Diaz sengaja mematikan ponselnya selama 2 hari karena masih shock dengan fakta kematian papinya, dia memilih menyendiri di taman. Diaz memandang keindahan bintang di langit yang membentuk gugusan yang indah.
"Maafin aku Alana. Kamu pasti nyariin aku karena aku nggak berangkat ke kampus atau mengaktifkan hp, maafin aku," lirih Diaz merasa bersalah pada Alana.
"Aku emang nggak akan maafin kamu, Diaz." Suara merdu Alana menggema di telinga Diaz, dia bangkit dan menoleh ke belakang.
"Alana, kamu kok ada disini?" tanya Diaz heran melihat kehadiran Alana.
Alana menghela nafas panjang, dia memegang lengan Diaz. Dia tahu saat ini, Diaz tengah sedih. Walaupun Diaz tak memberitahukannya pada Alana, Alana paham ada kesedihan yang menyelimuti laki-laki pujaan hatinya.
"Diaz, kenapa kamu menghindari aku? Ceritakan apa masalah kamu, apa hmmm Bu Maria nggak setuju kita menikah muda?!" ungkap Alana menerka-nerka.
Diaz terlontar kaget mendengar ungkapan Alana, ternyata Alana curiga maminya tidak merestui Diaz menikahi Alana. Namun, bukan itu saja yang menjadi beban pikiran Diaz. Diaz tengah memikul 2 beban pikiran mengenai pernikahannya dan nasibnya yang sama dengan sang papi.
"Kamu nggak usah ambil sulit situasi ini ya. Walaupun Bu Maria nggak setuju kita menikah muda, nggak papa kok. Aku akan bicarakan ini ke Mama, aku juga akan janji akan berubah lebih baik dan menjalani cita-cita menjadi dokter secara profesional walaupun nggak nikah," ucap Alana mencoba menenangkan Diaz.
Diaz menatap wajah Alana tajam, dia tak mau mengurungkan niatnya menikahi Alana karena ini adalah kesempatannya. Jika Diaz tak menikahi Alana, dia tak mungkin bisa bersama Alana dan mencurahkan semua cintanya karena Diaz tak tahu sampai kapan bisa bertahan hidup.
"Alana, aku nggak akan menyerah. Aku berjanji akan memenuhi janjiku untuk menjadi suami kamu, aku akan bujuk Mami biar setuju melamar kamu dan kita bisa menikah," janji Diaz mantap, lalu mencium punggung tangan Alana.
Alana mengulum senyum, dia tak menyangka cinta Diaz begitu besar untuknya. Alana menyandarkan kepalanya di bahu Diaz, membiarkan jaraknya terlalu dekat dengan Diaz.
"Makasih ya sayang, sekarang aku tahu kepribadianmu yang sebenarnya. Selama ini kamu menampilkan Diaz yang urakan dan brandal, tapi faktanya kamu adalah laki-laki yang baik," bangga Alana.
"Iya sayang. Sekarang kita liat bintang sambil tiduran yuk, tuh ada penjual tikar," ajak Diaz bahagia, setelah mendapat anggukan dari Alana langsung pergi membeli tikar.
Senyuman Alana mengembang, dia bahagia menjadi kekasih Diaz. Keputusannya memilih Diaz adalah pilihan yang tepat, andai dia memilih Brian pasti tak bisa merasakan kebahagiaan sejati ini.
"Alana, sini." Diaz menghampiri Alana membawa karpet, dia menggelar karpet pada rerumputan dengan bantuan Alana.
Alana dan Diaz pun duduk di karpet itu, mereka merebahkan diri dan menatap keindahan langit bersama. Alana merasa sangat nyaman dan bahagia, kini dia bisa menatap kecantikan langit kembali bersama laki-laki yang dia cintai.
"Diaz, kamu tahu nggak kapan terakhir kali aku tiduran kaya gini," ucap Alana memberikan pertanyaan pada Diaz.
Diaz menoleh ke arah Alana seraya mengernyitkan kening. "Aku nggak tahu sayang, kan ini pertama kali aku ngajak kamu menatap langit."
"Aku nikmati keindahan langit pas SMA, tapi setelah aku menikmati keindahan itu malah terkena bencana besar," ungkap Alana mendadak sedih.
"Ma-maksud kamu." Diaz berkata gusar, dia tahu kemana arah pembicaraan Alana.
"Dulu, setelah aku dan kekasihku menatap langit ada tragedi. Aku terjebak kebakaran seorang diri, tapi kekasih aku nggak datang dan nolongin aku. Padahal kita masih di satu gedung sekolah, untunglah ada yang nolongin aku walaupun sampai sekarang nggak tahu siapa penolong itu," jujur Alana masih menatap langit.
Diaz tak bisa berkata apapun karena mulutnya mengatup sempurna. Semua rangkaian kalimat seakan hilang dari otaknya karena Alana menjelaskan kepedihannya saat kebakaran itu. Diaz hanya memandang Alana yang masih menatap langit.
"Andai kamu tahu Alana, saat itu aku datang nolongin kamu. Aku nggak mungkin biarin kamu terjebak kebakaran, lebih baik aku yang mati terbakar. Namun, saat itu aku langsung pergi setelah warga menemanimu yang pingsan. Aku ke luar negeri menjalani pengobatan karena kaki kananku lumpuh.Untunglah saat itu Alvaro datang jadi aku bisa pergi," ucap Diaz dalam hati.
Alana tersadar sudah terlalu jauh menceritakan masa lalunya, dia menoleh ke arah Diaz dengan mimik wajah tak enak. "Maafin aku ya, aku nggak bermaksud."
Diaz mengulum senyum. "Nggak papa kok sayang. Maaf ya, andai saat itu kita udah kenal. Aku nggak akan biarin kamu ketakutan dalam kebakaran," ungkapnya membuat Alana terkekeh.
"Ada-ada aja kamu. Kalau kita udah kenal nggak mungkin bisa kaya gini," ucap Alana masih terkekeh.
Diaz dan Alana bahagia bisa memadu kasih dibawah langit yang mempesona. Sampai-sampai mereka tak sadar sudah 3 jam berdiam diri di taman, tanpa mereka sadari hujan langsung turun dengan derasnya dan membuat Diaz panik.
"Alana, ayo cari tempat berlindung. Ntar kamu sakit," ucap Diaz panik seraya meraih tangan Alana, namun Alana menepis tangan Diaz.
Alana justru bahagia dan menikmati guyuran hujan, sudah lama dia tak merasakan indahnya dibawah hujan. Alana pun menengadahkan tangan, memperhatikan air hujan menerpa telapak tangannya. Sementara Diaz mengulum senyum melihat Alana tertawa puas, dia bahagia melihat Alana yang bahagia.
"Akhirnya kamu bisa tersenyum lebar Alana. Aku akan menemanimu disini sampai kamu puas hujan-hujanan," ucap Dias ikut bahagia.
"Diaz ayo sini." Alana berkata lantang, lalu menarik tangan Diaz.
Diaz pun mengajak Alana berdansa, mereka berdansa dengan saksama dibawah guyuran air hujan. Diaz tak memperdulikan sakitnya yang akan down karena terpaan air hujan bisa membuat kesehatannya memburuk.
"Walaupun aku ngerasa super dingin, aku nggak peduli Alana. Yang penting, malam ini aku sangat bahagia bisa melihatmu bahagia juga," ucap Diaz dalam hati di sela-sela dansanya.
"Makasih ya sayang udah nemenin aku. Malam ini adalah malam paling membahagiakan buat aku," ungkap Alana penuh kebahagiaan.
Setelah cukup lama Alana dan Diaz berdansa, Diaz merasakan tubuhnya bergetar karena kedinginan. Bahkan pandangannya kabur, Diaz tak mampu berdiri karena dinginnya angin dan air hujan seakan meremukkan tulang-tulangnya. Diaz hanya bisa memandang Alana, saat itulah Diaz tak sadarkan diri dan terjatuh ke rerumputan.
"Diaz." Alana berteriak kaget, di shock melihat Diaz pingsan.
Alana jongkok dan menepuk-nepuk pipi Diaz, dia berharap Diaz segera sadar. Namun Diaz tak kunjung sadar, malahan bibir Diaz membiru dengan wajah yang pucat pasi.
"Ya Allah, kenapa jadi kaya gini sih. Kamu kenapa Diaz." Alana frustasi, dia tak tahu harus berbuat apa. Alana pun mencari bantuan, setelah mendapat bantuan dia dan 2 orang laki-laki membawa Diaz ke Taxi online.
Alana memangku kepala Diaz, membelai rambutnya yang basah. Alana bahkan terisak karena tak tega melihat kondisi sang pujaan hati.
"Diaz, kenapa kamu kaya gini? Andai aku tahu balap kaya gini, aku nggak akan ngajak kamu hujan-hujanan," isak Alana merasa bersalah.
Alana menggigit bibir bawahnya kejam, dia bingung harus berbuat apa. Akhirnya dia memilih menelpon Alvar, berharap Alvar bisa menemaninya ke rumah sakit.
"Halo Alvar, kamu nggak sibuk kan," seru Alana setelah Alvar mengangkat panggilannya.
"Aku lagi diem aja nih mandangin hujan di jendela, jomblo ngenes," sahut Alvar di seberang sana.
"Diaz pingsan, sekarang lagi di Taxi. Enaknya di bawa ke rumah sakit mana." Alana berkata cepat, suaranya bergetar.
"Astaga! Cepat kamu bawa ke Rumah Sakit Kasih Cipta ya, kita ketemu disana," pinta Alvar cepat, suaranya terdengar khawatir.
"Oke, udah dulu ya. Bye." Alana mematikan panggilan, kemudian memandang punggung supir Taxi. "Pak, kita ke rumah sakit Kasih Cipta ya."
"Baik Bu," sahut supir Taxi ramah.
Apaan kembali memandang Diaz lekat, dia berharap keadaan Diaz baik-baik saja. Walaupun Alana heran Diaz mendadak pingsan di bawah guyuran hujan. Alana dibuat terkejut saat darah segar keluar dari hidung Diaz, Alana pun memegang darah itu dengan tangan bergetar. Ya Tuhan… Kenapa Diaz mimisan lagi. Apa yang sebenarnya terjadi pada Diaz." Batin Alana.
***