Sepanjang jalan gadis bermata bulat itu menyorot lelaki di di selahnya dengan tatapan setajam laser, lelaki itu yang sedang menyetir terlihat tidak memedulikannya padahal Riska menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan. "Bapak kenapa tadi bohong ke Mas Darel?" "Bohong apa?" balasnya tanpa beban, tentu saja tatapan Riska makin mendelik tajam. "Kita kan gak punya janji kenapa tadi bilang kalau kita ada janji!" pekiknya mencak-mencak, terlihat begitu kesal dengan sikap seenaknya lelaki itu. "Oh," tanggapan yang begitu santai dari lelaki itu kian membuatnya kembang-kempis, dengan bibir membulat kecil lelaki itu justru menggedik tanpa dosa. "Kalau begitu anggap saja kita memang punya janji, selesai kan." Mana bisa begitu! Gadis itu spontan berteriak dalam hati dan masih menahan

