Bab 41

1460 Kata
"Apa? Kamu mau menikahi Alana?! Kamu mimpi Nak? Kamu kuliah aja belum benar. Baru beberapa bulan kamu anteng kuliah di kampus Mami. Mami nggak mau kamu menikah, kamu masih dalam masa penjajakan." Bu Maria shock setelah Diaz izin menikahi Alana, saking shocknya sampai bingung mau bertindak apa pada putra semata wayangnya. "Hmm Aku janji bakalan jadi suami Alana yang baik Mi. Aku akan bekerja giat juga," bujuk Diaz memelas. "Sekali Mami bilang tidak ya tidak. Mami nggak mau kamu hanya menyengsarakan Alana, walaupun keluarga kita bisa menafkahi Alana tapi Mami nggak mau. Mami ingin nantinya kamu berumah tangga dan menafkahi istri kamu dengan kerja keras kamu biar kamu nggak kaget," keukeuh Bu Maria masih marah. Diaz menoleh ke arah Alvar meminta pertolongan. Diaz sampai menginjak kaki Alvar karena Alvar hanya terdiam mematung, seolah tak mau terlibat dalam obrolan Diaz dengan sang Mami. Sikap Alvar tentunya membuat Diaz geram, Alvar yang menginginkan dia menikahi Alana. Kini, setelah mendapat lampu hijau dari mama Alana tetapi Alvar tak mau membantunya meyakinkan sang mami. "Sialan si Alvar, tau gini ngomong Maminya ntar aja," gerutu Diaz dalam hati. "Mi, tolongin aku Mi. Aku janji bakal menjadi suami dan ayah yang baik untuk membahagiakan istri dan anakku. Aku akan bekerja keras dan nggak akan mengandalkan kekayaan keluarga kita," pinta Diaz memohon. Bu Maria menghela napas panjang. "Maaf Nak. Mami punya alasan kuat melarang kamu menikah muda, Mami istirahat dulu ya." Bu Maria memilih pergi meninggalkan Diaz yang tampak lemas, sejujurnya dia kasihan dengan sang putra. Namun dia tak mungkin membiarkan Diaz menikah muda karena belum siap menjadi seorang suami. "Loe gimana sih, masa yakinin nyokap loe aja nggak bisa," kesel Alvar pada Diaz. "Loe nggak usah nyalahin gue dong. Menurut gue wajar Mami nggak izinin gue nikah, secara gue kan dari dulu urakan. Kampus aja pindah-pindah, jadi nyokap masih shock dengernya," sahut Diaz membenarkan tanggapan sang mami. "Terus gimana kalau si Brian itu rebut Alana dari loe. Loe udah siap kehilangan wanita yang loe cintai?" tanya Alvar menawarkan. "Gue akan cari cara kok. Ya, gue coba kasih waktu ke Mami aja. Ntar Mami pasti setuju sama kemaua gue," ungkap Diaz yakin. "Oke deh, semoga." "Ya udah, gue mau tidur dulu." Diaz beranjak, mendadak kepalanya berkunang-kunang dan kehilangan keseimbangan berdiri. Untunglah Alvar langsung bangkit dan memegangi bahu Diaz. "Loe kenapa?" tanya Alvar khawatir. "Gue cuma kelelahan aja. Semalam nggak tidur," sahut Diaz berbohong. Alvar menatap Diaz, seolah menyelidiki apakah jawaban benar atau salah. Diaz tentunya tak ingin sepupunya curiga mengenai penyakit yang diderita, Diaz memilih pergi dan masuk kamar seorang diri. *** Keesokan harinya, Alana tampak bahagia. Dia menyantap mie ayam kantin yang lezat. Kebahagiaan Alana membuat Vita dan Kayla ikut bahagia, bahkan mereka menghentikan aktivitas makannya untuk memandang wajah Alana yang berseri-seri. "Cie yang lagi gegana mikirin nikah, ntar sahabatnya dilupain lagi," ledek Keyla senyum-senyum. Alana tersipu. malu. "Ngapain lupain sahabat. Mendingan aku ajak kalian tinggal bareng aku pas nikah nanti." "Ye, ogah ya aku sama Keyla satu rumah sama kamu. Yang ada kita jadi obat nyamuk," tempat Vita menolak mentah-mentah tawaran Alana. Alana terkekeh. "Bercanda. Siapa yang mau ngajak kalian tinggal bareng, enak aja. Ntar ganggu momen istimewaku sama Diaz dong, ogah." Di sisi lain, tampak Diaz memperhatikan obrolan Alana dan kedua sahabatnya. Diaz memasang wajah iba melihat kebahagiaan Alana yang bersedia menikah muda dengannya. "Ya Tuhan, aku nggak tega Alana mendengar jawabanku mengenai Mami. Alana pasti kecewa dan Brian bisa memanfaatkan ini. Aku harus gimana menghadapinya," ucap Diaz lirih. Diaz merasakan dadanya sesak, namun dia akan berusaha meyakinkan sang Mami. Sang Mami harus menyetujui pernikahannya sebelum penyakitnya semakin parah. "Aku harus usaha lebih giat." Batin Diaz, lalu pergi. Sementara itu, Alana menoleh ke tempat Diaz tadi berpijak. Dia merasakan kehadiran Diaz disitu, sayangnya tak ada Diaz disana. "Alana, kamu liatin siapa sih?" tanya Vita heran. "Kayaknya tadi ada Diaz deh. Kenapa sekarang nggak ada ya," sahut Alana heran. "Nggak ada siapa-siapa kok. Mungkin kamu udah kangennya nggak ketulungan jadi dimana pun terbayang Diaz, percaya deh yang lagi kasmaran," goda Keyla cengengesan. "Beneran guys. Aku tadi ngerasa ada Diaz, tapi kenapa nggak nyamperin aku ya. Apa Bu Maria nggak merestui kita nikah muda ya," tebak Alana sedih. "Jangan negatif thinking dulu dong. Aku yakin kok Bu Maria pasti setuju, walaupun sikap kamu yang buat onar tapi kan nilainya selalu A. Nggak mungkin dong rektor sia-siakan kesempatan mendapat calon menantu calon dokter." Vita berusaha menenangkan Alana, walaupun dia juga khawatir Bu Maria menolak Diaz berjodoh dengan Alana karena sisi negatif Alana di kampus. Alana menghela nafas panjang. "Bismilah deh, semoga semuanya dilancarkan. Kalau Diaz memang jodohku, semoga Bu Maria setuju. Tapi jika nggak setuju berarti bukan jodohku," ungkapnya pasrah. "Loh, kok pesimis gitu sih. Harus semangat dong," ucap Keyla menguatkan Alana. "Semangat dong. Pokoknya aku sama Keyla selalu dukung kamu, kita nggak akan biarin impian pernikahan Alana sama Diaz gagal." Vita berkata lantang, dia menyalurkan energi positif pada Alana. Alana mengulum senyum. "Makasih ya, kalian memang sahabat terbaik aku." Alana menyeruput es teh di hadapannya, namun kegelisahan di hatinya tak bisa ditutupi. Dia merasa hubungannya dengan Diaz tak akan lancar sampai pernikahan, apalagi Bu Maria sudah mengetahui semua perilaku Alana. Khususnya keonaran nya di kampus, alhasil 90 % Alana beranggapan kalau Bu Maria akan melarang Diaz menikahinya. Walaupun Bu Maria tidak melarang Diaz menjadi sepasang kekasih, tetapi belum tentu Bu Maria merestui pernikahan mereka. "Ya Allah, lancarkan niat hamba. Jika Diaz memang jodoh terbaikku untuk menggantikan cinta lama, tolong lancarkan niat kami sampai menikah," ucap Alana dalam hati. *** Diaz masuk ruangan rektor tanpa mengetuk pintu. Alhasil, Bu Maria yang tengah berdiri menatap foto mendiang suami tak melihat kedatangan Diaz. "Pa, semalam anak kita meminta izinku untuk menikah muda dengan kekasihnya. Tapi maaf pa, aku nggak bisa merestuinya karena masih ingin merawat dan mendampinginya. Aku ingin mendidik dia menjadi laki-laki hebat dan berjiwa besar sebelum menikah. Lagipula aku belum memeriksakan kesehatan dia ke dokter, aku ingin memastikan tak ada penyakit keturunan darimu. Aku tak ingin keturunan kita merasakan penderitaanmu mengidap Leukimia," ucap Bu Maria sedih menatap foto almarhum suaminya. Diaz shock mendengar ungkapan sang mami pada foto mendingan ayahnya. Ternyata kepergian sang ayah akibat penyakit Leukimia yang dideritanya, ternyata penyakit yang Diaz derita adalah penyakit keturunan dari ayah. "Ma-mami," panggil Diaz dengan suara bergetar. Bu Maria terlontar kaget mendengar suara sang putra, dia buru-buru menyeka air matanya yang menoleh. Mimik wajahnya berubah tegas melihat sang putra berdiri tegak di belakangnya. "Diaz, kenapa masuk nggak ketuk pintu dulu," sargah Bu Maria kecewa. "Maaf Mi, aku lupa. Lagian ini ruangan Mami, Mami juga sendirian," sahut Diaz enteng. "Ingat Diaz! Ini kampus, kamu nggak boleh samakan kampus kayu di rumah. Di rumah, Mami pyur Mami kamu dan kamu bisa bertindak semaumu. Tapi di kampus, saya juga rektor kamu. Saya nggak mau kelakuan kamu yang kurang sopan dilihat mahasiswa lain, ini bisa memberikan contoh nggak baik Diaz," jelas Bu Maria kecewa. "Aku lupa Mi. Maafin aku ya, aku nggak nyangka akhirnya Mami ngomong juga akibat meninggalnya Papi. Selama ini Mami nggak pernah cerita kalau Papi mengidap Leukimia, kenapa Mi?" cecar Diaz menatap sang mami. Diaz merasa sudah dibohongi sang mami, ayahnya meninggal saat dia masih balita. Alhasil Diaz tak pernah tahu sebab akibat sang ayah meninggal, yang dia tahu ayahnya sakit hingga meninggalkan keluarganya. "Hmm, Mami rasa kamu nggak perlu tahu Nak. Toh Papi meninggal pas kamu balita kan, kamu belum mengerti apapun tentang kehidupan ini," ucap Bu Maria berusaha tenang. "Terus kenapa Mami bilang harus memeriksakan kesehatan aku ke dokter?! Apa Mami takut aku menderita penyakit yang sama kaya Papi." Diaz tampak kecewa karena kebohongan sang mami, tetapi Bu Maria malah ingin memeriksakan kesehatan Diaz. "Karena Mami ingin memastikan kamu bebas dari penyakit itu Nak. Mami nggak mau kamu meninggalkan Mami seperti Papi, Mami ingin pencegahan dini aja." Bu Maria berusaha menjelaskan alasannya ingin memeriksakan kesehatan Diaz, dia tak ingin kehilangan putra tunggalnya. Diaz gusar, hatinya sakit karena sang mami mulai tanggal dengan kesehatannya. Bagaimana jadinya jika sang mami mengetahui yang sebenarnya, bagaimana jika Mami mengetahui sang putra sudah mengidap penyakit itu beberapa tahun ini dan baru diketahui setelah sel kanker menyebar. "Andai Mami tahu, Mami pasti akan maksa aku menjalani kemoterapi. Tapi maaf Mi, aku nggak akan bisa melakukannya. Aku ingin membahagiakan Alana dan menebus kesalahanku dulu dibanding menjalani kemo yang buat kesehatanku menurun," ucap Diaz dalam hati. "Diaz, kamu mau kan ikut Mami memeriksakan kesehatanmu?" tanya Bu Maria seraya memegang bahu Diaz. "Aku sehat kok Mi. Mami nggak usah khawatirin aku ya, aku nggak menderita penyakit apapun. Aku ke kelas dulu ya." Diaz langsung menolak tawaran sang mami dan memilih keluar agar tak dipaksa sang mami. Diaz melangkahkan kakinya dengan hati yang hancur, sudut matanya berair karena takdir hidupnya seperti sang ayah. Namun Diaz berusaha tegar demi Alana, Alana harus bahagia dan tak perlu mengetahui penderitaannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN