Faron terkejut saat tiba di dalam ruangannya, di sana dia melihat sang ibunda tengah duduk dengan tenang sembari melipat tangan di d**a. Pria itu merasa tiba-tiba atmosfer dalam ruangannya mendadak mencekam. Menakutkan. Entah mengapa Faron lebih suka disambut oleh suara berisik Naya daripada sikap elegan yang begitu jelas sedang menyimpan banyak misteri. "Mama tumben ke sini nggak kabarin aku dulu?" Faron mendekat lalu melakukan takzim. Sebelah alis Naya terangkat menanggapi pertanyaan Faron. "Sejak kapan Mama harus mengabari kamu kalau mau datang ke sini? Kamu nggak lupa kan ini kantor punya siapa?" Faron mengusap tengkuk seraya memperlihatkan sederet gigi putihnya usia mendapati jawaban menohok dari ibunya. "Iya, tahu kok. Apa salahnya kalau lebih baik kasih kabar dulu. Takutnya aku

