“Diaz, Alana, aku pergi dulu ya,” ucap Alvar menghampiri Alana dan Diaz yang asik membakar sambar dedaunan di kebun.
“Ya udah sono. Ngapain izin segala,” sahut Diaz enteng.
Alvar menghela nafas panjang. “Idih, yang nggak mau diganggu ngomongnya ngegas,” ledeknya kesel.
“Siapa yang ngegas?” Diaz tak terima disalahkan Alvar, dia merasa tengah fokus membakar sampah.
“Oke deh,” ucap Alvar lalu melenggang pergi.
Alana menatap Diaz penuh arti, dia ingin menanyakan sesuatu pada Diaz. Namun, diurungkan karena tak enak hati terlalu mencampuri urusan pribadi Diaz. Siapa sangka, Daiz justru balik menatap Alana. Dia seakan mengetahui ada yang ingin Alana utarakan.
“Kalau pengen tanya, tanya aja nggak usah sungkan,” ucap Diaz lembut.
“Eh, kata siapa? Aku nggak mau tanya apapun kok,” elak Alana gusar.
“Nggak usah bohong deh. Wajah kamu yang bilang tuh.”
Alana akhirnya menghela napas, kemudian menatap Diaz serius. “Aku tengah mempelajari bagian-bagian penyakit. Salah satunya daftar penyakit dengan gejala mimisan, aku khawatir kamu kurang sehat Diaz,” ucapnya hati-hati.
DEG! Ucapan Alana membuat Diaz membelalakkan mata, dia tak menyangka Alana cukup kritis dan menanyakan perihal mimisannya. Memang bukanlah hal mustahil Alana menanyakan itu karena dia anak kedokteran, namun Diaz tak mungkin jujur. Diaz tak mau dianggap laki-laki lemah dan penyakitan yang membutuhkan belas kasihan.
“Diaz, kamu tersinggung ya?” tanya Alana merasa bersalah karena sudah lancang bertanya.
Diaz menggeleng kuat. “Ngapain aku marah. Jadi gini Alana, sebenarnya dari kecil kadang aku sering mimisan. Tapi udah di periksakan ke dokter dan nggak ada indikasi penyakit serius kok,” sahutnya berbohong.
Alana mengulum senyum. “Alhamdulilah kalau nggak ada penyakit serius. Tapi aku mohon kamu tanggap ya, kalau gejalanya makin melebar lebih baik periksa ke dokter. Aku bisa antar kamu kok.”
“Thanks ya kamu udah baik banget. Padahal di awal pertemuan kita, aku udah buat kamu sakit hati. Bahkan kepopuleranmu berkurang karena sikapku.” Diaz merasa bersalah karena sudah menghancurkan kepopuleran Alana di kampus, namun Alana menggeleng kuat.
“Lupain aja ya. Aku udah ikhlasin kok,” sahut Alana mantap.
Diaz mengangguk-anggukan kepala. “Oya Alana, kita masuk aja yuk. Ntar kamu kena ulat di kebun terus,” ajaknya seraya berdiri.
Alana menjawab ajakan Diaz, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Bahkan, Alana penasaran dengan tanaman lily yang tertanam rapi di antara rerumputan. Senyuman Alana mengembang dan berjalan ke arah tanaman lily.
“Alana,” panggil Diaz was-was, namun Alana tak merespon.
Diaz membelalakan mata karena Alana berhenti diantara tanaman lily. Jangan sampai Alana membongkar tanaman lily karena dibalik tanaman itu tertanam surat Diaz mengenai masa lalunya. Jika Alana adalah gadis yang berhasil menemukan surat itu, maka Diaz harus move on dan membuka hati untuk Alana. Memang, pertemuannya dengan Alana membuat letupan aneh di hatinya. Namun, Diaz belum sepenuhnya melupakan cinta masa lalunya. Gadis yang pernah Diaz sakiti dan entah dimana keberadaannya.
“Alana,” panggil Diaz shock lalu menghampiri Alana.
Alana memandang Diaz, kemudian jongkok di hadapan tanaman Lily. Hal tersebut membuat Diaz semakin gusar sampai bingung harus mengatakan apa, bahkan Diaz sampai gemetar saat Alana menyentuh bunga Lily.
“Diaz, kok kamu nggak bilang sih di kebun kamu ada bunga Lily. Banyak banget lagi,” ucap Alana berbinar-binar.
“Ya memangnya kenapa?” tanya Diaz heran.
“Aku sama Mamaku pecinta bunga Lily. Bahkan, kami rela membeli bunga Lily sampai ke luar kota loh,” cerita Alana antusias.
“Serius kamu?” tanya Diaz.
“Iya. Makanya, aku kalau lukis kebanyakan lukis bunga Lily dan desain lainnya dengan fokus tema bunga Lily. Eum... kalau boleh, aku mau kok pelihara bunga Lily ini biar lebih terawat lagi,” ungkap Alana lembut.
“Eh, jangan Alana. Ini, ini juga bunga kesayangan Mama. Masa iya aku mau kasih ke kamu, ntar Mama bisa sedih. Tapi aku bisa kok beliin kamu bunga Lily,” ucap Diaz, lagi-lagi berbohong.
“Jadi Bu Maria pecinta bunga Lily? Wah kebetulan banget ya,” ucap Alana bahagia.
Diam-diam, Diaz menarik napas dalam. Lagi-lagi dia salah memilih alasan, bagaimana jika Alana menanyakan hal itu pada sang mama. Bisa menjadi bumerang untuk Diaz karena sang mama tak menyukai bunga lily. Malahan sang mama tak mau melihat bunga itu karena menyimpan kesedihan mendalam. “Gawat, nggak mungkin aku langsung larang Alana tanya-tanya bunga Lily ke Mama. Gimana ini.” Batin Diaz.
“Kamu rawat bunga lilynya ya?” tanya Alana.
“Enggak sih. Cuma di siram aja sama Alvar atau Bi Inem,” sahut Diaz seadanya.
“Wah berarti tanah di sini subur dan bagus buat pertumbuhan tanaman ya. Walaupun nggak terlalu dirawat tapi tanamannya tetap bagus dan subur,” jelas Alana seraya memegang bunga lily.
Diaz tersenyum manis. “Iya.”
“Ya udah, kita makan yuk. Masa ada tamu nggak di kasih hidangan sih,” ajak Diaz cepat.
Alana mengangguk. “Oke deh karena kamu maksa,” jawabnya seraya terkekeh.
Diaz dan Alana berjalan beriringan, sesekali mereka saling melempar pandang dan senyuman. Bahkan Alana semakin nyaman berada di dekat Diaz, walaupun di awal selalu memikirkan Brian tetapi lama kelamaan tak terbayang wajah Brian saat bersama Diaz.
“Tuhan, izinkan aku bahagia sebelum Engkau ambil nyawaku.” Batin Diaz sedih.
***
Alana izin ke teras karena mendapat telepon dari Brian. Alana sengaja menjauh dari Diaz karena ingin melepas kerinduan dari Brian, dia malu jika mengobrol dengan Brian di hadapan Diaz.
“Halo Kak, apa kabar? Gimana harinya, have fun kan,” sapa Alana mengawali percakapan di telepon.
“Sebenarnya hari aku have fun Alana, tapi serasa ada yang kurang tanpa kamu,” sahut Brian dengan suara khasnya yang membuat kaum hawa terpesona.
Alana tersipu malu seraya memainkan ujung rambutnya. “Kak Brian bisa aja deh. Masa iya gara-gara aku harinya kurang have fun. Ngaco itu namanya.”
“Beneran aku nggak ngaco. Makanya aku nelpon kamu, oya besok ada acara nggak?” tanya Brian yang membuat mata Alana berbinar-binar.
“Besok aku free Kak, dari pagi sampai malam,” ungkap Alana mantap.
“Oke fiks. Besok malam kita dinner ya, aku mau ajak kamu ke Resto paling indah. Mau kan?” tawar Brian penuh keberanian.
“Hah? Dinner Kak?” tanya Alana tak percaya.
“Iya, Kamu keberatan?” Brian balik bertanya dengan nada was-was.
Alana tersenyum manis, dia tak menyangka Brian secepat itu mengajaknya dinner. Padahal belum saling mengenal. “Aku sama sekali nggak keberatan kok Kak.”
“Oke, sudah dulu ya Alana. Aku ada urusan sebentar, sampai ketemu nanti ya,” pamit Brian mengakhiri obrolan.
Alana tertawa riang karena mendapat kebahagiaan yang indah. Dia akan menyiapkan semuanya untuk makan malam bersama Brian, jangan sampai Brian kecewa karena dandanan Alana terlalu menor atau pucat.
“Mendingan pulang sekarang, aku harus persiapkan secara maksimal,” ucap Alana pada dirinya sendiri.
“Alana,” sapa Diaz keluar. Dia heran melihat sikap Alana yang tersenyum sendiri.
“Diaz, kebetulan kamu keluar. Aku pulang dulu ya, ada hal yang harus diselesaikan. Permisi dulu ya.” Alana mengulum senyum, setelah itu segera pergi tanpa mengizinkan Diaz yang hendak mengutarakan kalimat.
“Tumben tuh anak kegirangan banget. Habis telponan sama siapa sih?” tanya Diaz pada dirinya sendiri.
***