“Diaz, kenapa kamu tega ninggalin kami di Kafe. Kami sudah menunggumu hampir lumutan, tau-taunya kamu pulang,” kesal Alana saat Diaz kembali dari toilet.
“Kan aku udah bilang minta maaf. Kalau nggak ada halangan, aku nggak mungkin ninggalin kalian,” sahut Diaz lembut.
Alana menghela napas panjang. Sepertinya berdebat panjang dengan Diaz tak membuahkan hasil karena laki-laki itu terlalu keras kepala, Alana bahkan bingung harus menanyakan apa lagi karena Diaz malah terdiam membisu. Padahal tanpa Alana ketahui, Diaz tengah menahan sakit yang beberapa detik lalu kembali menyergapnya.
“Kamu udah makan?” tanya Alana seadanya.
“Udah,” sahut Diaz singkat.
Alana menggigit bibir bawahnya kejam. Menurut pandangan Alana, Diaz seperti bunglon. Terkadang baik layaknya laki-laki idaman wanita, tetapi mendadak berubah seperti es batu yang sulit ditaklukan.
“Ya Tuhan, obrolan kalian garing banget deh. Masa iya tahun 2022 obrolan kamu milenalnya kaya tahun 1990an,” sambar Alvar menghampiri Diaz dan Alana membawa nampan. Alvar meletakkan 1 botol dingin Fanta dan satu gelas air putih.
“Eh, kok minumanku beda?” tanya Diaz tak terima karena sepupunya tak menyamakan minuman.
“Emangnya mau minum Fanta dan yang dingin-dingin? Biar sekalian obat dan Fanta dalam perutmu berkelahi dan masuk rumah sakit lagi,” kesal Alvar karena Diaz protes minuman yang dia sajikan.
“Tapi aku nggak suka air putih anget. Hambar,” ungkap Diaz kesal.
Alvar menghembuskan napas kasar. “Eh, aku nggak mau kena imbas kemarahan Tante Maria. Inget dong, obat masih banyak tuh. Di minum buat di pajang,” ucapnya kesal karena Diaz jarang minum obat dari rumah sakit.
“Jadi Diaz nggak rutin minum obatnya?! Pantesan nggak sembuh-sembuh. Suka sering pucat kaya gitu,” Alana shock karena Diaz tak rutin minum obat. padahal dokter meresepkan aar semua obatnya dihabiskan.
Diaz memandang Alana, merasa bersalah karena melihat Alana menampakkan wajah kecewa. “Maaf ya. Aku janji bakal tepat waktu minum obatnya,” janjinya seraya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.
“Oke, bagus.”
Diaz merasa pikirannya tak karuan karena sebanyak apapun obat yang diminum tak bisa mengubah nasib. Tak bisa menghilangkan penyakit mematikan yang sudah menggerogoti tubuhnya, Diaz hanya menunggu waktu. Waktu saat penyakitnya membuatnya tak berdaya dan meninggal. Walaupun begitu, Diaz berharap bertemu dengan cinta di masa lalunya sebelum dia pergi selamanya. Diaz harus memulai mencari gadis pujaannya sekarang juga.
“Eh, dari pada kalian diem-dieman dan nggak jelas gitu mending keluar deh.” Ucap Alvar mencairkan suasana hening diantara Diaz dan Alana. “Diaz, ajak Alana ke kebun rahasiamu gih. Dia pasti suka banget tuh,” tawar Alvar membuat Diaz menatapnya menukik.
“Keterlaluan Alvar. Seenaknya saja dia minta Alana diajak kesana, udah tahu itu kebun rahasiaku menyimpan kenangan cintaku. Gimana kalau sampai Alana menemukan kotak yang di kubur itu, bisa-bisa aku diminta move on,” ucap Diaz dalam hati.
Alana tampaknya penasaran dengan ucapan Alvar, dia ingin tahu seperti apa kebun rahasia Diaz. Boleh juga tuh. Kayanya menarik,” ucapnya membuat Diaz dan Alvar terkejut.
“Kamu mau ke kebun rahasiaku? Eum... mendingan nggak usah deh. Kotor dan banyak penyakit karena jarang di bersihin,” tolak Diaz halus.
Alana mengulum senyum dan bangkit dari tempat duduknya. “Nggak masalah. Sebuah kebun maupun taman hanya ada satu sampah. Yaitu, sampah dedaunan pepohonan di kebun itu,” sahutnya mantap.
Diaz kehabisan alasan untuk membujuk Alana tak melihat kebun rahasia itu. Dia melirik Alvar dan ingin menonjok wajah sepupu yang tak merasa bersalah, malah Alvar menggoda Diaz dengan lirikan mata elangnya.
“Ayo anterin aku kesana. Pengen liat yang alami-alami,” rengek Alana.
“Baiklah. Ayo,” sahut Diaz akhirnya.
“Nah gitu dong. Have fun ya, jangan berdebat di kebun itu,” pekik Alvar menatap kepergian Alana dan Diaz ke kebun rahasia.
***
“Waooo... Sumpah. Kebunnya indah banget, semua pohon ada disini. Ada pohon buah-buahan, tanaman obat dan lainnya,” ungkap Alana memandang takjub kebun rahasia Diaz.
“Kamu salah. Justru kebunnya kotor dan nggak sehat,” sahut Diaz mengelaknya.
“Iya sih, tapi kotornya dedaunan yang jatuh. Aku mau kok rubah hutan ini biar sedap di pandang mata,” tawar Alana berbinar-binar.
Diaz menggeleng, dia meraih lengan Alana. Diaz hendak membawa Alana ke dalam rumah. “Mendingan kita ngobrolnya di dalam aja.
“Nggak mau! Saya mau bersihin hutan dulu,” tolak Alana cepat. Dia menepis tangan Diaz dan mencari sapu disekitaran hutan.
“Ini semua gara-gara Alvar! Kacau semua!” ucap Diaz murka pada Alvar.
Diaz berjalan menahan sakit di kepalanya, mengikuti Alana dari belakang. Kehadiran Diaz yang malah mengikuti membuat Alana kesal dan menatap Diaz dalam.
“Plise deh. berhenti ikuti aku. Aku nggak mau ya kegiatanku membersihkan kebun terhambat.”
“Aku nggak mau kamu kecapean,” Diaz masih berusaha membujuk Alana, sayangnya Alana tak menjawab.
Alana berjalan menyusuri kebun Diaz yang luas. Matanya menjamah ke seluruh penjuru hutan, dari balik pohon mangga dia menemukan satu sapu lidi dan satu serokan. Alana pun mengulum senyum dan berlari memanggilnyaa.
“Kok bisa da sapu sama serok disana? Siapa yang naruh?” tanya Diaz mengernyitkan kening.
Alana menghampiri Diaz dan berkata lantang. “Nih, sapunya ketemu kan. Kamu yang ngaco,” ucapnya kesal.
Diaz tak bisa menyangkal sanggahan Alana, Diaz mencoba berpikir. Namun, dia melihat Alvar mengintai dari balik pohon. Sepertinya, Alvar yang sengaja meletakkan sapu dan serokan di dekat pohon.
“Kamu nggak usah bantuin aku. Cukup duduk di kursi andalan itu ya.” Alana menatap Diaz seraya mengulum senyum, kemudian menunjuk kursi panjang dengan cat putih di area hutan.
“Ntar kamu capek.”
Alana menggeleng kuat. “Nggak!” Tanpa pikir panjang, Alana berjalan cepat dan mulai aktifitas menyapunya.
“Gadis itu nggak bisa di atur. Alvar, kamu harus terima balasannya,” ucap Diaz duduk di kursi panjang.
Tak lama berlalu, Alvar menghampiri Diaz. Alvar melemparkan senyuma bangganya karema berhasil menggoda Diaz, bahkan di luar dugaan. Alana bersedia membantu membersihkan hutan rahasia Diaz.
“Wanita idaman banget ya Bro,” ucap Alvar seraya duduk di samping Diaz.
“Kenapa kamu kasih tahu sih!? Kalau Alana temukan kuburan itu gimana? Aku belum siap buka lembaran baru,” tukas Diaz.
“Kamu bilang kalau ada wanita menemukannya kamu siap buka lembaran baru. Ingat Diaz, kamu butuh sosok wanita. Wanita itu bisa menghiburmu, menjagamu dan membuatmu menjadi pria paling beruntung di dunia,” sahut Alvar bijak.
“Tapi bukan Alana wanita itu. Aku mau temuin seseorang dulu, rencanaku bisa berantakan kalau Alana memegang kendali hutan rahasia ini.”
Alvar menghela napas panjang. “Ya sudah, minta maaaf deh. Aku yakin Alana ngak semudah itu nemuin kotak itu,” ucapnya yakin.
“Taulah. Nggak bisa kerjasama kamu.” Diaz emosi pada Alvar karena rencananyanya bisa gagal jika Alana mengetahuinya. “Aku harus hentikan dia nyapu,” ucapnya lalu berjalan ceat menghampiri Alana.
“Alana, udah ya. keringetmu banyak banget tuh,” pinta Diaz setelah berdiri di depan Alana yang asik menyapu.
Diaz mengerucutkan bibir karena Alana tak menjawab ucapannya. Malahan Alana bersenandung dan asik menyapu.
“Awas ulat,” pekik Diaz, membuat Alana terperanjat dan reflek naik di gendongan Diaz.
Alana dan Diaz saling memandang. Bola mata mereka bertemu cukup lama dan saling menikmati suasana yang membuatnya nyaman, bahkan debaran jantung Alana berdegup kencang dan tak bisa dikendalikan. Sama halnya Diaz yang terpaku dan merasakan tubuhnya lebih sehat tanpa kepala yang berdenyut-denyut.
“Ehemm.... ehem...” Alvar malah berdehem keras dan membuat Alana dan Diaz terperanjat. Alana segera turun dari gendongan Diaz.
“Maaf, aku ke toilet dulu,” pamit Alana menyembunyikan rasa malunya.
***