Bab 10

1596 Kata
“Vita, Keyla... sumpah ya. Akhirnya, aku bisa ikut kelas Kak Brian lagi,” ucap Alana antusias di kelas lukis Brian. “Tadinya manggilnya Mas Brian, sekarang Kakak,” ledek Keyla seraya menyenggol bahu Alana. Alana menghembuskan napas perlahan seraya mengulum senyum. “Setelah dipikir-pikir, sapaan Mas terbilang tua. Makanya aku ganti aja, Kak Brian itu perfect sumpah. Dia bela-belain nyiapin perumahan mewah buat kelas lukis. Nggak ada dong cowok perfect kaya gitu di dunia ini,” bangganya memamerkan kesempurnaan Brian. “Kalau menurut aku sih, Brian maupun Diaz sama-sama perfect.” Vita malah antusias menyandingkan kesempurnaan Diaz setara dengan Brian. “Stop bahas cowok lain selain Brian. Kalian maunya aku membuka hati biar jatuh cinta kan?! Ya udah deh nggak usah rusak mood aku,” sangkal Alana cepat. Dia seolah tak ingin ada nama laki-laki lain yang dibahas. “Oke deh, nggak ada Diaz guru lukis pun jadi.” Keyla kembali menyenggol bahu Alana, memainkan matanya untuk menggoda Alana. Alana tak bergeming, dia hanya memainkan ponselnya karena kesal dengan sikap kedua sahabatnya. Tak lama berselang, Brian menghampiri Alana dan kawan-kawannya dengan outfit fashionable. Bahkan Brian mengenakan kaca mata hitamnya sehingga karismatiknya semakin terpancar. “Wah, kalian udah disini?” sapa Brian mengulum senyum. Tak menyangka ke 3 gadis itu datang lebih awal dari jadwal kelas. Padahal belum ada satu peserta pun yang datang. “Heee.... Alana yang buru-buru Kak, padahal aku sama Keyla ada perlu sebentar,” sambar Vita cepat dengan alasan ingin mendekatkan Alana pada Brian. “Bohong Kak. Justru mereka berdua yang nggak sabaran pengen ke sini, katanya pengen ketemu sama Kak Brian.” Alana mengelak, walaupun hatinya bahagia tetapi dia malu dipojokkan seperti itu. Brian terkekeh. “Sudah, jangan bertengkar. Oya, Alana, Keyla, Vita. Gimana kalau kalian saya ajarin cara dasar melukis?” tawarnya semangat. “Wah, boleh banget Kak. Tapi maaf nih Kak, aku sama Keyla udah kebelet. Biar Kak Brian, ajarin Alana aja ya.” Vita buru-buru memberikan alasan tanpa memperdulikan raut wajah Alana yang menahan kesal. “Kami permisi kak,” lanjutnya cengengesan lalu meraih lengan Keyla pergi. Kini, giliran Alana dan Brian yang salah tingkah di area pintu utama. Keduanya sama-sama canggung karena Vita dan Keyla malah pergi, namun Brian akhirnya membuka obrolan dengan Alana. “Alana, ayo saya ajarin ngelukis mumpung peserta belum datang,” ajak Brian ramah. “Iya Kak,” sahut Alana tersipu malu. Brian duduk di kursi yang telah disediakan. Dia mulai mengambil cat khusus lukis dan menggoreskannya pada kanvas. Bukannya memperhatikan Brian melukis, Alana malah memandang wajah Brian dengan intens. Wajah Brian membuat jantung Alana berdegup kencang, bahkan Alana mungkin sudah membuka hatinya untuk cinta setelah bertemu dengan Brian. “Gimana, Alana. Kamu udah liat kan, mudah bukan?” tanya Brian setelah selesai melukis burung merpati. “Eh... Iya Kak, mudah kok,” sahut Alana kikuk. Brian mengulum senyum. “Bagus, sekarang giliran kamu ya.” Brian bangkit dari tempat duduknya, kemudian meraih Alana agar Alana duduk dan belajar melukis. “Tapi aku belum bisa Kak.” Alana mengambil kuas dengan ragu, lalu menoleh ke arah Brian meminta pertolongan. “Sini aku bantu.” Tanpa ragu, Brian memegang pergelangan tangan Alana dan menuntun tangan Alana melukis burung merpati. Kejadian tersebut membuat jarak tubuh Alana dan jarak tubu Brian sangat dekat, bahkan Alana bisa leluasa mencium aroma tubuh Brian yang wangi. Membuat senyuman terus mengukir di bibir Alana. Ternyata, tanpa Alana dan Brian sadari ada seseorang mengintai di balik pintu. Mereka adalah Vita dan Keyla yang sedari tadi mengabadikan foto Brian dan Alana. Sampai akhirnya Vita dan Keyla masuk karena peserta mulai berdatangan. “Hay semuanya, mari kita mulai les.” Brian segera menjauh dari Alana karena tersipu malu diperhatikan Vita dan keyla. “Baik Kak,” sahut peserta serentak. Alana, Vita dan Keyla antusias mengikuti kelas lukis Brian. Selama 2 jam sudah peserta mengikuti les lukis dan Brian harus pergi karena ada kepentingan lain. Tentunya hal itu membuat Alana mengerucutkan bibir kesal karena Brian selalu pergi buru-buru, padahal dia masih ingin bersama Brian. “Baik semuanya, kalau begitu saya pergi dulu ya. Sampai jumpa di kelas berikutnya,” pamit Brian ramah. Kemudian melenggang pergi. Alana menghela nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di kursi. “Padahal aku masih kangen sama dia,” ucapnya menyesali kepergian Brian. “Tenang, kamu bisa kan liatin kebersamaan kalian tadi,” Keyla memandang Alana seraya tersenyum manis. “Maksudnya?” Alana heran dengan pernyataan Keyla. Dia tak mengerti apa maksud sahabatnya itu. “Nih, liat aja sendiri.” Vita menyerahkan ponselnya pada Alana. “Kamu bisa simpan di hpm sebagai penghibur rindu hehe,” lanjutnya terkekeh bahagia. Alana penasaran dengan ucapan sahabatnya, dia segera membuka ponsel Vita. Seketika, mulutnya menganga bahagia melihat kumpulan fotonya dan Brian saat Brian mengajarkan melukis, detik berikutnya Alana tersenyum bahagia dan memeluk kedua sahabatnya. “Kalian jenius banget sih, aku nggak nyangka kalian ambil fotoku sama Kak Brian,” ungkap Alana bahagia. “Iya dong, kita yang memintamu membuka hati buat cowok. Untuk itulah kita akan muluskan jalan percintaan mu Alana sayang.” Keyla berkata mantap. Dia ingin Alana segera mengakhiri jomblonya. “Tapi, apa aku benar-benar bisa membuka hati buat cowok dan mencintai Kak Brian? Kalau dia nggak cinta sama aku gimana?” Alana ragu dengan keinginannya membuka hati untuk cinta, apalagi dia tidak mengetahui apakah Brian menyukainya atau tidak. “Kalau menurut kita sih, Kak Brian ada rasa sama kamu. Bahkan ya Al, aku pikir Diaz juga suka sama kamu,” tebak Vita mantap. “Diaz.” Alana terkejut mendengar nama Diaz disebut. Dia sampai lupa harus menjaga Diaz di rumah sakit, padahal hari ini hari kepulangan Diaz dan Bu Maria sudah menelponnya untuk menjaga Diaz karena dia ada meeting penting. “Gawat, aku harus temenin dia di rumah sakit. Hari ini dia pulang,” lanjut Alana seraya memasukkan ponselnya ke tas. “Cie... cie... kayaknya kamu bakal dilema deh. Milih Kak Brian yang cool atau Diaz yang mempesona,” ledek Keyla antusias. “Bodo ah!” Alana tak menghiraukan ledekan Keyla. Dia langsung berjalan cepat keluar dari tempat les menuju rumah sakit. *** “Diaz, kamu kenapa?” tanya Alana shock saat membuka pintu ruang rawat Diaz dan melihat Diaz mimisan. “Nggak papa kok,” sahut Diaz terkejut melihat kedatangan Alana. Dia buru-buru menghapus darah di area hidung. “Aku panggilin dokter ya, kayaknya ada luka dalam deh karena sering mimisan gitu.” Alana tampak khawatir, dia hendak pergi memanggil dokter namun Diaz menahan lengannya. “Aku nggak papa kok. Anak kecil aja kadang mimisan, kamu nggak usah khawatir ya.” Diaz berusaha menenangkan Alana yang tampak khawatir, dia mengalihkan perhatian Alana dengan membuka obrolan baru. “Aku pengen pulang nih, hari ini pulang kan?” “Iya. Tadi Bu Maria lunasi biaya rawat kamu, makanya aku datang kesini buat anterin kamu pulang.” Alana mengulum senyum, tetapi hatinya masih penasaran alasan Diaz mimisan. Dia jadi merutuki kebodohannya sendiri. Andai dia kuliah sungguh-sungguh, pasti sudah menyimpulkan mengapa Diaz mimisan. “Alana, kamu nggak keberatan nih nemenin aku lagi?” tanya Diaz tak enak hati karena Alana malah sibuk menemaninya di rumah sakit. “Nggak papa kok, tenang aja. Ya udah, aku ke ruang suster dulu ya, biar infus kamu dilepas dan kita pulang.” Alana buru-buru pergi setelah mendapat anggukan Diaz. Sementara itu, Diaz menghela nafas panjang. Dia berusaha menguatkan diri agar penyakitnya tetap menjadi rahasia, dia tak ingin seorangpun mengetahui penyakit Leukimianya yang di vonis dokter. Diaz pun kembali mengingat vonisan dokter beberapa bulan terakhir. “Dokter, saya pasti sembuh kan walaupun saya terlambat mengetahui penyakit ini?” Diaz frustasi menatap sang dokter yang tengah membaca hasil laboratorium penyakit Diaz. Ya! Saat ini Diaz berada di ruang dokter di rumah sakit kawasan Jakarta. Akhir-akhir ini dia sering mimisan, sakit kepala dan pingsan. Karena keluhan itu mengganggu aktivitasnya, Diaz memberanikan diri memeriksakan kesehatannya ke dokter. Dan ternyata, Diaz mendapat jawaban yang membuat semangat hidupnya luntur, Diaz mengetahui kalau dirinya terkena penyakit leukimia. “Sebenarnya, penyakit tersebut bisa terdeteksi sejak dini jika Anda rutin memeriksakan diri ke dokter dan tanggap saat tubuh merasakan gejala tak biasanya. Sayangnya Anda mengabaikan mimisan dan rasa sakit kepala Anda sejak penyakit pertama datang.” Dokter laki-laki tampak kecewa karena Diaz tidak tanggap pada kesehatannya, padahal kesehatan tak bisa dibeli dengan apapun. “Lalu, apa yang harus saya lakukan Dok?” tanya Diaz pasrah. “Anda harus melakukan kemoterapi. Tujuannya untuk menghambat proses berkembangnya penyakit kamu,” sahut Dokter ramah. “Saya rasa percuma Dok. Cepat atau lambat, saya pasti mati!” Diaz berkata frustasi. Dia tak menyangka penyakit mematikan itu menyerang dirinya. Diaz menghapus bayangan pertemuan dengan dokter beberapa bulan lalu. Dia menghela nafas panjang, tak lama berselang dia mengambil fotonya bersama wanita yang disembunyikan di bawah bantal. Diaz menatap foto itu lekat lalu mencium foto sang wanita cukup lama. “Sayang, sebelum aku pergi aku pengen ketemu kamu. Aku pengen minta maaf atas kesalahanku waktu itu,” ucap Diaz lemah. “Diaz, ayo pulang,” seru Alana seraya membuka pintu, membuat Diaz terlonjak kaget. “Alana.” Diaz buru-buru menyembunyikan foto itu saku celananya sebelum Alana mengetahuinya. “Aku beresin barang-barang kamu dulu ya.” Alana memasukkan buah-buahan dan camilan diatas meja ke dalam tas. Kemudian memasukkan beberapa pakaian Diaz ke tas ransel Diaz. Setelah semuanya selesai, Alana berkata antusias. “Ayo kita pulang. Diaz hanya mengulum senyum. Pikirannya kacau menjamah ruangan rumah sakit, hatinya teriris karena cepat atau lambat akan tinggal di rumah sakit saat penyakitnya semakin menggerogoti tubuhnya. Sebelum itu terjadi, Diaz tak akan membiarkan orang-orang di sekelilingnya mengetahui nasibnya. “Aku akan jaga rahasia ini dengan baik.” Batin Diaz. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN