Faron terbangun dari tidurnya, dia membuka mata dengan keadaan terkejut, keringat dingin lantas membasahi sekujur tubuh. Tidak hanya di pelipis, bahkan baju yang dikenakan juga basah usai mengalami mimpi buruk yang menggelayut sepanjang tidurnya. Segera dibuangnya napas guna menetralisir degup jantung yang berdetak berkali-kali lipat, lalu menyandarkan kepala. Untung saja semua yang terjadi barusan bukanlah sebuah kenyataan melainkan hanya mimpi. Dia tidak bisa bayangkan apabila segala tentang sekelumit kisah kusutnya sampai ketahuan oleh orang tua Arimbi. Bagaimana nanti dia akan katakan sesuatu? Dia masih begitu jelas mengingat bagaimana Rahardian begitu marah saat memergoki obrolan mereka saat di dalam mimpi itu. Mata Rahardian memerah seperti hendak mencekiknya. Ah, itu sangat tidak

