Alana mondar-mandir di luar ruang rawat Diaz, dia tak kuasa menitikkan air mata karena khawatir dengan keadaan Diaz. Bagaimana mungkin Diaz mendadak pingsan setelah basah karena guyuran air hujan.
“Diaz, kumohon bertahan. Maafin aku ya,” ucap Alana penuh kekhawatiran.
“Alana, gimana keadaan Diaz?” Alvar datang menghampiri Alana dengan wajah khawatir.
“Diaz masih ditangani dokter. Tadi kita main hujan-hujanan, tapi Diaz malah pingsan. Bahkan tadi di Taxi online Diaz mimisan,” sahut Alana khawatir.
Alvar melotot mendengar penjelasan Alana. “Kamu serius dia mimisan?” tanyanya memastikan.
“Iya. Aku heran, udah beberapa kali Diaz mimisan. Sebenarnya apa yang terjadi sama dia? Apa ada penyakit atau gimana,” ungkap Alana curiga.
“Nggak ada kok. Dia emang langganan mimisan dari kecil, tapi kita udah sering periksakan ke dokter dan nggak ada penyakit serius,” ucap Alvar meyakinkan Alana.
Alana mengangguk, dia lebih tenang setelah mendapat penjelasan Alvar mengenai kondisi kesehatan Diaz. Alana pun duduk dan menyandarkan kepalanya di tembok, mencoba menghilangkan kekhawatiran yang sejak tadi memenuhi hati dan pikirannya.
“Alana, kamu mendingan ganti baju gih. Di samping rumah sakit ada Toko pakaian, ntar kamu sakit,” bujuk Alvar khawatir karena pakaian Alana basah.
“Nggak usahlah. Aku nggak mau ninggalin Diaz sendirian, aku harus memastikan kondisi dia dulu,” tolak Alana cepat.
“Kan ada aku, aku janji bakalan telepon kamu setelah pemeriksaan selesai,” janji Alvar mengulum senyum.
Alana tampak berpikir, Alvar ada benarnya juga. Jika dia membiarkan pakaiannya basah, pasti bisa sakit dan tak maksimal menjaga Diaz. Apalagi jika dokter meminta Diaz rawat inap, siapa yang akan menjaga Diaz jika Alana jatuh sakit.
“Ayo, atau aku yang beliin kaos? Tapi nggak tahu ukurannya. Nggak pernah beli pakaian cewek,” ungkap Alvar cengengesan.
“Aku aja yang beli. Kamu, tolong jagain Diaz dan cepat-cepat berkabar,” pinta Alana cepat.
Alvar pun mengangguk dan memberikan tanda hormat pada Alana, hal tersebut sukses membuat Alana terkekeh. Barulah Alana pergi meninggalkan Alvar.
***
“Alana, apa kabar?” seru seorang wanita menghampiri Alana yang sibuk memilih kaos favoritnya di deretan kaos distro.
“Ka-kamu siapa?” tanya Alana memandang wanita itu heran. Dilihatnya wanita itu anggun dengan gamis syarinya.
Wanita itu terkekeh seraya menepuk bahu Alana. “Kamu lupa sama aku ya, aku Viky. Tetangga kamu dulu.”
Alana tampak berpikir, dia meminta otaknya bekerja lebih keras untuk mengingat wanita yang bernama Viky itu. Dan, Alana mengulum senyum setelah mengingat Viky. Tetangga Alana saat dia menetap di Bandung dulu.
“Ya Allah Viky, apa kabar? Aku kangen banget sama kamu. Kamu kemana aja sih? Selama ini kamu hilang kabar,” ucap Alana bahagia bisa bertemu dengan Viky.
“Selama ini aku ikut suamiku di London, tapi setelah ayah suamiku meninggal kami kembali ke Indonesia,” jawab Viky ramah.
“Inalilahi wainailahi rojiun, turut berduka cita ya,” ucap Alana iba.
Viky tersenyum. “Nggak papa kok. Sudah waktunya, daripada mertuaku hidup malah menderita karena penyakitnya udah parah.”
“Maaf, kalau boleh tahu penyakitnya apa?” tanya Alana hati-hati.
“Beliau terkena Leukimia, aku sering banget dampingi dia di saat susahnya. Di saat beliau mimisan, lemas, tiba-tiba memar dan gejala penyakit lainnya. Pokoknya aku bisa merasakan banget gimana menderitanya beliau,” jujur Viky berkaca-kaca.
“Ya Allah, kamu yang sabar ya. Semua pasti ada hikmahnya,” ucap Alana menenangkan Viky.
“Amin. Makanya Alana, kamu berapa lama lagi nih bakalan jadi doker?” tanya Viky, membuat Alana terbelalak kaget.
“Loh kok malah nyerempet aku jadi dokter sih. Walaupun beberapa bulan lagi lulus S2 tapi nggak tahu nih bakalan jadi dokter atau nggak, tapi aku akan berusaha jadi dokter untuk menolong sesama,” sahut Alana berusaha memantapkan hatinya dengan cita-cita itu. Kini Alana sudah pasrah dan semakin giat belajar.
“Nah bagus. Aku yakin kamu bakalan jadi dokter yang hebat dan bermanfaat untuk banyak orang ya.” Doa Viky tulus seraya mengulum senyum.
“Amin. Oya, kamu disini lagi belanja ya,” tebak Alana.
Viky terkekeh. “Nggak kok. Alhamdulilah ini Toko pakaianku, untuk merayakan pertemuan kita kamu boleh pilih pakaian apapun secara gratis.”
“Hah? Kamu serius Viky. Ini toko kamu?” tanya Alana tak percaya.
“Iya benar. Aku dan suamiku mengelola Toko ini bersama, dan alhamdulilah Toko pakaian semakin dikenal dan sukses,” sahut Viky penuh rasa syukur.
“Alhamdulilah. Aku ikut seneng dengernya, untung aku basah dan beli baju disini jadi bisa ketemu kamu,” ungkap Alana bersyukur.
“Iya dong, semuanya udah di atur Yang Kuasa. Oya, kamu kok bisa di sekitar sini?”
“Aku tadi di rumah sakit. Eumm.... Kekasihku tadi pingsan pas kita menan hujan,” jawab Alana sedih.
“Ya Allah, kenapa bisa gitu? Memangnya dia sakit apa kenapa bisa pingsan.”
Alana menggeleng lemah. “Tapi sepupunya bilang nggak ada penyakit sih. Cuman ya, aku ngerasa aneh aja sama dia. Akhir-akhir ini dia sering mimisan, pucet, kepalanya sakit. Bahkan sering mengalami memar tanpa pukulan.”
“Kenapa kamu nggak minta dia periksa kesehatannya aja. Ya bukan mendoakan sih, Cuma memastikan aja ada penyakit serius atau enggak.”
Alana mengernyitkan kening. “Maksud kamu?”
“Ya maaf nih Alana. Gejala yang dia alami mirip dengan yang aku ceritakan, khawatirnya penyakit itu menetap dan gejala bisa muncul setelah penyakitnya cukup parah,” sahut Viky hati-hati.
DEG!!!
Alana seakan kehilangan seluruh kekuatannya untuk berdiri, kedua kakinya seolah tak sanggup menopang berat tubuhnya mendengar ucapan Viky. Apakah Viky benar ada kemungkinan Diaz mengidap penyakit itu? Namun, Diaz ataupun Alvar yakin tak ada penyakit serius. Ya Tuhan... Apa yang harus Alana lakukan? Apakah Alana harus memastikannya dengan memaksa Diaz memeriksakan kesehatannya ke dokter.
“Alana,” panggil Viky.
Alana tersadar. “Iya Viky, ma-maaf ya.”
“Maafin aku ya kalau ucapanku buat kamu sedih. Tapi mending kamu lakukan itu sebelum terjadi hal tak diinginkan, kan lebih baik mencegah daripada mengobati,” ucap Viky menguatkan Alana.
Alana mengangguk. “Kamu benar Viky. Pulang dari sini, aku akan tanyakan kesehatan Diaz secara detail pada dokter yang menanganinya.”
“Bagus. Jangan biarkan kekasihmu menderita seorang diri, solanya cowok lebih tinggi dan mendapat ranking menyembunyikan penderitaannya loh.”
“Maksud kamu?” tanya Alana penasaran.
“Ya gini, kita kaum cewek kan nggak bisa memendam rahasia lama apapun yang kita alami. Pasti kita memilih teman curhat untuk menghilangkan kegundahan di hati kita, tapi kaum cowok bisa loh menahan apapun yang dialami demi kebahagiaan orang tercinta. Seorang cowok rela kesakitan dan menjalani kehidupan tanpa sang wanitanya demi menutupi penderitaannya. Dan banyak kok cowok kaya gitu dan dianggap gentel men,” ungkap Viky yakin.
Alana hanya menganggukan kepala mendengar ungkapan Viky. Hatinya resah memikirkan kesehatan Diaz, dia tak ingin perumpaan Viky adalah benar. Apapun yang terjadi, Alana harus menanyakan kesehatan Diaz pada dokter.
“Aku harus tanyakan sedetail mungkin,” ucap Alana dalam hati.
***