Curhat

1024 Kata

Alea berlari kencang keluar kantor lalu berlari melewati pedestrian. Terik matahari yang begitu menusuk tak ia hiraukan. Pandangannya seakan melayang sementara pikirannya dipenuhi kisah masa lalu yang sangat menyakitkan. Ia berhenti di sebuah bangku yang ada di tepi jalan, air matanya masih menetes dan ia terperosok ke dalam luka lama yang masih begitu menyakitkan. Rendra mengejarnya lalu duduk di sampingnya, diam bagai bayangan. Alea menekuk kedua kakinya dan menguburkan wajahnya. Suara isak tangis terdengar, bahunya bergerak seiring isak tangis yang lolos dari bibirnya. “Aku bukan pembunuh. Aku nggak berniat membunuhnya. Aku bukan sepertinya, aku nggak punya darahnya. Dia bukan papaku,” racaunya. Air mata Rendra meleleh namun dengan cepat ia usap. Merangkul pundak Alea lalu memeluk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN