Bab 34

3431 Kata
Tanggal merah, Diaz sengaja ke rumah Alana jam 8 pagi. Diaz ingin mengajak Alana menikmati keindahan Bukit kembali. Diaz pun memencet bel rumah Alana, dia gugup kembali bertemu Alana setelah pulang dari rumah sakit. Apalagi insiden Alana memberikan napas buatan untuknya membuat Diaz merasa malu, tetapi insiden itu membuat Diaz yakin telah mencintai Alana. Untuk itulah Diaz berusaha mengenal Alana lebih jauh lagi. "Diaz," sapa Alana setelah membuka pintu, Alana tersipu malu karena hanya mengenakan kaos oblong dan jeans sebatas lutut. "Hai, kamu hari ini sibuk nggak?" tanya Diaz gugup. "Enggak sih, tapi kamu kok nggak bilang sih mau kesini. Kan aku malu pakaiannya kaya gini," ungkap Alana tak berani menatap mata Diaz. Alana merasakan tubuhnya memanas disertai getaran di hatinya. Pagi ini Diaz sangat tampan dengan setelan Alana tomboy. "Diaz kenapa ganteng banget sih. Aku jadi grogi gini." Batin Alana. "Aku pengen ajak kamu ke Bukit lagi. Katanya disana ada konser band loh," ucap Diaz ragu. "Wah mau dong, aku lagi bete nih di rumah. Semalaman belajar, suntuk," gerutu Alana seraya melibatkan tangan di d**a. "What? Belajar. Sejak kapan kamu belajar," ucap Diaz heran. Alana menghela napas kesal. "Sejak seminggu yang lalu, semua mahasiswa ngira aku manfaatin kamu dan Bu Maria. Makannya aku selalu dapat nilai A, tentunya aku nggak terima. Udahlah, kamu tahu kan semuanya." "Sory ya, gara-gara insiden di Danau kan. Harusnya kamu nggak usah kasih pertolongan aja ke aku, kamu langsung bawa aku ke rumah sakit aja," ungkap Diaz merasa bersalah. Alana tersenyum manis. "Kalau gitu, sama aja aku pembunuh berdarah dingin. Aku ini calon dokter, so keselamatan orang adalah prioritasku. Kamu nggak usah merasa bersalah, aku sudah mulai sadar dan berusaha menjalani komitmenku fokus kuliah. Aku mau fokus dan berusaha menjadi dokter," janjinya mantap. "Aku selalu doain yang terbaik buat kamu ya," sahut Diaz mengulum senyum. "Ya udah, masud dulu gih. Aku mau siap-siap dulu," ajak Alana lembut. "Iya, makasih ya," sahut Diaz, lalu mengikuti Alana masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah Alana naik ke lantai dua, Bu Rista menghampiri Diaz. Diaz yang baru pertama ketemu Bu Rista, terkejut melihat kehadiran Bu Rista. "Halo, kamu Diaz temannya Alana ya," ucap Bu Rista ramah. "I-iya tante," sahut Diaz gugup. "Silahkan duduk Nak, Alana sering cerita soal kamu ke Tante. Kamu anaknya Bu Maria ya," ungkap Bu Rista ramah. Diaz tak bergeming, dia masih tak percaya dengan apa yang dia lihat. Walaupun tak lama bertemu, Diaz masih ingat betul wajah orang tua cinta masa lalunya, dan wajah Bu Rista mirip dengan wajah mamanya Cindi. Pikiran Diaz makin tak karuan, dia menjamah pandangannya karena berharap menemukan barang bukti kalau Alana adalah cinta masa lalunya. "Ya Allah, apakah Alana adalah cinta masa lalu aku?" Batin Diaz. "Nak Diaz, kamu kenapa?" tanya Bu Rista khawatir. Diaz hendak melontarkan pertanyaan, sayangnya mendadak kepalanya sakit dan dia mimisan. Diaz hampir kehilangan penglihatannya jika Diaz tak bisa menguasai dirinya. "Maaf tante, aku pulang dulu ya. Sampein maaf aku ke Alana," pamit Diaz, lalu berjalan cepat keluar rumah Alana. Sepeninggal Diaz, Alana menghampiri sang mama. Alana tampil cantik dengan outfit kekinian, namun keningnya berkerut karena Diaz tak ada. "Loh itu kaya motor Diaz Ma," ucap saat mendengar motor Diaz menderu menjauhi rumahnya. "Iya sayang, tadi dia minta maaf karena mendadak pergi," sahut Bu Rista sedih. Alana mendengus kesal karena Diaz mendadak mengingkari janjinya. Padahal Alana sudah bersiap kembali ke bukit dan merajut kenangan indah bersama Diaz. "Udah, kamu jangan sedih. Mendingan kamu jalan-jalan aja sama Vita dan Kayla, Mama yakin kamu seneng lagi," pinta Bu Rista mengulum senyum dan memegang tangan Alana. "Males ah Ma, aku mau belajar aja." Alana berkata malas, dia beranjak dengan kaki diseret ke lantai dua. "Ya udah, belajar yang rajin ya Nak. Mama udah nggak sabar liat kamu jadi dokter," ucap Bu Rista dengan nada tinggi agar Alana mendengarnya. "Iya ma," sahut Alana dari lantai atas. *** Diaz masuk ke paviliun tempat di mana dia menyimpan semua kenangan bersama cinta pertamanya. Dia tak menghiraukan sakit kepalanya yang tak tertahankan, dalam pikirannya hanya Alana dan cinta masa lalunya. Doa membuka lemari dan melihat kumpulan foto bersama Cidi, panggilan cintanya. "Alana, jadi kamu adalah Cindi. Jadi, selama ini aku udah temuin kamu. Tapi kenapa diantara kita nggak ada yang mengenali, Alana," ucap Dia merasa bersalah karena tak mengenali Alana sebagai cinta pertamanya. "Aku sudah tahu semuanya," ucap Alvar tegas, berjalan menghampiri Diaz. Diaz menatap Alvar, mengapa sepupunya itu bisa datang. "Apa maksud kamu?!" tanyanya penasaran. "Iya, sejak pertemuan pertama gue sama Alana. Sejak itu gue curiga tentang Alana dan nyokapnya, apalagi pas gue liat nyokap Alana. Gue yakin itu cinta masa lalu loe," ungkap Alvar merasa sedih. "Kenapa loe nggak bilang sama gue?" tanya Diaz murka. "Karena gue liat Alana udah berubah, dia udah nggak seperti dulu lagi. Lebih tepatnya, Alana bukan gadis seperti yang loe kenal dulu. Bahkan loe tau kan Vita sama Kayla bilang kalau Alana nggak mau kenal cowok, apalagi cinta. Itu karena masa lalunya yang berat. Alana pikir loe ninggalin dia pas dia kecelakaan," sahut Alvar tegas. Diaz menitikkan air mata. "Itu artinya, gue cuma masa lalu Alana. Dia udah nggak cinta sama gue karena dia udah mencintai Brian," pasrahnya. "Loe nggak boleh pesimis, loe harus kejar cinta dia lagi. Selama ini gue kirim surat kaleng buat dia biar dia jagain loe, gue yakin Alana bisa buat loe bangkit dan lebih baik. Bener kan semua perkataan gue." "Jadi loe kirim surat kaleng ke Alana?! Kenapa loe lakuin itu? Gimana kalau sampai dia tahu dan marah ke gue," tukas Diaz. "Loe harus tenang! Gue yakin masih ada cinta buat loe di hati Alana," ungkap Alvar yakin. Diaz mencoba mencerna ucapan Alvar, apa mungkin Alvar benar. Diaz berniat menuruti kemauan Alvar untuk jujur ke Alana, namun mendadak dokter yang memvonisnya mengidap penyakit Leukimia memenuhi pikirannya. "Nggak! Percuma gue jujur kalau gue bakal ninggalin dia. Percuma." Batin Diaz. "Pliss, gue yakin loe bakalan bahagia sama Alana," pinta Alvar memelas. "Gue nggak tahu," pasrah Diaz. Alvar kesal mendapat jawaban Diaz. "Kalau loe nggak bisa bertindak, gue yang akan bertindak. Gue yakin Alana akan bahagia dengan kabar ini." Alvar beranjak, namun tangannya ditahan Diaz. "Jangan bertindak tanpa izin dari gue," pinta Diaz tegas. Alvar menatap Diaz berwibawa. "Asal loe mau selesaikan permasalahan loe di masa lalu, gue nggak akan mendahului loe." "Gue akan selesaikan masalah gue, tapi loe jangan ikut campur," pinta Diaz mantap. "Oke, gue janji nggak akan ikut campur. Tapi kalau tindakan loe nggak becus, terpaksa gue bertindak," tantang Alvar mantap. Diaz mengangguk, dalam hatinya menyalahkan Alvar karena tak mengerti perasaannya. Andai saja Alvar mengetahui penyakitnya, apa Alvar akan memaksa Diaz mengatakan kejujuran itu dan membuat Alana kembali menderita karena kehilangan Diaz kedua kalinya? "Gue tinggal dulu ya bro," ucap Alvar saya menepuk bahu Diaz, lalu pergi. Diaz duduk di kursi kayu yang penuh debu, dia menatap fotonya dengan Alana yang mengenakan seragam abu-abu. Seketika, kenangan indahnya bersama Alana muncul di kepalanya. Diaz dan Alana tengah menikmati keindahan taman di kawasan Jakarta. Diaz memegang tangan lembut Alana, namun Alana malah menepisnya kuat. "Alana, kamu kenapa sih?" tanya Diaz kecewa karena Alana tak bersedia di pegang tangannya. "Bukan muhrim, kita kan masih SMA. Mendingan ntar aja pas kuliah atau lulus kuliah ya," pinta Alana terkekeh. "Itu mah masih lama. Kalau nantinya kamu nggak kenal aku atau nggak cinta lagi gimana," ledek Diaz, namun mendapat cubitan di lengannya. "Jangan asal ngomong. Bagi aku, kamu itu cinta pertama dan terakhirku. Walaupun ini cinta monyet, tapi aku tulus sayang sama kamu," sahut Alana sepenuh hati. "Kalau ada cowok lain yang nembak kamu gimana?" tantang Diaz memandang wajah Alana. "Ya aku tolak semua! Intinya, aku akan buka hati lagi setelah kita bertemu," janji Alana. "Emangnya kamu bakalan tahu aku dimana? Kalau suatu saat kita dipisahkan dan kita nggak saling kenal gimana." Alana langsung mendelik mendengar ucapan Diaz yang tak seperti biasanya. "Jangan ngomong gitu, jangan ucapkan yang nggak baik karena bisa jadi doa. Tapi, walaupun kita dipisahkan tapi kan hati kita tetap bersama. Hati aku akan mengetahui dimana hati kamu berada, saat itulah hati aku kembali terbuka." "Arghhhh." Diaz berteriak frustasi mengingat kenangan indah bersama Alana. Ternyata Alana memenuhi janjinya untuk menutup hati untuk wanita dan kembali membuka hati saat bertemu dengannya. "Ya Allah, apa aku bisa jujur ke Alana siapa aku sebenarnya?" tanyanya pesimis. *** "Diaz," panggil Alana dengan lantang. Dia berjalan cepat menghampiri Diaz yang hendak ke kantin. Diaz tak percaya akan bertemu dan memandang wajah Alana, padahal sejak pagi sengaja menghindari Alana. Ternyata Alana bisa menemukan keberadaannya. Diaz pun menoleh ke belakang dan mengulum senyum terpaksa. "Hai," sapa Diaz ragu. "Kamu kenapa sih malah pulang? Aku udah bela-belain rapi-rapi dan menolak ajakan Kak Brian di telepon. Tapi kamu malah pergi gitu aja," gerutu Alana seraya melibatkan tangan di d**a. Diaz tak bergeming, dia hanya memandang wajah Alana dalam. Dadanya terasa sakit karena merasa bersalah pada Alana, seandainya Diaz lebih giat mencari keberadaan Alana dan mamanya pasti ceritanya akan lain. Alana tak harus memendam cinta dan menolak kamu laki-laki yang mencintainya, akibatnya kaum laki-laki menganggap Alana sebagai gadis aneh dan tak seperti wanita lainnya. "Diaz, kok malah diem sih. Eum… kamu marah ya sama aku?" tanya Alana mulai panik, dia tak ingin bertengkar dengan Diaz. Diaz menggeleng. "Aku nggak marah kok, justru aku mau kasih hadiah ke kamu. Itu sebagai permintaan maaf kemarin," ungkapnya cepat. "Serius nih, emang mau kasih apa an?" tanya Alana penasaran. "Kita ke taman bunga, aku yakin kamu bakalan suka," ucap Diaz mantap. "Oke," sahut Alana cepat. Penampilan Alana memang sudah berubah menjadi tomboy, namun Diaz tahu betul semua hal yang Alana sukai. Khususnya taman bunga, Alana akan bahagia dan bisa menghilangkan kesedihannya setiap di ajak ke taman bunga. "Maafin aku Alana, aku nggak bisa jujur ke kamu untuk saat ini. Aku takut kamu akan marah dan nggak mau ketemu lagi, tapi aku akan kasih kamu kebahagiaan dan kenangan terindah sebagai laki-laki di masa depan kamu. Bukan sebagai laki-laki di masa lalu. Semoga, saat waktunya aku jujur ke kamu bisa siap dan kamu bisa maafin aku." Batin Diaz. "Bentar ya," ucap Alana saat mendengar ponselnya berdering, Alana mengulum senyum dan menjauh dari Diaz untuk mengangkat telepon. Sementara Diaz penasaran Siapakah yang menelepon Alana, dia khawatir kalau sang penelpon adalah Brian. "Siapa sih?" tanyanya penasaran. "Halo Kak, ada apa?" tanya Alana setelah mengangkat panggilan dari Brian. "Alana, maaf nih. Aku eum… aku pengen ketemu kamu. Kamu ada waktu nggak?" tanya Brian ragu di seberang sana. "Hari ini sih aku ada urusan Kak. Tapi besok aku free kok," sahut Alana mantap. "Oke, besok aku jemput kamu ya. Aku jemput setelah pulang kuliah," janji Brian. Alana mengulum senyum, dia bahagia karena Brian kembali meminta bertemu. "Oke Kak, sampai ketemu besok ya." Alana berkata semangat, lalu menutup telepon. Saat itulah Diaz berjalan menghampiri Alana. "Diaz," panggilannya lembut. "Siapa yang nelpon? Kamu mendadak seneng gitu," ungkap Diaz penasaran. "Kak Brian minta ketemuan. Tapi aku bisanya besok karena hari ini mau ada urusan sama kamu," sahut Alana berbinar-binar. "Oh." Diaz menampakkan wajah tak suka pada Brian, bukan karena tak mau Alana mengenal laki-laki lain. Namun Diaz tak rela Brian memaksa Alana berubah feminim tanpa kemauannya sendiri. Sebagai laki-laki yang mencintai Alana, Diaz memiliki tanggung jawab yang besar. "Sebelum Alana di buat celaka, aku harus kasih peringatan ke dia." Batin Diaz. *** Di kantin, Alana dan Diaz tertawa bersama karena cerita Diaz yang menggelitik perut Alana. Sayangnya, keseruan itu hilang karena Vanessa datang menyiramkan orange jus Alana ke baju Alana. Sontak insiden itu menjadi tontonan mahasiswa di kampus. "Alana, kamu baru aja berjanji nggak akan manfaatin Diaz dan Bu Maria. Nyatanya apa?! Kamu malah semakin nempel sama Diaz. Nggak malu kamu?!" tukas Vanes, membuat Diaz maupun Alana geram. Sementara para mahasiswa tampak menggunjing Alana dan membenarkan ucapan Vanes. Malahan ada yang mengambil video pertengkaran Alana dan Vanes sebagai konten mereka. Alana pun murka karena dia menjadi gunjingan mahasiswa, padahal dahulu semua mahasiswa tunduk padanya. Alana pun kehabisan kesabaran dan menampar Vanes. "Alana," pekik Vanes geram seraya memegangi pipi bekas tamparan Alana. "Kamu jangan asal nuduh ya! Kebersamaan aku nggak ada urusannya dengan janji aku. Aku sama Diaz teman, sok nggak akan melanggar janji," ucap Alana mantap. Vanes tersenyum sinis. "Jelas berkaitan! Kamu berdekatan dengan Diaz, Diaz itu cuma milikku," tegasnya mendelik pada Alana. Hati Alana memanas mendengar perkataan Vanes, dia sakit hati karena Vanes yang sejak dahulu dia bully dan rendahkan berubah mengejek Alana. Dan, itu semua karena kedatangan Diaz ke kampus. Andai saja Diaz tidak hadir, pasti keadaannya tidak akan berbalik. Alana pun melirik Diaz, tatapannya penuh emosi memandang Diaz. "Alana," panggil Diaz ragu. "Aku ingetin sama kamu ya. Aku nggak ada hubungan apapun sama Diaz, terserah dia mau sama siapa aja termasuk aku.Toh kita cuma temen.," ucap Alana tegas menatap Vanes, lalu pergi. *** Alana menenangkan diri di danau, dia tak terima perlakuan Vanes. Sementara di sisi lain, Vita dan Keyla berjalan cepat menghampiri Alana. "Ya ampun Alana, kamu nggak papa kan?" tanya Vita khawatir, dia duduk di samping Alana. "Kamu nggak usah masukin ucapan Vanes ke hati ya. Dia merasa menang aja karena terbebas dari kamu, makanya dia sok memiliki Diaz," ucap Keyla menenangkan Alana. "Dia keterlaluan! Beraninya dia permalukan aku di depan banyak orang. Aku nggak bisa Terima ini, aku belum tahu siapa yang nyebarin rekaman CCTV eh udah ada masalah baru. Kenapa sejak niat mau berubah justru banyak masalah?! Kalau tau kaya gini, gak akan berubah," sesal Alana, dia menitikkan air mata dan langsung di sela. Keyla dan Vita memegang bahu Alana, mereka menyandarkan kepalanya di bahu Alana. Alana pun berusaha tersenyum demi kedua sahabatnya. "Kamu harus kuat ya, aku yakin ini cobaan kamu menjadi lebih baik. Pastinya akan ada waktu kamu bahagia dan melupakan semua masalahmu," ucap Keyla menenangkan Alana. Vita membenarkan posisinya, dia menatap Alana tajam. "Aku rasa, kamu coba jauhi Diaz deh. Sekarang, Vanes lagi bucin-bucin nya ke Diaz. Kalau kamu terus deketin dia makan Vanes semakin murka dan jadiin kamu target balas dendamnya dia karena selama ini dibully kamu," ungkapnya tegas. Alana tampak berpikir, namun dia tak menjawab ucapan Vita. Malahan, Keyla yang murka dengan pemikiran Vita. "Kamu jangan jadi kompor dong, Diaz juga andil dalam Alana membuka hati loh. Kalau Diaz nggak pindah ke sini, pasti Alana nggak bakal tertantang ladenin sikap Diaz," timpa Keyla cepat. Alhasil, terjadilah perdebatan antara Keyla dan Vita. Sementara itu, di sisi lain tampal Diaz memperhatikan Alana sendu. Dia merasa bersalah karena Alana mendapat masalah karena sikapnya. "Maafin aku Alana. Aku nggak menyangka kejadiannya bakal seperti ini, ternyata apa yang aku usahakan malah membuatmu menderita dan dikucilkan. Bahkan Vanes menjadikan ini kekuatannya untuk membalas semua perlakuan kamu." Diaz kembali mengingat pertemuannya dengan mahasiswi berjilbab yang dia temui. Ternyata Diaz sengaja menyebarkan rekaman CCTV untuk memancing perubahan Alana, setelah itu Diaz membayar mahasiswi berhijab yang bernama Lastri untuk memperkeruh keadaan dengan tujuan memotivasi Alana berubah menjadi lebih baik. Sayangnya keadaannya semakin kacau. "Lastri, apa kamu bisa melakukan yang aku minta?" tanya Diaz tegas. Lastri tersenyum. "Aku bisa karena aku juga teman Alana. Aku pengen dia berubah menjadi lebih baik dan menggapai cita-citanya menjadi dokter." Diaz mengangguk, lalu memberikan bayaran ke Lastri. "Nih buat kamu," ucapnya lembut. "Nggak usah. Aku ikhlas kok bantuin kamu,," ungkap Lastri menyerahkan kembali uang ke Diaz. "Oke, kamu ingat ya. Kamu jangan buat Alana terpojok, tapi buat Alana mau memperbaiki diri dan buat dia fokus menggapai cita-citanya," pinta Diaz mantap. "Siap, aku akan lakukan semuanya. Demi kebaikan Alana," janji Lastri. Diaz mengusap wajahnya karena frustasi keadaannya semakin kacau. Andai Alana tahu semua ini karena ulahnya, Alana pasti semakin marah dengannya. Belum lagi jika Alana mengetahui Diaz adalah laki-laki di masa lalunya, masa lalu yang membuat Alana terpuruk sampai sekarang. "Ya Tuhan, kenapa jadi peluk begini." Batin Diaz frustasi. *** Pulang kuliah, Diaz menghampiri Alana di parkiran. Diaz melemparkan senyuman manis, sayangnya Alana malah terkesan acuh tak acuh. "Alana, pulang bareng yuk. Kita balapan," ajak Diaz semangat. "Maaf Diaz, aku rasa hari ini jangan ke Bukit dulu ya. Aku harus bantuin mama masak," ungkap Alana tak berani memandang Diaz. "Loh, kenapa? Tadi kan kamu semangat banget mau ke Bukit. Hari ini lebih membahagiakan dibanding pas itu," bujuk Diaz. Alana menggeleng kuat. "Lebih baik kamu ajak Vanes aja, dia lebih membutuhkan kamu dibanding aku." Diaz menelan ludah, apa yang dikhawatirkan terjadi. Alana kecewa padanya akibat perilaku Vanes di kantin, Alana pasti tak bisa memaafkannya saat mengetahui semuanya. Namun Diaz tak menyerah, dia berusaha meminta maaf pada Alana. "Alana, aku ngaku salah. Aku udah geser popularitas kamu di kampus, bahkan mahasiswa yang tadinya tunduk ke kamu jadi nggak. Jujur! Aku menyesal melakukan semua itu, tapi aku janji akan melindungimu. Aku nggak akan biarin mereka nyakitin kamu," ungkap Diaz mantap. "Nggak perlu. Aku masih bisa jaga diriku sendiri kok, untuk sementara kita jaga jarak aja sampai semuanya aman," pasrah Alana, membuat Diaz terkejut. "Jangan Alana. Aku, aku udah anggap kamu sebagai sahabat. Aku nggak mau bermusuhan lagi." Diaz berusaha meminta maaf pada Alana, dia memegang tangan Alana. "Maaf," ucap Alana lirih seraya melepaskan tangan Diaz, lalu pergi. "Kenapa jadi gini sih. Aku harus bujuk Alana biar maafin aku," gumam Diaz. "Diaz, tunggu." Keyla berkata lantang, sontak menghentikan langkah Diaz. Keyla berjalan dan berhenti di hadapan Diaz. "Jangan kejar Alana. Biarkan dia menenangkan diri, kalau kamu bujuk dia sekarang nggak akan bisa. Yang ada dia makin marah ke kamu," nasehatnya bijak. "Tapi aku nggak enak sama Alana, Key. Dia kayaknya marah banget," ucap Diaz gelisah. "Aku tahu, aku janji bakalan bantuin bujuk Alana. Dia cuma marah sesaat aja kok, percaya deh sama aku. Alana cuma butuh waktu aja," sahut Keyla mantap. Diaz mengangguk, namun hatinya masih gelisah karena tindakannya membuat Alana kecewa. Padahal Diaz memiliki niat baik ingin merubah Alana menjadi pribadi lebih baik, sayangnya kebaikan dan sikapnya yang salah berkaitan sehingga membuat Alana marah. "Oke, kalau gitu aku permisi," pamit Diaz karena kepalanya mulai berputar-putar. "Iya," sahut Keyla mengulum senyum. Diaz beranjak jalan, mendadak keseimbangannya hilang. Untunglah Keyla sigap menahan tubuh Diaz agar tak tumbang, namun Alana shock melihat darah segar keluar dari hidung Diaz. Bahkan wajah Diaz seketika pucat disertai keringat dingin di sekujur tubuhnya.. "Ya Allah, Diaz kamu kenapa? Kenapa mimisan lagi," ucap Keyla khawatir. "Aku nggak papa, a-aku bisa minta tolong antar pulang?" pinta Diaz ragu, dia terpaksa meminta pertolongan Alana karena tubuhnya tak mau tegak lagi. "Iya aku antar, tapi kamu minum dulu ya," ucap Keyla makin khawatir. Diaz menggeleng kuat. "Aku nggak mau sampai Alana liat, kita cari Taxi online sekarang juga," pintanya lirih. "Oke." Keyla merapat Diaz yang semakin lemah, dia merapat Diaz keluar gedung kampus mencari Taxi online. Setelah Taxi datang, Keyla merapat Diaz masuk. Barulah dia masuk. "Diaz, mendingan kita ke rumah sakit aja ya. Kenapa kamu sampai kaya gini sih," nasehat Keyla cemas. "Nggak usah, aku nggak papa kok. Tolong ambilin obat di tas aku aja," pinta Diaz tetap tenang, dia tak ingin Keyla ikut cemas. "Iya." Keyla mengambil obat di tas Diaz dengan tangan bergetar, baru kali ini dia melihat seseorang seperti menahan sakit yang teramat. "Ini," lanjutnya seraya menyerahkan 5 kapsul dan 1 botol air mineral ke Diaz. "Makasih ya Key." Diaz segera meminum obat itu, dia menyandarkan kepalanya di jok mobil dan memejamkan matanya. Membiarkan pikirannya lebih tenang dan badannya kembali memiliki tenaga. "Kayaknya, kamu udah antisipasi ya. Sampai kamu sediakan obat di tas," tebak Keyla menatap Diaz penuh tanya. Diaz menelan ludah, dia bingung harus menjawab apa Ternyata Keyla kritis dalam berbagai hal, Diaz semakin terkejut saat Keyla mengambil bungkus plastik obat-obatannya dan membaca nama kapsul yang tertera di plastik. "Keyla," panggil Diaz, dia langsung merebut semua obat dari tangan Keyla. "Kenapa diambil? Aku pengen baca," ucap Keyla kesal. Diaz terkekeh. "Emangnya kamu mau jadi calon dokter kaya Alana? Kamu kan anak komunikasi." "Ya bukan gitu sih, cuma perasaan aja. Jujur aku baru liat obat-obatan kaya gitu, kaya bukan obat warung," ungkap Keyla membuat Diaz semakin gugup. "Udahlah nggak usah berpikiran yang enggak-enggak. Kamu antar aku pulang ya, Alvar nyariin kamu tuh," ucap Diaz mengalihkan obrolan. Keyla langsung tersipu malu mendengar nama Alvar, namun dia bahagia karena saat ini tumbuh letupan aneh di hati Keyla. Sepertinya Keyla sudah mencintai Alvar. "Emangnya kenapa? Ntar kekasih dia marah," gengsi Keyla. "Alvar itu nggak pernah punya pacar. Dia itu ngakunya Edward Cullen, tapi jomblo menahun," cerita Diaz, membuat Keyla tak percaya ada laki-laki seganteng Alvar betah menjomblo. "Oke, aku temui Alvar sebentar," pasrah Keyla, diam-diam dia mengulum senyum. Semntara Diaz diam-diam melirik Keyla, sepertinya dia harus berhati-hati dengan Keyla. Jangan sampai Keyla curiga mengenai penyakit maupun obat-obatan Diaz yang tak seperti obat warung. Jika Keyla tahu, pasti akan mengadu ke Alana. "Aku harus atur semuanya lebih baik. Jangan sampai Keyla tahu, bisa-bisa Alana shock dan kasihan sama aku." Batin Diaz. *** "Hati-hati Diaz," Alana merapat Diaz masuk ke rumah Diaz dan membantunya duduk di sofa ruang tamu. "Keyla, Diaz kenapa?" tanya Alvar turun dari tangga, dia menghampiri Keyla dan Diaz dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Diaz bilang nggak papa. Padahal aku udah suruh dia ke rumah sakit, tapi nggak mau," cerita Keyla memandang Alvar sendu. "Diaz emang nggak pernah mau ke rumah sakit. Ya kecuali Alana yang minta, pasti dia mau. Kaya yang udah-udah kan, 2 kali Diaz ke rumah sakit nggak nolak," ungkap Alvar menggoda, membuat Diaz tersipu malu. "Apaan sih kamu. Jangan dengerin Alvar, dia mah ngaco. Dari kecil aku emang anti ke rumah sakit," ucap Diaz berbohong. Keyla memperhatikan wajah Diaz, hatinya mengatakan penyakit mimisan Diaz bukanlah penyakit biasa. Apakah mungkin ada hal besar yang Disembunyikan? "Keyla, aku buatin minum ya. Kamu mau minum apa?" tanya Alvar ramah. "Nggak usah, aku langsung pulang ya. Ada hal penting yang mau aku urus," pamitnya seraya menyampaikan tas di bahu. "Oke, Hati-hati ya Key. Thanks banget udah nganterin Diaz pulang," sahut Alvar menggoda Keyla. Alvar mengangguk, dia kemudian mengantar Keyla sampai di gerbang rumah Diaz. Memperhatikan Keyla naik Taxi online, Alvar semangat karena ditemani Keyla walaupun hanya beberapa saat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN