Bab 30

1724 Kata
"Assalamu'alaikum," salam Alana masuk ke ruang rawat Diaz. Alana menghampiri Diaz yang tengah terbaring dengan selang infus di pergelangan tangan kanannya.  "Wa'alaikumsalam," sahut Diaz mengulum senyum.  Alana duduk di kursi di hadapan tempat tidur, menatap Diaz penuh pertanyaan. Sementara Diaz menelan ludah gusar karena khawatir Alana akan curiga tentang penyakitnya.  "Kamu kenapa dirawat lagi? Apa ada luka dalam?" tanya Alana khawatir.  "Nggak kok, tadi tensi nya rendah banget dan ada air yang masuk ke tubuh. Makanya dokter mau observasi dulu, tapi kamu nggak usah khawatir. Besok juga pulang," sahut Diaz memenangkan Alana, dia tak ingin gadis itu khawatir.  "Syukurlah.Oya, Alvar hari ini bisa nemenin kamu kan?!" ungkap Alana berharap.  Diaz tak bergeming mendengar ucapan Alana, sepertinya Alana ada pertemuan dengan Brian. Diaz pun menatap Alana mengulum senyum.  "Alvar bisa nemenin kamu?" tanya Alana sekali lagi.  "Bisa, dia nggak ada kerjaan lain kok," sahut Diaz berbohong.  "Syukurlah. Aku belikan kamu nasi sama ayam bakar, makan dulu ya biar ada tenaga." Alana mengambil bungkus nasi di meja, lalu membukanya.  "Nggak usah Alana, ntar aja. Aku masih lemes buat duduk," tolak Diaz halus.  Hati Alana mendadak bergetar hebat, Diaz belum bisa duduk dan menyantap makanan sendiri. Ya Tuhan, apa Alana harus menyuapi Diaz lagi? Mengapa hari ini banyak hal yang Alana lakukan untuk Diaz, belum hilang rasa malunya telah memberikan nafas buatan, malah harus menyuapi Diaz.  Alana hendak meletakkan nasi bungkus di meja, namun dia mendengar seperti bunyi perut. Alana menoleh memandang Diaz, dari mimik wajahnya sepertinya Diaz menahan lapar.  "Kamu lapar kan, aku suapin ya," ucap Alana ragu.  "Emm--- tapi ntar kekasihmu marah," ungkap Diaz mantap.  Alana mengulum senyum. "Masih panjang kok perjalanannya. Aku suapin ya, daripada kamu kelaparan pas aku pergi." "Iya deh," sahut Diaz pasrah.  Alana menyendokkan sedikit nasi dan ayam bakar, lalu mengulurkan tangannya ke mulut Diaz. Dengan hati-hati Alana menyuapi Diaz dalam keadaan berbaring, Alana memilih menyamping kan rasa malunya agar Diaz kembali sehat dan memiliki tenaga. "Alana, kamu udah makan?" tanya Diaz cepat.  "Udah tadi di kantin, kebetulan ketemu teman lama. Dia hebat banget udah jadi asisten dokter," ungkap Alana bangga pada sahabatnya.  "Lalu, kapan kamu fokus kuliah biar jadi dokter?" tanya Diaz menatap Alana.  Alana tak bisa menjawab ucapan Diaz, jujur dia belum sepenuhnya memantapkan hatinya fokus kuliah. Apalagi cita-citanya menjadi pembalap handal masih menggebu-gebu.  "Manfaatkan kesempatan yang kamu dapat dengan baik. Jangan sia-siakan kesempatan karena jarang datang 2 kali. Banyak yang ingin menjadi dokter sampai keluarkan biaya banyak dan kehilangan harta benda untuk menyuap, tapi banyak yang tetap kandas. Sebaliknya, kamu cerdas dan berbakat  jadi dokter. Walaupun kamu malas kuliah tapi nilai bagus terus," nasehat Diaz bijak.  "Aku emang mau berusaha fokus, tapi belum bisa. Tapi aku akan coba," sahut Alana mengulum senyum.  Diaz ikut bahagia mendengar ungkapan Alana, Alana termasuk orang beruntung karena memiliki kesempatan menjadi dokter hebat dengan kecerdasannya.  "Oya Alana, kalau mau pulang nggak papa kok. Bentar lagi Alvar paling kesini," sahut Diaz lembut.  "Kamu serius nggak papa ditinggal sendiri dulu?" tanya Alana khawatir.  "Nggak papa kok. Masa iya cowok keren kaya gini takut sendirian di rumah sakit," ungkap Diaz bangga. Alana terkekeh. "Iya sih. Ya udah aku pulang dulu ya," pamitnya, lalu menyampaikan tas di bahu.  Diaz mengangguk, sementara Alana beranjak. Sebenarnya Alana tidak tega meninggalkan Diaz sendirian, apalagi tampak jelas Diaz masih lemah dan sedikit pucat. Namun Alana juga tak bisa mengingkari janji dengan Brian, ini adalah kesempatannya dekat dengan Brian. Walaupun kedekatan itu mendapat tentangan dari Neva yang tak menyukai Alana, namun Alana berusaha tegar. Mungkin Tuhan menguji keseriusan Alana membuka hati melalui Neva.  Alana menoleh sebelum membuka pintu. "Aku pulang dulu ya, ntar malam kalau senggang aku kesini sama Vita dan Keyla" "Iya, sudah sana cepat pulang," perintah Diaz lembut.  Alana lalu membuka pintu dan menutup pintu dari luar. Tak lama berselang, dokter laki-laki yang menangani penyakit Diaz masuk bersama satu suster.  "Diaz, bagaimana keadaannya?" tanya dokter ramah, dia memeriksa d**a Diaz.  "Alhamdulillah udah baikan Dok," sahut Diaz cepat.  "Diaz, saya sudah melakukan observasi terhadap penyakit kamu. Saya harap kamu mulai terapi untuk memperlambat keganasan penyakit kamu," saran dokter yang bernama dokter Anton.  Diaz menggeleng kuat. "Tapi kemo nggak bisa buat saya sembuh kan Dok?! Justru kondisi tubuh saya bisa lemah dan sulit beraktivitas," sangkalnya pesimis.  "Diaz, semua penyakit adalah pemberian dari Tuhan. Walaupun penyakit itu berat, sudah kewajiban manusia untuk ikhtiar dan berjuang tanpa lelah. Yang terpenting berusaha daripada tidak sama sekali," nasehat Dokter Anton bijak.  "Percuma Dok! Saya sudah pasrah kok, saya hanya minta vitamin saja biar sebelum saya meninggal bisa menemukan orang yang saya cari. Saya mau minta maaf sama dia biar saya tenang disana," kekeh Diaz tak mau kemoterapi.  Dokter Anton menghela napas. "Baiklah. Apa saya bisa bicara dengan orang tua atau keluarga kamu?" "Maaf Dok, saya belum jelasin tentang penyakit ini ke keluarga saya. Saya nggak mau mereka khawatir dan berpikiran yang enggak-enggak dok," sahut Diaz mantap.  Dokter Anton menoleh menatap suster yang berdiri di sampingnya. Barulah suster berhijab itu melontarkan pendapatnya.  "Menurut saya kita nggak bisa memaksa Diaz Dok. Tapi kita bisa support Diaz biar lebih kuat dan tegar menghadapinya," saran suster.  Dokter Anton mengangguk, lalu memandang Diaz serius. "Baiklah, saya tidak akan memaksamu kemoterapi. Tapi kamu harus rutin minum obat yang saya berikan, nggak boleh telat satu waktu pun." Diaz mengulum senyum. "Pasti Dok. Saya akan minum obat tepat waktu karena saya ingin menemukan seseorang," janjinya mantap.  "Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dokter Anton, lalu keluar bersama suster.  Sepeninggal Dokter Anton, Diaz menitikkan air mata. Sebenarnya dia tak kuat menyimpan rahasia penyakitnya sendirian, namun dia tak ingin orang lain bersedih dan kasihan padanya. Diaz tak ingin sang mami maupun Alvaro tidak tenang menghadapi kehidupan.  "Aku harus kuat. Aku pasti bisa melewati semua ini sendirian," ucap Diaz menyemangati dirinya sendiri.  *** Alana masuk rumah dan menyandarkan tubuhnya di pintu. Dia memejamkan mata yang membuat adegan Alana memberikan nafas buatan untuk Diaz menyeruak di pikirannya.  "Ya Allah, kenapa jadi inget itu terus sih. Sumpah malu banget harus kasih nafas buatan," gerutunya Alana gusar.  Seketika, Vita dan Keyla keluar dari persembunyiannya. Mereka menghampiri Alana yang shock dan menjatuhkan tasnya.  "Ka-kalian kok ada disini?" tanya Alana gugup.  "Nggak penting!  Alana, kita dengar kamu kasih nafas buatan. Kamu kasih ke siapa?" tanya Vita penasaran karena shock.  "Iya, masa iya seorang Alana kasih nafas buatan. Sumpah, ini aku kaya mimpi deh," tempat Keyla heran.  "Emmm… A-aku nggak sengaja kok. Lagian nggak ada cara lain," sahut Alana setengah-setengah.  "Bentar bentar, tadi grub kampung heboh soal Diaz yang tenggelam di kampus dan kamu yang nolongin. Apa itu bener?" ucap Keyla, membuat Alana terkejut karena beritanya sudah beredar.  "Masa sih grub ada beritanya? Siapa yang bocorin? Pas Diaz tenggelam dan aku tolong nggak ada yang liat kok. Udah sepi sumpah," sahut Alana tak percaya dengan berita itu.  Vita menghela napas. "Iya sih, tapi tadi kita semua tahu dari security yang cek CCTV di bagian itu karena setelah kejadian Diaz tenggelam ada pencuri yang nusuk warga. Makanya pihak kampus dan security cek CCTV karena mereka ikut bertanggung jawab. Kan, danau masih milik kampus. Eh nggak taunya ada rekaman Diaz tenggelam." Alana mulai gelisah dan menggigit bibir bawahnya kejam. Itu artinya kejadian saat Alana memberikan napas buatan untuk Diaz terekam di CCTV.  "Terus, apa yang mahasiswa tahu dari kejadian tenggelam?" tanya Alana penasaran.  "Ehmmm kita sih belum tahu. Tapi nggak tahu deh yang lain," sahut Keyla seadanya.  "Kamu bilang habis kasih nafas buatan, apa kamu kasih nafas buatan itu ke Diaz?" tanya Vita penuh selidik.  "Enggak kok, udah ah mau mandi. Bentar lagi Kak Brian kesini." Alana memilih menghindari Vita dan Keyla, dia tak ingin kejadiannya memberikan napas buatan diketahui sahabatnya.  Alana merutuki kebodohannya yang memberikan napas buatan di tempat umum. Saat itu tak terlintas di pikirannya akan diketahui banyak orang, namun bagaimana jadinya jika seisi kampus gempar karena insiden itu terekam di CCTV dan tersebar. Pasti Alana menjadi bulan-bulanan anak kampus, khususnya Vanes. Vanes akan menjadikan kejadian itu senjata untuk membalas perlakuan Alana selama ini. "Ya Tuhan, apa aku siap ke kampus besok?" Batin Alana.  *** Di kamar, Alana buru-buru mandi agar kegelisahannya hilang. Dia tak bisa tenang setelah Vita dan Kayla memberikan penjelasan mengenai kejadian Diaz tenggelam di CCTV. Setelah selesai mandi, Alana menghela nafas lega karena pikirannya lebih tenang. Namun, Vita dan Keyla kembali masuk.  "Kalian mau ngapain? Aku ngantuk banget sumpah pengen tidur. Ntar sore mau keluar sama Kak Brian," ucap Alana sambil menguap agar kedua sahabatnya keluar dari kamar.  "Bentar doang Alana. Sumpah ya, kita nggak tenang sebelum dengar penjelasan kamu," sahut Vita memohon.  Alana memandang kedua sahabatnya, Vita dan Keyla adalah sahabat terbaik dan selalu ada saat duka maupun suka. Mungkin, Alana memang harga jujur pada mereka. Dengan begitu mereka bisa membantu Alana saat ada masalah di kampus.  "Plis, ceritain ke kita. Kita selalu ada di belakang kamu kok," bujuk Keyla memegang bahu Alana.  "Oke aku cerita, tapi kalian jangan ngetawain aku ya," pinta Alana memelas.  "Nggak akan," sahut Vita dan Keyla serentak.  "Jadi, pas aku jalan-jalan ke danau ada buku sama tas Diaz di tepi danau. Aku awalnya nggak tau dia tenggelam, eh nggak lama liat tangan dia di tengah Danau. Jadilah aku terjun nolongin dia, aku berusaha tepuk dadanya tapi nggak sadar juga, makanya terpaksa deh," ungkap Alana menceritakan kejadian sebenarnya.  Vita shock mendengar penjelasan Alana. "What?!  Ja-jadi saat itulah kamu berikan nafas buatan ke Diaz," tebalnya cepat.  Alana tersenyum tipis. "Kan kepepet. Nggak ada orang, aku takutnya dia kenapa-napa." "Wah pasti sosweet banget tuh. Aku nggak nyangka kamu bisa lakukan itu Alana, ini pertanda bagus buat asmara kamu deh," tempat Keyla semangat, dia malah bahagia dengan tindakan Alana ke Diaz.  "Stop! Aku minta kalian bantuin aku hapus bagian itu dari CCTV. Aku nggak mau kampus gempar karena hal itu," bujuk Alana menatap Vita dan Keyla serius.  "Caranya?  Kamu kan tahu penjaga CCTV dan security paling nggak bisa di sogok. Bakalan susah Alana," ucap Keyla pesimis.  "Tapi kita harus usaha. Besok kita berangkat sebelum semua mahasiswa berangkat," ajak Alana mantap.  Vita menghela napas berat. "Oke deh. Semoga cara kita ini berhasil ya." "Iya, semoga," tempat Keyla semangat.  Alana mengangguk, ternyata benar sahabatnya bisa diandalkan. Mereka tidak menggunjing atau membiarkan Alana sendirian menghadapi masalah. Justru mereka membantu Alana menyelesaikan masalahnya.  "Ya udah sono siap-siap dandan, udah jam 3 tuh," pinta Vita cepat.  "Bentar, mau tidur beberapa menit dulu. Ngantuk," sahut Alana menguap, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tak butuh waktu lama, Alana langsung terlelap.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN