“Guys, Kak Brian kok nggak dateng-dateng sih,” ucap Alana kesal, dia mondar mandir di ruang tamu menunggu kedatangan Brian.
Sementara Vita dan Keyla saling memandang karena Alana lebih agresif dibanding hari biasanya. Baru jam setengah tujuh malam tetapi Alana sudah rapi menggunakan dres, padahal dinner jam delapan malam. Bahkan, Alana meminta Keyla dan Vita datang ke rumahnya jam 4 sore untuk memilihkan dres terbaiknya.
Nahas, Alana tak memiliki dres karena sepanjang usia remajanya tak memikirkan membeli dres untuk memikat hati kaum Adam. Untunglah Keyla dan Vita tanggap sehingga mereka datang ke rumah Alana membawa koleksi dres terbaiknya.
“Sabar dong Alana sayang, ini masih lama jam 8 nya,” ucap Keyla gemes melihat sikap Alana.
“Iya sih, tapi keburu make sama dres aku rusak dong. Kalau hujan gimana? Kalau lampunya mati gimana?” khawatir Alana seraya menggigit bibir bawahnya gusar.
Keyla menghampiri Alana dan memegang bahunya. “Alana sahabatku tersayang, untuk memulai cinta nggak akan se drama itu. Yang terpenting kamu siap untuk jatuh cinta dan ikuti kata hati kamu,” nasihatnya seraya mengulum senyum.
“Bener Alana, ingat satu hal. Saat Kak Brian nembak kamu, jangan mikir lama. Langsung terima,” timpal Vita seraya menyantap potato dengan lahap.
Alana terkekeh dan menganggap pemikiran kedua sahabatnya terlalu jauh. “Nggak mungkin dong Kak Brian senekat itu nembak aku di dinner pertama.”
“Nggak ada yang namanya nggak mungkin di dunia ini Alana. Apalagi jika cinta pada pandangan pertama, apalagi banyak loh yang baru beberapa ketemu langsung nikah,” ucap Keyla merasa benar dengan asumsinya.
Alana menghembuskan napas panjang, memikirkan ucapan Keyla. Apa benar malam ini Brian akan menyatakan cinta? Lalu, sikap apa yang Alana tunjukkan agar Brian tidak kecewa? Mungkinkah Alana langsung menerima cinta Brian atau meminta waktu? Ya Tuhan... ternyata cinta memang rumit. Baru saja Alana ingin membuka lembaran baru bersama cinta, namun dia ragu jika keputusannya gagal.
“Plis deh Alana, nggak usah berpikiran yang enggak-enggak. Ntar kamu berat mulainya,” ungkap Keyla, dia mengetahui isi hati Alana dari gelagat Alana.
“Iya, buang semua pikiran jelek. Pastikan kamu menerima cinta dari Kak Brian,” timpal Vita mantap.
Alana menghembuskan napas panjang. “Tapi kalau Kak Brian ternyata nggak nembak aku gimana?”
“Ya tunggulah, semuanya butuh proses Bu Dokter cantik.” Vita merangkul Alana, dia ikut bahagia karena Alana akan merasakan indahnya cinta.
“Alana, coba deh kamu tarik napas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan. Dan pikirkan semua yang baik-baik,” pinta Keyla serius.
Alana menghembuskan napas lalu berkata. “Oke.” Lalu, Alana menarik napas dalam-dalam lalu dikeluarkan secara perlahan.
“Gimana? Udah tenang kan,” tebak Vita mengulum senyum.
“Alhamdulilah udah enakan guys,” sahut Alana mengulum senyum.
Ting..... ting....
Suara bel membuat Alana dan kedua sahabatnya terlonjak kaget, Alana langsung memegangi tangan Vita dan Keyla erat. “Sumpah aku takut guys, aku nggak tahu harus gimana,” ucapnya bimbang.
“Alana, ingat. Kamu harus tetap tenang, jangan biarkan dinner malam ini gagal karena sikap kamu ya. Kebanyakan cowok gagal menyatakan cinta akibat ulah si cewek, so tetap tenang ya,” pinta Vita, berusaha menenangkan Alana.
Alana mencoba menenangkan dirinya, dia kembali menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
“Ayo buka pintunya, kita ngintip di jendela aja,” ucap Keyla bersemangat.
“Oke,” sahut Alana. Dia berjalan ke arah pintu, lalu menoleh ke arah Vita dan Keyla. Sontak Vita dan Keyla memberikan kode agar Alana cepat membuka pintu.
Alana membuka pintu, dia melihat Brian berdiri membelakanginya. Seketika, debaran jantung Alana berdebar tak menentu. Tak berapa lama, Brian membalikkan tubuhnya. Sontak mata Alana terbelalak melihat Brian, pangeran tampan di hadapannya yang mengenakan kemeja dan jas berwarna silver layaknya CO muda.
“Hay,” sapa Brian lembut, membuat suara Alana tercekat di kerongkongan karena tak tahan melihat ketampanan Brian.
Alana masih saja mematung, mendadak ucapan Keyla dan Vita terngiang di kepalanya. Lantas, Alana berusaha menetralkan pikirannya dan melemparkan senyuman ke Brian.
“Hai juga Kak,” sahutnya lembut.
“Sory ya jadi nunggu lama, eumm...” Brian menghentikan ucapannya, dia memperhatikan penampilan Alana dari kaki sampai kepala. “Sumpah, malam ini kamu cantik banget Alana. Aku kaya liat bidadari turun dari kayangan,” pujinya.
Wajah Alana merona karena tersipu malu. “Kak Brian bisa aja. Sebenarnya aku nggak nyaman pakai kaya gini Kak. Tapi, aku nggak mau Kak Brian kecewa,” ucapnya lirih.
“Tapi kamu lebih cantik dandan feminim kaya gini. Aura kecantikanmu terpancar hebat Alana.” Brian maju satu langkah, kemudian berbisik di telinga kanan Alana. “Aku lebih suka cewek feminim kaya gini,” bisiknya.
Berada dalam jarak terdekat dengan Brian membuat Alana tak bisa mengatakan sepatah katapun. Apalagi Brian berbisik menyukai Alana dengan penampilan feminimnya, tentunya debaran jantung Alana semakin tak karuan.
“Alana, ayo,” ucap Brian seraya mengulurkan tangan kanannya.
Alana mengulum senyuman khasnya, senyuman manis yang membuat Brian tak berkedip memandang Alana. Namun, Brian berhasil menguasai dirinya dan menggenggam jemari lentik Alana. Brian mempersilahkan Alana masuk ke mobil, setelah itu dia naik ke mobil dan melajukan mobilnya.
Setelah kepergian Alana dan Brian, Vita dan Keyla keluar dan berpelukan. Mereka berbagai kebahagiaan karena Alana berhasil dinner dengan laki-laki, ini adalah momen bersejarah buat Alana.
“Vit, kamu sukses kan abadikan momen tadi?” tanya Keyla serius.
Vita mengangguk mantap. “Sukses dong. Aku abadikan dalam bentuk foto dan video sebagai kenang-kenangan,” sahutnya seraya memamerkan ponselnya yang menyimpan pertemuan indah Alana dan Brian.
“Bagus! Kita sukses.” Keyla tos dengan Vita, lalu mereka masuk ke rumah Alana.
***
“Maaf Kak, kita mau makan dimana ya?” tanya Alana seraya memperhatikan jalanan. Sudah beberapa menit mereka dalam perjalanan tanpa berhenti, padahal banyak Restoran atau Kafe yang dilewati.
Brian mengulum senyum. “Kamu sabar ya. Aku udah booking Resto istimewa khusus buat kita,” sahutnya lembut.
Alana terlonjak kaget mendengar Brian membooking Restoran. “Booking? Maksud Kak Brian, hanya kita yang ada di Restoran itu?” tanyanya tak percaya.
Brian mengangguk. “Aku pengen dinner pertama kita spesial. Untuk itulah aku persiapkan semuanya dengan maksimal. Semoga kamu suka Restorannya ya,” harapnya.
Alana tersenyum manis, sementara debaran jantungnya kembali kencang. Entah semalam dia bermimpi apa sampai diperlakukan seperti ratu oleh Brian, setelah mengalami kepahitan cinta baru kali ini Alana merasakan kebahagiaan karena cinta. Oh Tuhan.... Apakah keputusan Alana benar untuk membuka hati? Mungkinkah Brian adalah jodoh yang dikirim Tuhan untuk menyembuhkan luka hati Alana.
“Maaf Alana, apa nggak ada yang marah kita dinner?” tanya Brian harap-harap cemas.
“Nggak ada kok Kak. Kakak pasti tahulah jejak aku di kampus,” sahut Alana dengan teka teki.
Brian terkekeh. “Kamu bisa aja. Oke deh berarti apapun yang terjadi nggak ada yang cemburu ya.”
Alana terkekeh, dia menyeliptkan ujung poninya ke telinga. Tentunya membuat aura kecantikan Alana maksimal, bahkan Brian hampir kehilangan konsentrasi mengemudinya karena terpaku.
“Ya Allah, terima kasih atas kebahagiaan yang Engkau berikan malam ini. Aku siap, aku siap membuka lembaran baru,” ucap Alana dalam hati untuk menguatkan dirinya sendiri pada keputusannya.
“Akhirnya sampai juga,” ucap Brian bahagia. Mobil mewah Brian masuk ke sebuah Restoran mewah, memarkirkan mobilnya di area parkir. Setelah itu Brian menatap Alana. “Ayo tuan putri,” ajaknya lembut.
Brian segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Alana. Namun, Alana malah menjamah pandangannya ke seluruh sudut area parkir, dia heran karena hanya beberapa motor di area parkir untuk Restoran termewah di Jakarta.
“Are you oke Alana?” tanya Brian cemas.
“Yes.” Alana menyembunyikan rasa malunya, saking gugupnya diperlakukan seperti ratu membuat Alana lupa kalau Brian membooking Restoran megah itu. Pantas saja parkiran tak dipadati pengunjung seperti biasanya.
“Ayo princess,” ucap Brian lembut. Lalu menggandeng Alana masuk ke Restoran, Alana hanya terdiam mengikuti langkah kaki Brian. Namun debaran jantungnya tak kunjung normal.
***