Bab 17– Mengakui

1046 Kata

Sungguh bagai petir di siang bolong, hal tersebut mampu mengoyak inti jiwa, mencabik seluruh permukaan hati yang sudah tergores hingga tidak ada celah tersisa. Arimbi menengadah, menghalau air mata yang hendak luruh terjun. Tidak dapat dipungkiri jika dirinya kesakitan usai mendengar pengakuan yang bahkan tidak pernah dia duga sebelumnya. Sejauh itukah mereka? Batinnya meronta-ronta ingin tahu. "Rimbi? Kenapa nggak jawab? Saya akan melakukan apa saja asal kamu nggak membocorkan apa yang seharusnya tidak kamu ketahui." "I-iya. A-aku–" Arimbi melipat bibirnya ke dalam. Tidak sanggup untuk bicara panjang sebab air mata terus mendorong ingin keluar dari pelupuk mata. "Iya, Om. Tenang aja. Aku akan jaga rahasia ini. Tidak perlu melakukan apa pun untuk membuatku tutup mulut. Aku tidak sek

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN