16. Pertengkaran

1005 Kata
AUTHOR POV Sebulan sudah Jane tinggal dirumah Joha, ia beradaptasi dengan baik, rencananya ingin membuka toko butik ia tunda sebelum Patra kembali, ia ingin Patra memberi solusi untuk membangun butik, bukan ia meminta bantuan keuangan, karena uang yang ditabungannya sangat cukup untuk memulai bisnis yang ia inginkan, ia ingin bisnisnya berkembang atas kerja kerasnya sendiri. Farah sudah mulai berkerja, ia sedang membintangi sebuah film yang membuat ia sibuk akan perkerjaan, kadang ia melalaikan kewajibannya menjadi seorang istri dan ibu, kadang itu membuat Joha muak dengan Farah karena tidak pernah puas dengan apa yang ia berikan, padahal ia cukup melebihi mampu untuk menafkah kan keluarganya, walaupun ia seorang aktor ia juga memiliki bisnis perhotelan yang cukup terkenal, sedangkan Farhana ia selalu dirawat Jane, tetapi Johalah yang lebih banyak meluangkan waktu untuk Farhana, Joha tidak ingin merepotkan Jane, ia akan mengizinkan Jane mengurus Farhana disaat hal terdesak saja. Malam ini mereka meluangkan waktu untuk makan malam bersama, dimeja makan sudah ada Joha, Farah dan Jane. " Jane udah lama kamu tinggal disini, gimana kamu nyaman gak?." tanya Farah, memecahkan keheningan disaat semua orang lagi asik mengunyah makanan masing-masing. " iya kak, nyaman banget kok kak." seru Jane " kamu gak bosan?." tanya Farah " gak kok, aku gak bosan karena ada Farhana, jadi aku punya kegiatan." jawab Jane " kamu jadi mau bangun butik? kenapa gak jadi artis aja, uncle kan pemilik stasiun, jadi enak dong langsung tener." saran Farah " gak mau ah kak, aku gak pede, aku mau buka bisnis aja, hasil keringat sendiri, ga mau nyusahin papa." terang Jane " kok gak pede, kamu cantik banget loh, apa lagi anak CEO, buat apa sih bisnis kecil gitu, sedangkan papa kamu banyak uang, gak akan habis tuu uang papamu apa lagi papamu duda, punya anak tunggal, gak akan habis 7 keturunan." tanggapan Farah " itu semua punya papa kak, aku gak mau menikmati hasil orang tua, aku mau usaha aku dari Nol." balaas Jane, Joha langsung angkat bicara, karena sudah muak dengan kata-kata Farah yang dilontar kan keJane " kamu tuuh, gak usah kerja urus aja suami dan anak, ngomong Jane bisa, kamu sendiri, aku cukup mampu Far untuk nafkahin kamu." bentak Joha " loh sayang kok kamu salahin aku, kan kamu yang izinin, lagian aku bukan cuma cari uang ya, aku mau semua orang kenal aku, aku lebih tener, bukan maksud aku suruh Jane jadi artis biar banyak uang, tapi biar dia dikenal, kamu emang mampu menafkahi, tapi kamu gak mampu buat aku terkenal." emosi Farah tidak terima dibentak Joha, ia langsung meninggalkan meja makan Jane yang mendengarkan pertengkaran suami istri tersebut mulai tidak enak. sedangkan Joha ia berhenti makan karena sudah tidak selera lagi, ia mencoba untuk mengatur emosinya ingin rasanya ia mengejar Farah meluapkan rasa tidak puasnya diabaikan bukan hanya dirinya tapi putrinya juga, ia mungkin mampu tanpa belaian seorang istri, tapi putri nya ia tidak bisa membiarkan putrinya tanpa kasih sayang seorang ibu. Jane makan dalam diam segera menghabiskan makannya karena tidak nyaman dengan hawa panas dimeja makan, ia takut ingin membuka suara disaat emosi Joha sedang meluap-luap, setelah selesai makan Jane buru-buru berdiri ingin membawa piring kotor kebelakang, sebelum beranjak Joha mencegah Jane pergi. " Jane." sergah Joha, membuat Jane tidak sempat melangkah " duduk abg mau ngomong sama kamu." pinta Joha, Jane dengan keadaan bingung pun mengikuti arahan Joha. " ngomong apa bg?." tanya Jane " abg minta tolong kamu buat jagain Hana untuk sementara waktu, sampai masalah keluarga abg selesai ya?" terang Joha meminta tolong Jane " iya bg, gak apa-apa Jane untuk biasa jaga Hana kok." dengan senang hati Jane menerima permintaan Joha. " Terimakasih, maaf membuat kamu gak enak karena berantem didepan kamu." ucap Joha " Sama-sama bg, iya Jane ngerti kok." jawab Jane, Joha tersenyum hangat melihat Jane. "kamu bisa istirahat setelah ini, biar bibi yang beresin, abg mau ketaman dulu, mau tenangin pikiran" jelas Joha " iya bg, jangan lama-lama segera selesaiinnya gak baik berantem lama-lama." pinta Jane, hanya dibalas senyum hangat dari Joha. Joha segera beranjak menuju taman, sedangkan Jane membersihkan meja makan dan membawa piring kotor kebelakang, setelah selesai Jane bersiap ingin menuju kekamarnya, dari arahnya tepat dibawah taman belakang yang dipenuhi tanaman-tanaman dan kolam renang, dia sana ada Joha yang sedang duduk ditepi kolam sedang merenungkan nasib rumah tangganya, keberadaan Joha tertanggap dalam penglihatan Jane, dari kejauhan Jane bisa merasakan betapa gundahnya hati Joha, ingin sekali ia menghibur tapi apa siapalah dia, tidak ingin terus-terusan melihat kesedihan Joha, Jane langsung teringat Hana, ia keluar dari kamarnya menuju kekamar Farah. " Kak." Tok tok tok panggil Jane " Ada apa?." tanya Farah dengan raut kesal " Aku mau ambil Hana kak, biar Hana tidur sama aku aja kak, kaka selesaiin aja masalah kaka sama abg baik-baik." jelas Jane tanpa banyak bicara Farah langsung balik badan ia menggendong Hana yang sedang baring dikasur, langsung menyerahkan ke Jane, Farah langsung menutup pintu kamarnya, Jane langsung menggendong Hana menuju kamarnya, Sedangkan kebutuhan Hana memang sudah ada sebagian didalam kamar Jane, seperti s**u, baju, pampers dll. Setelah merasa tenang Joha segera masuk kedalam rumah, ia langsung menuju tangga, setelah melewati tangga Joha berpas-pasan dengan Jane yang sedang menggendong Hana. "eeh bg, Hana tidur sama aku aja malam ini." jelas Jane " Iya, makasih ya Jane" ucap Joha tersenyum ke arah Jane hanya dibalas senyuman dan anggukkan dari Jane. " sini sama papa dulu sayang" Joha mengambil alih menggendong putrinya, " Jangan nakal ya sayang sama tante Jane." Joha mencium Hana dan menyerahkan kembali Hana kegendongan Jane, "Jane kekamar dulu ya bg, kasihan Hana pasti ngantuk." ucap Jane " iya Jane masuklah." balas Joha, tanpa menunggu Jane langsung beranjak menuju kamarnya, dan membaringkan Jane ketempat tidur, mengantikan pakaian dan membersihkan Hana, segangkan Joha masih berdiri memandang pintu kamar Jane, ingin rasanya ia tidur dikamar itu bersama Hana dan juga Jane, tapi apalah daya ia masih memiliki istri yang sangat egois, Joha menghela nafasnya menuju kamarnya, ia langsung membuka knop pintu melihat ruangan tersebut gelap gulita, ia pun masuk dan menyalakan lampu, mendapati Farah sudah berbaring dalam selimut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN