Alana memapah Diaz duduk di sofa ruang tamu, sementara Bu Rista menghampiri Alana dengan raut wajah khawatir.
"Ya Allah, Nak Diaz kenapa?" tanya Bu Rista kaget.
Diaz mengulum senyum. "Aku nggak papa kok tante, aku nggak enak badan aja," sahut Diaz berbohong.
"Alana, cepat kamu buatkan teh hangat buat Diaz biar badannya enakan," pinta Bu Rista lembut.
"Iya Ma." Alana segera beranjak ke dapur membuat teh hangat.
Sementara Bu Rista memulai obrolan dengan Diaz. Bahkan Bu Rista memandang Diaz penuh selidik.
"Diaz, emm kenapa ya Tante kayak gak asing sama kamu. Kayaknya kita udah kenal lama, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Bu Rista penuh selidik.
Diaz menelan ludah gusar, semua orang yang dahulu dikenal mulai curiga dengan kehadirannya. Mereka memang tak mengenali Diaz secara langsung karena Diaz yang dahulu gemuk dan memiliki tompel di pipi kanannya, sementara Diaz sekarang bertubuh atletis dan tanpa tompel karena Diaz menghilangkan tompel itu untuk menunjang ketampanannya saat Diaz masih urakan. Lalu, apa yang harus Diaz katakan sekarang? Apakah Diaz harus jujur pada Bu Rista kalau dia adalah cinta masa lalu Alana, tapi Bu Rista pasti mengadu pada Alana dan Alan bisa membencinya.
"Diaz," panggil Bu Rista.
"Tante bisa aja deh. Kita baru ketemu ya akhir-akhir ini Tante," sahut Diaz simple.
"Permisi." Alana datang membawa teh hangat, dia menyerahkannya pada Diaz. "Kamu minum dulu gih biar enakan," pintanya lembut.
"Makasih ya." Diaz berkata lembut, lalu minum teh hangat.
"Diaz, Alana, kalau gitu Mama masuk dulu ya mau beres-beres rumah."
Diaz mengulum senyum. "Iya Tante," sahutnya lembut.
Setelah kepergian Bu Rista, Diaz duduk dan menatap Alana. Namun Alana menghindari pandangan Diaz, Alana masih sangsi dengan perbuatan Diaz di awal pertemuan mereka yang menyebabkan Alana tak dihormati mahasiswa di kampus.
"Alana, harus dengan cara apa aku minta maaf. Pliss, maafin kesalahan aku ya," ucap Diaz penuh harap.
"Aku janji, aku akan lakuin apapun yang kamu mau. Aku bakalan jagain kamu dari orang yang akan jahatin kamu," lanjut Dia yakin.
Alana tak bergeming, dia menggigit bibir bawahnya kejam karena tak bingung harus menjawab apa. Jujur, hati Alana mulai nyaman dan yakin dia telah mencintai Diaz. Namun Alana juga tak enak hati meninggalkan Brian, apalagi Brian sepertinya sangat mencintai Alana. Alana pun bimbang harus memilih Diaz atau Brian untuk ditempatkan di hatinya.
“Aku janji Alana, aku nggak akan sia-siain kesempatan kedua aku. Aku akan berusaha menjadi pelindung dan kasih kamu kebahagiaan,” ucap Diaz lembut.
“Apa kamu bisa kasih pengertian ke teman di kampus biar mereka respect sama aku lagi?” tanya Alana penuh harap.
Diaz mengangguk. “Pasti bisa. Aku akan berusaha biar temen respect dan hormati kamu kaya dulu, aku janji.” Ucapnya seraya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan sebagai kode berjanji.
Alana akhirnya memandang Diaz, dia menguatkan dirinya agar kuat mengatakan itu. "Oke, aku maafin kamu dengan syarat kamu nggak boleh mengulangi kesalahan lagi," pintanya mantap.
Diaz mengulum senyum. "Makasih ya Alana, aku janji nggak akan mengulangi kesalahan," janjinya seraya mengulum senyum.
Alana mengangguk. "Makasih ya."
“Yaudah, sekarang kamu istirahat dulu gih. Pulangnya aku antar,” pinta Alana lembut.
“Aku nggak ngantuk. Oya Alana, gimana hubunganmu dengan Brian?” tanya Diaz akhirnya.
“Hubungan apa? Aku sama Kak Brian belum ada status kok,” sahut Alana sedih.
Diaz menelan ludah, lalu memandang Alana. “A-apa kamu mencintai dia?”
Alana gusar, dia bingung menjawab apa. Sejatinya, hati Alana masih bimbang antara memantapkan hatinya pada Brian atau laki-laki lain. Apalagi sikap Brian cenderung suka memaksakan kehendak, dan Alana paling tidak suka laki-laki yang memaksakan kehendak.
“Alana,” panggil Diaz.
“Hmm, aku nggak tahu karena dia minta aku jadi feminim. Aku sudah berusaha ubah penampilan tapi aku nggak bisa,” sahut Alana pasrah.
“Kalau kamu ragu sama dia, maka ikuti kata hatimu. Siapa yang menurutmu lebih nyaman dan membuatmu bahagia, ingat Alana. Kata hati tak mungkin salah karena hati bisa menuntun kebahagiaan untukmu,” nasehat Diaz bijak.
Alana tersenyum getir, bagaimana mungkin Alana bisa mengikuti kata hatinya. Sementara hatinya selalu mengingat cinta dimasa lalunya dan ingin bersamanya dengannya, walaupun Alana berubah tomboy dan sok kuat tetapi hatinya masih merindukan laki-laki masa lalunya.
Alana mengangguk. “Aku akan coba.”
“Bagus. Aku yakin kamu akan menemukan laki-laki terbaik yang pantas mendapatkan ketulusan cintamu, Alana. Entah itu Brian atau laki-laki lain,” ucap Diaz mengulum senyum.
“Amin,” doa Alana penuh harapan.
Diaz pun menghela nafas lega karena akhirnya mendapatkan maaf dari Alana dan bisa memberikan nasehat pada Alana untuk mengenai hati Alana. Hal tersebut membuat Diaz lebih bersemangat dan ikhlas menjalani harinya dengan penyakitnya.
***
Alana dan Brian kembali bertemu karena permintaan Neva, mereka bertemu di sebuah Kafe favorit Neva. Sayangnya pertemuan itu membuat Alana sakit hati karena Neva meminta Alana menjadi feminim dan bergaul layaknya gadis sosialita, yang buat Alana sedih sikap Brian yang tak membela Alana. Malahan Brian ingin Alana melakukan itu agar perjalanan cinta mereka tanpa hambatan dari Neva.
"Alana, tolong jawab sekarang juga. Apa kamu bisa merubah dirimu seperti yang saya inginkan?" tanya Neva tegas.
Hati Alana sakit karena Neva memaksakan kehendak tanpa mengerti perasaan Alana. Padahal hati Alana rapuh dan membutuhkan sosok pelindung, Alana berharap kepribadian Brian yang lembut dan penyayang bisa menjadi pelindung Alana. Ternyata dugaannya salah, Brian tak bisa melindungi Alana.
Alana pun mengambil keputusan, dia mengumpulkan seluruh kekuatannya agar bisa berkata lantang. "Maafin aku Kak. Aku nggak bisa memenuhi permintaan Kak Neva," sahutnya mantap.
"Kenapa? Memangnya kamu siap kehilangan Brian, saya nggak segan-segan melarangmu menjalin cinta dengan Brian," ancam Neva dengan sorot mata penuh kemarahan.
"Aku siap Kak. Biarlah kedekatan aku sama Kak Brian cukup disini. Aku permisi dulu," pamit Alana, dia berjalan keluar rumah Brian dengan hati yang rapuh.
"Alana, tunggu," ucap Brian shock, lalu mengejar Alana.
Brian langsung memegang tangan Alana saat Alana hendak membuka pintu. Alana berusaha menepis tangan Brian, sayangnya tangan itu cukup erat memegang tangannya.
"Tolong lepasin aku, Kak," pinta Alana meneteskan air mata.
"Alana, kenapa sih kamu sensitif banget diminta berubah feminim. Padahal kan udah takdir seorang wanita menjadi feminim, itu sebagai rasa syukur kamu memiliki wajah yang cantik dan memberikan kebahagiaan untuk suamimu kelak," sahut Brian heran dengan sikap Alana.
"Maafin aku Kak, aku nggak bisa penuhi permintaan Kak Brian." Alana berkata lirih, dia menyeka air mata dengan punggung tangannya.
"Itu artinya kamu menyerah. Kamu menyerah untuk merajut cinta bersamaku?" tanya Brian was-was.
Alana tak bisa menjawab ucapan Brian, dia berjalan cepat. Saat di tepi jalan, Alana menunggu pesanan Taxi onlinenya datang, sayangnya Brian kembali mengejar Alana dan memintanya bertahan.
Sementara itu, di ujung jalan tampak Diaz memperhatikan obrolan Alana dan Brian dari dalam mobilnya. Diaz sengaja mengikuti Alana pergi bersama Brian karena merasa Alana tidak baik-baik saja.
"Brian, kalau sampai kamu buat Alana nangis lagi awas. Aku nggak akan maafin kamu," ucap Diaz secara mengepalkan tangannya.
Diaz terus memperhatikan Alana dan Brian, Diaz shock saat melihat Brian memegang tangan Alana dengan paksaan. Diaz yang kehilangan kesabaran langsung keluar dari mobil, Diaz langsung menonjol wajah Brian tanpa ampun dan membuat Alana shock.
"Diaz hentikan," ucap Alana khawatir Diaz dan Brian sama-sama terluka.
Diaz lengah dan menoleh menatap Alana, saat itulah Brian balas menonjol Diaz. Alhasil terjadilah perkelahian antara Brian dan Diaz, keributan itu membuat Bu Hilda dan Neva keluar rumah. Mereka shock melihat pertengkaran itu.
"Ya Allah, Brian. Hentikan Nak, Mama nggak mau kamu berkelahi," ucap Bu Hilda khawatir.
Alana pun berusaha melerai perkelahian, sampai Brian tak sengaja memukul Alana. Barulah perkelahian itu berhenti. Brian langsung meminta maaf pada Alana dan memegang pipi Alana yang memar.
"Alana, maafin aku ya. Aku nggak sengaja," ucap Brian khawatir.
Neva tak terima Brian bertekuk lutut dengan Alana, dia merasa martabat keluarganya direndahkan karena sikap sang adik. Neva pun melepaskan tangan Brian dan berdiri di hadapan Alana.
"Saya minta kamu jangan kegatelan sama adik saya. Saya nggak sudi punya calon adik ipar kaya kamu, sana pergi," bentak Neva, membuat Alana meneteskan air mata.
Perkataan Neva sungguh keterlaluan dan membuat Diaz murka, dia menghampiri Alana dan memegang tangan Alana erat.
"Maaf ya Kak, bukannya saya lancang sama orang yang lebih dewasa. Tapi sikap Kakak tidak mencerminkan seorang Kakak, Kakak nggak perlu usir Alana dengan cara kasar karena saya akan bawa Alana pergi. Saya juga akan pastikan Alana tidak mengganggu Brian, tapi saya juga mohon Brian jangan usik hidup Alana," ucap Diaz tegas menatap Neva.
"Memangnya kamu siapa? Beraninya kamu membela gadis aneh itu," sahut Neva ketus.
"Saya Diaz, orang yang mencintai Alana apa adanya. Saya tidak akan memaksa Alana merubah penampilannya menjadi feminim, itu karena saya mencintai Alana tulus dan nggak peduli dengan penampilannya. Yang penting Alana masih bersikap sopan," ungkap Diaz penuh penekanan, membuat Neva dan Brian tak bergeming.
"Diaz, udah ya. Stop," pinta Alana memelas.
Diaz menghela napas karena Alana meminta berhenti menghakimi Brian dan kakaknya. Alhasil Diaz menuruti kemauan Alana karena tak mau gadis yang dicintainya kecewa.
"Maaf Tante, semuanya. Saya dan Alana permisi dulu," pamit Diaz, dia menggandeng Alana masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.
***
"Diaz, kenapa berhenti?" tanya Alana cepat saat Diaz menghentikan mobilnya di area parkir Apotek.
Diaz memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih. "P3K di mobil aku habis, aku beli dulu ya sama makanan buat kamu," ucapnya cengengesan.
"Oh, iya."
Diaz segera keluar dari mobil, sementara Alana memperhatikan Diaz yang masuk ke Apotek. Hatinya masih bergetar hebat sejak Diaz mengutarakan isi hatinya di hadapan Brian dan keluarganya. Namun, apakah ungkapan itu hanyalah alasan agar keluarga Brian tidak merendahkan Alana? Atau ungkapan itu memang isi hati Diaz.
"Ya Allah, benarkan Diaz mencintai aku? Kenapa hati aku jadi deg-degan gini sih. Kenapa malah berharap semua itu benar," ucap Alana pada dirinya sendiri.
Alana tampak berpikir, namun deringan ponsel membuat Alana menghentikan pemikirannya dan mengangkat panggilan Keyla.
"Halo Alana, gimana nih pertemuan dengan Brian? Lancar kan," ucap Keyla bahagia diseberang sana.
Alana menghela nafas panjang. "Ceritanya panjang, aku ceritain di rumah aja," sahutnya cepat.
"What? Nggak ada apa-apa kan? Terus sekarang kamu lagi dimana?" tanya Kayla semakin penasaran.
"Di mobil Diaz. Udah dulu ya Key, bye." Alana segera mengakhiri panggilan karena melihat Diaz berjalan ke mobil. Alana memasukkan ponselnya ke saku celananya.
Diaz masuk ke mobil membawa 2 kantong kresek. "Sori ya, tadi antriannya panjang. Jadilah lama."
"Nggak papa kok. Sini aku obatin luka kamu," seloroh Alana seraya mengulurkan tangan hendak mengambil P3K.
"No, ladies first." Diaz berkata lembut seraya mengulumkan senyum, kemudian membuka kotak P3K dan mengambil betadine dan kapas.
Alana tak bergeming, dia hanya mengulum senyum dan menganggukan kepala. Alana membiarkan Diaz mengobati lukanya terlebih dahulu.
"Tahan ya," pinta Diaz lembut saat Alana meringis kesakitan di sentuh kapas dengan betadine.
"Pelan-pelan," sahut Alana lirih.
Diaz mengangguk, dia telaten mengobati luka di wajah Alana. Hal tersebut memberikan kebahagiaan untuk Diaz karena bisa bermanfaat untuk Alana, hati Diaz berbunga-bunga karena bisa menjaga wanita yang dia cintai dari marabahaya. "Alana, sebenarnya aku pengen jujur sekarang. Tapi aku takut kamu malah membenciku." Batin Diaz bimbang.
"Giliran kamu yang diobati." Alana berkata lembut setelah Diaz selesai mengobati lukanya.
Diaz pun menganggukan kepala seraya mengulum senyum, bahkan Diaz malah memejamkan matanya karena teedalatuka di kelopak matanya.
"Aduh, kenapa Diaz pake merem sih. Aku jadi grogi gini," ucap Alana dalam hati.
"Alana," panggil Diaz karena Alana tak kunjung mengobati lukanya.
"Iya sabar dong," sahut Alana menutupi kegelisahan hatinya.
Diam-diam Alana menghembuskan napas panjang, dia menetralkan hatinya agar kuat menyentuh Diaz yang memejamkan matanya. Alana pun mulai mengobati luka di wajah Diaz dengan jantung berdegup kencang, tangan Alana sampai gemetar karena rasa itu. "Ya Tuhan, ternyata ketampanan Diaz bertambah berkali lipat saat matanya terpejam. Kenapa aku jadi kaya gini sih." Batin Alana.
"Udah kan?" tanya Diaz setelah 1 menit matanya terpejam. Dia memandang Alana dan mengulum senyum. "Makasih ya udah obati aku, sekarang aku antar kamu pulang."
"Kamu nggak makan dulu," tawar Alana cepat.
"Ntar aja deh di rumah. Kasian kamu nunggunya lama," sahut Diaz lembut.
"Ntar laper, kan kamu minum obat," bujuk Alana.
"Aku udah kenyang kok. Kenyang karena waktu ini diperhatikan sama Alana, calon dokter hebat yang multitalenta." Diaz malah menggoda Alana, dia kemudian melakukan mobilnya menuju rumah Alana.
Alana terlonjak kaget mendengar ungkapan Diaz. Wajahnya merona, untuk itulah Alana mengalihkan pandangan karena khawatir Diaz melihat rona di wajahnya. Alana memilih menatap kaca jendela dan melihat kendaraan berlalu lalang. "Diaz, kenapa ucapanmu buat aku grogi sih. Ya Allah, kenapa repot banget sih. Mencoba buka hati tapi malah gegana." Batin Alana.
***