"Kamu nggak perlu khawatir, ini cuma masalah pribadi dan kecil aja, kok." Faron mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Tidak dapat dipungkiri, jika pukulan yang dilayangkan Matias teramat keras sehingga membuat rahangnya terasa kebas. Masih menjadi pertanyaan besar, dari mana Matias tahu keberadaannya di rumah Hanara? Lalu mengapa pria tersebut bisa semarah itu padanya? "Yakin?" Faron mengangguk pelan, kemudian laki-laki itu digiring ke sofa untuk diobati. "Gimana keadaan kamu, apa udah membaik?" Faron tidak melupakan tujuan utamanya datang ke rumah ini. Untuk itu, meski keadaan wajahnya sedikit buruk, dia masih memperhatikan keadaan kekasihnya. "Takutku mendandak hilang setelah melihat kamu dipukul Matias. Bukan lagi tentang mimpi buruk, melainkan kamu yang aku takutkan. Takut kalau ka

