3. Pemberian Nama

1041 Kata
POV ANASTASYA GISLY Hancur sudah harapanku untuk memiliki keluarga kecil yang sangat aku impikan, kandas dengan sebuah kekecewaan. air mataku mengalir tanpa dipinta setelah mendengar nama lengkapku disebut dengan lantang oleh Mantan suami ku. " Baiklah, selamat bertemu kembali dipengadilan" ucap ku dengan suara yang bergetar menahan supaya tangisku tidak pecah. " Maafkan aku Gisly, aku gak sengaja mengatakan itu, aku terlanjur marah " patra memegang tanganku meminta maaf. " sudahlah itu sudah terjadi, lagipun gak ada lagi yang bisa kita pertahankan, aku akan pergi keluar negeri, aku akan menjaganya" ucapku menatap putri ku yang sedang tersenyum. "Baiklah Gisly, tapi aku hanya minta satu pemintaan kepadamu, bolehkah aku memberi nama untuk putri kecil kita" kata patra dengan sebuah harapan. "Baiklah." ucapku "JANEANESTAPUTRI aku selipkan namaku dan namamu ditengah namanya". ucap Patra sambil tersenyum kearah putrinya. Aku sedih melihatnya tapi aku tidak bisa bertahan, hatiku terlalu sakit, biarlah Patra memberi nama untuk putrinya, 'Maafkan aku Patra, Maafkan mama sayang, mama tidak bisa memberikan kasih sayang papa kekamu nak, mama janji mama akan menyayangi kamu dan menjaga kamu, walaupun hidup kita tanpa papa, keputus mama sudah bulat sayang, apa lagi Papa udah menceraikan mama, tidak ada lagi yang bisa mama petahankan, maaf kan mama karena mama papa mengucapkan kata itu, mama yang mendesak papa, ini salah mama sayang bukan mama, mama yang memisahkan kalian, mama terlalu egois, mama hanya memikirkan hati mama, mama gak mikir hati kamu nanti nak, maafkan mama.' batinku aku mengangis melihat interaksi Patra dan juga Jane. AUTHOR POV 1 bulan kemudian. Gisly sudah sembuh dan resmi bercerai dengan Patra. pertemuannya dipengadilan, Patra dan Gisly yang berdampingan keluar dari ruangan tanpa pembicaraan, mereka berpisah setelah melawati lorong gedung, Patra hanya bisa memandang Mantan Istrinya, ingin rasanya ia memeluk untuk terakhir kalinya, Patra yang menyesal karena terlalu emosi tanpa sadar mengucapkan Talak, tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Patra menghampiri Gisly kerumah yang mereka tempati , karena Gisly akan mengambil barang barangnya untuk segera berangkat. Patra sampai didepan rumah langsung menuju lantai dua, melihat mantan istrinya yang lagi membereskan barang kedalam koper yang besar, Patra menghampiri putrinya, menciumnya, sedih hati Patra harus berpisah dengan anaknya, putri kandungnya yang baru berusia satu bulan. POV ANASTASYA GISLY Sibuk dengan pakaian ku dan pakaian Jane, aku harus membawa barangku semua karena aku butuh itu nanti, aku gak mungkin membeli keperluan ku disana, aku butuh biaya yang banyak untuk putriku , aku membawa tabungan yang kusimpan, syukurnya tabunganku cukup untuk aku dan putriku diindonesia nanti, aku akan bekerja jika Jane sudah mulai berakal, aku juga bisa menyewa pengasuh untuk menjaga Jane nanti. sudah selesai aku mengunci koper, aku terkejut dengan keberadaan Patra yang sedang main dengan putrinya. 'Maafkan mama sayang harus memisahkan kalian berdua, mama gak bisa mempertahankan rumah tangga mama' batin Gisly sangat sedih melihat papa dan anak. " Izinkan aku sebentar main sama Jane yaa, karena aku gak yakin kamu izin kan aku bertemu dengannya lagi atau enggak" suara Patra gemetar merasakan kesedihannya ,yang akan ditinggal keluar negeri. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. " Suatu saat nanti ada saatnya kalian akan bertemu, mungkin disaat Jane sudah dewasa dan membutuhkanmu". aku pun berlalu membawa koper keluar dari kamar, lalu menuruni tangga, aku langsung meminta tolong Supir memasukkan koper dan barang barangku kedalam bagasi mobil, sudah kucek semua sudah siap, aku langsung menaiki tangga, karena pintu kamar sengaja tidakku kunci saat keluar mengantar koper kebawah, aku berhenti didepan pintu, kuamati wajah mereka berdua, Patra dan Jane, Hatiku bergemuruh, sangat sesak, aku harus kehilangan Patra, wajah yang selalu kupandangi setiap hari, ingin sekali kupeluk tubuhnya yang menenangkan hatiku, aku rindu dipeluknya, diciumnya, aku selalu merasakan itu setiap harinya, tapi kini semua itu bagaikan kenangan yang tidak bisa ku lihat dan kurasakan lagi, semua sudah berbeda, apalagi Jika Patra sudah menikah, pasti tidak akan ada waktu ia melihat kami berdua, aku menangis diam-diam agar suara tangis ku tidak menganggu mereka yang sedang melepaskan rindu, dan salam perpisahan, sesak itu yang kurasakan. aku tersenyum melihatnya, aku tahu ia sangat menyayangi Jane, melihat ia meminta maaf dengan Jane yang hanya bisa tersenyum, hatiku bercampur senang dan sedih melihat mereka, 'mama harap suatu saat nanti kamu mengerti nak.' batinku POV BROTOESTA PATRA Memandang wajah putri kecilku ,aku merasa bersalah, karena telah mengkhianati mamanya Jane, Jane harus menanggung semua ini, "Maafkan papa sayang, papa gak bisa jadi papa yang baik buat kamu, papa telah melakukan kesalahan yang fatal, Bay bay kesayangan papa". aku menangis ketika memeluk tubuh mungil putriku. Kupandang dipintu kamar, Gisly sedang mengamatiku, melihat kedekatan aku dan jane, aku tahu dia pasti sedih, tapi tidak bisa dipungkiri, kisah aku dengannya sudah berakhir dipengadilan. sudah resmi bercerai, menjalani hidup masing masing. "Gis ini buat biaya Jane ,pakai saja untuk keperluan jane nanti disana". aku selipkan kartu tabunganku, isinya cukup untuk sampai Jane sekolah, jika kurang aku akan selalu transfer setiap bulan, agar Gisly tidak perlu berkerja. Gisly berjalan kearahku, menggendong jane, dan berlalu pergi, tiba dipintu Gisly berhenti, dia mengatakan "Semoga kamu bahagia, terimakasih untuk semua ini". Gisly mulai menjauh aku hanya memandang pinggungnya, aku terdiam, ingin sekali aku mengejar dan memeluknya, tapi aku tahu Gisly tidak mungkin mengizinkan tangan kotorku menyentuhnya, selama Gisly menjadi Istriku, ia istri yang sangat baik, ia mencoba menjadi yang terbaik, dikediaman ku yang sangat besar ini, kami hanya memiliki satu pembantu hanya untuk membersihkan rumah, sedangkan memasak dan juga kebutuhanku Gisly yang selalu turun tangan, katanya biar suaminya makin cinta karena air tangannya sendiri yang memasak, aku mencintai Gisly sampai saat ini, tapi aku yang bodoh karena tergoda dengan perempuan lain. aku tak sanggup melihat kepergian Gisly, tapi aku tidak bisa menahannya, Aku berdiri dijendela, karena dibawah jendela aku bisa melihat Mobil yang akan mengantar Gisly kebandara sudah siap. Gisly keluar ia menggendong Jane, aku tak kuasa menahan sesak didada, air bening menetas dipipi tanpaku pinta, sekarang baru kutahu betapa sakitnya kehilangan orang yang paling kucintai, kalau bisa kupilih, aku akan menahan Gisly disisiku dan melepaskan Glea, tapi Takdir berkata lain, aku mengucapkan kata yang tidak pernah aku sadari karena amarahku yang tak terbendung lagi. Mobil yang Gisly naiki sudah mulai berjalan keluar dari gerbang, semakin Jauh hingga tidak terlihat lagi. ku usap air bening yang jatuh dipipiku, aku harus mengikhlaskan, biarkan ino menjadi kenangan, mencoba untuk menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN