibir gue udah gak perawan. Lo tuh apaan sih. Ngambil kesempatan dalam kesempitan. First kiss gue hanya untuk suami gue nanti. Lo udah curi first kiss gue!" omel Neyra sambil memukul punggung Nevan dari belakang.
"Lo lupa? Gue kan calon suami lo," ucap Nevan yang mulai menjalankan motornya. Karena kaget, Neyra sontak langsung berpegangan erat dengan pinggang Nevan. Tersadar, Neyra melepas peganggan dari Nevan.
"Yah, kan belum sah," ujar Neyra ke dirinya sendiri.
Nevan menyeringai dari balik helm full face miliknya. "Bentar lagi juga udah sah. Jadi lo siap-siap aja."
Neyra menepuk punggung Nevan. "Heh! Maksud lo apaan? Jangan macem-macem ya lo!"
"Gue macem-macemin juga gak bakalan dosa, kan lo jadi istri gue."
"Belum sah!" teriak Neyra kekeuh.
"Besok juga udah sah," balas Nevan tersenyum di balik helm full face miliknya.
...
"Turun," titah Nevan. Kini mereka sudah berada di parkiran butik langganan Mama Neyra. Neyra turun dari motor Nevan dengan susah payah. Mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam butik
"Neyra, ya?" tanya pemilik butik, menyambut kedatangan mereka.
"1..iya tante."
"Ini tante udah siappin dress untuk hari bahagia kamu. Tinggal kamu coba aja," ucapnya, lalu memberikan ke dua baju pengantin.
"Iya tante."
"Ruang gantinnya di sana. Kamu coba sekarang ya."
Neyra berjalan masuk ke ruang ganti. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Neyra keluar dari ruang ganti.
"Wow, kamu cantik banget. Pasti calon suami kamu suka," ucap pemilik butik, melihat Neyra sudah mengenakan pakaian yang dipilihnya. Nevan menatap Neyra dari atas hingga bawah. Hanya satu yang ada di benak Nevan sekarang 'Cantik,'
"Yaudah kamu coba gaunnya juga ya, untuk akad besok," titah Pemilik butik, lalu memberikan
gaun putih dengan desain sederhana, tapi terlihat elegan.
"Iya tante," ucapnya sembari masuk ke dalam ruang ganti. Tak ada satu pakaian buruk saat dikenakan Neyra. Terlihat cantik dan pas. Pemilik butik pun, sampai terkagum-kagum menatap kecantikan Neyra.
"Cantik banget sih kamu."
Nevan sama sekali tidak mengedipkan matanya menatap Neyra yang menggunakan gaun putih untuk acara akad esok.
"Gimana udah pas kan semuanya?" tanya pemilik butik. Neyra memanggutkan kepalanya sambil becermin menatap bayangan dirinya. Tidak tahu bagaimana mengekspresikan dirinya. Semua ini serba membingungkan.
"Sekarang, kamu yang cobain Tuxedonya." Tunjuk pemilik butik memberikan dua tuxedo putih dan abu-abu untuk Nevan kenakan di hari pernikahannya esok.
Neyra menunggu Nevan yang mengganti baju sambil berbincang kepada pemilik butik langganan Mama nya. Tak lama setelah itu, Nevan keluar dengan wajah tanpa ekspresi. Neyra menatap Nevan dari ujung rambut hingga kaki. Ini pertama kalinya ia melihat Nevan menggunakan tuxedo.
"Kalian emang cocok," ujar pemilik butik.
Neyra tersipu malu mendengar ucapan pemilik butik. Ia juga masih belum menyangka jika ia akan menikah di umur yang bahkan masih tergolong sangat muda. Juga, tidak menyangka jika suaminya adalah Nevan, ketua dari geng motor yang terkenal di Jakarta.
Neyra dan Nevan telah selesai fitting baju untuk acara pernikahan esok. Nevan menjalankan motornya untuk mengantar Neyra pulang. Sesampainya di rumah Neyra. Ia memarkirkan motornya di depan gerbang rumah Neyra.
"Turun," ucap Nevan. Tetapi tidak ada pergerakan dari Neyra.
Nevan menolehkan kepalannya menatap Neyra. "Tidur," gumamnya lalu menggendong Neyra dan berjalan masuk ke dalambrumah Neyra tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Aduh Neyra kenapa?" tanya Mama Neyra dengan wajah khawatir.
"Maaf, tante aku main masuk aja soalnya Neyra ketiduran," jawab Nevan.
"Oh, yaudah bawa aja masuk ke kamarnya, Kamar Neyra ada di atas, pintu putih ada tulisan nama Neyra juga kok," ucap Mama Neyra. Nevan menganggukkan kepalanya menjawab.
la berjalan masuk ke kamar Neyra dan meletakkan Neyra ke atas kasur abu-abu miliknya.
"Good night," ucap Nevan. Dan berjalan keluar dari kamar Neyra.
"Tante aku pulang dulu," pamit Nevan. Kepada calon mertuanya yang duduk di ruang keluarga.
"Gak usah panggil Tante panggil Mama aja. kan bentar lagi kamu jadi mantu Mama," ujar Mama Neyra.
"Iya, Mah Nevan pulang dulu," pamitnya
"Yaudah, kamu hati-hati ya di jalan,"
Nevan mencium punggung tangan Fina dan bergegas menyalakan motornya. Esok adalah hari yang menegangkan untuknya. Di mana lembar baru akan segera dimulai.