Diaz menunggu antrian di warung penjual bakso, namun kepalanya berputar-putar hebat disertai darah keluar dari hidungnya. Hal tersebut membuat keseimbangan Diaz berkurang, untunglah Keyla datang dan menahan tubuh Diaz yang hampir tumbang.
“Ya Allah Diaz, kamu sakit lagi,” seru Keyla khawatir.
Diaz tak sanggup berbohong, rasa sakitnya seakan membungkam mulutnya. Keyla pun khawatir melihat kondisi Diaz dan membawa Diaz keluar dari warung bakso, Keyla membawa Diaz masuk ke mobilnya.
“Kamu bawa obat kan?” tanya Keyla panik.
Diaz hanya menanggapi dengan anggukan, Keyla pun sigap mengambil obat dari tas Diaz. Setelah menemukan obat Diaz, Keyla membaca aturan minum dan memberikan 5 butir obat pada Diaz beserta air mineral botol.
Sementara Diaz mengambil obat dan memasukkannya ke dalam mulut secara bersamaan. Diaz menyandarkan kepalanya di jok dan memejamkan mata beberapa detik, membiarkan dirinya lebih tenang dan kuat menghadapi penyakit mematikan itu.
“Udah mendingan kan,” ucap Keyla masih khawatir.
“Alhamdulilah udah Key, makasih ya kamu udah nolongin aku,” sahut Diaz mengulum senyum.
“Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu sih. Udah berkali-kali aku lihat kamu kesakitan sampai mimisan, apa ada gangguan kesehatan?” Keyla berusaha menyelidiki kebenaran dari mata Diaz, namun gagal.
“Aku cuma mimisan biasa kok, nggak ada penyakit serius,” sahut Diaz mantap.
“Bohong! Salah satu keluargaku ada yang mimisan tapi nggak separah ini. Tapi gejala penyakit kamu kayaknya penyakit parah, bahkan aku baca ciri-ciri gejala yang kamu alami mirip penyakit Leukimia,” jelas Keyla memandang Diaz.
DEG!
Nafas Diaz terkesan tercekat di kerongkongan mendengar ucapan Keyla yang membahas penyakit Leukimia. Bagaimana mungkin Keyla bisa mengetahui ciri-ciri penyakit Leukimia? Bagaimana jika Alana akhirnya mengetahui kebenarannya. Diaz menggelengkan kepala, Diaz tak akan membiarkan kebahagiaan Alana pupus karena mengetahui penyakit Diaz.
“Diaz, jawab pertanyaan aku. Sebenarnya kamu sakit apa?” tanya Keyla sekali lagi.
“Aku nggak sakit apa-apa, kamu nggak usah khawatir ya,” ucap Diaz menenangkan Keyla.
“Oya Key, bisa anterin aku pulang. Tapi kamu bilang Alananya aku ada urusan penting ya, aku nggak mau dia khawatir dan berpikiran yang enggak-enggak.”
Ucapan Diaz membuat Keyla menatap Diaz tajam, sepertinya dugaannya benar. Diaz tengah menyembunyikan rahasia besar dari semua orang, namun rahasia apa? Mungkinkah sebuah penyakit? Ya Tuhan, apa yang harus Keyla lakukan untuk mengetahui rahasia besar yang Diaz sembunyikan?.
“Ayo jalan,” perintah Diaz cepat.
“Eh, iya. Sorry.” Keyla melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, dia tak ingin laju mobil membuat Diaz tidak nyaman.
Diaz pun menelan ludah gusar, dia melirik Keyla selama beberapa detik. Mengapa gadis itu selalu datang di saat Diaz merasakan penyakitnya kambuh? Mengapa Keyla selalu melihat Diaz mimisan dengan tubuh tak berdaya. Ya Tuhan, jika Keyla melihatnya terlalu sering bisa menaruh kecurigaannya. Kapan saja Keyla bisa mengetahui rahasia penyakit Diaz, Diaz terkesiap saat ponselnya berdering. Dia mengambil ponsel dan gusar melihat nama ‘Alana’ tertera di layar ponselnya.
“Kenapa nggak diangkat, angkat dong,” pinta Keyla heran karena Diaz tak kunjung mengangkat telepon.
“Alana yang nelpon, aku bingung cari alasan,” sahut Diaz pesimis.
Keyla menghela napas. “Aku rasa, untuk seorang Diaz nggak sulit mencari alasan sepele. Kan itu sudah keahlianmu sejak sok kegantengan,” sindirnya pedas.
“Mulai lagi. Oke, aku coba,” ucap Diaz, lalu mengangkat panggilan Alana.
“Sayang, kamu kok lama sih. Masa iya beli bakso nyampe 2 jam,” ucap Alana diseberang sana, seolah tak memberikan kesempatan Diaz berkata.
“Maaf sayang, tadinya aku udah beli bakso dan otw ke rumah kamu. Mendadak ada panggilan telepon, makanya aku buru-buru pergi. Sekali lagi maaf ya, aku janji deh bakal ganti dengan ajak kamu liburan,” ucap Diaz membela diri.
“Oke deh, tapi kamu hati-hati ya.”
“Siap sayang. Kamu makan baksonya sama Vita dulu ya, sampai jumpa. I love you sayang.” Diaz berkata lantang.
“I love you to sayang, bye,” sahut Alana lembut, lalu memutus sambungan telepon.
Diaz memperhatikan Keyla, kali ini mimik wajah Keyla tak seperti biasanya yang lemah lembut. Diaz merasa Keyla tangah memikirkan sesuatu yang berat, dan Diaz yakin itu mengenai dirinya. Bahkan sampai di halaman rumah Diaz pun, Keyla tak mengutarakan perkataan.
“Key, mau mampir? Alvar pasti seneng tuh,” goda Diaz seraya membuka seat beltnya.
“Nggak usah deh. Aku lagi nggak mood,” sahut Keyla malas.
“Udah deh nggak usah mikirin mimisan aku, ini nggak berbahaya kok.” Diaz seolah tahu apa yang dipikirkan Keyla, dia langsung meminta Keyla berhenti berpikiran negatif.
Keyla akhirnya tersenyum. “Oke, kalau gitu aku pulang dulu ya.”
Diaz mengangguk. “Thanks ya buat semuanya, bye.” Diaz mengulum senyum, lalu keluar dari mobil. Memperhatikan mobil Keyla keluar dari halaman rumahnya, dia pun masuk ke rumah.
***
“Kenapa sih penyakit ini nggak bisa di kompromi. Harusnya datangnya kalau lagi sendirian, kenapa malah lagi sama Alana sih,” ucap Diaz lirih saat membuka pintu rumahnya, dia masih memegangi kepalanya yang teramat sakit.
“Penyakit siapa?” tanya Alvar menghampiri Diaz, mendelik menatap penuh selidik.
“Apaan sih loe, kepo. Gue tadi bahas penyakit temen kuliah gue,” sahut Diaz berbohong.
Namun, jawaban Diaz malah membuat Alvar muka sampai membanting vas bunga diatas meja ruang tamu. Tentunya mengundang emosi Diaz, apalagi bunga hidup itu favorit sang mami.
“Kenapa loe malah banting bunga nyokap gue?! Mau loe apa sih,” ucap Diaz dengan nada tinggi.
“Gue heran sama loe. Loe itu kapan sih dewasanya, loe bilang loe cinta sama Alana. Tapi loe nggak nikahin dia, harusnya loe lamar dia dan nikahi dia.” Alvar malah meminta Diaz menikahi Alana, tentu membuat Diaz terpengarah kaget.
“Eh Edward Cullen, loe lagi mimpi apa ngigau sih. Gue sama Alana masih kuliah, masa udah mikirin nikah. Aneh loe,” ungkap Diaz terkekeh.
Alvar semakin emosi atas tanggapan Diaz, sepupunya itu memang tak bisa diajak kompromi. Padahal Alvar mengetahui keinginan Diaz yang ingin menikah muda, dia tak ingin Alana direbut laki-laki lain dan Diaz kembali patah hati.
“Gue tahu ya loe punya saingan. Sebelum Alana direbut cowok lain, cepetan nikahin Alana. Masalah kuliah kan bisa sambil jalan, banyak kok suami istri masih kuliah,” keukeuh Alvar.
“Bro, gue pengen Alana jadi dokter dulu sebelum menikah. Gue yakin kok Alana akan setia,” ucap Diaz menenangkan Alvar.
“Bukan malah setia apa nggak setia bro. Gue cuma pengen yang terbaik buat loe, plis ikuti saran gue sebelum loe nyesel.” Alvar malah berkata seolah keramat, tentunya membuat Diaz terdiam ditempatnya.
“Loe mau kan nikahi dia, kalau loe jadi suaminya kan bisa mantau kuliah dia 24 jam penuh,” bujuk Alvar optimis.
“Tapi gue belum nemuin cinta pertama gue, gue pengen ketemu dia dulu sebelum gue menikah.” Diaz memilih beralasan belum menemukan cinta SMAnya, padahal belum siap menikahi Alana sedangkan dia sakit keras.
“Iya loe disini jomblo nungguin dia, gimana kalau dia sudah menikah atau punya anak. Siapa yang rugi? Yang rugi loe bro, bisa aja kan Alana ninggalin loe karena merasa loe nggak serius,” ungkap Alvar bijak.
Diaz gusar, nasehat Alvar ada benarnya juga. Namun, apakah Diaz sanggup melamar Alana dan menjadikannya istri? Apakah Alana menerima menikah muda sebelum menjadi dokter? Ya Tuhan, apa yang merasuki pikiran Alvar? Kenapa sepupunya itu mendadak meminta Diaz menikahi Alana.
“Oke, gue akan pikirin omongan loe,” ucap Diaz akhirnya.
“Oke, gue mau nonton film barat dulu. Biar bibi aja yang beresin pecahan vas bunga itu,” sahut Alvar tersenyum penuh kemenangan, lalu naik ke lantai atas.
Diaz menatap punggung Alvar yang semakin menjauh, kelakukan Alvar memang tak bisa tebak. Bisa-bisanya Diaz memiliki sepupu seperti Alvar, sepertinya Alvar memiliki banyak kepribadian. Terkadang baik, tempramental dan sulit ditebak.
“Permisi Den, biar Bibi bersihkan pecahan vas bunganya dulu,” ucap Bi Iyem, asisten rumah tangga di rumah Diaz menghampiri Diaz.
“Bi, itu vas dan bunga kesayangan Mami. Ntar kalau Mami tanya gimana ya, Bi?” tanya Diaz was-was.
Bi Iyem tersenyum. “Den Diaz tenang aja. Den Alvar nggak mungkinlah berani mecahin vas bunga kesayangan Nyonya. Bisa di usir loh Den.”
Kening Diaz bertautan mendengar tanggapan Bi Iyem. “Maksudnya, Bi.”
“Tadi Bibi lihat Den Alvar beli vas dan bunga yang mirip kaya punya Nyonya. Terus Den Alvar umpetin vas dan bunga itu ke dapur Den. Ternyata buat ngerjain Den Diaz,” ungkap Bi Iyem, membuat Diaz terkejut.
“Jadi Alvar ngerjain aku Bi?” tanya Diaz memastikan.
Bi Iyem mengangguk. “Sudah ya Den. Bibi beresin dulu, keburu Nyonya pulang.”
“Iya Bi.”
Diaz mengepalkan kedua tangannya, ternyata dia dikerjai sepupunya itu. Padahal saat Alvar memecahkan vas bunga, Diaz sudah ketakutan. Seketika, senyuman licik mengembang di sudut bibir kiri Diaz.
“Loe pikir bisa ngalahin gue? Lihat aja apa yang akan terjadi besok,” ucap Diaz dalam hati, lalu berjalan cepat ke lantai atas.
***
Minggu pagi, Diaz menghentikan motornya di halaman rumah Alana. Seketika, wajah Diaz berubah garang melihat Alana tengah berbicara dengan Brian di teras. Diaz menghela napas karena kedatangannya telat.
“Sialan, dia rajin juga ya lebih dulu dari gue,” lirih Diaz geram.
Sementara Alana terkejut melihat kedatangan Diaz, dia was-was Diaz akan marah melihat kedatangan Brian. Alana buru-buru menghampiri Diaz dan mengulum senyum ragu.
“Pa-pagi sayang,” sapa Alana mengulum senyum.
“Pagi sayangku. Kamu ngapain sih pagi-pagi udah nempel dia aja,” gerutu Diaz seraya melepaskan kaca mata hitamnya.
“Aku sengaja datang pagi-pagi untuk wanita tercintaku.” Brian berjalan penuh karisma menghampiri Alana dan Diaz, sementara kedua tangannya ada di dalam saku celana jeansnya.
“Ngapain pagi-pagi nemuin kekasih orang. Masih halu juga,” ketus Diaz.
Brian menghela nafas panjang. “Aku pengen tes aja, tes apakah kamu tulus mencintai Alana atau tidak,” ucapnya tegas.
“Kenapa masih nanya. Apa penjelasan gue belum jelas, kenapa sih loe nggak cari wanita single aja.” Diaz semakin geram dengan sikap Brian yang tak tahu malu mendekati Alana.
“Karena aku cintanya sama Alana. Hmm, kamu pasti tahu kan seorang wanita akan merasa tenang dan aman setelah laki-laki yang dicintainya memantapkan hatinya ke jenjang yang lebih serius,” ucap Brian dengan teka teki.
“Maksud loe gue harus nikahi Alana?! Nggak perlu repot-repot nasehatin gue. Gue pasti akan melamar Alana dan menikahinya karena gue sangat mencintai dia,” sahut Diaz mantap.
“Buktikan dong. Tante Rista bilang dia ingin Alana ada yang menemani, dengan begitu melancarkan cita-cita Alana menjadi dokter. Selama 24 jam penuh ada yang mensupport Alana,” tantang Brian, membuat Diaz terkejut.
Diaz terdiam dan mematung di tempatnya. Kemarin, Alvar memintanya melamar dan menikahi Alana. Kini, Brian malah menantangnya memantapkan Alana ke jenjang yang serius. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa di saat Diaz bimbang dengan cinta dan penyakitnya, semua orang ingin dia menikahi wanita pujaannya.
Alana memandang Diaz penuh harap. “Kamu serius kan cinta sama aku?” tanyanya lembut.
“Kok kamu ngomongnya gitu sih. Aku tulus mencintai kamu, Alana,” sahut Diaz mantap.
“Sebenarnya ada masa lalu yang belum aku selesaikan, tapi setelah dipikir-pikir itu hanya mengganggu masa depanku aja. Karena aku memiliki keinginan menikah muda, aku putuskan melupakan masa lalu itu dan merajut masa depan dengan indah tanpa bayangan masa lalu,” ungkap Alana lembut, namun serius.
DEG!!
Jantung Diaz sekaan menghujam kejam, ucapan Alana membuatnya dadanya sesak. Dia tak percaya Alana siap melupakan masa lalu dan menatap masa depan tanpa bayangan masa lalu. Lalu, jika Alana mengetahui kebenarannya bagaimana? Apakah Alana akan membenci Diaz dan tak menerimanya di masa depan.
“Alana, kenapa kamu kubur masa lalu kamu. Ada masalah yang belum selesai, kamu salah paham Alana. Aku nggak ninggalin kamu dalam kebakaran, aku nolongin kamu tapi kakiku kena balok dan kita terpisah sekat. Aku nggak biarin kamu terbakar, Alana,” ucap Diaz dalam hati.
“Hei, nggak usah sok dramatisir deh kamu. Cepetan bisa nggak? Kalau kamu nggak bisa, dengan senang hati aku menerima Alana dengan kedua tangan dan kedua kakiku,” ucap Brian percaya diri.
Diaz geram dengan sikap Brian, laki-laki itu seakan berambisi merebut Alana darinya. Padahal sudah jelas Alana adalah kekasih Diaz, Diaz pun bimbang dan mengingat nasehat Alvar. Diaz tak ingin kehilangan Alana apapun yang terjadi, Diaz sangat mencintai Alana dan siap berkorban untuk Alana.
“Oke, gue siap melamar Alana. Tapi gue akan merencanakan ini semua, gue ingin lamaran impian gue sama Alana tak terlupakan,” janji Diaz, membuat Alana merona.
Brian berjalan dan berhenti saat beriringan Diaz, kemudian menoleh ke Diaz. “Aku nggak yakin kamu bisa melakukannya, kalau nyerah tinggal angkat tangan Bro,” bisiknya, lalu berjalan pergi.
Diaz geram, sorot matanya penuh amarah. Alana yang mengetahui kemarahan Diaz, menghampiri Diaz dan memegang tangan Diaz. Barulah Diaz mengulum senyuman pada Alana, kemarahan yang tadinya memuncak mendadak hilang dengan sentuhan Alana.
“Nggak usah di masukin ke hati ya. Yang penting kan, aku pilih kamu,” ucap Alana lembut.
“Makasih ya sayang. Hmm, kamu mau jalan-jalan nggak? Kita ke pantai yuk,” ajaknya semangat.
Alana mengulum senyum. “Mau, ntar ya aku ganti baju dulu.”
“Oke,” sahut Diaz semangat.
Diaz memperhatikan Alana masuk rumah, sementara Diaz duduk di kursi teras. Dia menggigit bibir bawahnya kejam, apakah dia siap menikahi Alana dalam kondisi sakit-sakitan. Bagaimana jika Alana akhirnya mengetahui penyakit Diaz karena serumah dengan Diaz?
“Ya Allah, kenapa jadi ribet gini sih,” ucap Diaz dalam hati.
***