Bab 38

1016 Kata
"Alana, kenapa kamu malah menjalin hubungan dengan Diaz?!." Brian menghampiri Alana yang tengah menyiram tanaman di halaman rumah. Alana menoleh, memandang Brian ragu. Dia merasa bersalah karena mencampakkan Brian, padahal Brian lebih dulu dekat Alana. "Kenapa Alana?! Jawab," ucap Brian dengan nada tinggi. "Ma-maafin aku Kak, aku nggak bermaksud. Aku cuma ingin dimengerti, aku nggak bisa memenuhi permintaan Kak Brian dan Kak Neva untuk feminim," sahut Alana merasa bersalah. Brian menghempaskan tangannya frustasi. "Harusnya nggak gitu caranya, Alana. Aku tulus mencintaimu, tapi kamu malah jadian sama laki-laki lain. Padahal aku bisa nunggu kamu, aku siap nunggu sampai kamu siap merubah penampilan." Alana memberanikan diri menatap Brian, dia berusaha membela hubungannya dengan Diaz. "Aku sadar aku salah Kak. Aku menerima cinta Diaz karena tanpa sadar aku mencintai dia, walaupun aku berusaha memantapkan hati ini untuk kamu tapi nggak bisa. Bayangan Diaz selalu menghalangi bayangan kamu di hati aku." Brian memegang Alana cukup kuat, membuat Alana meringis kesakitan. Namun Alana pasrah, Alana membiarkan Brian menyakiti fisiknya karena merasa bersalah. Bahkan Alana siap menerima tamparan dari Brian sebagai kesalahannya meninggalkan Brian. "Kalau Kakak mau nampar aku, silahkan Kak. Aku pasrah, aku merasa bersalah karena udah buat Kak Brian sakit hati," ucap Alana menunduk. Brian kembali menghempaskan tangan Alana. "Mana mungkin aku menyakiti wanita yang kucintai kedua kalinya. Pertengkaran kemarin aja buat aku menyesal karena nggak sengaja nyakitin kamu." Alana kembali menatap Brian dan mengulum senyum. "Tapi kita masih tetap jadi sahabat kan? Aku akan tetap mengikuti les lukis Kak Brian. Aku akan sungguh-sungguh belajar melukis," ucapnya mencoba bahagia. Brian menghela napas. "Maaf Alana. Aku rasa kamu nggak bisa mengikuti kursus lagi, terlalu sakit hati ini membiarkanmu tetap menjadi murid lukis aku," ungkapnya frustasi. Alana shock mendengarnya, dia mencoba membujuk Brian. "Tolong Kak. Jangan korbankan kedekatan kita hanya karena cinta. Kita masih bisa bersahabat Kak walaupun tak menjadi kekasih." "Stop Alana! Kamu keterlaluan ya. Aku paksa aku jadi sahabat setelah kamu buatku sakit hati. Apa kamu nggak punya hati?!," tukas Brian. "Hey," pekik Diaz menghampiri Brian dan Alana, memandang Brian penuh amarah. Brian tak bergeming, dia hanya menghembuskan napas kesal melihat kedatangan Diaz. Mengapa laki-laki itu datang disaat Brian meminta pertanggung jawaban Alana yang menyakiti hatinya. Brian belum percaya Alana lebih memilih Diaz menjadi kekasihnya, dia masih yakin cinta Alana hanya untuknya. "Diaz, udah ya jangan marah-marah. Kak Brian datang baik-baik kok." Alana berusaha menenangkan Diaz yang tersulut emosi. "Nggak bisa gitu sayang. Cowok itu udah bentak kamu, sebagai kekasih tentu aku nggak Terima dong," ucap Diaz tegas. "Memangnya, loe ngomongnya nggak ngegas ke Alana. Tuh buktinya," sindir Brian melirik Diaz sinis. Sindiran Brian membuat Diaz murka, dia menatap Brian murka. Brian pun tak kalah memandang Diaz geram, gara-gara Diaz dia kehilangan Alana. "Eh nggak usah mancing emosi gue ya! Mendingan loe pergi dari sini. Gue nggak Terima cewek gue deket-deket cowok pemaksa kaya loe," ucap Diaz geram. Brian tersenyum sinis. "Alana-alana, kamu milih cowok urakan kaya gitu kok bangga. Ntar hidup kamu bakalan nggak karuan karena dia pasti bawa pengaruh nggak baik. Mungkin bisa aja dia ajak kamu balap liar," ungkapnya yang membuat Diaz dan Alana saling pandang. Alana gusar karena Brian menyebut Diaz membawa pengaruh buruk balap liar. Bagaimana jadinya jika Brian tahu yang sebenarnya kalau Alana juga hobi balap liar. Sudah pasti Brian marah dan menghindari Alana karena menganggap Alana wanita tidak benar. "Maksud kamu apa ya bahas balap liar, memangnya kenapa dengan balap liar?" Diaz malah memancing argumen Brian mengenai balap liar, dia ingin Alana mendengar pengakuan Brian secara langsung. "Dengar ya. Aku dan keluargaku paling nggak suka dengan keributan dan semua hal ilegal, termasuk balap liar. Aku nggak sudi kenal apalagi dekat dengan orang yang suka balap liar, termasuk kamu jika kamu hobi balapan," ungkap Brian tegas. Alana mematung di tempatnya mendengar ungkapan pedas Brian. Ternyata Brian membenci semua hal ilegal, khususnya balap liar. Ya Tuhan, hati ini sakit karena Brian ternyata memilih orang untuk menjadi temannya. Alana kemudian memandang Diaz, walaupun Diaz terlihat ugal-ugalan tetapi hatinya lembut. Diaz bisa menjaga perasaan semua orang dengan ucapannya yang sopan. "Oh, terus gimana jadinya kalau wanita yang kamu suka hobi balap liar?" tanya Diaz penasaran. "Tentunya aku nggak akan mengenal dia karena nggak terpengaruh hal buruk, tapi aku yakin Alana nggak suka balap liar. Walaupun dia tomboy dan hobi naik motor moge, dia adalah wanita yang baik," sahut Brian, lalu menoleh tersenyum pada Alana. Diaz sendiri mengikuti pandangan Brian memandang Alana. Diaz menelan ludah melihat sikap Alana yang sedih, itu pasti karena sikapnya yang membujuk Brian jujur mengenai balap liar. "Aduh, aku jadi merasa bersalah sama Alana. Maafin aku sayang," ucap Diaz dalam hati. "Udahlah, aku harus ngajar les." Brian memandang Alana dan mengulum senyum. "Aku pulang dulu Alana. Aku harap kamu mengerti perasaanku," pamitnya, lalu pergi. Setelah kepergian Brian, Diaz langsung memegang tangan Alana dan mencium punggung tangan Alana. Hal tersebut membuat Alana tersenyum, apalagi Diaz menyeka air mata yang keluar di pipi Alana. "Maafin aku ya sayang. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu," ucap Diaz merasa bersalah. Alana tersenyum. "Nggak papa kok. Berkat kamu, aku tahu sikap Kak Brian yang sebenarnya. Kalau aku jadiannya sama dia, aku bakal makan ati dan frustasi deh." "Ya udah, kamu tunggu di dalam gih. Aku mau keluar sebentar beli bakso," ucap Diaz mengulum senyum. "Oke, aku yang pedes ya. Pengen yang pedes-pedes," sahut Alana cepat. Diaz mengangguk, dengan malu-malu dia mencium kening Alana. Barulah Diaz berlari keluar dari halaman rumah Alana, sementara Alana memegang keningnya. Dia tak menyangka mendapat kenangan indah setelah bertahun-tahun kehidupan Alana hampa tanpa cinta. "Ya Allah, aku nggak mimpi kan?! Ini aku beneran dapat ini lagi." Alana memegang keningnya mengulum senyum, dia bangkang melompat-lompat karena saking bahagianya. "Cie-cie, yang dapat kiss pertama bahagia banget," seru Vita menghampiri Alana. "Vita, kenapa ada disini? Sejak kapan kamu disini?" Alana gugup karena Vita mengetahui sikapnya, padahal dia pikir tak ada orang. "Sejak obrolan kamu sama Kak Brian, terus datang Diaz membelamu dan terjadilah kiss indah itu," sahut Vita penuh kebahagiaan. Alana tersipu malu. "Sudahlah.Lupain itu, kita masuk yuk." Alana memilih masuk untuk menghindari godaan Vita. "Yes, Alana yang dulu udah come back," pelik Vita bahagia, membuat wajah Alana merona.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN