Bab 37

2058 Kata
Diaz akhirnya memarkirkan mobilnya di halaman rumah Alana, dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Alana. Alana dan Diaz berjalan beriringan, mereka disambut Keyla dan Vita dengan mimik wajah khawatir.  "Alana, Diaz, kenapa muka kalian lebam gitu?" tanya Vita seraya menatap wajah Diaz dan Alana yang penuh luka.  "Nggak papa kok," sahut Alana berbohong, Alana memilih merahasiakan kejadian sebenarnya karena tak ingin kedua sahabatnya menanyakan berbagai pertanyaan.  "Bohong! Kita luka gara-gara Brian," tempat Diaz, membuat Vita dan Keyla terlontar kaget.  Alana pun menoleh menatap Diaz geram, dia kecewa karena Diaz malah mengatakan Brian yang bersalah. Padahal bisa memicu kemarahan Keyla karena Keyla mulai kehilangan respect terhadap Brian.  "Alana, benar yang dikatakan Diaz?" tanya Keyla memastikan kebenarannya.  "Kejadiannya nggak kaya gitu. Ini hanya kesalahpahaman," sahut Alana, berusaha membela Brian.  Diaz menoleh ke arah Alana, dia tak menyangka Alana masih membela Brian. Padahal sudah jelas Brian hanya memberikan tangisan pada Alana, bagaimana caranya agar Alana bisa melepaskan bayang-bayang Brian.  "Hmm tadi Kak Neva minta aku ambil keputusan rubah jadi feminim, tapi aku nggak sanggup memenuhinya. Niatnya mau pulang, eh Kak Brian malah bela kakaknya dan minta aku nurutin demi kelancaran hubungan kami. Tentu aku nggak bisa dan terjadi pertengkaran kecil, saat itulah Diaz datang dan mereka berkelahi. Aku berusaha hentikan tapi malah kena tonjok," ungkap Alana menceritakan kejadian sebenarnya.  "Oh jadi kaya gitu. Lagian Kak Brian kenapa maksa kamu jadi feminim sih ya, yang penting kan hatinya," seloroh Vita ikut kesal dengan sikap Brian.  "Itulah alasan aku nggak respect sama dia. Dibalik sikapnya yang lemah lembut, justru hatinya keras dan memaksakan kehendak. Yakin deh, kalau Alana menjalin hubungan sama dia pasti tekanan batin terus," sambung Keyla optimis.  "Tapi Kak Brian itu idaman semua wanita, hmmm atau aku yang ajarin kamu jadi feminim," ucap Vita masih keukeuh, dia masih berharap Vita dan Brian menjadi kekasih.  "Udah-udah! Jangan bahas cinta mulu, biarin Alana istirahat dulu. Kasian dia," timpal Diaz bijak.  Keyla dan Vita hanya menang anggukan kepala, sementara Diaz memapah Alana masuk ke rumah. Diaz membantu Alana duduk di sofa ruang tamu, lalu mengambil teh hangat di atas meja dan menyerahkannya pada Alana.  "Alana, aku pulang dulu ya. Kamu istirahat aja deh," pamit Diaz seraya mengulum senyum.  "Hati-hati ya, makasih udah anterin pulang," sahut Alana lembut.  "Sering-sering kesini ya, Di," timpal Keyla yang langsung di anggukan Diaz.  Alana menatap kepergian Diaz, Keyla pun bahagia karena Alana mulai memalingkan hatinya dari Brian. Keyla yakin Diaz laki-laki terbaik untuk Alana karena mengerti kepribadian Alana. Namun, Vita tampak cemberut karena Alana malah dekat dengan Diaz.  *** Diaz mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun dia merasa motor ninja dibelakangnya mengikutinya.  "Siapa sih yang berani ngikutin gue?!" Diaz berkata kesal, dia menambah kecepatan mobilnya.  Dias murka karena motor ninja itu terus mengikutinya, padahal jaraknya sudah jauh. Diaz pun terpaksa menghentikan mobilnya karena penasaran dengan sang pengendara motor ninja, dia keluar dari mobil menghampiri sangat pengendara ninja. Saat itulah Diaz mengetahui kalau pengendara ninja adalah Brian.  "Ternyata loe yang ngikutin gue! Punya nyali juga loe," ucap Diaz geram.  "Aku akui kamu memang hebat, tapi tolong jangan ganggu hubungan aku dengan Alana. Aku mencintai Alana sepenuh hati, lagipula Alana lebih bertemu denganku dibanding kamu," sahut Brian tegas.  Diaz tersenyum sinis. "Gue rasa loe nggak ngerti ya arti sebuah hubungan. Nih gue jelasin ya bro, hubungan itu kalau ada kejelasan status. Entah itu sebagai kekasih atau pernikahan. Nah loe sama Alana kan masih semu, belum ada kepastian. Artinya, gue nggak ganggu hubungan orang dong." Brian kesal mendengar jawaban Diaz yang menohok, memang benar apa yang dikatakan Diaz. Namun, Brian sudah mencintai Alana dan selangkah lagi bisa menjadi kekasih Alana jika Alana menuruti kemauannya menjadi feminim.  "Kenapa Bro? Bingung mau bela diri dengan cara apa?!  Gue ingetin ya, jangan berani-beraninya loe paksa Alana menjadi orang lain. Biarkan Alana berpenampilan yang membuatnya nyaman, sekali lagi gue denger loe maksa dia jadi feminim, gue nggak akan tinggal diam," ancam Diaz menatap Brian garang.  "Tujuan aku nyuruh Alana untuk kebaikan dia sendiri. Sudah sepatutnya seorang wanita bersikap santun sehingga dihargai banyak orang." Brian masih membela dirinya dengan alasan untuk kebaikan Alana.  "Itu dilihat dari sudut pandang loe, tapi loe nggak pernah tahu kan alasan dia tomboy karena apa. Andai aja loe tahu seperti apa kepribadian Alana dahulu, loe akan nyesel karena secara nggak langsung loe nyakitin dia dan buat dia terpuruk," tegas Diaz, lalu melenggang pergi.  Diaz memilih masuk mobil karena tak ingin melanjutkan obrolan dengan Brian yang membuatnya emosi. Dia khawatir terjadi perkelahian kembali jika dia tak pergi, pastinya perkelahian itu akan membuat Alana marah dan merusak kepercayaan Alana bersikap baik kembali.  Dari kaca spion mobilnya, Diaz memperhatikan gelagat Brian. Diaz sadar ada cinta di hatinya untuk Alana, namun dia masih sangat mencintai Alana. Diaz nggak akan menyerah mengambil hati Alana kembali walaupun harus bersaing dengan Brian.  "Aku akan berusaha keras memilikimu seperti dulu Alana. Paling nggak aku bisa mengakhiri hubungan sebelum aku pergi selamanya," ucap Diaz lirih, lalu melajukan mobilnya.  *** Keesokan harinya, Alana ragu menginjakkan kakinya di kampus. Dia mundur memasuki gerbang kampus dan membuat kedua sahabatnya heran, mereka menggandeng Alana namun langsung di tepis.  "Aku izin ya deh hari ini. Semua mahasiswa pasti nagih janji aku jadi dokter kaya kemarin deh," ucap Alana pesimis.  "Alana sayang, ya pastilah kamu nggak bisa instan jadi dokter. Yang penting mereka kan udah liat keseriusan mungkin kuliah, yakin deh pasti kamu jadi dokter hebat." Vita menenangkan Alana, dia memegang bahu Alana untuk menguatkan gadis itu.  "Iya sih, tapi Vanes pasti jadi kompor. Ujung-ujungnya yang lain mojokin aku," sahut Alana masih dengan asumsinya.  "Kamu tenang aja Alana, aku nggak akan biarin  mereka mengejek kamu," ucap Diaz lantang seraya menghampiri Alana dan kedua sahabatnya.  Alana mengulum senyum ragu. "Semoga aja mereka percaya ya," sahutnya ragu.  "Jangan pesimis terus dong. Kan Diaz janji bakal jagain kamu dari mereka," tempat Keyla yakin.  Alana menetralkan pikirannya yang kacau. Dia berusaha percaya dengan Diaz dan kedua sahabatnya, yang terpenting Alana masih bisa mempertahankan nilainya. Otomatis mahasiswa akan percaya kalau Alana sudah berubah dan akan fokus kuliah.  "Ayo," ajak Diaz lembut, dia menggandeng Alana berjalan ke gedung kampus.  "Hmmm sosweet," gumam Vita dan Keyla serentak, lalu mengejar Alana dan Diaz.  Diaz percaya diri menggandeng Alana di hadapan mahasiswa, alhasil membuat seisi lampu gempar. Baru kali ini Diaz terang-terangan dekat dengan seorang wanita. Vanes yang selalu mengejar Diaz pun tak kunjung mendapatkan cinta Diaz, Alana yang malu menjadi pusat perhatian segera melepaskan tangan Diaz.  Di sisi lain tampak Vanes bersama gengnya kesal melihat kedekatan Alana dan Diaz. Sayangnya Vanes tak bisa berbuat apa-apa karena sulit menembus masuk ke kerumunan mahasiswa.  "Alana nggak tahu malu, udah tahu aku lagi ngejar Diaz. Alana malah mepet ke Diaz," ucap Vanes kesel.  "Cara kamu tuh nggak jitu. Emang sih kita dulu ditindas Alana, tapi masa iya kita kalah 2 kali." Geng Vanes bernama Vina berkata kesal, dia melibatkan tangan di d**a karena kecewa Vanes kalah dari Alana.  "Aku nggak akan tinggal diam! Aku akan merebut Diaz kembali dengan cara apapun," janji Vanes mantap.  Sementara itu, Diaz memandang Alana tajam. Tatapan mata emangnya membuat Alana mematung di tempatnya. Disaat semua mata memandang Alana dan Diaz, Diaz berjongkok di hadapan Alana seraya menyodorkan setangkai bunga mawar dan cincin.  "Diaz," lirih Alana.  "Alana, kali ini aku mau jujur sama kamu. Walaupun pertemuan kita menimbulkan masalah, tapi aku nggak bisa membohongi diriku sendiri. Aku cinta sama kamu Alana," ucap Diaz percaya diri.  Alana menelan ludah mendengar ungkapan hati Diaz. Dia tak tahu harus menjawab apa, namun dia tak bisa membohongi dirinya karena memiliki perasaan yang sama. Walaupun ada Brian, Alana sadar Diaz berhasil menyingkirkan Brian.  "Terima, terima, terima," ucap mahasiswa serentak penuh harapan.  Alana menggigit bibir bawahnya kejam, dia melirik kedua sahabatnya yang mengulum senyum dan menganggukan kepala.  "Ini kesempatan kamu move on Alana. Jangan sia-siakan kesempatan ini, aku yakin Diaz adalah kiriman Allah untuk menyembuhkan sakit hatimu," nasehat Keyla menyemangati Alana.  "Iya Alana, aku dukung apapun kebahagiaanmu. Tapi jika Diaz berani menyakitimu, aku nggak akan tinggal diam," tempat Vita mengulum senyum.  Alana mengulum senyum, kemudian memandang Diaz lekat. "Kamu serius mau aku jadi bagian hidupmu?" tanyanya serius.  Diaz mengangguk. "Aku serius, jika kamu bersedia menerimaku dengan segala kekuranganku bisa mengambil cincin ini. Tapi jika kamu menolaknya, silahkan ambil bunga mawar ini sebagai lambang persahabatan kita." "Oke, aku pilih bunganya aja ya." Alana berkata tegas, membuat raut wajah Diaz dan mahasiswa berubah muram. Alana Pun mengulum senyum melihat ekspresi wajah mereka. "Aku pilih bunga untuk Vita dan Keyla karena aku berharap mereka tetap menjadi sahabat kita sampai tua nanti," lanjutnya, membuat Diaz melongo.  "Maksudnya," ucap Diaz memandang Alana penuh arti.  "Aku Terima kamu, Diaz." Alana mengambil cincin di tangan Diaz dan memakainya di jari manis tangan kirinya.  "Alhamdulillah," ucap mahasiswa serentak.  Diaz langsung bangkit dan refleks memeluk Alana. "Makasih ya, aku janji nggak akan biarin air mata jatuh ke pipimu lagi," janjinya mantap.  "Makasih ya. Kamu udah Terima aku apa adanya," ungkap Alana bahagia.  Alana menghela nafas lega karena prosesnya untuk menata hati telah berhasil. Dia tak menyangka Diaz yang terpilih mewarnai harinya setelah bertahun-tahun Alana hidup tanpa cinta dan berbagai rasanya jatuh cinta. Alana berjanji akan memanfaatkan ini dengan baik, dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan cinta kembali.  "Aku janji Alana, aku akan membahagiakan kamu," ucap Diaz lembut, tepat di telinga Alana.  Diaz pun bahagia karena berhasil memiliki Alana. Walaupun Alana belum mengetahui dia adalah cinta masa lalunya, Diaz akan melakukan berbagai cara untuk membahagiakan Alana tanpa Alana mengetahui jati dirinya. Dan, saat Alana mengetahui siapa dirinya sebenarnya, Diaz harus pasrah menerima kebencian dari Alana.  "Aku hanya ingin membahagiakanmu sebelum aku pergi Alana. Aku ingin menebus kesalahanku terdahulu," ucap Diaz dalam hati.  *** Selesai kelas, Diaz memilih bersantai di danau. Diaz mengulum senyum memandang danau yang menyimpan kenangan indah bersama Alana, Diaz bahagia karena insiden dia tenggelam membuat Alana memberikan napas buatan. Bisa saja insiden itu membuat benih cinta di hati Alana tumbuh, dan kini Diaz bisa memiliki Alana.  "Diaz," panggil Vanes menghampiri Diaz dengan raut wajah penuh kemarahan.  "Ngapain kamu kesini?" tanya Diaz ketus.  "Kenapa kamu tega mencampakkan aku seperti ini?! Kenapa kamu malah minta Alana menjadi kekasihmu," ketus Vanes.  Diaz melipat tangan di d**a. "Memangnya kenapa? Kamu nggak ada hak ngatur aku ya. Tentunya aku bebas memilih wanita untuk kujadikan kekasih." Vanes geram, dia mengepalkan tangan menahan amarah. "Awas aja, urusanku dengan Alana belum selesai. Aku akan kasih dia perhitungan!"  Saking marahnya, Vanes hendak pergi. Namun Diaz memegang lengan Vanes cukup keras sehingga gadis itu kesakitan.  "Diaz, lepasin aku!" ucap Vanes dengan nada tinggi.  "Jangan berani-beraninya kamu buat masalah ya, kamu lupa siapa yang buatmu terbebas dari ejekan Alana?! Jika kamu buat ulah, aku pastikan nasibmu seperti dulu. Bahkan aku bisa buat lebih parah, mungkin kamu akan malu seumur hidupmu," ancam Diaz menatap Vanes garang.  "Kamu tega Diaz," pekik Vanes murka.  "Aku melakukan ini untuk kebenaran dan kebahagiaan cintaku, jangan macam-macam," ucap Diaz tegas, lalu melenggang pergi.  *** "Hai Alana, sory ya nunggu lama," ucap Diaz menghampiri Alana dan kedua sahabatnya di parkiran.  Alana tersenyum. "Nggak papa kok. Kamu mau pulang bareng kita atau gimana?" tanyanya lembut.  "Alana, aku tuh mau pergi bareng Vita. So, kamu diantar Diaz ya," sambar Keyla seraya mengulum senyum.  "Lah kok gitu. Kan pas berangkat kampus kamu yang minta aku jangan bawa kendaraan karena mau pulang ke suatu tempat, kenapa jadi gini," sahut Alana bingung dengan perjanjian Keyla.  "Alana, aku rasa kamu kena prank Keyla sama Diaz deh. Mereka kan selama ini dekat, aku emang nggak tahu alasan mereka apa. Mungkin mereka kerjasama biar Diaz lancar pas nembak kamu," ungkap Vita, membuat Diaz dan Keyla gelagapan.  Alana pun memandang Diaz dan Keyla penuh selidik. "Bener yang dibilang Vita?!" Diaz mengulum senyum. "Jangan marahin Keyla ya. Aku yang minta dia bantu kok, aku sengaja nyuruh Keyla jemput kamu biar kita bisa pulang bareng," jujurnya.  "Oke, kali ini aku maafin. Tapi lain kali aku nggak jamin, aku paling nggak suka dibohongi." Alana mengerucutkan bibir kesal, dia melipatkan tangan di d**a.  "Jangan gitu dong. Janji nggak bakal ulangi," janji Diaz.  Alana mengangguk, sementara Vita dan Keyla tersenyum bahagia melihat hari Alana kembali berwarna.  "Kita duluan ya, tolong jagain Alana. Kalau sampai dia nangis, kita nggak akan tinggal diam," ancam Vita, kemudian terkekeh.  "Pasti! Aku nggak akan biarin Alana menangis," sahut Diaz yakin.  Alana menghela nafas lega karena Diaz ternyata bisa membuat hatinya bahagia. Dia akan melakukan apapun untuk hubungannya, dia tak akan membiarkan hubungannya dengan Diaz hancur seperti hubungan asmaranya di masa lalu.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN