AUTHOR POV
Semenjak Patra dan Jane menetap disingapure, Joha selalu berkunjung, kadang disaat soal pekerjaan, kadang hanya nongkrong bersama Patra.
Sejak seringnya Joha berkunjung, itulah saat Jane dan Joha saling mengenal satu sama lain.
Jane juga bisa menerima kedekatannya dengan Joha, karena itu memang niatnya agar ia tidak canggung saat tinggal dirumah Joha, bukan ada perasaan cinta atau semacamnya, karena bagi Jane itu tidak mungkin, ia segera menghapus rasa sukanya, melainkan hanya kagum kepada suami orang, Jane hanya menganggap kedekatannya dengan Joha seperti seorang abg, karena memang Jane tidak memiliki saudara laki-laki, selain Reka
bahkan hari ini Joha berencana mengajak Jane kerumahnya, ia ingin mengenalkan langsung pada istrinya.
POV FATTAH DEJOHA
Aku setiap saat selalu berkunjung dirumah Uncle Patra, kadang kami membahas tentang perkerjaan, kadang aku sekedar berkunjung, karena uncle dan Jane hanya berdua dirumah mereka, aku mulai mendekati Jane, agar aku tidak dianggap orang asing lagi, jujur saja aku kecewa mendengar dari mulutnya sendiri dia mengatakan aku orang asing, tapi aku tidak membantah ucapanya, karena memang benar aku hanya orang asing baginya, aku akan membuktikan padanya orang asing ini mampu menjaganya.
hingga saat ini kami sangat dekat, kadang aku melupakan statusku yang sudah beristri, ntah apa aku merasa nyaman didekatnya.
Seminggu lagi uncle akan berangkat, jadi aku sebelum uncle berangkat aku akan membawa Jane terlebih dahulu menemui Farah, untuk mengenali Jane, bagaimana pun Farah istriku dia berhak tahu siapa yang aku bawa masuk kerumahku.
"Jane, hari ini ikut abg kerumah yaa, abg mau istri abg tahu kamu." ucapku mengajaknya pergi kerumahku
" boleh bg, Jane siap-siap dulu yaa." Jane bergegas naik kelantai dua, untuk bersiap
sambil menunggu aku duduk disoffa ruang tamu, lima menit menunggu akhir Jane sudah selesai
"Heeeii sudah, ayo." ajakku melihat Jane sudah siap
" Lest go." balaasnya
Saat dalam perjalanan, kami hanya bercerita, aku menceritakan tentang istriku, bagaimana sikapnya, apa yang dia suka dan apaa yang tidak dia sukai, Jane hanya diam saatku bercerita tentang istriku, lalu untuk mengubah moodnya aku menceritakan tentang putriku, Fatima Farhana, dia anakku yang manis, dia cantik, kadang suka rewel, dirumahku Farhana hanya dirawat Farah, kami tidak memiliki baby sister, karena aku ingin istriku menjaga putri kami dengan tangannya sendiri, kami memiliki bibi yang mengurus rumah, tapi hanya pagi hingga sore, karena aku suka privasi, saat malam hanya ada keluarga kecilku, aku tidak suka ada orang lain yang melihat keadaan rumah tanggaku, Jane mencerna setiap penjelasanku, aku bercerita hingga Mobilku terparkir pas diGarasi perkarangan rumahku, kami turun dari mobilku dan aku langsung mengajaknya masuk.
" Sayang." ucapku mencari istriku, tak lama Farah pun muncul
" haaai, sudah pulang? siapa?." tanya istriku dengan heran melihat Jane
" haii kak." ucap Jane sambil tersenyum
" Ini yang aku ceritakan sayang, anak uncle Patra yang diIndonesia itu." jelasku
" ooh , Jane yaa, salam kenal yaa, ayoo duduk dulu." ajak istriku sambil tersenyum kearah Jane
" Iya kak ,makasih." balas Jane
Farah mengangguk dan tersenyum kembali.
kini kami duduk disoffa ruang tamu rumahku, aku menyuruh bibi membuat air untuk Jane, aku menceritakan semuanya ke Farah, akhirnya Farah paham dengan penjelasanku.
"baiklah Jane kapan kamu akan mulai nginap?." tanya istriku
"dua minggu lagi kak, setelah papa berangkat." balaas Jane
" mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan rumah ini, karena cuman lama loh kamu tinggal disini, aku takut kamu ngak nyaman, apa lagi kita hanya berempat." jelaas Farah
" iya kak, gak papa, aku mudah beradaptasi kok kak." ucapnya lagi
Bibi datang membawa nampan air jus orange, mempersilahkan untuk Jane minum.
" silahkan diminum non." tawar bibi
" makasih bii." ucap jane sambil tersenyum kebibi.
Tiba-tiba tangis bayi terdengar, Farah langsung pergi kekamar untuk mengambil Farhana, ternyata ia terbangun dari tidur karena tidak ada orang dikamar.
" Haii ounty." ucap Farah membawa Farhana
" Eeh haii, ini yaa yang namanya Farhana, gumush banget siih, boleh aku gendong gak?." ucapnya keriangan melihati putriku.
" tentu ounty." Farah memberikan Farhana dan disambut Jane dengan senyum yang mengembang.
Kupandangi wajahnya begitu senang melihat anak kecil, tak henti-hentinya Farhana ketawa karena digumal Jane.
" kamu menyukai anak kecil rupanya." tanyaku
" iya bg, suka banget gemesh soalnya, aku gak pernah kek gini bg sama anak kecil, aku kan anak tunggal, jadi pengen punya." kekehnya
" iya nanti kalau tinggal disini, berarti kamu gak bosan dong bisa main sama Farhana." ucapku
" hehe, bakalan jadi moodbooster aku nih." semangatnya
" asik dong dibantuin Jane sayang, jadi aku gak kerepotan ." ucap Farah kepadaku
" jangan repotin Jane dong sayang." kesalku mendengar jawaban Farah " Uncle Patrakan suruh jagain bukan jadiin baby sister." jelasku lagi
" gak apa-apa kok bg, kak, aku bisa ajak Farhana main, anggap aja tanda terimakasih dari aku." tanggapan Jane
" abg gak enak sama Kamu dan Uncle Patra Jane." balasku
" santai aja, gak apa-apa kok." ucapnya santai memperhatikan Farhana.
" tapi janji hanya main yaa, enggak untuk mandiin, buat s**u, dan nganti pampers ya?" ucapku lagi sambil melirik Jane dan Farah bergantian
Farah sepertinya kesal melihat perhatianku yang kutunjukkan ke Jane, bukan sengaja aku melarang Jane mengurus Farhana, tapi aku tidak enak jika Uncle Patra tahu, Jane mengurus Bayi.
" Jane kita Lunch dirumah abg aja ya." ucapku membuat Jane menatapku
" abg Jane jadi gak enak ngerepotin." balasnya memelas
" gak apa-apa, ayok bibi usah siapin, udah masak banyak tadikan sebelum kesini abg udah kasi tahu bibi suruh masak banyak." ajakku
Dengan sungkan akhirnya Jane menuruti tawaran makan siang dirumahku.
Farhana yang terlelap diambil alih Farah mengendongnnya kekamar, dan ikut bergabung dimeja makan.
" Makanlah Jane, nanti juga akan terbiasa." tegurku melihat Jane malu-malu, Jane tersenyum
" baiklah kak, selamat makan." ucap Jane langsung menyantap makanannya.
syukurlah Jane makan sangat lahap, aku takut tidak sesuai dengan seleranya, karena masakannya sungguh enak.
" makanannya enak, pasti kak Farah yang memasaknya kan?." tanya Jane
aku langsung memandang wajah Farah, dia langsung menatap Jane, aku tidak tahu apa yang difikirnya, yang Jelas Farah belum mahir dalam bidang memasak, jadi masalah bersih-bersih dan didapur itu urusan bibi, Jane merasa situasi mulai tidak baik, "Maaf." ucapnya.
setelah itu suasana hening hingga kami selesai makan, kami duduk santai diruang tamu.
"Jane, bisa kah kita ngobrol berdua disana." ucap Farah sambil menunjuk taman belakang rumah kami.
" bisa kak, ayo." ajak Jane
Kini mereka berdua berjalan menuju taman belakang, ntah apa yang akan Farah katakan keJane, semoga saja dia tidak berkata yang aneh aneh.