bc

The Eight

book_age18+
8
IKUTI
1K
BACA
drama
tragedy
mystery
like
intro-logo
Uraian

Pembunuhan menghantui kota Jakarta, semakin lama pembunuhan semakin banyak membuat seluruh warga Jakarta cemas, takut. Kepolisian Republik Indonesia membentuk Tim Khusus untuk mencari siapa dalang dari pembunuhan.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
15 Februari 2000 “Celine, kamu kok belum pulang?” tanya seorang guru yang melihat Celine masih berada di sekolah. “Aku belum dijemput, Bu,” ucap Celine. Seorang anak berusia sepuluh tahun ini. “Adikmu mana?” “Dia sedang di toilet, Bu.” “Hmmm,” wali kelas Celine yang menatap jamnya dan menatap suaminya yang telah menjemput. “Waduh, ibu enggak bisa nungguin kamu sampai di jemput, gini kamu jangan kemana-mana, tunggu di sampai mama kamu jemput. Ibu pulang dulu, ya ,” sebuah kata pisah darinya. Karena Celine tidak betah menunggu sendiri, dia menghampiri adiknya. ”Dek, tungguin Kakak, ya. Kakak juga mau pipis,” ucapnya yang di sahut iya oleh Sang adik. Tidak lama kemudian, Celine keluar dari toilet, dia mencari keberadaan Sang adik, tetapi tidak ada. Dia mencari ke ruang kelas Celia pun tidak ada. Saat dia berlari ke depan sekolah. dia melihat adiknya yang di bawa seorang wanita yang secara fisik mirip dengan bibinya. “Lia ( panggilan akrab keluarga pada Celia ), Lia,” Teriak Celine berlari mengejar mobil tersebut, sayangnya tidak terkejar. Di tengah hujan Celine pulang sambil berlari untuk mengetahui bahwa adiknya sudah sampai di rumah terlebih dahulu. Tiba di rumah, kedua orang tua Celine cukup khawatir dengan Celine yang pulang dengan basah kuyup. “Kamu dari mana aja? Om Asep jemput dan kamu udah enggak ada di sekolah, terus Adek kamu mana?” Sang mama yang memeluk Celine dengan mata yang mencari keberadaan Celia. “Adek? Bukannya sudah pulang dengan Bibi Rina,Ma?” kata Celine. “Tadi aku lihat adik dijemput dengan bibi-bibi, bibinya seperti Bibi Rina,” ungkapnya kembali. “Bibi Rina?” jawab Sang mama dengan heran. Kemudian, Sang mama langsung menelepon Rina, adik iparnya. “ Halo, Rin. Rin, aku mau tanya, Celia ada di sana enggak?” ucap Dita, mamanya Celine dengan suara cemas.  “Iya, halo, Celia? Enggak, emang dia mau kesini?” jawab Rina yang tidak kalah heran. “Tadi pas mereka pulang sekolah, Celine bilang kalau Celia dibawa seorang wanita yang mirip sama kamu,” katanya. “Aku dari tadi di rumah aja, soalnya Ade sakit demam,” ucap Rina yang membuat Dita menghela napas khawatir tentang keberadaan putri bungsunya saat ini. Setelah menelepon adik iparnya, dia mencoba menelepon ibu mertuanya yang tinggal tidak jauh dari Celine dan Celia bersekolah. “Halo, Ma,” kata Dita. “Ma, Celia ada di sana enggak?” tanya Dita. “Nggak, Lia nggak ada ke sini hari ini? Memang dia mau ke sini?” ucap wanita paruh baya bernama Riana itu. “Hmm.. Tadi katanya Mas Budi sama Lia mau main ke rumah Mama,” kata Dita yang berbohong karena takut mama mertuanya itu cemas. “Oh, begitu, sepertinya dia belum sampai,” kata Riana yang tidak menaruh curiga apa pun. “Oh, ya sudah, terima kasih, ya, Ma.” Dita mengakhiri perbincangan mereka dari telepon. Tubuh Dita melemas terjatuh di kursi, pikirannya sudah fokus pada apa pun saat dia mengetahui bahwa semua orang dia kenal tidak mengetahui keberadaan Celia. Dita dan suami langsung melapor ke polisi tentang hilangnya anak bungsunya itu. Mereka langsung mendatangi kantor polisi. “Pak ... Pak Polisi, tolong, Pak, anak saya hilang.” Dita berkata dengan kecemasan di dalam dirinya serta air mata yang membasahi kedua pipi. “Tenang, Bu. Bapak, Ibu, duduk dahulu, tolong ceritakan kronologinya,” ungkap seorang polisi bertubuh gemuk yang bernama Endra. “Begini, Pak, anak saya dan adiknya seharusnya pulang bersama, tetapi kata Sang kakak, adiknya dibawa pergi dengan seorang wanita yang dikira bibi mereka,” Budi yang mengambil alih memberikan keterangan kepada polisi. Endra mengangguk mendengarkan secara serius. ”Oke, adek, bisa ceritakan ke paman ceritanya.” Endra berbicara dengan nada yang melembut selayaknya berbicara dengan anak-anak. “Tadi, aku menyuruh Lia untuk menungguku pipis, tapi dia ninggalin aku. Pas aku keluar sekolah, dia sudah pergi bersama dengan seorang bibi,” ucap polos Celine. “Bisa kamu ceritakan bagaimana bibi itu?” tanya Endra kembali. “Bibi itu tinggi, kurus, terus rambutnya panjang,” jawab Celine yang masih mengingat wanita yang membawa adiknya itu. “Terus  apa lagi yang kamu lihat pas pulang sekolah?” tanya Endra, tetapi Celine hanya menggelengkan kepala. Endra yang sudah mendengar semua penjelasan dari Celine, dia langsung mengetiknya di daftar orang hilang dari komputer miliknya. “Dimana kalian tinggal?” tanya Endra. “Saya tinggal di perumahan Villa Exo no 12A,” ucap Budi. Endra yang mendengar dan mengetik di komputer. “Baik, bapak, ibu. Lebih baik bapak dan ibu pulang, saya dan tim akan menindaklanjuti kasus ini,” Endra yang sigap langsung membantu Budiyanto dan Dita. Tidak tinggal diam, Endra langsung mengerahkan anak buahnya untuk mencari anak dari Budi dan Dita. Pencarian dimulai dari sekolah Celine, mereka melalui rute yang biasa Celine dan Celia lalui, tapi hasilnya nihil. Pencarian di lakukan esok hari karena hari yang sudah gelap dan tidak memungkinkan untuk melakukan pencarian. *** Karena kebetulan ayah Celine yang bernama Budiyanto adalah salah satu anggota jaksa RI, membuat kabar putrinya yang hilang sampai menjadi berita yang menghebohkan. Betul saja, keesok harinya, begitu banyaknya wartawan yang sudah berada di gerbang sekolah untuk mengetahui tentang kebenaran hilangnya dari putri Jjaksa Budiyanto. Tapi dari pihak sekolah maupun keluarga sepakat untuk tidak menceritakan kepada media agar mempermudah menangkap pelaku.  Tiga hari kemudian, Budiyanto mendapatkan sebuah kotak yang sudah ada di depan rumahnya. Budi membuka kotak itu dan terdapat selembar kertas yang bertulisan bahwa si pengirim meminta uang senilai satu miliar sebagai tebusan putri bungsunya.   Setelah membaca surat itu, Dita langsung terduduk lemas, ”Pa, udah kasih aja duit ke mereka, aku takut Lia di apa-apain sama mereka,” Dita yang seakan menyerah dengan keadaan.  “Bukan masalah duitnya, Ma. Kalau kita kasih duit terus kita langsung terima Lia kembali enggak apa-apa, kalau tidak bagaimana?” Suara Budi yang sedikit meninggi.  “Terus kita harus bagaimana? Aku nggak mau kalau Lia kenapa-napa, Pa!” Dita yang marah dan kemudian menangis sejadi-jadinya. Melihat Sang istri menangis, Budi memeluk menenangkan istrinya.  “Kita harus kasih ini ke polisi,” ucap Budi yang langsung mengambil kunci mobilnya. “Mama ikut, Pa,” Dita berdiri langsung mengusap air matanya. “Mama di rumah aja,” Budi meminta. “Halo, Pak Endra, saya baru saja mendapatkan surat dari pelaku untuk meminta tebusan. Dan sekarang saya menuju ke kantor polisi,” Budi yang menelepon Endra di dalam perjalanan. Setiba di kantor polisi, dia langsung menemui Endra dan memberikan surat itu ke Endra untuk menjadi barang bukti. “Terima kasih, surat ini akan saya jadikan barang bukti dan tim kami akan mencari siapa pelakunya melalui sidik jari dari surat itu. Sekarang lebih baik bapak menunggu berita kelanjutan dari kami di rumah,” ucap Endra. Endra mereka langsung menyelidiki surat tersebut dan dari surat itu terdapat sidik jari yang diduga kemungkinan milik pelaku, dari penyelidikan diketahui bahwa seorang pria berusia 27 tahun yang bernama Rian. *** Lebih dari sepuluh hari berita mengenai hilangnya putri dari jaksa Budiyanto menghiasi TV.  Setelah hasil penyelidikan, polisi mengambil kesimpulan bahwa putri dari jaksa Budiyanto di culik oleh Rian. Akhirnya mereka memutuskan untuk memberi kabar tersebut pada Budiyanto. “Pak, Bu, sepertinya anak kalian diculik oleh Rian,” ucap Endra di telepon pada Budi dan Budi yang mendapatkan kabar tersebut langsung bergegas ke kantor polisi. “Tidak! saya tidak percaya karena saya belum menemukan putri saya! Saya minta kasus ini diusut sampai tuntas!” Budiyanto yang tidak percaya seratus persen dengan kenyataan yang ada meminta kasus itu di tindak lanjutkan. “Saya percaya apa yang dikatakan oleh putri saya,” ucapnya kembali.  “Begini pak, saya mengerti maksud bapak, tapi keterangan anak usia sepuluh tahun tidak serta merta harus kita percaya begitu saya,” ucap Endra.  “Maksud anda, putri saya berbohong!” Budi yang menggebrak meja.  “Bukan begitu pak, saat kejadian terjadi, terjadi hujan lebat, dan mobil pelaku tidak bisa terekam oleh CCTV sekolah,” Endra yang berkata seolah menenangkan Budi.  “Baik, tim kami akan mencoba menyelidiki kasus ini lebih lanjut,” ucap Endra. Kata-kata polisi tersebut hanya seperti angin segar untuk Budiyanto dan keluarga, karena sampai 5 tahun kasus penculikan itu terjadi, polisi tidak menemukan tersangka asli dari kasus tersebut. Bahkan kepolisian mengumumkan kasus tersebut resmi ditutup tanggal 15 Mei 2015 atau tepat 5 tahun kasus tersebut dan Rian di jebloskan ke dalam penjara, sedangkan untuk Celia tidak ditemukan. Banyak dari masyarakat menduga bahwa putri dari Budiyanto itu telah diculik oleh orang suruhan salah satu putra dari mantan petinggi negara. Yang dimana Budiyanto adalah Jaksa yang menangani kasus yang tengah dialami dari putra mantan petinggi negara itu. 14 Februari 2020 Celine kecil kini sudah menjadi seorang polisi. Cita-cita Celine yang awal ingin menjadi dokter berubah menjadi polisi setelah penculikan Sang Adik yang sampai sekarang dia tidak tahu bagaimana kondisi Celia.  Karena hal itu pula, Celine berjuang untuk masuk ke kepolisian untuk mengupas kasus yang menimpa adiknya tersebut.  *** Pagi ini seperti biasanya. Celine dan para sahabatnya Tika, Hanna, Stevi, Megasary dan Megawati kumpul bersama di Cafe Morning milik Vina untuk minum kopi  sebelum mereka berkutik dengan kasus-kasus yang selalu ada di kepolisian. “Vin, kamu ini, besok mau nikah tetap aja masih kerja,” ucap Tika. “Nggak apa-apalah, sekarang biaya hidupkan mahal,” kata Vina dengan tersenyum. “Ibu bos ‘kan banyak duit,” sambung Hanna yang di sambut tawa oleh Vina. “Inget, ya, kalian besok jangan sampai nggak dateng! Awas aja kalian nggak dateng, kalian nggak boleh nongkrong lagi di sini!” ancam Vina. “Tenang saja, besok kita semua sudah mengosongkan jadwal demi seorang Vina Lestari,” kata Celine menenangkan. Jam sudah menunjukkan jam 10 malam, Celine masih berada di kantor polisi. Dia masih mencari-cari data 20 tahun silam untuk mencari data soal penculikan adiknya. Saat tengah serius mencari data, tiba-tiba telepon darurat berbunyi. “Halo.. Halo, polisi, tolong.. putri saya hilang,” ucap seorang wanita paruh baya menangis sambil mencengkram kedua tangannya. “Iya, bu, bisa di jelaskan kronologinya?” tanya Celine yang kebetulan berada di sana. “A.. anak saya yang bilangnya minta ijin untuk pergi ke minimarket dari sore tadi, cuman sampai sekarang dia belum pulang, dia pergi dengan membawa mobilnya,” ucap Sang penelepon dengan panik dan terbatah. “Saya sudah mencari keberadaan anak saya ke teman-temannya dan ponselnya tidak dapat dihubungi,” ucap Sang ibu kembali. “Baik, bisa beritahu dimana ibu tinggal?” tanya Celine. “Saya, saya tinggal di jl. Kemangi no 27, rumah saya warna hijau. Rumah saya di belakang sekolah Pelangi, “ ucap Sang ibu dengan sangat detail dengan suara yang terdengar cukup panik. “Baik, bu, saya akan segera kesana,” tutup Celine. Celine dan 2 anak buahnya, yaitu Dio dan Raka langsung pergi ke alamat sang penelepon tersebut. Karena kebetulan rumah tersebut tidak terlalu jauh dari kantor polisi, sekitar 30 menit mereka sudah sampai di rumah sang penelepon. Di dalam rumah, Sang Ibu menjelaskan secara detail kejadian sebelum putrinya menghilang. Satu-satunya bukti tersebut adalah mobil yang digunakan oleh putrinya yaitu mobil Xenia dengan berplat nomor polisi B 8787 DE. Tidak luput Sang Ibu yang bernama Leny memberikan foto putrinya. Celine tercengang saat melihat foto putri Leny, wanita itu adalah sahabatnya Vina. “Vina?!” kata Celine tercengang. “Mba, tau anak saya?” Leny yang menatap Celine dengan penuh harap. “Begini Bu, dia, sahabat saya, saya dan sahabat-sahabat saya yang lain sering berkumpul di cafe miliknya,” ucapnya menenangkan kepanikan Leny. “Baiklah, ibu. Saya dan tim, akan berusaha semaksimal untuk mencari Vina. Mohon kepercayaan kalian terhadap kami. Kalau begitu kami permisi,” ucap Celine. *** Keesokan harinya, sekitar kurang lebih pukul sepuluh pagi  telepon kepolisian berbunyi. “Halo, kantor polisi, kami melihat sebuah mobil yang terparkir cukup lama dan orang yang di dalamnya tidak bergerak sedikitpun,” kata seorang pria melalui telepon yang berada di lokasi kejadian.  “Bisa dijelaskan dimana lokasinya?” ucap seorang polisi muda bernama Putra.  “Lokasinya di jl. Flamboyan 23 samping restoran Bahagia,” jawabnya.  “Baik, kami akan langsung ke lokasi,” jawab Putra. Setelah menutup telepon, Putra dan beberapa rekannya langsung menuju lokasi.  Sampai disana, mobil berwarna silver itu sudah banyak warga setempat yang mengerubungi mobil tersebut.  Putra yang sampai lokasi langsung mengintip kaca mobil yang terlihat gelap dari luar, digedor-gedor kaca itu, tetapi tidak ada reaksi dari orang yang berjenis kelamin wanita itu.  Putra langsung memecahkan kaca mobil dengan sebuah batu yang ditemukannya. Putra yang dibantu 2 rekannya mencoba membuka pintu mobil.  Celine yang tidak sengaja melewati jalan tersebut, akhirnya menghentikan mobilnya dan melihat ada kejadian apa yang membuat semua warga berkumpul di dekat situ.  “Putra,” panggil Celine yang melihat rekannya itu.  “Vina!” Celine yang kaget melihat sahabatnya sudah tidak bernyawa.  “Mba, kenal wanita itu?” tanya Putra.  “Iya, dia anak Ibu Leny yang kemarin hilang,” Celine yang berusaha membantu membuka pintu.  Didapati mulut Vina dipenuhi busa yang sebagian telah mengering. Sejumlah kepulan asap keluar dari dalam begitu pintu mobil terbuka. Salah satu rekan Putra yang sudah menghubungi ambulan dan tidak lama kemudian ambulan itu datang, pihak ambulan langsung membawa jenazah Vina yang sudah dibungkus kantong jenazah dan Celine ikut serta dalam ambulan.  Sampai di rumah sakit, Megasary yang sedang bertugas langsung terkejut melihat setelah kantong jenazah itu di buka. Melihat dari jenazah, Megasary menyimpulkan kalau Vina meninggal karena keracunan. Putra yang berada di lokasi kejadian, dia menemukan sejumlah briket batubara yang sudah terbakar pada kursi penumpang dengan korek gas berada tak jauh dari kursi pengemudi, yang kemudian disimpulkan bahwa ia meninggal karena kekurangan oksigen akibat keracunan karbon monoksida hasil dari pembakaran briket batu bara di dalam mobil yang terkunci. Briket batu bara dan korek gas yang dibawa ke kantor untuk guna penyelidikan.  Celine tengah berada di koridor rumah sakit tiba-tiba ponselnya berbunyi, ”Halo, Put,” ucap Celine yang ternyata Putralah yang menelepon.  “Mba, dari lokasi kejadian kita menemukan briket batubara dan korek api gas. dan sekarang saya menuju ke kantor,” ucap Putra melapor dari dalam mobil perjalanan ke kantor polisi. Diduga kuat Vina telah melakukan percobaan bunuh diri. Belakangan ini, kasus bunuh diri dengan menghirup asap briket batubara sedang menjadi trend. Celine langsung menyelidiki apa yang menjadi motif Vina memutuskan untuk mengakhiri hidupnya seperti itu.   Celine yang termenung, di kagetkan oleh Megasary yang sudah keluar dari ruang autopsi.  “Bagaimana Vina?” tanya Celine pada Megasary.  “Dari busa yang sudah mengering, kemungkinan dia meninggal kemarin malam dan dari paru-parunya terdapat gas karbon monoksida,” jelas Megasary pada Celine.  “Iya, di lokasi kejadian, Putra mendapatkan briket batubara,” ucap Celine dengan suara pelan, tetapi terdengar oleh Megasary.  Celine langsung ke kantor, setelah mendapatkan barang bukti dan hasil otopsi sementara Celine langsung menelepon orang tua Vina.  “Halo, Bu Leny,” ucap Celine dengan nada yang menguatkan hati untuk berbicara pada orang tua Vina.  “Bu Leny, Vina sudah di temukan, tetapi… “ suara Celine terhenti, seakan tidak kuasa untuk melanjutkannya.  “Tetapi kenapa mba? Anak saya baik-baik saja, ‘kan?” Leny yang penuh harap. “Vina telah kami temukan, tapi dia sudah tidak dalam keadaan bernyawa,” ucap Celine dengan penuh sesal.  “Sekarang Vina berada di rumah sakit Puri Medika,” ucap Celine. Kedua orang tua Vina langsung pergi ke rumah sakit di mana Vina saat ini berada.  Sambil terisak melihat tubuh Vina yang sudah terbujur kaku, Sang mama menjelaskan kalau sebenarnya awalnya Vina tidak menginginkan untuk dijodohkan, tetapi lambat laun dia menerima perjodohan tersebut. Walaupun begitu keluarga tidak dapat menerimanya begitu saja. Mereka menyangkal, bahwa perjodohan itu tidak bisa sebagai alasan kuat  penyebab wanita malang itu bunuh diri.  “Tidak mungkin! Dia, putri kesayangan saya, dia sangat ceria. Komunikasi kami sangat baik, dia selalu menceritakan apapun masalahnya. Dia pun sudah mencintai Andre. Tidak ada alasan baginya untuk bunuh diri!” teriak Leny, sambil terisak. Dia memukul dadanya berulang kali, tanda kesedihan yang teramat sangat. Sang suami hanya dapat memeluknya dan mengelus-elus punggung istrinya. Hatinya sama hancurnya ketika melihat putri satu-satunya itu terbaring kaku di kamar jenazah rumah sakit. “Dugaan kemungkinan, Vina bunuh diri karena dia tidak mau di jodohkan,” ucap Celine dengan sangat pelan.  “Sudah kukatakan sebelumnya, dia menerima perjodohan itu! Kamu paham, kalau dia tidak mau menerimanya pasti kami tidak akan menggelar pernikahan tersebut! Pergi kalian! Seharusnya kalian sebagai polisi percaya pada kami, aku ibunya!” kali ini Leny teriak histeris. Beberapa detik kemudian tubuhnya terkulai lemas, jatuh dan tidak sadarkan diri. “Maafkan kami,” Celine yang meninggalkan kedua orang tua Vina di kamar jenazah. Celine dan tim pergi kembali ke lokasi kejadian, mereka pun menelusuri dari lokasi kejadian ke rumah Vina. Ada sebuah kejanggalan terjadi. Jarak rumah Vina dan tempat dimana mobil Vina ditemukan sangat jauh sekitar 7 km, sedangkan sekitar rumah Vina terdapat beberapa minimarket. Celine menduga kalau Vina pergi ke suatu tempat setelah membeli perlengkapan mandi. Sangat disayangkan, di sekitar rumah Vina, tidak terdapat CCTV yang terpasang dan ditambah Black Box atau EDR (Event Data Recorder ) yang terpasang di mobil tidak ada.  Sampai di kantor polisi mereka berdiskusi cukup lama. Untung saja, kedua orang tua Vina mengizinkan pihak kepolisian untuk mengotopsi tubuh Vina. BERSAMBUNG ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
9.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook