Betapa bahagianya Rara malam ini, karena meja makan diisi penuh oleh kekuarganya. Di depan Rara ada Sinta dan Tino, di sampingnya ada Razel.
Walaupun tadi Rara sempat memaksa Razel dulu agar mau, karena cowok itu awalnya tidak mau jika harus berkumpul segala.
Rara sudah membaik, demamnya pun sudah turun, berkat Sinta yang merawatnya seharian. Rara senang, karena Sinta tak meninggalkannya dari tempat tidur sejak pagi.
"Oh, ya, Ra. Kamu masih rutin check up ke dokter, kan?"
Rara mendadak tediam, tak tahu harus menjawab apa. Razel menoleh menatapnya.
"Eum--udah nggak, Ma," jawab Rara memilih jujur saja, karena jika ia berbohong bisa gawat jika Sinta mengecek langsung ke dokter.
"Loh, kenapa, Sayang?"
"Ra, waktu itu pernah gue tanya, kata lo masih rutin check up. Lo boong, ya," ujar Razel.
Rara menggigit bibir bawahnya. Ia bukan tak mau, tetapi memilih pasrah saja.
"Tapi obatnya tetap kamu minum, kan, Sayang?"
Lagi, Rara pun hanya bisa terdiam. Diamnya Rara bisa ditebak oleh Razel. "Lo juga gak minum obatnya, Ra?" tanya Razel. Ia juga salah, karena tidak mengecek sendiri apakah obat Rara diminum dengan baik.
"Eum ... maaf, Ma, Zel. Rara hanya ingin hidup normal tanpa ketergantungan obat, tapi aku baik-baik aja, kok."
"Jangan bilang baik-baik aja terus kalau sebenernya selama ini lo gak baik-baik aja, Ra," ujar Razel melempar sendok ke piringnya.
"Lo bilang tetap rutin check up dan minum obat, tapi nyatanya? Lo bohong, kan," ujar Razel bangkit, lalu beranjak dari ruang makan.
"Razel, kamu mau ke mana?" panggil Tino.
"Bukan urusan Anda," ujar Razel pergi meninggalkan rumah. Sedangkan Rara menjadi murung, karena ia merasa sudah membuat Razel marah, padahal selama ini Razel memedulikannya, akan tetapi malah Rara yang tak memedulikan diri sendiri.
Jadi, wajar saja jika Razel marah, bukan? Apalagi cowok itu yang paling khawatir dengan kondisinya.
Rara mengidap penyakit jantung. Ya, penyakit mengerikan itu ada pada Rara, tetapi gadis itu tak menampakkannya. Sejak lahir jantungnya berdetak lemah. Mungkin tak separah penyakit jantung lainnya. Namun, tetap saja Rara kesulitan beraktivitas dibuatnya.
Selama ini ia tak bisa berlari-larian. Melompat, berenang, dan melakukan aktivitas berat.
Rara dibantu oleh obat-obat yang menjadi penunjang hidupnya. Walaupun tak pernah divonis penyakitnya ini bisa menyebabkan kematian, akan tetapi tetap saja Rara peecaya jika umur tidak ada yang tahu.
"Besok check up, ya, Mama anterin," ucap Sinta.
"Iya, Ma."
Sejujurnya Sinta ingin marah, tetapi ia juga tak tega memarahi Rara apalagi hati gadis itu sangat lembut tak bisa dikasarkan.
"Kira-kira Razel ke mana ya, Ma?" tanya Rara.
"Gak usah dipikirkan Raquel. Palingan anak itu keliling-keliling aja dengan motor cari udara segar," jawab Tino.
"Eum, oke, Pa."
"Ayo, abisini makanannya, Ra."
"Iya, Ma, tapi Rara udah kenyang," ucapnya memilih menyudahi saja waktu makannya. Rara pun beranjak pergi kembali ke kamarnya lagi.
Ia merasa bersalah, karena sudah berbohonh dengan Razel. Ia juga takut tadi Razel tampak marah padanya. Ah, Rara benar-benar membuat masalah.
***
Zahra benar-benar takjup dan terpesona menatap adik tirinya itu yang sudah siap dengan setelan jas yang ia berikan.
Ia tak bisa berbohong jika Adimas sangatlah tampan.
"Lo kenapa malah mirip artis korea," ujar Zahra tak percaya.
"Halah, lebay. Biasa aja," ujar Adimas.
Kadang Adimas heran dengan dirinya sendiri. Menjadi tampan salah, menjadi cantik pun salah. Jadi, ia harus bagaimana?
"Ya udah berangkat sekarang aja, yuk!" ajak Zahra.
"Iya, Kak."
Zahra tanpa segan menggandeng tangan Adimas.
"Gandengannya ga bisa entaran aja, Kak?" tanya Adimas.
"Eh, iya, lupa. Maaf, karena terlalu semangat, hehe."
Adimas lalu pamit dulu dengan papinya sebelum pulang. Adiba juga sudah tertidur, mungkin karena kelelahan bermain.
"Kita berangkat pakai mobil aja, ya. Lo bisa bawa mobil, kan?" tanya Zahra.
"Ya, bisa."
"Oke, nih, kuncinya."
Mereka berdua pun masuk ke mobil dan Adimas mulai menjalankan mobil tersebut ke alamat yang sudah dikatakan oleh Zahra. Tak terlalu jauh dari sini ternyata.
Dari tadi Zahra terus melirik ke arah Adimas yang membuat gadis itu risih.
"Kenapa, Kak?"
"Eh, gak ada. Kadang Kakak mikir gini, kalau lo bukan adik tiri gue. Pasti udah Kakak gebet, deh, seriusan."
Tampaknya Zahra terlalu pede, belum tentu juga Adimas mau, kan?
"Banyak yang lebih tampan, Kak," ujar Adimas.
"Iya, tapi tampannya lo itu beda gitu. Pokoknya ada yang membuatnya tertarik. Btw ... lo belum ada jakun, ya?" tanya Zahra tiba-tiba yang membuat Adimas menegang.
Ya, ia mana memiliki jakun. "Kak, ini jalannya belok kiri atau kanan?" tanya Adimas mencoba mengalihkan.
"Kiri, Dim. Abis itu baru belok kanan, ya.".
"Oke."
Syukurlah, Zahra tak banyak tanya dan bisa segeda dialihkan. Adimas jadi memikirkan bagaimana jika ia memiliki jakun beneran, ya? Ah, itu tidak mungkin.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan tanpa berbicara lagi. Bak kehilangan topik pembicaraan, akan tetapi musik yang terdengar pun menghiasi suasana akward.
"Nah, bentar lagi sampai, tuh, Dim."
"Oh, oke. kita cari tempat parkir dulu, Kak."
"Eh, iya, di sana, tuh, masih sepi."
"Oke."
Setelah selesai memarkirkan mobil, keduanya pun keluar dari mobil mereka.
Zahra langsung bersiap menggandeng tangan Adimas. Mereka berjalan masuk ke rumah sang tuan rumah.
"Ingat apa yang gue bilang tadi, oke?"
"Iya."
Banyak sudah pasang mata yang memperhatikan mereka. Sangat langka bukan Zahra bergandengan dengan cowok tampan.
"Eh, kenapa banyak cogan gini, sih, gue jadi kenyang sebelum makan," ujar salah satu tamu undangan yang datang sendirian tanpa pasangan. Daritadi ia hanya melihat kuuwuaan orang-orang.
"Iya, di sana juga banyak, tuh, tapi lebih kaget lagi seorang Zahra bawa pasangan, mana ganteng banget lagi!"
Zahra pun menghampiri mereka yang berbicara itu, ternyata mereka adalah temannya Zahra.
"Hai, Guys," sapa Rara.
"Halo. Tumben bawa pasangan."
"Wah, lo jadian gak ngasih tau, ya. PJ mana PJ."
"Yey, akhirnya Zahra laku juga."
Zahra hanya bisa terkekeh. Seperti dugaannya pasti pada heboh, karena ia bukan tipikal yang mudah dan suka jadian sama cowok sembarangan.
"Kenalin ya, Guys, pacar gue. Namanya Dimas."
"Hai, Dimas. Kok bisa mau sih sama Zahra?" ujar Serli.
"Dimas, kamu ganteng banget. Sama gue aja napah?" ujar Tya pula.
"Dimas ... Dimas, andai kita kenal lebih dulu, pasti kau lebih memilih diriku, huhu." Seperti biasa kang drama pun ikut bicara. Ia adalah Nemi.
"Gimana, Guys? Gue gak jomlo lagi, kan?"
"Mantep, Ra."
"Langgeng, ya."
"PJ ... PJ. Gak mau tau!"
Zahra terkekeh. Sedangkan Adimas menoleh melihat sekirar yang tampak ramai. Namun, mata Adimas tiba-tiba melihat seseorang yang ia kenal.
Siapakah? Apakah Adimas tak salah lihat? Siapa orang yang dilihat Adimas itu?