Diaz berhasil mengejar Bu Maria ke ruang dokter. Diam-diam Diaz menghela nafas lega karena sang mama dan dokter Anton belum membahas penyakitnya, hal itu Diaz lihat dari wajah dokter Anton yang tampak kecewa dengan kedatangan Diaz ke ruang dokter.
"Maaf ya Dok, jadi rame gini ke ruangan dokter. Habisnya Mama saya nggak percaya banget kalau saya nggak papa Dok," ucap Diaz mendahului obrolan.
"Saya takut anak saya ada luka dalam atau apa Dok. Soalnya anak saya punya riwayat penyakit anemia akut dan saya khawatir tenggelamnya dia karena hal itu," ungkap Bu Maria dengan wajah khawatir.
Dokter Anton tersenyum. "Ibu tenang saja ya. Diaz nggak ada luka dalam kok, dia tenggelam karena kakinya kram, untuk itulah besok sudah bisa pulang," sahutnya ramah.
"Syukurlah Dok, saya lega dengernya," ucap Bu Maria tenang.
"Dokter, maaf saya mau tanya. Saya kadang nemu tisu yang ada bekas darahnya di tempat sampah toilet kamar Diaz. Itu kayaknya karena Diaz mimisan deh, kalau boleh tahu arti mimisan Diaz apa Dok?" tanya Alvar serius, membuat Diaz maupun dokter Anton saling memandang.
"Jangan sampai dokter Anton jelasin yang sebenarnya, gawat," ucap Diaz dalam hati.
"Jadi Diaz masih mimisan? Kenapa kamu nggak bilang ke Tante. Tante kira Diaz nggak mimisan sejak 1 tahun ini." Bu Maria shock mendengar Diaz masih mimisan, padahal Bu Maria berpikir anaknya tak mimisan lagi.
"Malahan sekarang sering banget Tante. Ya emang sih aku nggak liat secara langsung, tapi Bi Sumi yang cerita ke aku," jujur Alvar serius.
Bu Maria memandang Diaz penuh selidik. "Nggak ada yang kamu sembunyikan kan dari Mama?!"
"Nggak ada Ma. Tanya aja sama dokter Anton kalau Mama nggak percaya," sahut Diaz berusaha tenang agar sang Mama tidak curiga.
Dokter Anton mengulum senyum. "Ibu sama Mas nya tenang aja ya. Diaz baik-baik aja kok, nggak ada luka serius," ucapnya ramah.
"Syukurlah Dok. Kalau ada sesuatu segera hubungi saya ya Dok, jangan ke Diaz," pinta Bu Maria lega.
Dokter Anton tersenyum dan menganggukan kepala, dia melirik Diaz dengan tatapan penuh arti.
"Kalau begitu kami permisi dulu Dok," pamit Bu Maria, lalu keluar bersama Diaz dan Alvar.
***
Alana merintih kesakitan karena kakinya dipijat tukang urut, dia merebahkan tubuhnya di kasur busa di ruang keluarga. Sementara Vita dan Kayla hanya memandang Alana, mereka ikut merasakan rasa sakit Alana di pijat.
"Aduh, hati-hati Bu. Itu Alana kesakitan," ucap Vita, tak tega melihat Alana kesakitan.
"Cuma sebentar kok Mbak. Sebentar lagi juga sembuh, tapi Mbak Alana urut 2 atau 3 kali lagi ya," sahut Ibu pijat ramah.
"Nggak ah Bu. Sekali ini aja, ntar juga sembuh sendiri kok," sangkal Alana cepat dia tak mau di pijat lagi.
"Emangnya Mbak Alana mau jalannya nggak cantik lagi? Ini buat jalan sakit loh. Kalau Mbak Alana jalannya nggak cantik, ntar kekasih hatinya malu jalan sama Mbak," bujuk Ibu pijat halus, menggoda Alana.
"Bodo lah Bu. Aku nggak punya kekasih, belum jadi kekasih aja udah buat aku keseleo gini. Jadi malas." Alana tak peduli karena dia kecewa dengan sikap Brian yang memaksanya berubah feminim.
Pengakuan Alana membuat Vita dan Kayla saling memandang. Mereka tak percaya Alana akan menyerah mendapatkan cinta Brian karena sikap Brian dan kakaknya.
"Vit, gawat kalau sampai Alana menutup hati buat cowok lagi. Bisa berabe nih," bisik Keyla pada Vita.
"Iya sih. Lagian Kak Brian apa-apa deh, baru juga PDKT tapi udah ngatur Alana. Alana kan paling nggak bisa diatur, kalau nggak mau juga udah nggak mau. Nggak bisa di buruk-buruk lagi," sahut Vita balas berbisik.
Sementara Alana mendengus kesal, dia tahu apa yang sahabatnya bicarakan. "Nggak usah ngerumpi. Aku tahu apa yang kalian bicarakan," ucapnya tegas.
Keyla terkekeh. "Maaf ya."
"Kalian mendingan siap-siap gih. Habis maghrib kita jenguk Diaz," pinta Alana cepat.
Vita dan Keyla saling memandang seraya mengulum senyum. "Diaz," ucapnya serentak.
"Kenapa lagi?" tanya Alana kesal.
"Nggak papa kok," sahut Vita cengengesan.
Keyla menarik lengan Vita beranjak. "Oya masih ada Diaz, Diaz harapan kita buat Alana jatuh cinta," bisiknya bahagia.
"Benar, kita harus pasang jurus biar nggak gagal lagi," bisik Vita lalu pergi.
Alana kesal memandang kepergian dua sahabatnya. Mereka memang berniat baik dengan mencarikan jodoh Alana agar bisa move on, tapi kalau sampai Diaz adalah target selanjutnya, tak bisa. Alana harus menghalau Vita dan Keyla bertindak di luar batas. Jangan sampai Alana semakin malu bertemu Diaz karena sikap Vita dan Keyla.
"Mbak Alana, coba gerakkan kakinya Mbak," ucap Bu pijat lembut.
"Iya Bu." Alana menggigit bibir bawahnya, dengan hati-hati menggerakkan kakinya. Namun langsung merintih kesakitan. "Masih sakit banget Bu," lanjutnya sedih.
"Nggak papa. Ini Mbak Alana minum obat pereda nyeri dulu ya. Habis itu istirahat" pinta Bu pijat seraya menyerahkan 1 kapsul obat.
"Makasih ya Bu," sahut Alana mengambil kapsul dan meminumnya.
"Mbak Alana istirahat ya. Saya pamit dulu," pamit Bu pijat mengulum senyum.
Alana mengulum senyum. "Makasih ya Bu, ini Bu." Alana menyerahkan amplop berisi uang sebagai uang pembayaran pijat.
"Terima kasih Mbak." Bu pijat menerima uang dari Alana, lalu beranjak pergi.
Alana memandang langit-langit yang serba putih dengan lampu gantung desain Eropa. Alana tak menyangka mengenai Brian, Brian yang dia pikir laki-laki lembut dan bisa melindungi seorang wanita ternyata salah. Memang, Brian menampakkan wajah lugu dan penuh kasih sayang setiap memintanya berubah feminim. Namun Alana tidak suka dipaksa merubah penampilannya, walaupun dia awal setuju tetapi Alana tak bisa. Alana tak bisa merubah penampilan seperti keinginan Brian.
"Maafin aku Kak, maaf," lirih Alana sedih.
***
Malam harinya, Diaz jenuh sendirian di ruang rawat. Dia hanya terbaring di ruang rawat secara memainkan ponselnya, Alvaro dan sang mama sudah pulang karena ada urusan mendesak. Diaz yang jenuh akhirnya melihat kumpulan fotonya dan Alana saat di Bukit.
"Kalau di liat-liat, Alana cantik banget ya. Kecantikannya alami, nggak kayak cewek kebanyakan yang berusaha cantik," ucap Diaz bangga seraya menyentuh foto Alana dengan gaya menghadap ke bawah Bukit.
Diaz jadi teringat dengan Cindi, sampai sekarang dia tak tahu keberadaan Cindi setelah kebakaran yang menimpanya dengan Cindi. Diaz ingin meminta maaf karena saat itu tak bisa menolong Cindi karena dia kritis dan harus menjalani pengobatan, untuk itulah Diaz pergi meninggalkan Cindi. "Ya Tuhan, pertemukan aku dengan dia sebelum Engkau mengambilku," pintanya dalam hati.
"Assalamu'alaikum," ucap Alana, Vita dan Keyla membuka pintu ruang rawat.
Diaz menoleh memandang pintu. "Wa'alaikumsalam, kalian kesini?" ungkapnya tak percaya dijenguk Alana dan kedua sahabatnya.
"Kan aku udah bilang malam mau jenguk kamu," ungkap Alana mengulum senyum.
Sementara Vita dan Keyla memperhatikan Alana dan Diaz, mereka mencoba memahami apakah ada cinta diantara mereka atau tidak.
"Alana, kaki kamu kenapa?" tanya Diaz khawatir saat Alana berjalan agak pincang menghampirinya.
"Nggak papa kok. Cuma keseleo," sahut Alana berusaha kuat.
"Bohong Di, Alana keseleo karena pakai high heel," ungkap Vita cepat.
Alana menoleh memandang Vita tajam, namun Diaz terlanjur penasaran. Diaz akhirnya duduk dan meminta penjelasan ke Vita.
"High heels, buat apa? Ngapain Alana pakai gituan?" tanya Diaz heran.
Keyla menghela napas, lalu mulai bercerita. "Kak Brian pengen Alana berubah jadi feminim karena eumm Kak Brian naksir Alana. Makanya dia minta kakaknya ajarin Alana jadi cewek elegan, bahkan tadi Alana dipinjemin high heels dengan panjang 8 cm. Eh malah keseleo dia," ceritanya panjang.
Diaz mengepalkan tangan mendengar cerita Keyla mengenai sikap Brian pada Alana. Dia tak terima Alana di paksa berubah feminim, padahal semua orang tahu Alana adalah gadis tomboy. Belum lagi Alana memiliki alasan kuat menjadi tomboy.
"Key, kamu kok bablas ceritain ke Diaz sih. Nggak enak tahu, dia juga lagi sakit," tegur Alana, kecewa dengan sikap Keyla.
"Nggak papa Alana. Aku udah sembuh kok, besok juga pulang. Lagian kamu tuh kenapa sih mau ngikutin maunya Brian, dia tuh nggak pantas maksa kamu," ungkap Diaz kesal.
"Aku nggak papa kok. Emang udah ada niat mau lebih baik, makanya aku turuti aja mau Kak Brian." Alana berkata bohong, tak ingin ada perselisihan antara Diaz dan Brian.
"Kalau gitu kamu siap berhenti balap liar?" tanya Diaz menantang.
Alana gusar, mengapa Diaz malah menanyakan hal itu. Itu tak mungkin Alana lakukan karena balapan adalah cara Alana melupakan masa lalunya.
"Nggak bisa kan! Artinya kamu belum siap Alana. Kamu harus tegas sama Brian, kalau dia emang suka sama kamu harusnya dia Terima kekurangan dan kelebihanmu," ucap Diaz tegas, membuat Vita dan Keyla melongo.
"Diaz pengertian juga ya," bisik Vita pada Keyla.
"Nggak nyangka deh. Cowok yang selama ini kita kenal urakan malah pengertian, tapi cowok yang kita kenal adem dan baik hati malah tukang maksa. Makanya secara halus lagi," balas Keyla berbisik.
Sementara Alana tak bergeming, dia hanya memandang kedua sahabatnya dan Diaz bergantian. Namun Alana kesal pada Vita dan Keyla, pertemuan ini membuat mereka mengetahui sikap asli Diaz. Sikap pengertian dan kasih sayang Diaz, itulah sikap Diaz yang asli. Namun Alana tak tahu mengapa di hadapan banyak orang Diaz bersikap urakan dan layaknya pemuda tak tahu sopan santun.
"Alana, besok kamu kasih pengertian ke Brian. Kalau kamu nggak bisa, biar aku yang bilang. Tega banget dia bikin kamu keseleo gitu," ucap Diaz tegas, membuat Alana terlontar kaget.
"Jangan, ntar aku aja yang bilang," elak Alana cepat.
"Oke," pasrah Diaz.
***