Keyla mengajak Alana ke kantin rumah sakit, Keyla tampak berpikir keras seraya memperhatikan Alana. Sikap Keyla tentu membuat Alana heran.
"Apa yang kamu pikirkan sih?" tanya Alana.
"Aku lagi mikirin siapa yang terbaik buat kamu. Aku nggak mau kamu salah pilih, apalagi aku sama Vita bertanggung jawab karena kami yang minta," sahut Keyla sok berwibawa.
"Maksudnya?"
Keyla menghela nafas panjang. "Hmm…. Aku rasa yang terbaik Diaz deh, dia lebih pengertian walaupun casingnya terkesan anak nggak baik. Tapi dia pengertian dan nggak ngekang kamu, buktinya dia masalah kami tomboy. Nggak seperti Kak Brian yang casingnya baik kaya calon suami idaman tapi tukang maksa," ungkap Keyla serius.
"Tapi aku sukanya sama Kak Brian," ucap Alana mantap.
"Masa sih? Tapi aku ngerasa kamu suka dua-duanya deh," goda Keyla, membuat Alana terbelalak.
"Apaan sih! Jangan aneh-aneh deh, berabe kalau didengar orang," jawab Alana kesal.
"Alana, coba deh kamu rasain dan penjamin mata. Siapa yang sebenarnya kamu cintai, kamu bayangkan Diaz dan Brian, lalu siapa yang membuat kamu lebih nyaman. Dialah orang yang sebenarnya kamu cintai."
"Terus aku harus ngikutin gitu?!"
"Harus," mantap Keyla.
Alana menghela nafas kesal, permintaan sahabatnya memang tak bisa ditolak. Keyla maupun Vita selalu memiliki cara agar Alana mengikuti kemauan mereka. Alana pun pasrah, dia memejamkan mata dan mengatur nafasnya. Lalu, membayangkan wajah Brian dan Diaz bergantian.
"Kamu rasakan kehadiran yang ada di pikiran kamu. Siapa yang membuatmu tersenyum dan bahagia menjalani keseharian, jika bayangan wajah sudah berubah dan hanya ada satu. Pertahankan selama 2 menit, lalu buka mata perlahan-lahan." Keyla memberikan instruksi layaknya tengah menghipnotis Alana, bahkan suaranya berubah tampak tegas.
Alana pun mulai larut membayangkan wajah Diaz dan Brian, namun mendadak wajah Brian menghilang dari pandangannya. Justru wajah Diaz semakin jelas, Alana berusaha menggantikan wajah Diaz dengan wajah Brian. Sayangnya Alana tak bisa, bahkan wajah Diaz memenuhi pikiran dan hatinya sampai Alana membuka mata.
"Siapa yang tersisa?" tanya Keyla memandang Alana tajam.
Alana gusar, dia gelisah dan tak mungkin menjawab pertanyaan Keyla. Hal itu bisa memicu permasalahan baru.
"Nggak ada yang muncul, menghilang semua." Alana memilih berbohong dan membuat Keyla shock.
"Masa sih? Nggak mungkin ah. Aku udah mempelajari cara healing ini selama seminggu penuh loh sampai nggak tidur," ungkap Keyla heran.
Alana terkekeh. "Artinya kamu nggak bakat kasih saran ataupun cara healing, udah ganti aja caranya. Mending kamu cari aja pasangan, toh kamu sama Vita masih jomblo kan," ledek nya membuat Keyla mengerucutkan bibir.
"Alana, kamu tuh ya," ucap Keyla kesal.
"Bodo. Udah ah, ayo pulang. Besok ada les lukis," sahut Alana, lalu beranjak.
Alana menggigit bibir bawahnya dalam langkahnya. Dia tak menyangka bayangan Diaz berhasil menetap di pikirannya. Mungkinkah Keyla benar, Diaz adalah orang yang terbaik? Lalu, bagaimana asmara Alana pada Diaz? Walaupun Alana merasa lebih nyaman dengan Diaz, tetapi Brian juga membuat Alana bisa membuka hati. "Ya Allah, baru mulai buka hati tapi kenapa rumit gini sih." Batin Alana.
***
Keesokan harinya, kampus gempar karena video rekaman CCTV tenggelamnya Diaz di Danau tersebar. Mahasiswa tak percaya dengan insiden tenggelamnya Diaz yang membuat Alana memberikan nafas buatan untuk Diaz. Kejadian itu membuat Vanes murka, dia dan gengnya sampai menghadang Alana masuk kampus di gerbang kampus.
"Guys, itu kenapa Vanes sama gengnya nongkrong di gerbang sih," ucap Keyla heran, memandang Alana dan Vita bergantian.
"Mungkin lagi nunggu Diaz. Kan kalian tahu Vanes lagi bucin sama Diaz," sahut Alana enteng.
"Sudahlah, ayo kita masuk. Nggak usah pikirin geng itu," timpal Vita tegas.
Alana dan gengnya berjalan masuk ke kampus, namun Vanes dan kedua gengnya menghadang Alana dan sahabatnya.
"Minggir, kita mau lewat," ucap Alana tegas.
"Dasar wanita abal-abal. Di kampus sok jadi pahlawan dan nggak mau kenal cowok karena nggak butuh cinta. Ternyata di belakang malah sok kasih nafas buatan ke cowok yang aku cinta," sahut Vanes ketus.
Alana mengernyitkan kening heran. "Maksudnya?"
Vanes menghela napas kesal. "Cepat buka youtube kampus ini, seisi kampus udah gempar," ungkapnya murka.
Alana menelan ludah, dia gelisah dan buru-buru membuka channel YouTube kampus. Saat itulah Alana dan sahabatnya membelokkan mata melihat rekaman CCTV insiden Diaz tenggelam di Danau, bahkan rekaman itu full dan tidak ada yang di blur. Alhasil adegan Alana memberikan napas buatan untuk Diaz pun sangat jelas.
"Mati aku! Kenapa jadi gini sih?! Siapa yang nyebarin sih," ucap Alana dalam hati.
"Alana, siapa yang nyebarin ini sih?" tanya Vita heran, dia menatap Alana dan Vanes.
Sementara Keyla maju dan menatap Vanes murka. "Pasti kamu yang nyebarin ini kan. Ayo ngaku," desaknya dengan nada tinggi.
"Jangan ngaco ya! Mana mungkin aku yang sebarin. Aku marah ya karena Alana beraninya kasih itu ke Diaz! Diaz itu cuma milikku," tegas Vanes murka.
"Udahlah guys, ayo masuk. Ntar kita telat," timpal Alana pasrah, dia berjalan lebih dulu.
"Alana," panggil Vita dan Keyla, lalu mengejar Alana.
Alana, Vita dan Keyla berjalan masuk ke gedung kampus. Namun semua mata mahasiswa memandang Alana, pandangannya tampak sinis dan mengejek Alana. Sebagian mahasiswa berkata memberikan tanggapan mengenai Alana yang mencari kesempatan Diaz agar dekat dengan anak rektor.
"Nggak nyangka ya, Alana yang kita kenal anti sama cowok malah ngambil kesempatan. Nggak main-main lagi, langsung ke anak rektor yang tenggelam," seru mahasiswi berambut panjang.
"Mungkin biar bisa cepet jadi dokter, atau jangan-jangan nilainya selama ini bagus karena sifatnya yang sok deketin Diaz," sahut mahasiswi lain.
"Berarti nggak pantes dong jadi dokter. Katanya kan belajar aja nggak pernah, mustahil kalau dapat nilai Agama terus," timpa yang lain.
Alana geram mendengar ejekan teman-temannya, hatinya perih karena mereka menganggap nilai bagus hasil kedekatan dengan Diaz. Padahal sebelum Diaz masuk kampus ini pun nilai Alana sudah bagus. Alana pun mengepalkan tangan dan hendak membalas ejekan mereka.
"Stop! Kalian pikir aku manfaatin Diaz buat nilai bagus?! Nilai itu hasil kerja kerasku. Aku mengerjakan dengan kerjaku," ucap Alana murka.
"Kalau emang hasil kerja kerasmu, mana buktinya?! Kan kamu nggak pernah belajar," sahut mahasiswa berambut cepak.
"Iya, aku akan yang belajar tiap hari nggak bisa dapat nilai A," ungkap perempuan sang kutu buku.
Alana menelan ludah gusar, dia bingung harus menjawab apa. Memang, Alana tak pernah belajar. Tetapi buktinya setiap soal atau tugas yang diberikan Dekan memang benar. "Aduh, aku jawab apa nih." Batin Alana.
"Kenapa?! Nggak bisa jawab kan. Kalau memang itu hasil kerja kerasmu, buktikan dong," ucap mahasiswi berjilbab.
"Oke, aku berjanji. Aku akan buktikan semua nilai yang kudapatkan hasil pemikiranku. Bukan memanfaatkan keadaan atau dekat dengan Diaz," janji Alana.
"Dengan cara apa kamu akan buktikan?!" tantang mahasiswi berjilbab.
Alana menelan ludah, dia bingung harus menjawab apa. "Aku, aku harus buktikan apa?"
Mahasiswi berjilbab mengulum senyum. "Kami minta kamu bertanggung jawab dengan fakultas yang kamu ambil. Kami akan percaya nilai kamu bagus setelah kamu menjadi dokter, buktikan!," tantang nya.
Alana mendelik menatap mahasiswi berjilbab, mengapa dia memintanya berjanji. Ya Tuhan, Alana tengah bimbang akan fokus kuliah dan menjadi dokter atau tidak. Namun, mengapa seluruh mahasiswa malah minta berjanji menjadi dokter? Andai Alana tak memberikan napas buatan untuk Diaz, keadaannya tak serumit ini.
"Kenapa diem? Nggak sanggup kan," ejek mahasiswi berjilbab sinis.
Alana geram dengan ejekan mahasiswa, diam-diam dia menghela napas dan berkata tegas. "Aku akan buktikan ke kalian semua! Aku bisa akan kuliah sungguh dan menjadi dokter hebat. Dengan begitu kalian nilai aku nggak memanfaatkan Diaz."
"Oke, kami akan tunggu janjimu Alana," ucap mahasiswi berjilbab lalu pergi.
Mahasiswa yang lain pun mengikuti pergi, sementara Alana kesal karena dipermalukan. Dia berjanji akan membuktikan omongannya.
"Alana, jadi kamu bakalan fokus kuliah nih?" tanya Keyla penasaran.
"Iya Alana, kamu bakalan jadi dokter?" balas Vita penasaran.
"Iya! Aku akan fokus kuliah dan buktiin ke mereka kalau aku bukan pecundang, aku nggak terima dengan penghinaan ini," ungkap Alana murka.
"Kalau kamu sampai ingkar, apa kamu berani bertanggung jawab?" tanya mahasiwa lain.
Alana mengepalkan kedua tangannya kesal. "Aku akan bertanggung jawab. Kalian bisa pegang janjimu, aku bukan orang yang mudah ingkar janji."
Keyla tersenyum. "Ya udah, sabar ya. Kita. masuk kelas yuk," ajaknya lembut.
"Iya," sahut Alana.
Alana, Vita dan Keyla saling menguatkan. Mereka berjalan masuk ke fakultas masing-masing. Sementara Alana berusaha fokus dan memantapkan hatinya menjadi dokter sepenuh hati. Apa Alana bisa fokus menjadi dokter? Sementara Alana belum bisa meninggalkan dunia balapnya, semakin Alana meninggalkan dunia balap maka ingatannya pada masa lalu tentang cinta dan kepahitannya semakin kuat. "Andai aku masih bahagia bersama dia, aku nggak akan menderita. Pastinya aku bisa sabar dan siap menjadi dokter." Batin Alana sedih.
***