Bab 40

1055 Kata
Alana dan Bu Rista tengah menikmati makan malam bersama di rumah, Bu Rista heran dengan sikap Alana yang gelisah. Dia tahu, Alana pasti heran karena mendadak dia meminta Alana segera menikah. Padahal dahulu Bu Rista ingin Alana fokus menjadi dokter dan bisa menikah setelah menjadi dokter. "Kamu marah sama Mama, Alana?" tanya Bu Rista setelah makanan di mulutnya habis. Alana tersenyum terpaksa. "Nggak kok Ma. Ya aku kaget aja, kenapa semalam Mama minta aku menikah muda, ya walaupun aku emang mau nikah muda sih. Tapi aku kaget aja Ma." "Mama melakukan itu demi kebaikan kamu Nak. Mama nggak mau kamu terlalu jauh terjerumus balap liar," ungkap Bu Rista, membuat Alana tersedak. Alana segera mengusap mulutnya dengan tisu. Kemudian dia gusar, bagaimana mungkin sang mama bisa mengetahui kebiasaan Alana balap liar. Ya Tuhan, hati Mama pasti hancur mengetahui kenyataan pahit itu, pikir Alana. "Sejak kapan kamu sering balapan liar?" tanya Bu Rista menatap Alana tajam walaupun mimik wajahnya masih tenang. "A-aku, hmm," sahut Alana tak sanggup jujur. Bu Rista mengulum senyum. "Ceritakan saja Nak. Mama nggak akan marah kok," pintanya lembut. Alana akhirnya memandang wajah sang mama, senyumannya mengembang dan memegang tangan sang mama. Sementara Bu Rista balas mengusap tangan Alana. "Kamu itu permata hati Mama sayang. Cuma kamu yang Mama punya di dunia ini, Mama sadar selama ini sudah egois karena memaksamu menjadi dokter untuk memenuhi permintaan terakhir Nenek. Mama nggak mikirin perasaan kamu, apakah kamu bisa menyelesaikan kuliah kedokteran atau tidak. Maafin Mama sayang," ungkap Bu Rista berkaca-kaca. "Maafin aku Ma. Aku udah jadi anak durhaka dan mengecewakan Mama." Alana bangkit dan berlutut di pangkuan Bu Rista, air matanya menetes di pipinya. "Bangun sayang. Mama sayang banget sama kamu, makanya Mama pengen kamu menikah di sela kamu kuliah. Dengan begitu ada yang menemani dan menjagamu sepanjang hari." Alana menghela nafas lega. "Berati Mama nggak marah selama ini aku balap liar?" tanyanya memastikan. Bu Rista menggeleng kuat. "Mama memang nggak marah, tapi bukan berarti kamu bisa balapan lagi. Mama nggak mau anak Mama satu-satunya terkena masalah hukum, kamu harus berhenti balapan ya." Alana menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ta-tapi temen-temen pasti nyariin aku Ma." Bu Rista menggeleng. "Apapun alasan kamu, Mama nggak akan mengizinkannya. Lebih baik kamu memilih siapa yang jadi pendamping hidupmu, Brian atau Diaz?" "Mama apaan sih Ma. Kan Mama udah tau aku milih Diaz," sahut Alana lembut. "Baiklah. Mama percaya Diaz anak yang baik, walaupun penampilannya kurang sopan tapi hatinya lembut. Iya kan Nak?" ucap Bu Rista menanyakan pendapat Alana. Wajah Alana merona. "Mama apaan sih." "Ya udah, Mama beresin piring kotornya dulu ya. Kamu terserah deh boleh ngapain aja." Bu Rista bangkit, lalu menumpuk piring kotor. Alana pun ikut membereskan meja makan dengan menyatukan lauk pauk yang sama. Kemudian dia mengelap meja makan secara hati-hati agar tak mengenai gelas maupun piring. Namun di tengah tugasnya, Diaz menelepon. "Ngapain sih Diaz nelpon? Udah tau lagi beres-beres," gerutu Alana menatap nama "Diaz" pada layar ponsel. Bu Rista akhirnya kembali ke meja makan dan menggelengkan kepala melihat sikap Alana. "Angkat aja Alana. Biar Mama yang merapikan meja makan." Alana menelan ludah karena tak enak hati. "Iya Ma, aku ke depan dulu ya." "Iya sayang," sahut Bu Rista cepat. Alana akhirnya ke ruang tamu dan duduk bersandar pada sofa yang empuk. Dia menempelkan ponselnya di telinga, membiarkan Diaz membuka obrolan terlebih dahulu. "Sayang, kamu udah ngomongin pernikahan belum ke Tante Rista. Maaf nih, aku belum. Ya gimana ya, aku bingung ngomong ke nyokap gimana. Pasti disemprot karena dianggap kuliah aja nggak becus mau nikah, kan kamu tahu kan aku bolak balik pindah kampus gegara bikin rusuh," curhat Diaz panjang mengenai kegundahan hatinya. Alana malah terkekeh mendengar curhatan Diaz. "Itu sih derita kamu sayang. Aku sih nggak bilang, bahkan Mama sendiri yang mulai obrolan. So, aku nggak perlu mikir keras gimana caranya biar Mama nggak marah aku nikah muda. Toh Mama yang nyuruh aku." "Tolong dong sayang, bantuin aku," pinta Diaz memelas. "Ogah! Sebagai wanita, aku nggak mau dong ngomong gitu ke camer. Emangnya aku wanita apaan, justru kamu yang harus izin ke Mama aku kalau kita mau nikah," ucap Alana, membuat Diaz terlontar kaget. "Maksudnya? Selain aku bilang ke nyokap, harus izin ke Tante Rista juga? Kok gitu," ucap Diaz kesal. "Hmm kayaknya kamu masih awal soal pernikahan deh. Belajar dulu gih dari buku atau apa, jangan sampai pas kamu ngelamar aku malah ditolak Mama," sahut Alana menggoda Diaz. "Kenapa di tolak? Kita kan saling mencintai," keukeuh Diaz. "Iya aku tahu, tapi belum tentu kan hubungan kita direstui orang tua. Sebelum pernikahan terjadi, kamu harus yakinin Mamaku dan Mami kammu. Udah dulu ya sayang, belajar mengenai pernikahan gih." Alana tampak menahan tawa, dia segera mematikan sambungan telepon Diaz. Alana menggelengkan kepalanya, senyumannya mengembang di bibirnya. Dia tak menyangka, Diaz yang sepertinya mengetahui berbagai hal ternyata awal mengenai pernikahan. Bagaimana jadinya jika dia dan Diaz menikah dalam waktu dekat ini? Apakah rumah tangga mereka hanya masalah, atau ada kebahagiaan yang diberikan Alana maupun Diaz. "Diaz, Diaz. Aku nggak sabar pengen liat kamu kesini bareng Mami kamu lamar aku," ucap Alana semangat, dia malah menantikan momen pertemuan keluarga itu. *** "Ini semua gara-gara Alvaro dia sok-sokan minta aku nikah muda. Jadinya begini kan kejadian, Tante Rista malah meminta Alana nikah muda, kalau nggak dituruti bakal kalah." Diaz mengusap wajahnya frustasi. Diaz menghempaskan ponselnya ke sofa ruang keluarga. Masalah ini sangat berat dibanding biasanya, dia tak tahu caranya meminta izin ke sang mami dan Tante Rista mengenai persiapan pernikahannya dengan Alana. Ya Tuhan, apa yang harus hamba lakukan," ucapnya frustasi. "Cie, yang mau nikah bahagia banget nih," ledek Alvaro menghampiri Diaz, Alvar malah asik melahap keripik singkong yang dia pegang. Diaz bangkit dan menatap Alvar. "Ini semua gara-gara kamu ya, sekarang Tante Rista malah minta Alana nikah muda. Gue emang nggak tahu apa alasannya, tapi sebelum ini Tante Rista minta Alana fokus kuliah. Kenapa jadi ikut-ikutan loe yang pengen gue nikah," kesalnya. "Bagus dong. Artinya loe nggak terlalu sulit meyakinkan nyokapnya Alana, tinggal lamar dia aja," saran Alvar tanpa berdosa. "Gue nggak ngerti caranya. Gue aja belum bilang nyokap," ucap Diaz mengerucutkan bibir kesal. "Tenang. Selama ada gue, semuanya aman. Gue bakal bantuin loe ngomong ke Tante Maria. Ayo ikut gue," ajak Alvar penuh percaya diri. "Kemana?" tanya Diaz heran. "Ya nemuin nyokap loe lah. Ayo." Alvar bangkit dan melenggang pergi, sementara Diaz mengikuti Alvar di belakang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN