Bab 44

1663 Kata
Alana berjalan di koridor rumah sakit, pandangannya kosong karena memikirkan dugaan Viky. Apalagi dugaan tersebut dibuktikan dengan beberapa gejala yang Diaz derita, namun kenapa Diaz tak memberitahukan kondisi kesehatannya jika benar ada gangguan kesehatan. “Ya Tuhan, apa benar semua itu? Aku harus selidiki semua ini. Kalau memang benar, aku nggak akan biarin Diaz menderita dengan penyakitnya, aku bahkan berharap bisa menjadi dokter yang menyembuhkan Diaz,” ucap Alana lirih. Alana teringat kebersamaannya dengan Diaz beberapa hari lalu. Saat itu Alana dan Diaz tengah menikmati mie ayam di kedai favorit Alana di kawasan Jakarta Timur. “Sayang, kamu pesen dong. Masa aku yang makan sendirian,” ucap Alana seraya mengaduk-aduk mie ayam dengan sambal 4 sendok di mangkuknya. “Aku nggak laper sayang. Kamu aja ya.” “Kok gitu sih, aku kan nggak enak makan sendirian,” bujuk Alana menggoda Diaz. Diaz mengulum senyum. “Maaf sayang, sebenarnya aku lagi nggak makan pedes ataupun mie, ya lagi jaga kesehatan aja.” Alana terkekeh. “Masa sih? Seorang Diaz sang penakluk jalan raya bisa jaga kesehatan. Padahal Alvar dan Bu Maria selalu bilang kamu kalau makan nggak pake sambal nggak bisa. Sambal dan saus nya nggak kira-kira lagi.” “Udah ah, masa godain aku terus sih. Kapan kamu makannya,” ucap Diaz lembut. Alana mencubit hidung Diaz. “Iya pangeranku yang bawel.” “Cie... seorang Alana udah manggil pangeran nih,” ledek Diaz seraya memperhatikan Alana, membuat wajah Alana merona. Alana pun menyantap mie ayam dengan lahap, sementara Diaz malah memperhatikan sang pujaan hatinya makan dengan lahap. “Makannya jangan belepotan dong,” seru Diaz cepat, dia mengambil tisu dan mengusap noda kuah di area bibir Alana. Alana tersipu malu, dia melanjutkan makannya dengan menunduk. Sementara Diaz memegangi kepalanya yang berputar-putar, saking sakitnya sampai menyenggol gelas di meja dihadapan Diaz. Sontak Alana terkejut dan khawatir mendapati wajah Diaz pucat. “Diaz, kamu kenapa?” tanya Alana panik. Diaz mengulum senyum. “Aku nggak papa kok, tenang aja ya.” Diaz semakin tak kuasa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, bahkan darah segar keluar dari hidung Diaz dan membuat Alana semakin panik. Namun, Diaz berusaha menahan tubuhnya agar tak pingsan. “Diaz, kamu mimisan,” ucap Alana bangkit dan menengadahkan kepala Diaz agar darah berhenti keluar. “Sayang, sebentar ya.” Diaz buru-buru pergi ke toilet sebelum Alana semakin panik. Alana menggigit bibir bawahnya kejam. Dadanya bergetar hebat menyaksikan laki-laki yang dicintainya tak berdaya. “Ya Tuhan. Diaz kenapa sih? Apa dia lagi sakit?” tanya Alana pada dirinya sendiri. Alana menghela napas panjang mengingat disaat Diaz mimisan dan sangat kesakitan. Alana memantapkan hatinya, dia pun berjalan ke ruang rawat Diaz menemui Alvar. Alvar yang melihat kedatangan Alana segera bangkit dan mengulum senyum. Alana memperhatikan wajah Alvar dengan tatapan tajam, membuat Alvar menelan ludah gusar. “Alana, kok liatin aku kaya gitu sih? Jadi takut aku,” seru Alvar mengulum senyum. “Kamu tinggal bersama Diaz kan. Aku yakin kamu pasti mengetahui semua hal tentang Diaz,” sahut Alana melipatkan tangan di d**a. “Emangnya ada apa sih? Jadi takut aku.” Alana menghela napas berat. “Sudah beberapa kali aku melihat Diaz merasakan sakit yang luar biasa dan mimisan. Apa kamu tahu tentang itu?” Alvar menelan ludah tajam, dia tak tahu harus bagaimana menjawab apa. Jangankan Alana, dia saja tak mengetahui apa yang terjadi pada Diaz. Sementara itu, dari kejauhan tampak Keyla hendak menghampiri Alana dan Diaz. Sayangnya Keyla menahan dirinya, dia memilih bersembunyi dan mendengarkan obrolan Alana dan Alvar yang tampak serius. “Ya aku memang tahu, dari dulu Diaz sering mimisan dan kata dokter nggak ada masalah serius kok. Cuma mimisan biasa,” jawab Alvar yakin. “Kamu nggak bohong kan? Aku merasa kesehatan Diaz nggak baik-baik aja. Aku harus tanyakan ini pada dokter yang menangani Diaz.” “Jangan Alana, Diaz bisa marah. Aku sama Tante Maria pernah melakukan itu, tapi Diaz malah marah karena merasa privasinya di usik. Lagipula, setelah aku tanyakan diam-diam memang nggak ada penyakit serius.” Alana memandang Alvar dengan tatapan menukik. “Aku memang nggak fokus menekuni kuliah di kedokteran. Tapi kamu tahu kan, aku selalu mendapat nilai bagus. Untuk itulah aku paham semua pelajaran kedokteran walaupun aku nggak fokus.” Alvar tampak linglung, dia tak bergeming karena tak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya, Alvar memang curiga dengan mimisan Diaz, tetapi dia belum bisa menemukan bukti apapun. “Kenapa diem?! Asal kamu tahu Alvar. Menurut gejala penyakit yang Diaz derita kebanyakan indikasi penyakit serius loh. Kamu jangan sepelekan semua gejala yang dialami Diaz, dari mimisan, terkadang memar sendiri padahal tak ada luka atau jatuh, pingsan dan lainnya.” “Hmm... memangnya indikasi penyakit apa, Alana?” tanya Alvar penasaran. “Leukimia,” sahut Alana perih. DEG!!! Alvar membelakan mata mendengar jawaban Alana. Begitupun Keyla yang berdiri di tempatnya, Keyla menelan ludah mendengar ungkapan Alana. Apalagi akhir-akhir ini Keyla pun menyaksikan disaat Diaz mimisan dan mengalami gejala lainnya. “Ya Tuhan, apa benar dugaan Alana? Ta-tapi nggak mungkin Diaz kena leukimia, nggak mungkin,” seru Keyla lemas. Sementara itu, Alvar memandang Alana tak percaya. Dia berusaha meyakinkan Alana dugaannya salah, namun Alana malah berkata lagi. “Alvar, penyakit leukimia itu nggak main-main. Harus cepat ditangani sebelum terlambat, kalau memang Diaz menderita itu dia harus melakukan kemoterapi secepatnya,” ucap Alana tegas. “Tapi, itu baru dugaan kamu Alana. Semoga dugaan kamu nggak benar.” Alvar masih tak percaya dugaan Alana, dia yakin sepupunya baik-baik saja. “Kita tanyakan pada dokter saat pemeriksaan Diaz selesai.” Tak lama berselang, dokter Anton yang menangani Diaz keluar dari pemeriksaan bersama 3 suster. Alana dan Alvar pun langsung menghampiri dokter dengan wajah cemas, bahkan Keyla keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Alana. “Dokter, bagaimana keadaan Diaz?” tanya Alana khawatir. Dokter Anton mengulum senyum. “Alhamdulilah Diaz baik-baik aja, dia hanya kelelahan.” “Dok, saya mohon periksa lebih detail. Misalnya tes laboratorium Dok, saya khawatir ada penyakit yang Diaz derita,” pinta Alana memelas. Dokter Anton tampak terkejut mendengar ucapan Alana, namun dia berusaha tenang walaupun mulai ada yang curiga tentang penyakit Diaz. “Saya sudah memeriksakan pemeriksaan sedetail mungkin dan nggak ada indikasi penyakit berbahaya,” sahut Dokter Anton ramah. “Dokter yakin? Mimisan, memar tanpa penyebab bukanlah indikasi penyakit leukimia Dok?” Alana tak puas dengan jawaban Dokter Anton, dia pun kembali berkata dan membuat Dokter Anton terkejut. “Alana, udah dong. Masa seorang dokter kamu tekan gitu sih, kalau Dokter Anton bilang nggak ada penyakit serius artinya nggak ada penyakit,” ucap Alvar mencegah Alana menanyakan berbagai pertanyaan pada dokter Anton. “Ta-tapi.” “Baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu. Diaz sudah siuman, jika terjadi sesuatu segera hubungi suster ya.” Dokter Anton mengulum senyum, dia melangkah pergi bersama suster. Namun Dokter Anton tampak terkejut karena mulai ada yang curiga mengenai penyakit Diaz. “Ternyata dia mulai curiga dengan penyakit Diaz. Tapi itu bagus, semoga ada orang yang membujuk Diaz melakukan kemoterapi.” Batin Dokter Anton. Alvar memegang bahu Alana, berusaha menenangkan Alana. “Alana, aku mohon jaga sikap kamu di depan Diaz ya. Jangan bilang kamu curiga dia kena penyakit serius atau apa deh,” pintanya penuh harapan. “Kok gitu? Aku harus kasih tahu Diaz. Jika ada penyakit serius, aku akan bujuk Diaz melakukan berbagai pengobatan,” tegas Alana, lalu memegang handle pintu. “Alana tunggu.” Alvar memegang tangan Alana. “Kumohon, jangan sampai Diaz sedih dengan dugaan kamu yang tak beralasan itu. Plis, demi kebaikan Diaz.” “Iya Alana, Alvar benar. Kalau kita cecar Diaz dia pasti sedih, apalagi kalau sampai dugaan kamu salah. Diaz malah kepikiran dan kondisinya semakin memburuk,” ucap Keyla membenarkan ucapan Alvar. Alana menghela napas. “Baiklah.” Alvar mengulum senyum, dia menghela nafas lega karena berhasil menenangkan Alana. Barulah mereka bertiga masuk ke ruang rawat Diaz. *** “Kalian,” ucap Diaz tersenyum saat melihat Alana, Alvar dan Keyla masuk ke ruang rawatnya. “Hai Bro, gimana keadaan loe. Udah enakan kan,” Alvar langsung duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Alana yang melihat sikap Alvar, memandang Alvar emosi. Bisa-bisanya Alvar bersikap acuh tak acuh, padahal Diaz tengah sakit. Alana saja setengah mati mengkhawatirkan keadaan Diaz, namun Alvar malah acuh tak acuh. Diaz yang memperhatikan Alana, heran dengan sikap Alana yang tampak kesal. “Sayang, kamu kenapa? Nggak ikhlas yang nemenin aku disini.” Alana terkejut mendengar ungkapan Diaz, dia menghampiri Diaz dan duduk di sampingnya. Diaz pun menggenggam tangan Alana penuh cinta. “Kamu jangan sedih ya, aku paling nggak bisa lihat kamu muram,” ucap Diaz lagi. Alana tersenyum getir. “Aku nggak papa kok sayang. Maafin aku ya udah buat kamu khawatir,” sahutnya lembut. Keyla pun menghampiri Diaz. “Kamu jaga kesehatan ya, pasti makannya nggak teratur kan.” “Iya nih, aku emang habis hujan-hujanan dan 2 hari tidur bentar banget.” “Tuh kan benar. Diaz cuma kelelahan,” timpal Alvar cepat. “Iya, maafin aku ya sayang.” Alana mengulum senyum, kemudian membelai kening Diaz. “Jangan kaya gini lagi ya. Aku nggak bisa liat kamu kesakitan kaya gini.” Diaz mengangguk. “Maafin aku ya. Janji deh nggak bakalan rapuh depan kamu lagi.” Alvar dan Keyla pun tersenyum melihat kebahagiaan Diaz dan Alana. Bahkan, Alvar malah menggandeng Keyla. Sontak membuat Alana, Keyla dan Diaz terkejut dengan keberanian Alvar. “Sorry Bro. Gue pinjem Keyla bentar ya, lapar dari tadi nungguin loe.” Alvar cengengesan, lalu membawa Keyla keluar dari ruang rawat Diaz. Kini, giliran Alana dan Diaz. Alana memegang tangan Diaz lembut, Diaz pun balik memandang Alana lekat. Diaz merasakan kecurigaan Alana pada penyakitnya. Diaz tahu betul Alana tak mungkin bersikap gelisah jika tak memikirkan sesuatu. Namun, Diaz tak ingin Alana mengetahui penyakitnya. Jika Alana tahu, Alana hanya akan kasihan padanya dan bisa saja cintanya bisa tumbuh karena belas kasihan. “Alana, aku tahu kamu curiga. Tapi aku nggak mau kamu memaksaku kemo karena kemo buat hariku semakin lemah dan tak bisa memberikan kebahagiaan untukmu,” ucap Diaz dalam hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN