“Diaz kok lama banget ya guys,” ucap Alana gelisah, dia mengaduk-aduk jus melon di hadapannya tanpa semangat.
“Cie cie, ada yang kangen nih sama abang Rival,” goda Keyla tersenyum manis.
“Iyalah kangen. Abang Rivalnya udah setengah jam nggak muncul juga,” timpal Vita cengengesan.
Alana mendengus kesal mendengar godaan kedua sahabatnya, padahal hatinya tak karuan karena memikirkan Diaz. Mana mungkin Diaz sampai setengah jam di toilet, dia yang perempuan saja tak selama itu.
“Alana, coba telpon Diaz deh,” perintah Keyla karena mulai khawatir dengan keadaan Diaz.
“Iya juga ya. aku telpon dulu deh,” jawab Alana lalu mengambil ponsel dari saku celana jeansnya. Dia segera menelpon Diaz. “Belum diangkat,” lanjutnya memandang sahabat tercintanya.
“Usahakan sampai di angkat ya,” pinta Vita mantap.
“Halo Diaz, akhirnya kamu angkat juga. Kenapa di toilet lama banget sih? Kita udah lumutan nungguin di Kafe,” cercah Alana saat Diaz mengangkat panggilannya.
“Maafin aku ya. Tadi Mama nelpon minta bantuan sampai lupa ngabarin kalian,” sahut Diaz berbohong. Walaupun Alana tak bersama Diaz, namun Alana merasa khawatir dengan kondisi Diaz karena nada suaranya berubah.
“Diaz, kamu nggak papa kan? Kenapa suaranya beda ya?” tanya Alana khawatir.
“Nggak papa kok. Tadi habis angkat beban berat aja, makanya suara beda deh,” sahut Diaz di seberang sana.
Alana menganggukan kepala mendengar penjelasan Diaz. “Ya udah, karena kamu udah pulang kita makan aja ya.”
“Iya silahkan, lain kali aku traktir kalian bertiga lagi ya,” janji Diaz.
“Iya. Bye,” sahut Alana, lalu mematikan panggilannya.
“Tumben ya Diaz ninggalin kita tanpa kabar. Biasanya kan nggak, apalagi sampai ninggalin Alana yang menunggu,” ucap Vita kecewa dengan sikap Diaz yang mendadak mengingkari janjinya.
“Cepetan makan, terus kit pulang,” pinta Alana kesal karena menjadi bahan ledekan sang sahabat.
“Iya bawel,” sahut Keyla mengerucutkan bibir.
Alana menyantap spageti dihadapannya tanpa semangat, dia memikirkan sikap Diaz yang aneh. Tak biasanya Diaz bersikap acuh tak acuh dan tega meninggalkan tanpa kabar, Alana bahkan membayangkan wajah Diaz saat di rumah sakit. Wajah rupawan yang lemah dan membutuhkan bantuan Alana. “Kenapa aku jadi mikirin dia sih. Aneh, harusnya mikirin Kak Brian.” Batin Alana.
“Key, kayaknya Alana beneran suka sama 2 cowok deh. Tuh liat aja mukanya, bete gitu,” bisik Vita pada Keyla.
“Iya sih, kita emang seneng Alana udah bisa buka hati. Tapi kalau cintanya sama 2 cowok sekaligus, bingung juga ya kita,” Keyla balas berbisik pada Vita.
Sementara itu, nafsu makan Alana semakin bertambah karena bayangan wajah Diaz terus memenuhi pikirannya. Dia meletakkan sendok dan garpu diatas piring. “Aku duluan ya, kalian nggak papa kan ditinggal?”
“Loh, kok kamu ikutan ninggalin kita sih,” keluh Keyla tak berselera makan.
“Aku ada urusan sama Mama. Besok aku traktir deh,” bujuk Alana. Saat ini dia ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
“Oke, oke. Eumm... kita nggak mau di traktir. Udah biasa traktiran,” jawab Vita cengengesan.
Alana menghela napas. “Oke, terserah kalian mau minta apapun. Tapi per orang Cuma satu permintaan,” ucapnya lalu beranjak.
“Oke Alana,” sahut Keyla dan Vita kompak.
Alana tak menoleh mendengar ucapan sahabatnya, dia masih penasaran dengan Diaz. Sepertinya ada Diaz sembunyikan darinya, dia pun membatalkan niatnya pulang ke rumah. Alana ingin ke rumah Diaz dan memastikan Diaz baik-baik saja. “Sebelum ke rumah dia, beli buah dulu deh,” lirih Alana keluar dari restoran.
***
Diaz merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur empuk dengan sensasi kesejukan dari AC kamarnya. Diaz memandangi foto Alana yang tersimpan di ponselnya, dia merasa bersalah membiarkan gadis itu menunggunya lama dan akhirnya sedih.
“Maafin aku ya Alana, aku nggak ada pilihan lain selain pergi. Kalau aku stay disana, kamu dan sahabatmu bisa tahu keadaanku,” ucap Diaz menatap foto Alana tajam.
“Permisi,” ucap Bu Maria membuka pintu kamar Diaz.
Diaz terlonjak kaget melihat kedatangan sang mama. Secepat kilat, Diaz menyembunyikan foto Alana di bawah bantal dan menghampiri sang mama. Sementara Bu Maria heran dengan sikap Diaz yang mendadak was-was, padahal selama ini tak pernah melihat wajah was-was putra tunggalnya.
“Kamu kenapa Nak?” tanya Bu Maria heran.
“Memangnya aku kenapa Ma? Mama tuh yang aneh nanyain aku kenapa,” balas Diaz menyalahkan sang mama.
“Mama sudah mengenal kamu sejak kamu di kandungan Nak. Maka, Mama tahu saat anak Mama bahagia, saat sedih maupun banyak masalah,” ungkap Bu Maria bijak.
Diaz terkekeh. “Mama udah kaya detektif aja deh.”
“Mama memang detektif kamu Nak. Untuk itulah Mama tanggap dengan semua hal tentang anak Mama. Mama nggak mau kebanggan Mama tersakiti,”
Diaz seakan kehilangan semangat hidup mendengar ucapan sang mama. Bagaimana jika sang mama mengetahui penyakit yang diderita? Bagaimana jika Bu Maria melihat putra tunggalnya mati karena penyakit mematikan? Oh Tuhan... Berikan sedikit harapan untuk Diaz mempengaruhi kehidupan dengan kesempatan kedua.
“Kalau kamu ada masalah, please cerita ke Mama ya Nak,” pinta Bu Maria mengulum senyum.
Diaz mengulum senyum. “Pasti Ma. Mama adalah tempat curhat pertamaku,” Diaz sengaja tak melanjutkan ucapannya karena sang mama bisa mengetahuinya. “Kecuali masalah penyakitku Ma. Mama dan siapapun nggak boleh tahu alasannya.
Tid...tid....
Daiz dan Bu Maria terkejut mendengar suara klakson mobil. Tentunya Bu Maria dan Diaz berjalan ke arah jendela lantai atas. Tampak Alvar tengah berbincang dengan Alana di teras rumah. Namun, mengapa Alana bisa ke rumah Diaz tanpa memberikan kabar.
“Loh, Nak. Itu Alana kan,” tanya Bu Maria penasaran.
“Iya Ma. Tapi mengapain Alana kesini ya, dia nggak kabari aku Ma,” sahut Diaz enteng.
Bu Maria memandang Diaz, lalu berkata. “Ayo temui dia Nak, Mama yakin dia khawatir bisa bayar hutang.”
“Malas ah Ma,” tolak Diaz cepat, dia tak percaya Alana mendadak ke rumahnya.
“Sudahlah Nak. Mama mohon jangan buat Alana kecewa. Asal kamu tahu ya, Alana udah bawa parcel dan Mama yakin dia mencari kamu,” ungkap Bu Maria kesal.
***
“Alana,” panggil Diaz saat dia keluar dari pintu utama rumahnya.
“Cie... cie, seneng nih ditengokin gemeteran. Padahal kan sering ketemu,” goada Alvar seraya menyenggol lengan Diaz.
“Ngaco kamu. Udahlah kita masuk yuk, nggak usah bikin masalah,” sahut Affar cepat, membuat Alana terlonjak kaget dan mengikuti langkah Diaz.
Alana mengulum senyum, dia sudah lega karena melihat keadaan Diaz secara langsung. Lain halnya dengan Alvar yang terus membujuk Diaz.
Alana duduk di kursi dan mengulum senyum. “Gimana? Ada yang nengokin?” tanyanya pasrah.
“Nggak ada. Biasa kok ngelamunin Diaz maupun Kak Brian,” cerocos Alana menatap Alana
“Ya sudah kamu ngobrol sama Alana dulu ya. Mama ada urusan penting,” pamit Bu Maria yang disambut jabat tangan Diaz dan Alana.
“Hati-hati Ma,” pinta Diaz mengulum senyum dan berlalu pergi.
“Aku juga ke toilet dulu,” Diaz berpura-pura dan melenggang pergi.
Alana hanya memikirkan asumsinya, dari sikap dan gerak gerik Diaz seperti menyimpan rahasia membuat Alana penasaran. “Setelah dia kembali, aku harus interogasi dia.” Batin Alana.
***