"Hai Kak Brian, sorry ya udah nunggu lama," ucap Alana menghampiri Brian di ruang tamu, dia canggung karena pakaiannya yang feminim.
Brian mengulum senyum. "Nggak papa kok, lagian aku kan lagi ngobrol sama Mama kamu," sahutnya ramah.
"Alana, Brian hebat banget ya. Masih muda tapi udah jadi pelukis hebat, bahkan buku kursus gratis lagi," tempat Bu Rista bangga.
"Tante bisa aja, aku masih tahap pembelajaran kok Tan," ucap Brian merendah.
Bu Rista tersenyum, lalu memandang Alana. "Kamu harus contoh Brian Nak, masih muda tapi semangatnya menggapai impian patut diacungi jempol."
Alana duduk di samping Bu Rista dan menatap sang mama. "Mama tenang aja ya. Ini aku lagi usaha biar fokus kuliah dan jadi dokter sesuai keinginan almarhum Nenek," ucapnya menenangkan sang mama.
"Maaf Alana, aku koreksi. Kamu jadi dokter sesuai keinginan Nenek? Maksudnya?" tanya Brian penasaran.
"Jadi gini loh Nak, sebenarnya jadi dokter bukan cita-cita Alana. Sebelum Nenek Alana meninggal, dia pengen banget Alana jadi dokter seperti Almarhum Kakak saya. Dulu Almarhum Kakak saya kuliah kedokteran tapi meninggal, makanya ibu saya pengen Alana meneruskan cita-cita Kakak saya," jelas Bu Rista mengenai asal mula sang ibu ingin Alana menjadi dokter.
Brian mengangguk, pertanda dia mengetahui penjelasan Bu Rista. "Alana, maaf ya. Bukannya aku menggurui kamu, tapi lebih baik kamu ubah mindset kamu deh. Jangan berpatokan rajin kuliah dan berusaha jadi dokter untuk memenuhi wasiat Nenek kamu. Tapi, berusahalah rajin kuliah dan jadi dokter untuk diri kamu sendiri. Ikhlas menjalani proses jadi dokter biar diri kamu bermanfaat untuk orang. Dengan begitu kamu lebih bahagia karena kan bisa nolongin orang, bisa nyembuhin banyak orang. Bahkan kamu bisa nyembuhin orang yang kamu cintai," nasehatnya panjang dan lembut.
Alana merasa dadanya bergetar mendengar nasehat Brian. Dia menelan ludah mencerna nasehat itu, Brian memang benar. Menjadi dokter adalah pekerjaan paling mulia dan pertolongannya dibutuhkan semua orang.
"Gimana Alana, kamu ngerti kan maksud aku?" tanya Brian memastikan.
Alana mengulum senyum. "Aku akan coba Kak," sahutnya lembut.
"Ya udah, sana kalian pergi. Katanya pengen temui keluarga Brian," tempat Bu Rista lembut.
"Oh iya Tante, kalau gitu aku pamit dulu ya Tan," pamit Brian seraya mencium tangan Bu Rista.
"Aku pergi dulu ya Ma," ucap Alana mencium tangan sang mama, lalu keluar bersama Brian.
Brian membuka pintu mobil untuk Alana, Alana pun melambaikan tangan pada Bu Rista dan masuk mobil. Diaz pun menoleh dan membungkukkan badan ke Bu Rista sebelum masuk mobil. Setelah itu mobil Brian melesat dengan kecepatan rata-rata.
***
"Mama, dari mana Mama tahu aku disini?" tanya Diaz heran saat melihat sang mama dan Alvar masuk ruang rawatnya.
"Jelas Mama tahu, grub kampus gempar dengan CCTV kamu yang tenggelam di danau. Kamu nggak papa kan Nak" ucap Bu Maria khawatir melihat anak tunggalnya terbaring lemah dengan selang infus.
Diaz mengulum senyum. "Aku nggak papa kok Ma, tenang aja."
"Tunggu deh, loe kan jago renang. Kenapa bisa loe sampai tenggelam. Loe renang di laut aja jago," ucap Alvar heran. Padahal Diaz pandai berenang di arus sekalipun.
"Iya Kak. Apa anemia akut kamu kambuh lagi?" tanya Bu Maria khawatir.
"Eng-enggak kok Ma. Aku tadi tenggelam karena eumm… kaki aku kram Ma. Makanya aku shock, untungnya Alana melintas ke danau dan tolongin aku," jelas Diaz mengulum senyum, dia tak ingin sang mama dan Alvar khawatir.
"Baiklah, Mama keluar dulu ya. Mama pengen bicara sama dokter yang menangani kamu, apa ada luka dalam atau enggak," izin Bu Maria hendak pergi, namun tangannya ditahan Diaz.
"Jangan Ma. Masa iya tenggelam ada luka dalam, Mama ngaco deh," ucap Diaz gugup, khawatir Dokter Anton memberikan keterangan mengenai penyakitnya.
"Tapi kamu punya riwayat penyakit Diaz. Mama mau kamu baik-baik saja, Mama nggak mau ada yang terlambat," ucap Bu Maria tegas, lalu melepaskan tangan Diaz dan keluar.
"Mama," panggil Diaz frustasi.
Sementara Alvar menatap Diaz penuh arti, dia merasa ada kejanggalan pada Diaz. "Kenapa loe kayaknya takut banget Tante Maria temui dokter. Memangnya ada yang loe sembunyiin?" tanyanya menerka-nerka.
"Anterin gue ngejar nyokap. Cepet!" pinta Diaz dengan nada tinggi.
" Loe kenapa si?" tanya Alvar heran.
"Cepetan, nggak usah banyak omong," ucap Diaz berusaha bangkit tapi masih lemah.
Alvar menghela nafas panjang. "Iya, iya." Dia mengambil kursi roda, lalu memapah Diaz duduk di kursi roda.
"Ayo," ajak Diaz cepat.
Diaz merasakan dadanya sesak, dia khawatir sang mama mengetahui. Jika terjadi, sudah pasti sang mama terpukul dan mungkin hidupnya tak bisa tenang karena memiliki anak penyakitan dan umurnya tak lama lagi.
***
"Sore Kak Neva," salam Alana seraya mencium tangan Neva.
Neva tak bergeming, hanya memandang Alana dengan tatapan sinis. Bahkan raut wajahnya tampak mengejek Alana yang memakai atasan dan bawahan tak senada.
"Kak, Alana udah latihan jalan pakai buku tebal loh. Kakak mau liat?" tawar Brian bahagia.
Alana menatap Brian kesal, mengapa dia mengatakan Alana sudah belajar berjalan. Nyatanya, Alana belum sempat belajar karena dia belum bisa berubah feminim dan meninggalkan dunia balapnya.
"Oh ya, coba praktekan di sini. Kamu pakai high heel saya, tapi ingat. Jangan sampai patah," ucap Neva angkuh, dia memberikan high heels pada Alana.
Sementara Alana menelan ludah menerima high heel dari Neva, mana mungkin dia bisa memakai sepatu dengan hak lancip dan tinggi. Yang ada kaki Alana pasti keseleo.
"Alana, ayo coba. Buktikan demi kita ya," ucap Brian mengulum senyum menawan, membuat hati Alana meleleh.
Alana kemudian mengulum senyum. Dia harus berusaha memakai high heel itu demi hatinya untuk Brian. Alana harus mengakhiri masa lajangnya dan mempersatukan hatinya dengan hati Brian.
"Cepet putuskan! Mau nggak," ucap Neva dengan nada tinggi.
"I-Iya Kak," sahut Alana ragu.
Alana mengatur nafasnya yang memburu, dia beranjak dan meletakkan high heel Neva di lantai. Dengan kaki gemetar, Alana berusaha memakai high heel dengan tinggi 8 cm dan memandang Brian dan Neva bergantian.
"Alana, ayo. Kamu pasti bisa," ucap Brian menyemangati Alana.
Alana mengulum senyum, dia menyemangati dirinya untuk memakai high heel. Alana pun berjalan pelan dan hati-hati, dia sedikit bernafas lega karena bisa berjalan sampai 7 langkah.
"Itu namanya jalan siput! Jalan tuh yang anggun dong, kencangin," ucap Neva mengejek.
"Iya Kak," ucap Alana semangat.
Alana kembali memandang Brian untuk mengambil aura positif dari laki-laki itu, laki-laki yang berhasil meluluhkan hati Alana dan bersedia membuka hati untuk kaum laki-laki. Alana lalu berjalan lebih cepat, sayangnya Alana keseleo dan terjatuh sampai kaki high heel Neva patah.
"What!!! Alana!!!." Neva shock karena high heel anya patah, dia menghampiri Alana dan merebut high heel dari Alana.
"Alana, kamu nggak papa kan?" tanya Brian khawatir.
"Alana, kamu gimana sih! Pakai sepatu kaya gini aja sampai patah. Kamu cewek apa bukan sih?! Kamu itu nggak pantas jadi adik ipar aku," celetuk Neva kejam.
"Maaf Kak," ucap Alana sedih.
"Udahlah Kak jangan marah-marah. Ntar aku ganti kok," tempat Brian menenangkan Neva.
Neva menghela napas kesal. "Oke! Harus persis seperti ini," pintanya, lalu berjalan ke lantai dua.
"Alana maafin Kak Neva ya. Dia emang kaya gitu, tapi hatinya baik kok." Brian tak enak hati karena sikap Neva pada Alana, dia memapah Alana duduk di sofa.
"Aw, sakit Kak," rintih Alana saat Brian memegang kakinya.
"Aku pijet ya biar enakan," tawar Brian merasa kasihan pada Alana.
"Nggak usah Kak. Aku nggak biasa di urut, ntar juga sembuh kok," sahut Alana mengulum senyum.
Brian menghela napas. "Ya udah aku antar pulang aja ya, belajarnya kalau kaki kamu udah sembuh aja," ucapnya khawatir.
Alana terkejut mendengar ucapan Brian, Alana pikir Brian tak akan memaksanya berubah feminim setelah kejadian itu. Ternyata dugaan Alana salah, Brian kekeh meminta Alana berubah feminim. Alana menyayangkan sikap Brian yang tak mengerti perasaan Alana, Alana jadi teringat obrolannya dengan Diaz saat Diaz mengutamakan perasaan wanita.
Alana dan Diaz berada di Bukit mereka memperhatikan sepasang kekasih yang memadu kasih.
"Mereka sosweet banget ya, keliatan banget laki-lakinya mencintai sang wanita. Dia nggak peduli walaupun penampilan wanitanya nggak mecing outfitnya," ucap Alana lembut.
"Seorang laki-laki memang harus seperti itu. Laki-laki harus menghargai dan menghormati wanitanya. Mau wanitanya hitam atau putih, mau berhijab atau enggak harus dihormati. Nggak boleh dipaksa," sahut Diaz penuh ketulusan.
"Kalau kamu punya kekasih yang urakan gimana? Apa kamu akan merubah dia jadi feminim?" tanya Alana hati-hati.
Diaz terkekeh. "Ya enggak lah. Masa iya aku urakan minta rubah dia biar feminim. Ya aku akan coba arahkan dia jadi wanita yang baik dan nggak urakan, tapi kalau masalah penampilan urusan dia. Mau dia tomboy atau feminim terserah karena aku cinta apa adanya, bukan kecantikan atau penampilannya."
"Tapi, seandainya Mama kamu pengen calon menantu yang feminim tapi kamu nggak. Apa yang akan kamu lakukan? Pastinya merubah penampilan sang wanita kan?!" tebak Alana yakin.
"Kamu salah besar. Sekarang aku tanya, emangnya siapa yang mau nikah? Aku atau Mamaku?" Diaz balik bertanya, membuat Alana kesal.
"Ya kamu lah, masa iya Bu Maria. Kan aku tanyanya kamu," sahut Alana cepat.
Diaz terkekeh. "Alana, Alana. Pertanyaanmu kaya interogasi banget ya, yang jelas aku yang bujuk Mami buat terima calon menantu apa adanya. Nggak boleh di paksa ataupun ada paksaan. "
DEG!
Ungkapan Diaz membuat Alana merasa melayang ke udara, bahkan wajah Alana merona mendengar Diaz akan mencintai kekasihnya setuju hati tanpa paksaan.
"Alana, kamu kenapa?" tanya Brian membuyarkan lamunan Alana.
"Eumm, enggak kok Kak," sahut Alan mengulum senyum.
"Ya udah, aku antar pulang yuk." Brian bangkit dan memapah Alana.
Diam-diam Alana menoleh, memandang wajah Brian dari samping. Mengapa hatinya jadi bimbang dan memikirkan 2 laki-laki sekaligus. Mengapa dalam hati dan pikirannya ada Brian dan Diaz? Oh Tuhan, mungkinkah Alana jatuh cinta dengan 2 laki-laki? Karma atau apa ini," pikir Alana.
***