“Halo Kak, maaf banget nih aku nggak bisa ikut kelas lukis hari ini,” ucap Alana merasa bersalah salah Brian mengakat panggilan darinya. Sementara itu, dia duduk di taman kecil di belakang rumah sakit.
“Tenang aja Alana, kelas bisa tunda besok atau saat kamu nggak sibuk kok,” sahut Brian di seberang sana.
“Serius nih Kak?” tanya Alana bahagia.
“Saya mengadakan kelas melukis biar semua peserta saya hadir. So, saat salah satu peserta berhalangan lebih baik ditunda karena saya ingin semua peserta bisa melukis profesional.” Diaz berkata tegas, namun tetap lembut sampai membuat Alana terpikat karena suara khasnya yang menawan.
“Kakak emang guru yang hebat. Makasih ya, aku janji nggak akan kecewain Kak Brian,” Alana menganggukan kepala, dia berjanji tak akan berhalangan hadir lagi.
“Oke, heeee,” Brian terkekeh mendengar ucapan Alana yang polos tetapi membuatnya tenang.
“Ya udah, aku ada urusan bentar. Sampai nanti ya,” Alana mengakhiri obrolan. Setelah Brian menjawab ‘Iya’ dia mematikan teleponnya dan bahagia karena bisa mengikuti kelas melukis di lain hari. “Dia emang cowok idamanan banget, kalau jadi pacar dia gak akan nolak deh,” gumam Alana menghayal.
“Alana,” ucap seorang perempuan di belakang Alana.
Alana segera berdiri dan melihat sosok itu. Dilihatnya, Vita dan Keyla mengulum senyum. Mereka menghambur ke pelukan Alana seraya tertawa riang. Tentunya sikap Vita dan Keyla membuat Alana heran.
“Kalian kenapa Is, datang-datang aneh gitu,” seru Alana heran.
“Gimana? Seneng kan kelas lukisnya di undur,” ledek Vita.
“Jadi, kalian berdua yang bujuk Kak Brian undur kelasnya,” tebak Alana cepat. Dia tahu kedua sahabatnya paling bisa diandalkan dan sering membantu kesulitannya.
“Iya dong, kita bilang kalau Alana lagi ada urusan penting. Padahal, dia pengen banget hadiri kelas Kak Brian,” Keyla ceria menceritakan momen permintaannya pada Brian.
“Yup, dan Kak Brian langsung setuju. Aku rasa, kamu murid kesayangannya deh,” timpal Vita yakin.
Alana bangga jika ucapan Vita benar, hatinya pun menderu membayangkan wajah Brian. Sosok pemuda yang terbilang memiliki paket lengkap sebagai idaman wanita. Brian memiliki paras yang rupawan, baik hati, tajir dan romantis. Betapa bahagianya jika bisa menjadi kekasih hati Brian, kalau Alana bisa menjadi kekasih Brian dia berjanji akan kuliah semaksimal mungkin dan menjadi dokter profesional.
“Hey, lagi ngelamunin Kak Brian ya.” Keyla menyenggol Alana gemas seraya tertawa, dia bahagia melihat senyuman mengembang di wajah Alana.
“Tahu aja, udah ah yuk ikut ke ruang Diaz. Males nih nungguin orang sakit sendiri, kalau kalian ikut kan ada temennya,” pinta Alana memelas.
“Emangnya ntar nggak ganggu nih kalau aku sama Vita ikut?” ledek Keyla cengengesan.
“Nggak sama sekali!” sahut Alana tegas.
“Oke.” Keyla dan Vita berkata serentak, lalu berjalan ke ruang rawat Diaz.
***
“Sorry ya, kamu lapar ya,” ucap Alana terkejut karena masuk ke ruang rawat Diaz dan melihat Diaz makan sendiri.
“Iya, mungkin efek obat,” sahut Diaz seraya makan dengan susah payah karena infus tertancap di pergelangan tangan kanannya.
“Kamu nggak kasihan, suapin gih. Itu anak rektor kita, kita harus baik-baikin dia biar Bu Maria seneng,” bisik Vita kritis. Dia tak tega melihat Diaz kesulitan makan.
“Masa harus aku sih, kan bukan pacarnya,” balas Zia berbisik.
“Kan kamu penyebab dia disini. Singkirkan ego kamu dulu, jangan sampai ada masalah,” timpal Keyla mendukung Vita.
Alana menghela napas berat, hatinya merutuk keputusannya yang bersedia menemani Diaz di rumah sakit. Ternyata menemani orang sakit bukan hanya menemani dalam artian duduk saja, tetapi harus melayani semua kemauan pasien. Dari memanggil perawat saat infus habis, harus menyuapi Diaz dan melayani kebutuhan lainnya. Tuhan, Diaz bukan suami Alana. Tetapi, kenapa jalannya seperti ini. “Diaz belum kencing, jangan sampai dia kencing. Siapa yang nemenin.” Keluh Alana dalam hati.
“Hey, malah bengong.” Keyla menepuk bahu Alana keras sampai Alana terlonjak kaget.
Alana menghampiri Diaz dan duduk di sebelah Diaz. “Sini aku yang nyuapin.” Alana merebut kotak nasi dari tangan Diaz, lalu mulai meletakkan nasi dan lauk pada sendok.
“Nggak perlu. Aku bisa sendiri, nggak ada ceritanya seorang Diaz di suapi. Sini.” Diaz menolak tawaran Alana karena tak enak hati, dia hendak merebut nasi kotak dari tangan Alana namun Alana menjauhkan kotak nasi itu.
“Nurut ya, biar cepet sembuh dan pulang,” pinta Alana tegas yang langsung dianggukan Diaz.
Alana akhirnya menyuapi Diaz dengan ragu. Tetapi, Keyla dan Vita malah meledek Alana yang mulai perhatian dengan kaum laki-laki, bahkan Keyla diam-diam mengabadikan momen Alana menyuapi Diaz sebagai dokumentasi Alana perhatian dan sepertinya akan membuka hatinya untuk cinta.
“Mungkin, ini cara Allah menyadarkan Alana kalau setiap orang butuh cinta ya,” ucap Keyla pada Vita.
“Iya, sekalinya jatuh cinta langsung dilema karena cinta sama 2 cowok sekaligus,” ledek Vita lirih pada Keyla.
“Kita doain aja semoga Alana memilih laki-laki yang tepat.” Keyla berharap Alana memilih antara Diaz atau Brian karena Keyla yakin Alana menaruh hati pada 2 laki-laki tampan itu.
“Kita keluar aja yuk, serasa jadi obat nyamuk,” ajak Vita cepat.
Keyla mengangguk, lalu menghampiri Alana bersama Vita. “Kita pulang dulu ya. Nyokap bokap kita udah nelpon nih,” pamit Keyla berbohong. Keyla dan Vita tak ingin mengganggu waktu Alana dan Diaz.
Alana keberatan dengan kepergian kedua sahabatnya, dia memberikan kode dengan menajamkan matanya pada Vita dan Keyla. Bahkan Alana memainkan matanya seakan kode agar mereka berdua tetap menemainya. Namun, Vita dan Keyla berpura-pura tak mengetahui kode dari Alana. Mereka malah buru-buru keluar dari ruang rawat Diaz. “Nggak biasanya mereka ninggalin aku sendiri. Awas aja kalian.” Gerutu Alana dalam hati.
“Alana, eumm...” panggil Diaz ragu dan tak melanjutkan ucapannya.
“Ada apa?” tanya Alana malas, namun menutupinya.
“Aku mau ke kamar mandi,” ucap Diaz ragu.
DEG!
Bagai mendengar suara petir diantara terik matahari. Alana langsung terkejut mendengar keinginan Diaz yang ingin ke kamar mandi, padahal kondisi Diaz masih lemah. Lalu, bagaimana caranya Diaz ke kamar mandi dengan kondisi lemah? Andai saja Alvar ikut menemani Diaz, sudah pasti Alana tak uring-uringan.
“Nggak usah bingung, aku bisa sendiri kok.” Diaz akhirnya melanjutkan ucapannya karena Alana tak kunjung menjawab.
“Jangan, kamu masih lemah. Biar aku temani.” Alana tak sampai hati membiarkan Diaz ke kamar mandi sendirian, bagaimanapun dia harus bertanggung jawab pada Diaz.
“Tapi ntar ngerepotin kamu,” Diaz merasa tak enak hati pada Alana. Apalagi Alana seorang perempuan.
“Nggak papa. Kan aku bisa eum.. nggak merhatiin kamu kencing,” Alana ragu mengucapkan kalimat itu. Namun dia menutupi rasanya malunya.
Diaz akhirnya mengangguk karena Alana tidak keberatan. Alana pun sigap membantu Diaz turun dari tempat tidur, sayangnya Diaz hampir jatuh. Untunglah Alana sigap menahan tubuh Diaz.
“Sorry, aku nggak sengaja,” ungkap Diaz tak enak hati.
Alana mengulum senyum. “Nggak papa kok. Aku bantu ya.” Alana sebenarnya ragu membantu Diaz ke kamar mandi, tetapi dia mencoba menahan gejolak jiwanya. Alana akhirnya memapah Diaz ke kamar mandi. Setelah meletakkan infus di gantungan yang ada di kamar mandi, Alana keluar dan menutup pintu. Alana menunggu di balik pintu dengan detak jantung tak menentu.
“Alana.” Diaz membuka pintu kamar mandi seraya memegang infusnya. “Sorry ya,” ungkap Diaz kembali karena merasa malu diantar ke kamar mandi oleh perempuan.
Alana mengulum senyum. “Nggak papa kok. Santai aja.” Alana mengambil botol infus dari tangan Diaz dan memapahnya ke tempat tidur.
“Assalamu’alaikum.” Bu Maria membuka pintu ruang rawat Diaz dan berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Diaz. Bu Maria tampak khawatir dan merengkuh Diaz erat. “Maafin Mama Nak, Mama baru bisa datang.”
“Aku nggak papa kok, Ma. Kecelakaan seperti ini udah biasa,” sahut Diaz enteng.
“Kenapa sih Nak, kamu nggak pernah dengerin ucapan Mama. Mama cuma ingin yang terbaik buat kamu.” Bu Maria sedih karena Diaz tak pernah mematuhi keinginannya, Bu Maria sampai berkata bergetar karena hatinya terasa sesak.
“Plis deh Ma. Disini ada rival aku, aku nggak mau ya balik diejek sama dia.” Diaz meminta sang Mama menghentikan obrolannya yang tak penting karena ada Alana. Sementara Alana menelan ludah karena terkejut ternyata hubungan Diaz dan Bu Maria tak baik.
“Eh, maaf Bu Maria. Kalau begitu saya permisi dulu ya karena Bu Maria udah ada disini, saya soalnya ada keperluan lain,” pamit Alana. Dia tak enak hati mendengar pembicaraan Diaz dan Bu Maria.
“Oh, iya Alana. Makasih ya udah jagain Diaz selama saya belum kesini.” Bu Maria menatap Alana seraya mengulum senyum. “Oya, tolong rajin belajar ya,” pintanya lembut.
Alana hanya mengulum senyum mendengar ucapan Bu Maria. Dia belum memiliki kemauan untuk belajar atau fokus pada kuliahnya, walaupun nilainya selalu tertinggi di kelasnya mungkin sudah takdir. Takdir Allah yang menciptakan Alana menjadi gadis pintar tanpa jenius, menurut Alana itu adalah sebuah keberuntungan buat almarhum sang nenek yang menginginkan Alana mengambil fakultas kedokteran.
“Insya Allah Bu, saya permisi ya,” ucap Alana akhirnya, lalu keluar dari ruang rawat Diaz.
Setelah memastikan Alana pergi, Bu Maria mengambil nasi kotak yang dia bawa lalu membuka kotak nasi yang masih mengepul. “Sayang, kamu makan ya. Mama sengaja masakin makanan spesial buat kamu sebelum kesini,” pintanya seraya menyendokkan nasi dan lauk.
“Tadi Alana udah nyuapin aku Ma. Masih kenyang,” sahut Diaz cepat.
“Apa? serius Nak, Alana nyuapin kamu?” Bu Maria tak percaya dengan ucapan putranya. Selama ini Bu Maria sudah mengenal baik seperti apa watak Alana, pastinya Alana tak mungkin bersikap baik dengan sembarang orang. Apalagi Diaz adalah orang yang mencoba menghentikan aksi keonaran Alana di kampus.
“Iya Ma serius,” Diaz menatap sang mama tegas.
“Syukurlah, mudah-mudahan gadis itu menjadi pribadi lebih baik,” harapan Bu Maria pada Alana.
“Kita lihat aja nanti, Ma. Aku sih nggak yakin.” Diaz malah tak yakin Alana bisa berubah dalam waktu sekejap, walaupun dia melihat beberapa kebaikan Alana tetapi dia masih sangsi dengan kepribadian Alana sebenarnya.
***