Alana, Keyla dan Vita asik berenang di kolam renang di rumah Alana. Kolam renang favorit Alana dan sahabatnya setiap hari minggu, Alana dan Vita tampak bersemangat adu renang. Mereka semangat berenang dari sudut kolam renang menuju ujung kolam renang, namun Keyla malah melamun. Keyla hanya duduk di tepi kolam renang dengan kaki di air.
Vita yang penasaran langsung menghampiri Alana. "Alana, tuh anak kenapa sih? Beberapa hari ini kok jadi sering melamun ya," ucapnya seraya melirik Keyla.
"Iya sih aku juga ngerasain. Tapi lagi mikirin Alvar kali, dia kan naksir Alvar," sahut Alana berpikiran positif.
"Kita samperin yuk, kasian dia," ajak Vita cepat.
"Iya." Alana mengangguk, lalu menghampiri Keyla bersama Vita.
"Key, kamu lagi ada masalah ya?" tanya Vita penasaran.
Keyla menelan ludah gusar, di tak harus harus menjawab apa. Sebenarnya, Keyla tengah memikirkan kesehatan Diaz. Rasanya, mustahil seseorang sehat tetapi sering mimisan dan terdapat gangguan kesehatan lainnya. "Aduh, Alana mulai penasaran lagi. Tapi Diaz wanti-wanti nggak bilang ke Alana." Batin Keyla.
"Key, kalau kamu ada masalah kasih tau ke kita. Kita siap bantu kok, apa Alvar nyakitin kamu?" ucap Alana menerka-nerka.
"Emmm sebenarnya aku dapat tugas dari Diaz, dia nyesel banget udah permalukan kamu dengan sikap pertemuan pertama kalian. Tapi dia nggak tahu bakalan runyam kaya gini, makanya dia pengen aku bilang ke kamu supaya kamu maafin dia," sahut Keyla. Dia memilih mengatakan itu agar Alana dan Diaz baikan.
"Malas ngomongin dia. Kalau dia emang serius pengen minta maaf biarin dia kesini, minta maaf sendiri. Aku nggak bakalan maafin dia kalau dia nggak ada perjuangan," sahut Alana kesal.
"Cie cie, perjuangan seperti cinta kamu ke Brian ya. Awas loh jangan sampai nggak dapat 1 pangeran, kamu harus cepat menentukan siapa pangeran yang kamu pilih," goda Vita cengengesan.
Alana mengerucutkan bibir kesal. "Tau ah, pangerannya yang nggak ada becus. Nggak kayak dia," sahutnya keceplosan.
Seketika, Keyla dan Vita terkejut mendengar ucapan Alana. Mereka berpikiran Alana belum bisa move on dari cinta masa lalunya.
"Kamu belum move on, Alana?" tanya Keyla penasaran.
Alana gusar, dia merutuki kebodohannya karena tak pandai mengolah kata. Bisa bahaya kalau sampai Vita dan Keyla mengetahui yang sebenarnya, Alana memang belum sepenuhnya melupakan cinta masa lalunya. Walaupun cintanya sudah menghancurkan hati Alana dan kehidupannya, tetapi masih ada cinta yang tersisa di hatinya.
"Alana, pliss deh. Lupain cowok yang tega ninggalin kamu di kebakaran Perpustakaan, untung aja ada orang yang nolongin kamu. Kalau nggak ada dia nggak tahu deh nasibmu sekarang," ungkap Vita kesal.
"Iya Alana, lagian sekarang ada Brian dan Diaz yang cinta sama kamu. So, mendingan menata masa depan dibanding menoleh masa lalu yang belum tentu endingnya," tempat Keyla, meminta Alana melupakan masa lalunya.
"Ya bukannya aku masih cinta sama dia. Aku cuma pengen ketemu dan tahu kenapa dia tega nggak nyelamatin aku di perpustakaan. Padahal sebelum kebakaran itu kita di perpus, cuma dia ke toilet dan kebakaran terjadi. Lagian aku juga nggak tahu siapa yang nolongin aku karena penolong itu nggak ada kabar," ucap Alana sedih.
Vita menghela napas. "Udahlah, nggak penting siapa yang nyelamatin kamu. Yang penting adalah menata masa depan lebih baik, jangan menoleh ke masa lalu karena buat kamu makin hancur. Aku yakin Brian dan Diaz adalah pangeran yang dikirim Allah buat mewarnai masa depanmu," nasehatnya bijak.
"Vita bener Alana, jangan siksa diri kamu dengan hal nggak pasti. Kamu harus mutusin, siapa yang kamu pilih secepatnya. Dengan begitu nggak ada yang terluka, walaupun sakit hati tapi nggak terlalu dalam," tempat Keyla lembut.
Alana menggaruk rambutnya bimbang. "Ntar aku pikirin deh, lagian mereka belum nembak aku. Aku nggak mau kepedean, toh Diaz dekat sama Vanes. Kak Brian, hmmm dia pengen aku feminim tapi aku belum bisa. Tau lah pusing," sahutnya frustasi, lalu pergi.
***
Di rumah, Diaz tengah berkumpul bersama sang mama dan Alvar. Mereka asyik menonton sinetron dimana sang kekasih laki-laki mengidap penyakit mematikan dan sang perempuan sampai nekat hendak bunuh diri. Sesekali, Diaz melirik sang mami yang fokus menonton. Bahkan sang mami tampak sedih dan meneteskan air mata melihat sepasang kekasih yang diuji dengan penyakit berbahaya.
"Mami nggak bisa bayangin, kalau Mami jadi wanita itu. Mami akan sedih berkepanjangan," ucap Bu Maria sedih.
"Kok tante ngomongnya gitu sih. Tante nggak boleh negatif thinking dong Tan, aku nggak mau diantara keluarga kita ada yang terkena penyakit berbahaya. Kita selalu berdoa aja ya," sahut Alvar menanggapi ucapan Bu Maria, dia ikut sedih.
Diaz pun menyembunyikan kesedihannya, hatinya terasa sesak mendengar sang mama sedih menonton tayangan dengan penyakit mematikan. Bagaimana jadinya jika sang mami mengetahui penyakitnya, dan umurnya tak lama lagi. "Ya Tuhan, aku ikhlas menerima takdirmu, tapi aku nggak bisa melihat Mami sedih. Gimana caranya jelasin ke Mami nantinya." Batin Diaz.
Bu Maria menatap Diaz, dia menyandarkan kepala Diaz di bahunya. "Nak, kamu adalah anak Mami satu-satunya. Hanya dari kamulah Mami memiliki keturunan. Kamu harus jadi orang yang sukses ya, Mami udah nggak sabar pengen liat kamu nikah," sahutnya penuh harap.
"Gimana mau nikah Tan, Diaz aja nggak bisa move on," tempat Alvar kesal.
Bu Maria mengernyitkan kening. "Jadi, Diaz masih cinta sama masa lalunya. Tapi kan kita nggak tahu dia dimana Nak, saat Mami dan Alvar bawa kamu berobat di luar negeri karena satu kaki kamu lumpuh, Mami nggak bisa temuin dia."
Alvar menghela napas panjang. "Tau tuh. Nggak ada nomor telepon, nggak ada komunikasi apapun dan dia udah jual rumah lama. Ya mustahil lah bisa temuin dia lagi," ungkapnya yakin.
"Nggak ada di dunia ini yang mustahil. Kalau emang aku ditakdirkan bertemu dengan dia, aku yakin bisa ketemu," sakit Diaz yakin.
"Eumm, sebenarnya sih Mami ada keyakinan satu Nak. Sejak Mama liat dia dan biodata dia, Mami yakin dia adalah cinta masa lalu kamu. Tapi Mami belum dapat bukti jadi nggak berani bilang ke kamu." Bu Maria berkata dengan hati-hati, dia khawatir memberikan harapan palsu pada Diaz.
Alvar langsung duduk tegap dan memandang Bu Maria serius. "Siapa Tan? Kenapa Tante nggak bilang."
Bu Maria memandang Alvar dan Diaz. "Alana. Wajah dia mirip banget dengan cinta monyet kamu dulu Nak," ungkapnya tegas.
"What? Alana?" tanya Alvar tak percaya.
Diaz shock ternyata sang mami memiliki kecurigaan pada Alana sebagai cinta di masa lalunya. Jika sang mami atau Alvar menanyakannya secara langsung pada Alana, pasti berantakan dan Alana semakin membenci Diaz. Apalagi Alana menganggap cinta di masa lalunya tak menolongnya saat di kebakaran.
"Mami salah Mi. Kalau Alana memang cinta masa lalu aku, pasti aku tahu dan punya ikatan batin," ucap Diaz berbohong.
"Iya mungkin Tante salah," tempat Alvar yakin.
"Iya, mungkinlah. Sudahlah, semoga kita cepat dipertemukan dengan cinta kamu itu ya Nak," pasrah Bu Maria.
Diaz mengangguk, dia memilih menyimpan rahasia Alana yang ternyata cintanya di masa lalu. Diaz ingin menyelesaikan masalahnya sekarang dengan Alana sebelum jujur mengenai masa lalunya.
"Diaz, loe jangan putus harapan ya. Gue yakin loe akan bertemu dan bersatu dengan cinta masa lalu loe itu," ucap Alvar percaya diri. Tatapannya membuat Diaz khawatir karena tatapan Alvar seperti mengetahui semuanya. "Nggak usah natap gue dalem gitu. Gue juga belum tahu dimana dia," tebalnya kritis.
***
Alana tengah menikmati secangkir kopi cappucino di teraa, sesekali dia melihat layar ponsel. Melihat kumpulan outfit feminim di i********:.
"Siap nggak ya aku jadi feminim, Kak Brian maksa terus lagi," ucap Alana bimbang.
Prankkkk….
Alana terlontar kaget saat mendengar bunyi seperti kaca pecah, dia beranjak menghampiri sebuah botol kaca yang sudah pecah di halaman rumah. Namun Alana mengernyitkan kening heran karena ada kertas dilipat dalam botol itu.
"Ini pasti pengirim surat kaleng itu lagi. Kenapa sih dia kirim surat lagi, siapa sebenarnya dia. Kenapa dia minta aku jagain Diaz," gerutu Alana, lalu meraih kertas itu dan mulai membacanya.
Alana, kita memang tak saling mengenal. Kamu memang tak ada kewajiban memenuhi permintaanku ini, apalagi kita nggak ada perjanjian. Tapi aku yakin, kamu adalah wanita hebat yang dipilih Tuhan untuk menemani Diaz. Aku mohon Alana, temani Diaz dan bahagiakan dia. Jika kamu menuruti kemauanku ini, kamu tak akan menyesal. Tolong Alana, bantu Diaz menata hidupnya lebih baik lagi.
Alana mengernyitkan kening membaca surat itu. Dugaannya benar, botol itu adalah pengirim surat kaleng itu.
Alana menggigit bibir bawahnya kejam, dia tak mengenal pengirim surat kaleng itu. Namun, mengapa dia mengenal namanya dan nama Diaz? Mengapa dia meminta Alana menjaga dan memperbaiki hidup Diaz? Ya Tuhan, ini masalah apalagi sih, pikir Alana.
"Alana, ada apa sih?" tanya Kayla seraya menghampiri Alana.
Alana terkejut melihat kedatangan Kayla, dia langsung memasukkan surat itu ke saku celana jeans nya. Lebih baik sahabatnya tak perlu urusannya dengan pengirim surat kaleng. Cukup Alana pendam sendiri sampai menemukan siapa pengirim itu.
"Hey, Alana," panggil Kayla menepuk bahu Alana.
Alana mengulum senyum. "Nggak kok, biasa orang iseng kirim botol sembarangan. Tau lah, biarin aja Key" sahutnya berbohong.
Keyla mengangguk. "Ya udah aku pulang dulu ya, udah sore nih. Takut nyokap bokap aku nyariin, soalnya habis magrib mau ada acara," pamitnya lembut.
"Ya udah, hati-hati ya," sahut Alana cepat.
Keyla beranjak pergi, sebenarnya dia sengaja pulang karena Dia mengirimkan pesan w******p akan datang ke rumah Alana. Benar saja, beberapa menit kemudian Dia datang. Hal tersebut membuat Alana kesal dan melipat tangan di d**a.
"Alana," lirih Diaz, lalu membuka helm dan menghampiri Alana. "Hay Alana," sapanya seraya mengulum senyum.
"Ngapain kesini?" tanya Alana ketus.
Dia menghela napas. "Ternyata kamu belum maafin aku ya," sahutnya tak bersemangat.
"Aku rasa kita intropeksi diri aja dulu. Aku belum bisa maafin kamu." Alana berkata tegas, walaupun hatinya bimbang karena kiriman surat kaleng itu.
Diaz tak tahu harus berbuat apa agar Alana memaafkannya, dia akhirnya jongkok di hadapan Alana. Diaz berharap caranya itu berhasil meluluhkan hati Alana, Diaz ingin memperbaiki kesalahannya. Kesalahan di masa lalu maupun masa mendatang.
"Kamu pikir, dengan kamu berlutut bakalan merubah keadaan?! Enggak! Aku belum bisa Terima ini. Aku mohon kamu pergi sebelum aku kasar sama kamu," ucap Alana bergetar, sebenarnya dia tak tega mengusir Diaz. Namun Alana berharap Diaz bisa mengerti suasana hatinya, saat ini Alana ingin menata hatinya untuk Diaz.
"Alana, aku…. " Diaz tak melanjutkan ucapannya karena kepalanya kembali sakit. Diaz memegangi kepalanya karena rasanya teramat sakit, bahkan darah segar kembali keluar dari hidungnya dan membuat Alana terkejut.
"Ya ampun Diaz, kamu mimisan lagi. Sini duduk dulu," ucap Alana khawatir, dia merapat Diaz duduk di kursi teras.
Diaz mencoba bertahan agar tidak pingsan. Dia tak ingin tak berdaya di hadapan Alana, walaupun tubuhnya lunglai namun Diaz berusaha tetap terjaga.
Diaz mengulum senyum seraya memandang Alana. "Kamu nggak usah khawatir ya, aku cuma kelelahan kok. Tinggal minum obat sembuh," ucapnya berbohong.
"Ta-tapi kamu sering mimisan. Gimana kalau ada luka dalam atau emm penyakit serius," sahut Alana khawatir.
Diaz menggeleng. "Nggak papa kok. Tolong kamu ambilkan obat di tas aku ya," pintanya lembut.
"Oke." Alana mencoba tersenyum walaupun berat, dia meraih tas Diaz dan membukanya. Namun Diaz langsung merebut tasnya kembali.
"Hmm tolong kamu ambilkan minum aja ya, aku bisa sendiri kok," ucap Diaz gusar.
"I-iya, sebentar ya." Alana berkata heran, dia melangkah pergi dan masuk rumah.
Sementara Diaz menghela napas lega, untunglah Alana belum sempat melihat obat-obatan Diaz dan membaca namanya
Jika itu terjadi, Alana akan curiga dan bisa mengetahui penyakit Diaz. Apalagi Alana anak kedokteran, dia pasti mengetahui kumpulan obat Diaz bukan sembarang obat atau obat warung.
"Maafin aku Alana, aku belum bisa jujur ke kamu. Aku pengen kasih kamu senyuman dan kebahagiaan sebelum kamu tahu siapa aku sebenarnya. Setelah itu, aku pasrah dan siap menerima kebencian darimu," lirih Diaz.
Alana kembali dan membawa segelas air mineral. Dia memberikannya pada Diaz dan mendapat senyuman dari Diaz. Alana pun memperhatikan Diaz meminum obat, dia heran kenapa Diaz minum 8 kapsul obat. Memangnya obat itu diresepkan dokter?
"Diaz, maaf deh. Kenapa obatnya banyak banget? Itu obat dari dokter atau gimana sih. Bukan apa-apa sih, cuma aku khawatir itu obat keras karena bentuknya beda loh kaya obat resep," ucap Alana yakin.
DEG!
Diaz gusar mendengar ucapan Alana, hanya melihat bentuk obatnya saja sudah bisa menebak. Bagaimana jadinya jika Alana melihat merk obatnya, pastilah semua orang sedih karena mengetahui penyakit Diaz.
"Diaz," panggil Alana khawatir.
"Nggak usah khawatir. Ini emang diresepkan dokter pas aku ke rumah sakit. Dokter bilang aku ada alergi jadi mimisan, makanya dokter resepkan obat," sahut Diaz berbohong.
Alana menganggukan kepala, namun hatinya gelisah. Hati Alana berkata kalau ucapan Diaz tak seperti kenyataannya. Dia merasa ada hal besar yang Disembunyikan, apalagi isi surat kaleng yang meminta Alana menjaga Diaz. Mungkinkah mimisan Diaz ada kaitannya dengan rahasia besar Diaz?
"Ya udah masuk yuk, disini banyak angin," ucap Alana lembut, lalu merapat Diaz masuk ke rumah.
***