Riska menyadari jika hubungannya dengan Segara perlahan mulai semakin dekat, bahkan hampir setiap hari setiap ia keluar unit apartemennya selalu bertepatan dengan lelaki itu seolah memang sangat kebetulan. Ceklek. Riska spontan menarik napas dalam-dalam, menipiskan bibirnya menatap lelaki di sebelahnya yang juga baru membuka pintu, nah baru juga dibicarakan sudah keluar contohnya. "Kamu mau berangkat?" Pertanyaan ke seribu kalinya yang selalu ditanyakan oleh lelaki itu dan jawabannya pun selalu sama. "Iya." "Yaudah ayo bareng, kebetulan aku juga mau berangkat." Ini seperti kalimat template yang selalu sama, bahkan nada yang digunakan pun hampir sama persis, tak ayal jika gadis itu jadi mengerutkan dahinya dengan perasaan curiga, merasa jika kebetulan selama ini bukanlah kebetulan bia

